Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan Wisuda Doktor, Magister, Sarjana, dan Diploma Periode III Tahun Akademik 2025/2026 pada Sabtu (14/2) di Yogyakarta di Auditorium Prof.K.H. Abdul Kahar Mudzakkir, Kampus Terpadu UII. Pada periode ini, sebanyak 416 lulusan resmi dikukuhkan, terdiri dari 2 ahli madya, 7 sarjana terapan, 327 sarjana, 72 magister, dan 8 doktor. Sehingga, sampai saat ini tercatat lebih dari 132.206 alumni yang berkiprah dalam berbagai peran baik dalam negeri maupun mancanegara.

Rektor UII, Fathul Wahid, dalam sambutannya mengingatkan para wisudawan bahwa wisuda bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal pengabdian yang lebih luas bagi masyarakat.

“Izinkan saya menitipkan satu pesan utama hari ini: asahlah empati, jagalah kepekaan sosial,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa ilmu dan keterampilan profesional saja tidak cukup tanpa empati. Menurutnya, setiap keputusan yang kelak diambil para lulusan akan berdampak pada kehidupan banyak orang.

“Ilmu yang Saudara peroleh di kampus ini sangat penting. Tetapi tanpa empati, semua itu bisa kehilangan arah. Tanpa kepekaan sosial, kecerdasan bisa menjadi dingin,” ujarnya.

Rektor juga mengingatkan agar para lulusan tidak terjebak pada capaian personal semata, tetapi mampu memberi dampak kemanusiaan dalam setiap peran yang dijalani. “Semakin tinggi ilmu kita, semakin halus pula rasa kita. Semakin luas wawasan kita, semakin dalam pula kepedulian kita,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Alumni UII yang juga Head of Communications Grab Indonesia, Dimas Novriandi, menyampaikan pesan inspiratif dengan gaya yang ringan dan reflektif. Ia mengajak para wisudawan untuk tidak takut menghadapi fase baru kehidupan.

Mengutip pesan motivasional, ia menyampaikan, “Wisuda itu bukan garis finish, itu tanda kamu sanggup menyelesaikan. Bukan karena kamu tidak pernah capek, tapi karena kamu tetap jalan walau lelah.”

Dimas juga mengingatkan bahwa rasa takut memasuki dunia nyata adalah hal yang wajar. Namun, menurutnya, keberanian lahir dari langkah kecil yang konsisten.

“Takut itu manusiawi. Yang penting, kita tidak berhenti di sana,” katanya.

Dalam pesannya kepada para wisudawan, ia menekankan pentingnya integritas dan keandalan di dunia profesional. “Kamu tidak harus jadi yang paling cepat, tapi jadilah yang paling bisa dipercaya. Karena di dunia setelah kampus, banyak yang pintar. Tapi yang dicari adalah yang bisa diandalkan,” ujarnya.

Baik Rektor maupun wakil alumni sama-sama menegaskan bahwa keberhasilan akademik perlu diiringi karakter yang kuat dan kepedulian sosial. Wisuda kali ini tidak hanya menjadi seremoni akademik, tetapi juga momentum refleksi untuk melahirkan generasi profesional yang cemerlang secara intelektual dan hangat secara kemanusiaan. (AHR/RS)

Isi sambutan ini sama sekali tidak untuk mengurangi rasa bahagia Saudara hari ini. Justru, saya ingin mengajak Saudara berbahagia dengan bermakna karena dipenuhi ungkapan syukur atas banyak karunia yang Allah berikan kepada kita.

Sekitar dua pekan lalu, sebuah kabar mengguncang nurani, saya baca di media. Awal Februari 2026 ini, di Nusa Tenggara Timur, seorang siswa sekolah dasar mengakhiri hidupnya karena orang tuanya belum sanggup membelikannya buku dan pensil. Rasa kemanusiaan kita sebagai bangsa seperti terkoyak.

Kok bisa? Setelah Indonesia merdeka lebih dari delapan puluh tahun, masih ada saudara-saudara kita yang hidup dalam kemiskinan ekstrem. Tentu ini bukan soal budaya, ada andil besar isu struktural di baliknya. Padahal salah satu tujuan negara yang tertulis jelas dalam konstitusi adalah menghadirkan kesejahteraan umum.

Berita seperti ini bukan sekadar angka statistik. Ia adalah cermin. Cermin tentang jarak antara cita-cita dan kenyataan. Cermin tentang pekerjaan rumah besar yang belum selesai. Dan hari ini, di hadapan saya duduk orang-orang terdidik yang kelak akan berada di berbagai posisi penting di kantor pemerintahan, di perusahaan, di kampus, di rumah sakit, di lembaga keuangan, di organisasi masyarakat. Saudara tidak hanya akan bekerja. Saudara akan memengaruhi keputusan. Setiap keputusan selalu punya wajah manusia di baliknya.

Karena itu, izinkan saya menitipkan satu pesan penting: asahlah empati, jagalah kepekaan sosial.

