• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Berita Kegiatan2 / Revolusi Taqwa 7.0 vs Revolusi Society 5.0
Berita Kegiatan, Pilihan

Revolusi Taqwa 7.0 vs Revolusi Society 5.0

Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) menyelenggarakan Seminar Nasional Revolusi Taqwa 7.0 vs Revolusi Society 5.0 dalam Rangka Menyambut Tahun Baru Islam 1444 H pada Minggu (24/07).Acara yang digelar secara daring melalui zoom meeting dan disiarkan di kanal YouTube ini mengundang berbagai ekspert keilmuan di bidang agama dan kesehatan.

Pembicara pertama, Ustadz K.H. Barli yang memaparkan topik mengenai hidayah, menjelaskan bahwa anak itu seperti putih polos dan tergantung orang tuanya akan menulis apa. Hal ini menjelaskan bahwa setiap orang memiliki bekal hidayah (fitrah). Bagi seseorang yang lahir dalam keluarga muslim maka perantara hidayah adalah orang tua. Kemungkinan hilangnya hidayah (murtad) itu kecil, namun kemungkinan untuk tidak berkembang biasanya sering. “Carilah hidayah dengan bergaul dengan orang alim,” pesan Ustadz K.H. Barli.

Menurutnya, setelah mencari hidayah taqwa maka dilanjutkan perlunya usaha untuk menjaga. Caranya beragam dan yang paling mudah adalah dengan menyebarkannya kepada sekitar. Bisa dimulai dari keluarga dekat, sahabat, dan khalayak masyarakat. Selanjutnya adalah dengan bergabung orang alim tidak terbatas di lingkungan pesantren. Namun, juga berbagai majlis ilmu seperti akademisi muslim dan peneliti muslim.

Selanjutnya topik mengenai taqwa sebagai modalitas terapi semua problem kehidupan dikupas melalui sudut pandangan filosofis, hukum islam, dan tasawuf disampaikan oleh Prof. Dr. H. Abdul Mustaqim, S.Ag., M.Ag. Makna taqwa menurutnya adalah takut yang mendekatkan kepada Allah Swt. Untuk meraih hal tersebut perlu mengamalkan isi Al-Quran semaksimal mungkin. Nantinya taqwa tersebut menjelma menjadi bentuk sebaik-baiknya bekal di akhirat. “Taqwa adalah menjaga diri,” jelasnya.

Menurut Abdul Mustaqim, saat seseorang bertaqwa maka sesungguhnya sedang menghindarkan diri dari segala hal yang menyakiti. Orang yang bertaqwa hidupnya seperti selalu memakai tameng pelindung. Contohnya adalah mengapa kita menghindari korupsi, mencuri, berzina adalah untuk menjaga dirinya sendiri. “Allah mengukur kemuliaan makhluk dari kualitas taqwanya,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia berpesan kepada seluruh audiens untuk tidak mendiskriminasi berdasarkan gender. Menjadi laki-laki bukan ukuran akan lebih mulia daripada wanita. Jabatan profesor bukan berarti lebih mulia dari doktor. Namun, bukan berarti seorang muslim tidak boleh menginginkan jabatan tersebut. Jadikan suatu jabatan sebagai perantara ketaqwaan kepada Allah swt. Taqwa adalah pakaian. Maka pakailah pakaian taqwa dalam setiap momentum dan pekerjaan kita.

Mengulik sudut pandang mengenai ketaqwaan terhadap pelbagai solusi kesehatan, dr. Syaefudin Ali Akhmad, M.Sc., menyampaikan sehat memiliki enam unsur R (raga, rasa, rasio, rohani, rupiah, dan relasi sosial). Dia menyampaikan suatu pendekatan metafisik terhadap kebutuhan spiritualitas pasien berdasarkan tiga aspek dasar kesehatan. Yakni historis kedokteran nabi, keilmuan kedokteran nabi, dan syariah kedokteran modern. “Seorang berjuang sejatinya untuk mencari makna dan tujuan di dunia dan akhirat,” tandasnya.

Disampaikan Syaefudin Ali Akhmad, ada tujuh hal yang ingin diraih manusia dalam hidup. Dimulai dari mencari kepastian, tantangan, eksistensi diri, relasi cinta, perkembangan, dan kontribusi. Seiring evolusi manusia menjadi techno sapiens. (UAH/RS

25 Juli 2022
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2022/07/Tangkapan-layar-dr.-Syaefudin-Ali-Akhmad-M.Sc_.-dalam-acara-Seminar-Nasional-Revolusi-Taqwa-7.0-vs-Revolusi-Society-5.0.jpg 450 804 humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png humas2022-07-25 16:12:222022-07-25 16:12:22Revolusi Taqwa 7.0 vs Revolusi Society 5.0

Berita Terakhir

  • UII dan Unhan RI Perkuat Sinergi, Bahas Isu Maritim hingga Diplomasi Pertahanan
  • Sumpah Dokter ke-72 FK UII: Cetak 2.688 Alumni, Soroti Tantangan Pasien Berbekal AI hingga Peluang Bisnis Medis
  • UII dan Pemkot Pekalongan Jalin Kerja Sama Strategis Perkuat Pendidikan dan Pengembangan Daerah
  • UII dan Pemkab Bantul Perkuat Sinergi, Bahas Pengembangan RS UII hingga Peluang Program Beasiswa
  • UII dan Pemkab Ngawi Eksplorasi Kerja Sama Strategis

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: UII Tuan Rumah Gowes Jogjaversitas Link to: UII Tuan Rumah Gowes Jogjaversitas UII Tuan Rumah Gowes Jogjaversitas Link to: Menjadi Sosok Creative Content Creator Yang Menginspirasi Link to: Menjadi Sosok Creative Content Creator Yang Menginspirasi Menjadi Sosok Creative Content Creator Yang Menginspirasi Scroll to top Scroll to top Scroll to top