• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Problematika Penanganan Medis Covid-19
Berita Kegiatan, Covid19

Problematika Penanganan Medis Covid-19

Penanganan medis Covid-19 dinilai perlu dikaji dan diperhatikan kembali. Di antaranya adalah terkait dengan penunjang pemeriksaan. Muncul pertanyaan bagaimana jika sampai terdapat ketidakseragaman dalam melakukan penanganan medis, baik dari masalah keilmuan, sumber daya manusia, ataupun fasilitas penunjang kesehatan.

Berangkat dari problematika tersebut, Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (IKA FK UII) menyelenggarakan Mini Symposium Series IKA secara daring pada Senin (1/6), bertajuk Menyikapi dari Banyak Disiplin Ilmu tentang Pandemi COVID-19.

Penanggung Jawab Laboratorium Rumah Sakit UII yang juga merupakan alumni FK UII angkatan 2001, Dr. Nuur Naafi Ulloh M.Sc, Sp.PK memaparkan tantangan aspek diagnostik Covid-19 di Indonesia. Menurutnya terdapat persoalan dengan adanya ketidakseragaman kemampuan laboratorium, baik dalam hal sarana-prasarana, ataupun sumber daya manusia itu sendiri.

“Adanya kemampuan laboratorium yang tidak seragam, bisa terkait sarana dan prasarana serta sumber daya manusianya sendiri, tidak hanya dirasakan oleh rumah sakit swasta, bahkan rumah sakit rujukan juga mendapati masalah yang sama,” jelasnya saat memaparkan materi Problematika Pemeriksaan Penunjang Sederhana Laboratorium dan Penunjang Spesifik (Rapid Test dan SWAB) Bagi pasien Terduga Covid-19.

Selain ketidakseragaman fasilitas dan sumber daya manusia, koordinasi terpadu dalam melakukan berbagai tes terkait diagnosis juga masih menjadi tantangan. “Kadang-kadang kita bingung dengan tes antibodi, antigen, PCR, alur, pelaporan, dan interpretasi. Untuk awal-awal itu masih belum rapi,” tandasnya.

dr. Nuur Naafi menuturkan bahwa pengadaan Reagen (pereaksi kimia) pemeriksaan oleh swasta/mandiri, terutama untuk rapid test antibodi, masih belum terkoordinasi dengan baik. Untuk pemeriksaan secara massal, masih terkendala dari sisi sumber daya manusia dan sarana-prasarana.

Kepala Instalasi/Dokter Spesialis Radiologi RSUD BESEMAH Pagar Alam Sumatera Selatan, dr. Haryo Chandra Kusuma Sari, Sp. Rad dalam paparannya menyampaikan materi terkait problematika pemeriksaan penunjang radiologi untuk membedakan dengan tepat, antara Covid-19 dengan gangguan paru-paru lainnya.

dr. Haryo menuturkan bahwa radiologi dan patologi klinik adalah penunjang untuk melakukan diagnosis dari Covid-19. Radiologi sendiri memiliki fungsi untuk mengetahui ada atau tidaknya gejala pneumonia, baik pneumonia khusus yang terkait Covid-19 maupun yang tidak.

Kendati Radiologi menjadi salah satu penunjang diagnosis Covid-19, dr. Haryo mengatakan bahwa Radiologi sendiri tidak direkomendasikan untuk skrining secara luas. “Untuk skrining dalam skala yang luas, misal untuk suatu daerah, desa atau kota, semua diperiksa radiologinya. Itu sebenarnya tidak direkomendasikan,” ungkapnya.

Karena pemeriksaan Radiologi tidak dilakukan dalam skala yang luas, dr. Haryo mengatakan bahwa ada indikator tertentu untuk melakukan pemeriksaan radiologi terhadap pasien. “Ini dilakukan dikala ada kecurigaan Covid-19. Misal ada kontak, riwayat perjalanan, ditambah dengan gejala-gejala klinis lainnya. Pemeriksaan ini juga dilakukan bilamana ada rencana tindakan medis tertentu, seperti operasi, atau melahirkan,” paparnya.

“Pemeriksaan radiologi juga bisa dipertimbangkan pada pasien-pasien tanpa gejala (asimptomatis) atau pasien dengan gejala ringan yang akan dirawat inap,” imbuh dr. Haryo yang merupakan alumni FK UII angkatan 2002.

Terkait dengan infeksi dan gejala dari Covid-19, dr. Rina Hayati, Mked. (ORL-HNS), Sp. THT-KL, alumni FK UII angkatan 2004, menjelaskan bahwa tidak semua orang yang terpapar menjadi terinfeksi. Sedangkan pasien yang terinfeksi sendiri tidak selalu mengalami gejala pernafasan berat. Terdapat tahapan-tahapan dalam melakukan diagnosis yang berkaitan dengan gejala-gejala yang dialami penderita.

“Ada tahapan-tahapan gejalanya, untuk tahap pertama itu merupakan masa Inkubasi, tanpa gejala, dari sini virus belum atau sudah bisa terdeteksi. Kemudian masuk dalam tahap kedua berupa gejala ringan. Ini menandakan sudah adanya virus. Apabila dalam tahap kedua ini, tubuh tidak bisa menahannya lagi, akan masuk dalam tahap ketiga dimana akan mengalami gejala pernafasan yang cukup berat,” ujar dokter penanggung jawab Rumah Sakit Bhayangkara Polda Lampung, saat menjadi moderator Mini Symposium Series.

Beredar berita bahwa dokter THT lebih mudah terpapar dan memiliki resiko yang lebih. Menanggapi kabar ini, dr. Rina menjelaskan bahwa dari interaksi dengan pasien penderita, dokter THT cenderung lebih rentan terpapar.

“Untuk THT sendiri, pemeriksaannya memang sangat riskan dalam kondisi sehari-hari. Karena tidak jauh-jauh dengan membuka mulut, hidung, dan untuk jarak memang tidak bisa dihindari, harus dari jarak dekat,” ungkapnya. (FSP/RS)

4 Juni 2020
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2020/05/Kampus-UII-5.jpg 412 598 humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII.png humas2020-06-04 03:06:262020-06-04 03:06:26Problematika Penanganan Medis Covid-19

Berita Terakhir

  • UII Terima Kunjungan Universitas Pertahanan RI
  • UII dan IKPI Perkuat Kolaborasi untuk Siapkan Konsultan Pajak Adaptif di Era AI dan Coretax
  • UII Hadirkan Light Show di Stasiun Tugu Yogyakarta, Perkenalkan Kampus Melalui Pertunjukan Visual
  • UKM TQFI UII Resmi Buka Grand Final International Quranic Festival 2026
  • DPKA UII Gelar Career Class: Hadirkan Pakar BUMN Bahas Peta Jalan Karier Mahasiswa

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Esensi Ramadan dan Idul Fitri di Kala Pandemi Link to: Esensi Ramadan dan Idul Fitri di Kala Pandemi Esensi Ramadan dan Idul Fitri di Kala Pandemi Link to: Mendapatkan Pekerjaan di Saat Pandemi Link to: Mendapatkan Pekerjaan di Saat Pandemi Mendapatkan Pekerjaan di Saat Pandemi Scroll to top Scroll to top Scroll to top