 

Pemimpin yang peduli

Ilmu yang Saudara peroleh di kampus ini sangat penting. Keterampilan profesional Saudara akan menentukan kualitas kerja. Tetapi tanpa empati, semua itu bisa kehilangan arah. Tanpa kepekaan sosial, kecerdasan bisa menjadi dingin. Kebijakan bisa menjadi kaku. Sistem bisa berjalan rapi di atas kertas, tetapi melukai manusia di lapangan.

Empati adalah kemampuan untuk berhenti sejenak, lalu bertanya: Siapa yang paling terdampak oleh keputusan ini? Apakah ada kelompok yang tertinggal? Apakah ada suara yang tidak terdengar?

Kepekaan sosial membuat kita tidak cepat puas dengan angka pertumbuhan, jika masih ada anak yang putus sekolah. Tidak cepat bangga dengan gedung-gedung tinggi, jika masih ada keluarga yang tidak mampu membeli alat tulis. Tidak mudah berkata “itu bukan urusan saya”, ketika ketidakadilan terjadi di depan mata.

Beberapa tahun ke depan, mungkin Saudara akan duduk di ruang rapat ber-AC, membahas anggaran, strategi, atau target kinerja. Di saat seperti itu, ingatlah wajah-wajah yang jarang hadir di ruangan tersebut: petani kecil, buruh harian, anak-anak di pelosok, keluarga yang hidup pas-pasan. Keputusan yang Saudara tanda tangani bisa menentukan apakah mereka semakin terbantu, atau justru semakin terpinggirkan.

Menjaga empati bukan berarti menjadi lemah. Justru sebaliknya. Empati membuat keputusan kita lebih kuat secara moral. Lebih kokoh secara kemanusiaan. Lebih berkelanjutan dampaknya. Profesional yang unggul bukan hanya yang mumpuni, tetapi yang peduli.

Pemimpin yang hebat bukan hanya yang cerdas, tetapi juga yang hatinya tetap lembut. Karena itu, seorang pemimpin perlu terus melatih diri untuk membuka telinga dan melapangkan dada. Ia bersedia mendengar kritik tanpa tergesa melihat para pengkritiknya sebagai lawan. Sebab pemimpin bukan malaikat yang kebal dari kesalahan, melainkan manusia yang justru tumbuh melalui kesediaan untuk belajar dan memperbaiki diri.

 

Empati sebagai jalan hidup

Empati juga serupa. Ia juga perlu dilatih. Ia tidak tumbuh otomatis bersama gelar akademik. Ia tumbuh ketika Saudara mau mendengar cerita orang lain tanpa menghakimi. Ketika Saudara mau turun melihat kenyataan, bukan hanya membaca laporan. Ketika Saudara berani bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan, sekecil apa pun, agar keadaan sedikit lebih baik?”

Gelar yang Saudara dapatkan adalah tanda bahwa Saudara telah menempuh proses akademik. Namun masyarakat berharap lebih dari itu. Masyarakat berharap Saudara menjadi pribadi yang peka. Yang tidak menutup mata terhadap penderitaan. Yang tidak menormalkan ketimpangan. Yang tidak kehilangan rasa ketika melihat ketidakadilan. Yang tidak menyepelekan penderitaan liyan.

Bayangkan, bertahun-tahun dari sekarang, ketika Saudara menoleh ke belakang. Bukan hanya karier yang ingin Saudara banggakan, tetapi juga dampak kemanusiaan dari pilihan-pilihan hidup Saudara. Berapa banyak orang yang terbantu? Berapa banyak kebijakan yang lebih adil karena Saudara terlibat? Berapa banyak keputusan yang lebih bijak karena Saudara memilih mendengarkan suara yang lemah?

Mari kita jaga agar pendidikan tidak menjauhkan kita dari realitas sosial, tetapi justru mendekatkan. Mari kita pastikan bahwa semakin tinggi ilmu kita, semakin halus pula rasa kita. Semakin luas wawasan kita, semakin dalam pula kepedulian kita.

Semoga Saudara semua menjadi generasi profesional yang tidak hanya cemerlang pikirannya, tetapi juga hangat hatinya. Yang tidak hanya sukses secara pribadi, tetapi juga bermakna bagi sesama. Teruslah melangkah, dengan ilmu di kepala dan empati di dada.

Sambutan pada acara Wisuda Universitas Islam Indonesia pada 14 Februari 2026.

Fathul Wahid

Rektor Universitas Islam Indonesia 2022-2026

Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas jejaring internasional dengan berpartisipasi dalam World Education Expo 2026 yang diselenggarakan di Cebu, Filipina pada Kamis (05/02).  Kegiatan ini menjadi ajang strategis untuk memperkenalkan UII kepada calon mahasiswa internasional serta mitra pendidikan global.

