• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Berita Kegiatan2 / Paradigma Baru Manajemen Bencana
Berita Kegiatan

Paradigma Baru Manajemen Bencana

Program Studi Teknik Sipil Universitas Islam Indonesia (UII) bekerjasama dengan American Institute for Indonesian Studies (AIFIS) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyelenggarakan Webinar Disaster Management pada Jumat (15/5).

Senior Professor of Civil Enggineering Department of UII dan Excecutive Coordinator of Streering Element of BNPB Republik Indonesia, Prof. Ir. Sarwidi, MSCE., Ph.D., AU., mengatakan bahwa manajemen bencana dalam BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) menggunakan paradigma baru. Sebagai contoh dalam upaya penanganan gempa dapat dilakukan dengan penilaian bangunan di kawasan rawan gempa bumi. Hal ini dianggap penting untuk menilai kualitas bangunan yang ada di masyarakat.

“Dari penilaian tersebut, dapat kita ketahui tingkat kerentanan serta tindakan perbaikan yang perlu dilakukan. Serta melakukan rekomendasi kebijakan dan langkah untuk pemerintah di masing-masing kawasan,” jelasnya.

Micah R. Fisher, Ph,D. dari University of Hawai’i at Manoa USA. dalam paparannya mengatakan bahwa tujuan dari webinar adalah untuk mengetahui bagaimana cara menggabungkan antara ilmu-ilmu teknis dengan ilmu-ilmu sosial sehingga dapat efektif saat bekerjasama dengan masyarakat.

Adanya perubahan iklim dapat mengganggu aktivitas manusia dan dapat menimbulkan banyak biaya dalam adaptasi. Dibutuhkan keterlibatan masyarakat untuk menghadapinya. Perencana, pengorganisasian masyarakat, politisi lokal dan lainnya akan bekerja dengan masyarakat untuk membuat keputusan bersama dengan berupaya menjaga identitas sosial penduduk, keamanan finansial, dan keyakinan terhadap sesama warga negara.

Bagi setiap pelaku yang terlibat dalam pekerjaan ini, perlu memperhatikan beberapa dilema yang diprediksi akan muncul dan mempertimbangkan bagaimana mempersiapkan diri. Micah R. Fisher mengidentifikasi dalam lima dilema. Pertama, bagaimana cara menampilkan diri pada komunitas yang rentan sebagai mitra otentik.

Micah R. Fisher menekankan hal pertama yang terpenting adalah bagaimana kita melihat diri kita dan siapakah kita dalam kehidupan masyarakat. “Sangat penting untuk berkomunikasi tentang apa yang Anda lakukan di komunitas itu. Karena kita akan menemukan cara untuk membuat orang nyaman,” jelasnya.

Kedua. Menurut Micah R. Fisher, bagaimana mendapatkan dan mempertahankan kepercayaan masyarakat. Setiap perencana, pengelola atau fasilitator komunitas harus memahami bahwa dalam memulai proses keterlibatan masyarakat kita adalah bagian dari sejarah keterlibatan atau tidak terlibat yang mungkin kita tidak tahu atau salah informasi. Setiap pertemuan yang tidak efektif, kesalahpahaman atau kurangnya tindak lanjut adalah bagian dari sejarah itu.

“Niat terbaik mungkin membuat Anda berada di pintu komunitas, tetapi pengalaman komunitas sebelumnya adalah bayangan yang tak terlihat yang terkadang termanifestasi dalam komentar kasar, lengan terlipat erat, dan pertanyaan agresif pasif,” ucap Micah R. Fisher.

Membangun kepercayaan bisa menjadi proses yang panjang, tetapi biasanya satu cara yang berhasil untuk memulai adalah dengan bersama-sama menetapkan harapan untuk proses tersebut, menjaga komitmen tentang hal-hal yang tampaknya kecil dan yang lebih besar. Percakapan berkelanjutan tentang implikasi ketidakpastian tentang perkiraan teknis dampak dan ketidakpastian tentang strategi menjadi sangat penting untuk menjaga kepercayaan.

Ketiga. Apa yang kita inginkan dari keterlibatan masyarakat. Mungkin kita berpikir akan menemukan sesuatu yang diinginkan setiba di komunitas, padahal kondisinya kadang berbeda. Menurut Micah R. Fisher, penduduk memiliki pengetahuan tentang komunitasnya. Misalnya, seberapa sering mereka kebanjiran dan daerah mana yang paling sering banjir. Tantangan kita sebagai orang luar adalah memikirkan pertanyaan apa yang akan membantu kita menambah pengetahuan dan memahami prioritas nilai mereka dalam pengembangan strategi adaptasi.

Kemudian yang keempat menurut Micah R. Fisher, bagaimana kita mendengarkan secara efektif makna dan pengertian. Beberapa komunitas memiliki sejarah ketidakadilan dan pengabaian publik yang kompleks. Sebagai orang luar, kita tidak dapat mengharapkan penghuni komunitas tersebut untuk segera terlibat dalam percakapan tentang risiko iklim, penilaian kerentanan, dan langkah-langkah adaptasi.

Micah R. Fisher mengatakan bahwa mereka ingin diakui, didengarkan, dan dianggap serius. Sebelum kita dapat melibatkan masyarakat tentang adaptasi iklim, keterlibatan yang efektif mengharuskan kita meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita-cerita tentang rasa sakit masyarakat dan memahami makna di balik rasa sakit itu.

Kelima. Kepada siapa kita bertanggung jawab dalam pelibatan masyarakat, apa sifat dari akuntabilitas itu. Micah R. Fisher memberikan contoh universitas yang mempekerjakan orang termasuk kita. Bekerja dalam jaringan kewajiban dan harapan formal dan informal yang diciptakan oleh kontrak, jadwal, kode etik profesi, tanggung jawab lain, dan norma yang baik harus dilakukan.

“Klien, seperti lembaga pemerintah, menginginkan jadwal dan anggaran yang dapat diprediksi. Kita tidak perlu menjelek-jelekkan anggaran yang menurun untuk penjangkauan masyarakat atau meromantiskan pekerjaan masyarakat untuk mengenali kendala-kendala ini nyata,” tambahnya. (SF/RS)

18 Mei 2020
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/FTSP-UII.jpg 450 675 humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png humas2020-05-18 23:34:292020-05-19 00:28:04Paradigma Baru Manajemen Bencana

Berita Terakhir

  • UII Inisiasi CDC Islamic Universities National Gathering, Bahas Masa Depan Karier Generasi Z
  • UII Dukung Penanganan Kenakalan Remaja di DIY
  • Jawab Kebutuhan Pasien Internasional, CILACS UII dan RS Panti Nugroho Teken MoU Interpreter Bahasa Arab 
  • UII Terima Kunjungan Universitas Pertahanan RI
  • UII dan IKPI Perkuat Kolaborasi untuk Siapkan Konsultan Pajak Adaptif di Era AI dan Coretax

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Humas dan Pemanfaatan Teknologi Link to: Humas dan Pemanfaatan Teknologi Humas dan Pemanfaatan TeknologiJiwa mukmin - UII - berita kontrol kehamilan Link to: Realita Pendidikan Indonesia di Masa Pandemi Link to: Realita Pendidikan Indonesia di Masa Pandemi Mahasiswa FIAI Sabet Juara 1 Artikel Ilmiah NasionalRealita Pendidikan Indonesia di Masa Pandemi Scroll to top Scroll to top Scroll to top