Merancang Rumah yang Mampu Bertahan di Tengah Perubahan Iklim
Setiap orang berhak tinggal di rumah yang aman, sehat, dan mampu melindungi keluarga dari kondisi lingkungan yang terus berubah. Berangkat dari keyakinan tersebut, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan Coffee Morning Lecture (CML) ke-9 dengan tema “Kajian Rumah Adaptif Iklim” Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat (28/11) di Selasar Gedung Moh. Natsir FTSP UII menghadirkan para akademisi, praktisi perumahan, pemangku kepentingan sektor konstruksi, mitra pembangunan, serta masyarakat penerima manfaat dari Desa Wunung, Gunungkidul.
Kegiatan ini berkolaborasi dengan Yayasan Habitat Kemanusiaan Indonesia (Habitat for Humanity Indonesia) untuk merancang Rumah Habitat Adaptif Iklim di Desa Wunung, Gunungkidul. Perancangan tersebut mengintegrasikan riset ilmiah, konteks ekologis kawasan karst, serta kebutuhan nyata masyarakat, dengan dukungan PT Prudential Life Assurance Indonesia sebagai mitra strategis.
Kegiatan dibuka dengan sambutan salah satu perwakilan pimpinan PT Prudential Life Assurance Indonesia yang menyatakan komitmennya dalam menjaga ketahanan masyarakat. “Kami percaya bahwa investasi terbaik adalah memastikan setiap keluarga tinggal di rumah yang mampu melindungi mereka dari risiko iklim. Kolaborasi bersama FTSP UII dan Habitat for Humanity Indonesia adalah bentuk nyata kontribusi Prudential untuk ketahanan keluarga Indonesia,” ujar Pimpinan PT Prudential Life Assurance Indonesia dalam sambutannya.
Lebih dari itu, Senior Manager of Field Operations Habitat for Humanity Indonesia menyatakan Yayasan Habitat berperan penting dalam implementasi di lapangan, mulai dari asesmen kebutuhan hingga konstruksi rumah adaptif. “Rumah bukan hanya bangunan; ia adalah ruang aman bagi keluarga. Di Wunung, kami belajar bahwa solusi teknis harus berjalan bersama budaya lokal dan partisipasi masyarakat. Itulah kekuatan rumah adaptif iklim,” ungkapnya.
Selanjutnya, Prof. Ilya Fadjar Maharika, M.A., IAI dalam sambutannya mengeaskan posisi UII sebagai kampus yang menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat. “Ini bukan sekadar program akademik. Ini adalah wujud keberpihakan UII terhadap ketangguhan masyarakat. Rumah adaptif iklim menunjukkan bahwa ilmu arsitektur, teknik sipil, dan teknik lingkungan dapat menyatu menjadi solusi yang membumi dan visioner,” tutur Prof. Ilya Fadjar Maharika.
Memasuki sesi inti, Karnen Dasen menguraikan perjalanan program tantangan lapangan, dan proses pendampingan penerima manfaat di Desa Wunung. Karnen menyatakan kunci keberhasilan program adalah kepemilikan bersama. Warga tidak hanya menerima rumah tetapi ikut berkontribusi dalam pembangunan dan perawatan rumah. “Kolaborasi dengan FTSP UII memperkaya desain dan memastikan rumah yang dibangun benar-benar responsif terhadap iklim dan konteks lokal,” ungkapnya.
Sebagai peneliti utama, Prof. Suparwoko memaparkan hasil kajian arsitektur adaptif iklim yang dikembangkan berdasarkan kondisi karst Gunungkidul, pola hidup warga, dan teknologi konstruksi yang terjangkau. “Rumah adaptif iklim bukan sekadar penyesuaian kecil pada desain. Ia merupakan pendekatan holistik yang menimbang orientasi matahari, ventilasi alami, konservasi air, material lokal, hingga kapasitas ekonomi warga,” tegasnya.
Diskusi semakin hidup dengan adanya dua panelis ahli yang memberikan pandangannya terkait rumah adaptif iklim, seperti Ar. Erlangga Winoto, IAI, AA. selaku Ikatan Arsitek Indonesia DIY yang menyatakan bahwa rumah adatif iklim di Wunung merupakan contoh nyata praktik arsitektur kontekstual yang jarang ditemukan. “Desain adaptif iklim bukan tren sesaat, tetapi kebutuhan masa depan Indonesia,” ungkap Ar. Erlangga.
Lebih lanjut, Direktur Green Building Council Indonesia (GBCI), Ar. Daud Tjondro Rahardja, MBA., IAI., GP. menyoroti pentingnya standar bangunan hijau dalam konteks rumah rakyat. “Rumah adaptif iklim adalah fondasi menuju bangunan hijau yang terjangkau. Kita harus memastikan prinsip keberlanjutan tidak hanya untuk gedung besar, tetapi juga untuk rumah sederhana yang dibutuhkan masyarakat,” tegasnya.
Melalui kegiatan ini, FTSP UII menegaskan peran strategisnya sebagai institusi yang mendorong perubahan nyata. Rumah adaptif iklim dari Wunung membuktikan bahwa rumah yang baik bukan hanya bangunan yang berdiri, tetapi ruang yang menjaga kehidupan di tengah ketidakpastian iklim. (AHR/RS)