Pada kesempatan tersebut, UII diwakili oleh Nihlah Ilhami selaku Kepala Divisi Mobilitas Internasional dan Tria Rejeki Sholikhah selaku Koordinator Akomodasi dan Asuransi dari Direktorat Kemitraan/Kantor Urusan Internasional (DK/KUI) UII. Kehadiran delegasi UII menegaskan peran aktif universitas dalam mendukung internasionalisasi pendidikan tinggi Indonesia.

World Education Expo 2026 Cebu diikuti oleh berbagai institusi pendidikan dari sejumlah negara, antara lain Malaysia, Rusia, Prancis, dan Australia. Masing-masing institusi mempresentasikan profil, program akademik, serta peluang kolaborasi internasional kepada pengunjung expo.

Dalam sesi presentasi, UII memperkenalkan profil universitas, program akademik unggulan, serta peluang studi bagi mahasiswa internasional. Selain itu, UII juga memaparkan dua skema beasiswa yang sedang dibuka, yaitu Future Global Leaders Scholarship (FGLS) dan Kemitraan Negara Berkembang (KNB). Informasi ini disampaikan kepada para hadirin pameran yang terdiri atas staf pengajar dan siswa di wilayah Cebu, dengan jumlah total pengunjung lebih dari 200 peserta.

Partisipasi UII semakin diperkuat dengan kunjungan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Manila, Prof. Nina Yulianti, Ph.D., ke booth UII. Selain itu, perwakilan dari Commission on Higher Education (CHED) Regional Office VII Cebu, Filipina, juga turut hadir dan berdiskusi mengenai peluang kerja sama pendidikan tinggi antara Indonesia dan Filipina.

Keikutsertaan UII dalam World Education Expo 2026 ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan visibilitas global universitas, menarik minat mahasiswa internasional, serta membuka peluang kolaborasi akademik lintas negara. Melalui kegiatan ini, UII terus memperkuat posisinya sebagai universitas yang berorientasi global dan berdaya saing internasional. (NI/DS/AHR/RS)

Program Profesi Arsitek (PPAr) Universitas Islam Indonesia (UII) sebagai mitra Pemerintah Kota Yogyakarta dalam pembangunan kawasan layak huni di Kota Yogyakarta menghadiri peresmian Pembangunan Baru Rumah Terdampak Penataan Konsolidasi Lahan Pemukiman pada Senin (09/02) di Kampung Lampion RT. 18 RW 04, Terban, Kota Yogyakarta.

Kawasan RT 18 RW 04 Kampung Lampion di Kelurahan Kotabaru merupakan salah satu wilayah strategis yang terletak di pusat Kota Yogyakarta yang berada dibantaran Sungai Code. Lokasi ini menjadi fokus perhatian karena menghadapi sejumlah permasalahan yang berkaitan dengan kondisi permukiman, potensi bencana, serta tantangan dalam penyediaan infrastruktur dasar.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Kotabaru, Drs. Soegiarto melaporkan bahwa pembangunan kawasan bantaran sungai Code ini dilakukan dengan skema swakelola yang mengedepankan transparansi dan pengawasan.

“Dalam penataan kawasan bantaran sungai tahap pertama tahun 2025 terbangun 10 rumah yaitu enam rumah melalui mekanisme APBD dan 4 rumah lagi melalui mekanisme CSR SPARC-SPEAK yang difasilitasi jejaring UII,” jelas Soegiarto.

Skema swakelola dipilih agar proses perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan dapat berjalan maksimal sekaligus mendorong partisipasi aktif masyarakat. Program ini disambut positif oleh masyarakat karena pemangku kepentingan dinilai mampu mewujudkan hunian yang sehat dan aman.

Lebih lanjut, Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) UII, Prof. Prof. Dr.-Ing. Ir. Ilya Fadjar Maharika, MA., IAI.dalam sambutannya menegaskan keterlibatan perguruan perguruan tinggi dalam program ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat sekaligus pembelajaran langsung bagi mahasiswa.

Prof. Ilya menjelaskan bahwa dukungan yang hadir bukan sekadar tanggung jawab sosial kampus, melainkan hibah dari jejaring filantropi internasional SPARC SPEAK. “UII dengan jejaring yang dimiliki mendapatkan hibah dari yayasan internasional yang fokus pada peningkatan kualitas rumah dan permukiman,” jelasnya

Menurutnya, kawasan tersebut menjadi living laboratory bagi mahasiswa lintas disiplin. “Lokasi seperti kampung ini menjadi laboratorium hidup bagi mahasiswa untuk bekerja langsung bersama masyarakat,” katanya

Ia menambahkan, hibah yang diberikan berfungsi sebagai katalis agar muncul inisiatif lokal serta kolaborasi berkelanjutan antara warga, pemerintah, dan perguruan tinggi.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta menilai program penataan permukiman di bantaran sungai tidak hanya berdampak pada kualitas hunian, tetapi juga berpotensi memperkuat daya tarik kawasan berbasis kearifan lokal.

