Universitas Islam Indonesia (UII) terus mengembangkan layanan pendidikan tinggi yang berada di bawah naungannya. Hal ini tidak lain sebagai respon UII dalam meningkatkan kualitas penelitian sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat akan pendidikan berkualitas di Yogyakarta. Sebagaimana tergambar dalam pendirian Program Studi Magister Farmasi (S2 Farmasi) di bawah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).

Pendirian prodi itu telah mendapat lampu hijau dengan dasar Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 110/E/O/2021 tertanggal 5 April 2021 tentang Izin Pembukaan Program Studi Farmasi program Magister. Penyerahan SK tersebut berlangsung di Kantor LL DIKTI Wilayah V, Jl. Tentara Pelajar No. 13 Yogyakarta pada Selasa (27/4). Rektor UII, Prof. Fathul Wahid, Ph.D menerima dokumen SK dari Kepala Lembaga LL DIKTI Wilayah V, Prof. Dr. Didi Achjari, SE, M.Com., Akt. Magister Farmasi UII merupakan prodi ke-49 yang dimiliki UII.

Prof. