Acara bedah buku, termasuk yang paling saya suka. Saya percaya, buku, dan karya tulis ilmiah lain, sangat penting dalam perkembangan sebuah peradaban. Peradaban saat ini, tidak dimulai dari ‘kertas kosong’, tetapi dibangun di atas peradaban sebelumnya yang terekam, salah satunya, dalam beragam tulisan yang dibuat di zamannya.

Karenanya, kelahiran buku, perlu dirayakan dengan suka cita. Acara bedah buku adalah salah satu caranya. Paling tidak terdapat dua alasan mengapa merayakan atau mengapreasiasi buku perlu ditradisikan.

Pertama, buku berkualitas tidak hadir dalam sekejap. Di dalamnya ada akumulasi pemikiran atau refleksi penulisnya dalam waktu yang cukup lama. Ini bisa kita sebut sebagai —meminjam istilahnya Gidden (1991)— dimensi refleksivitas buku, karena di dalamnya ada proses “eksaminasi dan rekonstruksi praktik sosial berdasar informasi yang didapatkan”.

Proses dialog/percakapan internal (internal conversation) atau solilokui selalu menyertai kelahiran sebuah buku. Ada ikhtiar menangkap makna sebagai hasil proses konseptualisasi atas beragam fenomena (interpretasi semantik). Tidak jarang, keragaman perspektif yang digunakan menghadirkan nuansa subtil beragam makna yang saling melengkapi. Semua upaya ini dimaksudkan untuk melihat fenomena yang dipelajari secara lebih utuh.

Kedua, penuangan gagasan dalam tulisan akan menjadikannya berumur panjang dan akan membuka pintu kebermanfaatan yang lebih lebar. Dengan tulisan, gagasan bisa dibaca dengan lebih mudah dan karenanya diharapkan dipahami dengan lebih baik. Ini akan membuka pintu untuk memanfaatkan, melengkapi, dan bahkan memberikan kritik terhadap gagasan yang ditawarkan. Hal ini mengindikasikan posisi penting komunikasi tulisan dalam diseminasi gagasan untuk memantik dirkursus lanjutan yang berkualitas. Inilah dimensi diskursus buku.

Proses ini akan menjadikan gagasan semakin teruji. Gagasan teruji yang diterdiseminasi akan diadopsi dan dikaji oleh lebih banyak kalangan. Dengan cara inilah ilmu pengetahuan berkembang, sebagai salah satu ikhtiar memajukan peradaban.

Selamat kepada Prof. Noor Cholis Idham untuk pencapaian jabatan guru besar. Selamat juga untuk kelahiran bukunya. Semoga semakin banyak karya-karya berkualitas yang dihasilkan di masa-masa yang akan datang untuk menginspirasi banyak orang.

 

Referensi

Giddens, A. (1991). Modernity and Self-Identity: Self and Society in the Late Modern Age. Cambridge: Polity.

 

Sari sambutan pada acara bedah buku “Arsitektur Kubah dan Konfigurasinya” dalam rangka tasyakuran jabatan guru besar Prof. Noor Cholis Idham, 29 April 2021.