Ia menyampaikan bahwa pembangunan rumah layak merupakan bagian dari upaya meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui kolaborasi lintas sektor. “Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup warga,” ujarnya

Ia juga melihat kawasan bantaran yang telah ditata berpotensi dikembangkan sebagai kampung wisata. “Dengan penataan dan keterlibatan warga, kawasan bantaran sungai bisa menjadi destinasi yang menonjolkan kearifan lokal,” tambahnya

Penataan kawasan RT 18 RW 04 Kampung Lampion Kelurahan Kotabaru merupakan wujud nyata dari komitmen Pemerintah Kota Yogyakarta dalam mengurangi kawasan kumuh sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Melalui pendekatan yang menyeluruh dan kolaboratif, kegiatan ini tidak hanya menjawab kebutuhan lokal, tetapi juga merefleksikan semangat global untuk mewujudkan hunian yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.

Dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, seperti Universitas Islam Indonesia dan SPARC India, memperkuat pelaksanaan kegiatan melalui sinergi yang saling melengkapi. Kolaborasi ini diharapkan mampu menghadirkan sebuah model penanganan permukiman kumuh yang terintegrasi dengan pengembangan kawasan kota serta pelestarian lingkungan, khususnya di bantaran sungai. (AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas jejaring internasional dengan berpartisipasi dalam World Education Expo 2026 yang diselenggarakan di Cebu, Filipina pada Kamis (05/02). Kegiatan ini menjadi ajang strategis untuk memperkenalkan UII kepada calon mahasiswa internasional serta mitra pendidikan global.

Pada kesempatan tersebut, UII diwakili oleh Nihlah Ilhami selaku Kepala Divisi Mobilitas Internasional dan Tria Rejeki Sholikhah selaku Koordinator Akomodasi dan Asuransi dari Direktorat Kemitraan/Kantor Urusan Internasional (DK/KUI) UII. Kehadiran delegasi UII menegaskan peran aktif universitas dalam mendukung internasionalisasi pendidikan tinggi Indonesia.

World Education Expo 2026 Cebu diikuti oleh berbagai institusi pendidikan dari sejumlah negara, antara lain Malaysia, Rusia, Prancis, dan Australia. Masing-masing institusi mempresentasikan profil, program akademik, serta peluang kolaborasi internasional kepada pengunjung expo.

Dalam sesi presentasi, UII memperkenalkan profil universitas, program akademik unggulan, serta peluang studi bagi mahasiswa internasional. Selain itu, UII juga memaparkan dua skema beasiswa yang sedang dibuka, yaitu Future Global Leaders Scholarship (FGLS) dan Kemitraan Negara Berkembang (KNB). Informasi ini disampaikan kepada para hadirin pameran yang terdiri atas staf pengajar dan siswa di wilayah Cebu, dengan jumlah total pengunjung lebih dari 200 peserta.

Partisipasi UII semakin diperkuat dengan kunjungan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Manila, Prof. Nina Yulianti, Ph.D., ke booth UII. Selain itu, perwakilan dari Commission on Higher Education (CHED) Regional Office VII Cebu, Filipina, juga turut hadir dan berdiskusi mengenai peluang kerja sama pendidikan tinggi antara Indonesia dan Filipina.

Keikutsertaan UII dalam World Education Expo 2026 ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan visibilitas global universitas, menarik minat mahasiswa internasional, serta membuka peluang kolaborasi akademik lintas negara. Melalui kegiatan ini, UII terus memperkuat posisinya sebagai universitas yang berorientasi global dan berdaya saing internasional. (NI/DS/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) melalui Kantor Urusan Internasional menyelenggarakan Welcoming Program bagi mahasiswa ACICIS (Australian Consortium for In-Country Indonesian Studies) yang akan menempuh studi di Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) UII) pada Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026, Selasa (27/01).

Pada periode ini, UII menerima tiga mahasiswa ACICIS yang akan mengikuti perkuliahan pada Program Studi Manajemen dan Akuntansi. Kehadiran mahasiswa internasional ini merupakan bagian dari komitmen UII dalam memperkuat internasionalisasi kampus serta menciptakan lingkungan akademik yang inklusif dan berdaya saing global.

Welcoming Program dilaksanakan sebagai kegiatan orientasi awal untuk memfasilitasi adaptasi mahasiswa terhadap budaya akademik di kampus UII. Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan oleh Ibu Dian Sari Utami selaku Direktur Kemitraan/Kantor Urusan Internasional. Selanjutnya, peserta mengikuti sesi Pengenalan Budaya Akademik yang memberikan pemahaman mengenai budaya komunikasi dan interaksi di lingkungan kampus UII. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penjelasan pengambilan mata kuliah yang ditawarkan di FBE pada semester genap tahun akademik 2025/2026 mendatang.

Melalui kegiatan ini, UII berharap mahasiswa ACICIS dapat menjalani proses akademik secara optimal serta memperoleh pengalaman belajar yang bermakna. Selain meningkatkan kompetensi akademik, program ini juga diharapkan memperkuat pemahaman lintas budaya dan mempererat hubungan kerja sama antara UII dan ACICIS. (NI/DS/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) kembali memulai tahapan suksesi kepemimpinan Rektor untuk periode 2026–2030. Proses ini menjadi momentum strategis untuk memastikan arah pengembangan UII tetap sejalan dengan nilai keislaman, keilmuan, dan kebangsaan. Tema pemilihan kali ini adalah “Amanah Demi UII”, sebuah penegasan komitmen terhadap kepemimpinan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan demi kemajuan universitas.

Pada acara Pengujian Rencana Aksi Bakal Calon Rektor Terpilih yang diselenggarakan pada Selasa (27/01) di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir, Kampus Terpadu UII, Ketua Umum Yayasan Badan Wakaf (YBW) UII, Prof. Dr. Suparman Marzuki, S.H., M.Si dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak sekadar merupakan rutinitas administratif, melainkan dimaknai sebagai estafet kepemimpinan yang sangat penting bagi masa depan Universitas Islam Indonesia.

“Kita tidak hanya mencari sosok yang handal tapi visioner untuk menerjemahkan nilai-nilai luhur UII, sekaligus bisa membuat UII berlari kencang di tengah disrupsi global menantang sekarang ini. Oleh karena itu, mari kita itu proses ini dengan baik dengan khidmat,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh calon rektor yang telah berpartisipasi dalam proses tersebut. “Terima kasih kepada para calon rektor atas partisipasinya. Ini adalah proses yang penting. Bapak dan Ibu merupakan orang-orang terbaik yang telah meluangkan waktu dan pemikiran untuk memimpin UII di masa depan. Siapapun yang terpilih, harapannya institusi ini dapat terus berkembang dengan baik,” tambahnya.

Ketua Panitia Pemilihan Rektor, Dr. Eko Riyadi, S.H., M.H menjelaskan bahwa Pemilihan Rektor UII dilaksanakan berdasarkan Peraturan Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII Nomor 8 Tahun 2025 tentang Tata Cara Pemilihan Rektor Universitas Islam Indonesia. Peraturan ini mempersyaratkan calon Rektor adalah dosen yang berusia sekurang-kurangnya 40 tahun, memiliki gelar doktor (S-3) dengan jabatan akademik Guru Besar. Selain syarat formal tersebut, calon Rektor harus seseorang yang memiliki jejaring akademik dan sosial yang luas, kemampuan manajerial yang mumpuni, serta karakter kepemimpinan yang kuat, cepat, bersih, dan solutif.

Berdasarkan persyaratan tersebut, Panitia Pemilihan mendapatkan 36 orang bakal calon untuk dijaring di seluruh Fakultas. Proses penjaringan ini mendapatkan 13 Bakal Calon Rektor Terpilih antara lain Prof. Akhmad Fauzy, S.Si., M.Si., Ph.D.; Prof. Dr. Budi Agus Riswandi, S.H., M.Hum.; Prof. Ir. Eko Siswoyo, S.T., M.Sc.ES., Ph.D., I.P.U.; Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo, M.T., IPU.; Prof.Dr.-Ing. Ar. Ilya Fadjar Maharika, M.A., I.A.I.; Prof. Dr. Jaka Nugraha, S.Si., M.Si.; Prof. Jaka Sriyana, S.E., M.Si., Ph.D.; Prof. Dr. rer. soc. Masduki, S.Ag., M.Si.; Prof. Nandang Sutrisno, S.H., LL.M., M.Hum., Ph.D.; Prof. Rifqi Muhammad, S.E., S.H., M.Sc., Ph.D.; Prof. Riyanto, S.Pd., M.Si., Ph.D.; Prof. Dr. Sri Kusumadewi, S.Si., M.T.; dan Prof. Dr. Zaenal Arifin, M.Si.

“Dalam tahapan selanjutnya, Panitia Pemilihan Rektor membuka ruang partisipasi publik dengan mengajak seluruh warga UII untuk menyampaikan usulan pertanyaan kepada para Bakal Calon Rektor Terpilih. Pengujian rencana aksi ini menjadi forum strategis untuk menggali visi, rencana, serta komitmen calon terhadap arah pengembangan UII ke depan,” ungkap Eko.

Sejalan dengan upaya menjaga integritas proses seleksi, Panitia Pemilihan Rektor juga membuka kanal Penelusuran Rekam Jejak Bakal Calon Rektor Terpilih. Kanal ini dibuka bagi warga UII—dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa—serta masyarakat umum sebagai ruang partisipasi dalam menyampaikan informasi yang relevan, baik terkait prestasi maupun dugaan pelanggaran, sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Informasi rekam jejak dapat disampaikansecara daring melalui laman https://uii.id/rekamjejak.

Para calon tersebut selanjutnya menyampaikan rencana aksi (action plan) pada 27 Januari 2026 sebagai pemaparan visi, strategi, dan program kepemimpinan apabila dipercaya memimpin UII. Pemaparan action plan dilakukan di hadapan Tim Seleksi Pemilihan Rektor yang terdiri atas Drs. Syafaruddin Alwi, M.S., Anggota Pembina Yayasan Badan Wakaf UII; Dr. M. Busyro Muqoddas, S.H., M.Hum., Dosen Fakultas Hukum UII; Prof. Mohammad Mahfud MD, Guru Besar Hukum Tata Negara; Dr. Halim Alamsyah, Wakil Presiden Komisaris PT Bank Danamon Indonesia (MUFG Group, Jepang); serta Prof. Rofikoh Rokhim, S.E., SIP., DEA., Ph.D., ahli di bidang perbankan, keuangan, manajemen risiko, pasar modal, tata kelola, dan keuangan pembangunan.

“Tim Seleksi bertugas menilai secara komprehensif terhadap visi kepemimpinan, kapasitas manajerial, serta kemampuan menjawab tantangan pengelolaan perguruan tinggi di tingkat nasional dan global. Berdasarkan hasil penilaian tersebut, Tim Seleksi menetapkan enam Calon Rektor. Penetapan dilakukan melalui musyawarah mufakat dengan mengedepankan objektivitas dan kepentingan institusi. Enam calon ini kemudian diajukan kepada Senat Universitas untuk dipilih menjadi tiga Calon Rektor Terpilih,” jelasnya.

Pemilihan oleh Senat Universitas dilakukan melalui rapat senat dengan mekanisme pemungutan suara. Setiap anggota Senat Universitas yang hadir memberikan satu suara untuk memilih satu nama calon Rektor. Dari proses tersebut, ditetapkan tiga Calon Rektor Terpilih berdasarkan perolehan suara terbanyak.

Tahap akhir rangkaian suksesi kepemimpinan ini ditandai dengan pemaparan Rencana Strategis tiga Calon Rektor Terpilih di hadapan Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII. Kegiatan tersebut juga akan dihadiri Ketua Pembina dan Ketua Pengawas Yayasan. Berdasarkan pemaparan serta pertimbangan yang menyeluruh, Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII menetapkan Rektor Terpilih melalui mekanisme musyawarah mufakat. Penetapan Rektor Universitas Islam Indonesia periode 2026–2030 dijadwalkan berlangsung pada 6 Maret 2026.

Adapun informasi lengkap mengenai setiap tahapan pemilihan dapat diakses melalui laman www.uii.ac.id/uiimemilih2026.

Melalui proses yang berjenjang, partisipatif, dan berlandaskan regulasi yang jelas ini, UII menegaskan komitmennya untuk menghadirkan kepemimpinan yang amanah, berintegritas, serta mampu membawa universitas terus berkontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, masyarakat, dan bangsa. (ER/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) secara resmi melepas mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan ke-72 Semester Genap TA 2025/2026 pada Jumat (23/01) di Halaman Belakang Gedung Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir, Kampus Terpadu UII.

Kepala Pusat KKN Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UII, dr. Raden Edi Fitriyanto, M.Gizi dalam laporannya menyampaikan jumlah peserta KKN angkatan kali ini mencapai 723 mahasiswa yang diterjunkan pada dua provinsi yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Lebih lanjut, dr. Edi menjelaskan pelaksanaan KKN UII terbagi dalam dua model yaitu KKN Tematik Pengelolaan Sampah dan KKN Reguler. KKN Tematik Pengelolaan Sampah berfokus pada pemberdayaan sampah, melanjutkan tahap pemetaan permasalahan yang telah dilakukan pada periode sebelumnya.

“Pada periode ini kami harapkan mahasiswa dapat melakukan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah, terutama yang telah difasilitasi oleh pemerintah setempat. Harapannya pada periode berikutnya ada implementasi dari teknologi tepat guna terkait dengan permasalahan sampah,” ungkap dr. Edi.

Sementara itu, KKN Reguler dilaksanakan di Magelang, Jawa Tengah yang juga sebagai tindak lanjut dari kegiatan yang dijalankan pada periode sebelumnya. Hal ini menjadi penegasan bahwa program KKN UII dilakukan secara berkelanjutan dan tidak sporadis.

Lebih lanjut, Rektor UII, Fathul Wahid dalam sambutannya mengatakan bahwa KKN ini menjadi penting dalam proses pendidikan mahasiswa. Fathul Wahid memaparkan tujuan pendidikan yang tidak hanya untuk meningkatkan kualifikasi diri, tetapi ada fungsi sosialisasi agar mahasiswa mampu memahami perannya sebagai makhluk sosial serta fungsi subjektifikasi yang mendorong mahasiswa menjadi individu yang berperan di tengah masyarakat

Sehingga dengan KKN ini, akan membuka peluang-peluang itu. Saudara dihadapkan pada masalah nyata di lapangan, kemudian mulai berpikir, terlibat diskusi, mengusulkan solusi dan lain-lain, artinya apa? Saudara menjadi aktor, menjadi subjek dalam konteks nyata di lapangan,” ungkapnya.

Tak lupa, Rektor juga mengimbau seluruh mahasiswa KKN UII Angkatan 72 untuk selalu menjaga keselamatan selama perjalanan maupun pelaksanaan kegiatan di lokasi KKN masing-masing.

Rangkaian acara pelepasan ditutup dengan pemakaian secara simbolis jas almamater kepada perwakilan mahasiswa dan penyerahan kepersetaan BPJS Ketenagakerjaan sebagai bentuk perlindungan bagi mahasiswa selama menjalankan program KKN. (AHR/RS)

Saya ingin memulai dengan sebuah pengingat sederhana: kampus bukanlah sekadar tempat mengajar dan belajar. Kampus adalah ruang tempat suatu bangsa memelihara kemampuan paling pentingnya: kemampuan berpikir jernih.

Kita bisa membangun gedung-gedung tinggi, memperindah infrastruktur digital, menambah anggaran, dan meningkatkan peringkat. Tetapi, bila kita kehilangan nalar publik dan kampus kehilangan keberanian untuk bertanya dan menguji kebenaran, maka sesungguhnya kita sedang kehilangan fondasi peradaban.

 

Kultur militerisme

Ketika kita mendengar istilah militerisme, sebagian orang langsung membayangkan tentara. Imajinasi ini benar. Tetapi, militerisme tidak selalu hadir dalam bentuk itu. Bagi saya, militerisme bukan selalu soal seragam.

Sebelum melanjutkan, supaya tidak disalahpahami, tentu, kita menaruh hormat kepada tentara sebagai aparat pertahanan negara. Tentara tidak dibentuk untuk menebar ketakutan dan membungkam suara masyarakat, karena sejarah mencatat, tentara lahir dari masyarakat.

Bagi saya, militerisme juga bisa hadir sebagai cara berpikir; sebuah logika sosial dan politik yang menempatkan ketertiban sebagai nilai tertinggi, dan memandang perbedaan sebagai ancaman.

Logika ini bekerja melalui kebiasaan, seperti membelah masyarakat menjadi “kawan” dan “lawan”, memperlakukan kritik sebagai gangguan,memandang debat sebagai sumber kegaduhan, dan mengutamakan instruksi di atas argumentasi. Dalam logika semacam ini, yang paling cepat menguat adalah kepatuhan, dan yang paling cepat melemah adalah kebebasan berpikir.

Ada benturan di sini, antara komando dan argumentasi. Di sinilah kampus masuk. Universitas dibangun di atas tradisi yang justru berlawanan: tradisi keraguan yang sehat, tradisi mengajukan pertanyaan, tradisi menguji data, tradisi mengoreksi otoritas, bahkan tradisi mencurigai kebenaran yang terlalu cepat disepakati.

Dalam dunia akademik, perbedaan bukan musuh, tetapi bahan bakar kemajuan ilmu. Sebaliknya, dalam logika militeristik, perbedaan sering dianggap risiko. Konsensus diproduksi cepat. Kritik diburu, bukan didengar. Maka, persoalannya bukan hanya sosial-politik. Ini adalah benturan epistemik: kampus berbasis argumentasi, militerisme berbasis instruksi.

 

Sensor diri

Tantangan terhadap kebebasan akademik tidak selalu tampil dalam bentuk larangan tertulis. Justru sering hadir dalam bentuk yang lebih halus, dan lebih berbahaya: ketakutan. Di sini, kita melihat inaktivisme kolektif (mager berjamaah).

Dalam konteks ini, kebebasan akademik runtuh bukan karena ia dipukul dari luar, tetapi karena ia pelan-pelan menghilang dari dalam, lewat sensor diri yang tidak terlihat. Inilah yang ingin saya garis bawahi: sensor diri adalah bentuk penjajahan yang paling efisien. Penguasa tidak perlu membungkam kampus. Kampus membungkam dirinya sendiri.

Kita bisa sepakat, kebebasan akademik bukan sekadar “hak istimewa kaum akademisi”. Kebebasan akademik adalah milik masyarakat. Ia adalah mekanisme bangsa untuk memastikan bahwa kebijakan publik tidak dibangun dari propaganda, tetapi dari bukti. Tidak dibangun dari ketakutan, tetapi dari argumentasi.

Jika kampus dibungkam, dampaknya tidak berhenti pada ruang kuliah. Ia merambat ke seluruh bangsa, seperti lahirnya kebijakan tanpa koreksi ilmiah, normalisasi kebohongan, dan pengerdilan masyarakat menjadi sekadar penerima informasi, bukan penguji kebenaran. Kita harus berani mengatakan: kampus yang bebas adalah prasyarat negara yang sehat.

Sering kali, logika militeristik datang dengan narasi yang manis: demi ketertiban, persatuan, dan stabilitas. Tetapi, kita perlu bertanya dengan jernih. Ketertiban untuk siapa? Persatuan dan stabilitas macam apa yang dibangun dengan ketakutan?

Tentu, kita tidak sedang menolak ketertiban. Kita juga tidak menolak persatuan dan stabilitas. Negara memerlukan keduanya. Tetapi persatuan dan stabilitas yang mengorbankan kebebasan berpikir akah rapuh. Pendekatan seperti ini hanya menunda ledakan dan bukan menyelesaikan persoalan.

Apa yang harus dilakukan?

Apa yang harus kita lakukan? Kebebasan akademik tidak akan terjaga hanya dengan slogan. Ia harus dijaga dengan sistem, keberanian, dan budaya.

Paling tidak ada tiga lapis yang harus kita rawat. Pertama, tata kelola kampus harus tegas. Kampus perlu melindungi ruang diskusi ilmiah, melindungi riset, melindungi hak berbeda pendapat, selama dijalankan secara ilmiah, etis, dan bertanggung jawab. Kedua, kebijakan negara (termasuk aparatnya) harus mendukung kebebasan akademik. Negara perlu memahami bahwa membiarkan kampus berpikir bebas bukan ancaman. Justru itu bentuk investasi jangka panjang. Ketiga, keberanian individu akademisi. Dosen dan mahasiswa harus berani bersuara dengan teguh memelihara integritas: setia pada data, metodologi, kejujuran ilmiah, dan bukan pada tekanan.

Bangsa yang besar tidak takut pada pertanyaan, tetapi takut pada kebisuan.

Sambutan pada Pertemuan Tahunan Kaukus Indonesia untuk Kekebasan Akademik (KIKA) 2026 di Universitas Islam Indonesia pada 23 Januari 2026.

Fathul Wahid

Rektor Universitas Islam Indonesia 2022-2026

Program Studi Profesi Dokter, Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam Indonesia (UII)  kembali melantik 130 dokter baru dalam acara Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Dokter periode 70 yang diselenggarakan pada Rabu (21/01) di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir, Kampus Terpadu UII. Hingga periode ini, FK UII telah melantik sebanyak 2.668 dokter, menegaskan peran UII dalam pengembangan dan peningkatan kualitas bidang kesehatan.

Dalam laporan sumpah dokter yang disampaikan oleh Ketua Program Studi Profesi Dokter UII, dr. Ana Fauziyati, M.Sc., Sp.PD, para dokter baru berasal dari berbagai provinsi di Indonesia mulai dari Sumatera Barat hingga Papua Selatan. Tak kalah membanggakan, waktu tempuh pendidikan tercepat diraih dalam waktu 2 tahun 1 bulan 24 hari. Keberhasilan ini juga tidak lepas dari dukungan rumah sakit tempat pendidikan klinik yang tersebar di tiga provinsi yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Rektor UII, Fathul Wahid dalam sambutannya menegaskan bawah sumpah dokter bukan sekadar kata, tetapi menjadi janji moral, profesional, dan kemanusiaan yang harus selalu dipegang teguh oleh setiap dokter. “Hari ini Saudara (dokter baru -red) memasuki jalan hidup yang mulia namun kemuliaan profesi dokter tidak hadir hanya karena gelar—ia lahir karena Saudara menjalankan amanah dengan ilmu, integritas, dan kasih sayang,” ungkap Rektor.

Tak lupa, Rektor juga menekankan pentingnya praktik kedokteran berbasis bukti (evidence-based medicine) di tengah pesatnya perkembangan informasi kesehatan di ruang publik. Diharapkan, dokter tidak hanya terampil dalam praktik klinik tetapi juga mampu mendokumentasikan pengalaman, melakukan penelitian, serta berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

“Menjadi dokter tidak hanya tentang menyembuhkan pasien hari ini, tetapi juga meninggalkan jejak pengetahuan yang dapat menyelamatkan pasien di masa depan,” tambahnya.

Senada, Dekan FK UII, Dr.dr. Isnatin Miladiyah, M.Kes, mengingatkan para dokter baru bahwa kelulusan ini menjadi awal dari tanggung jawab profesional yang lebih besar. Pentingnya pemahaman dan penerapan kode etik kedokteran harus selalu menjadi landasan utama dalam menjalankan praktik media, khususnya pada era perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI).

“Teknologi dan kecerdasan buatan dapat membantu proses diagnosis, namun empati, nilai kemanusiaan, dan tanggung jawab moral seorang dokter tidak dapat digantikan,” tegas Isnatin.

Lebih lanjut, Isnatin menekankan bahwa dokter harus mampu beradaptasi dengan dinamika sistem kesehatan serta tantangan akses layanan, tanpa mengabaikan sumpah profesi yang telah diikrarkan. “Kelulusan hari ini adalah awal pengabdian profesional. Sumpah dokter harus menjadi pengingat dalam setiap keputusan medis yang diambil,” pungkasnya.

Acara Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Dokter bukan merupakan akhir perjalanan karier sebagai dokter, melainkan menjadi langkah awal dalam mengemban tanggung jawab profesional untuk menjaga kesehatan masyarakat serta berkontribusi dalam  pengembangan layanan kesehatan yang berkualitas dan berkelanjutan di Indonesia. (AHR/RS)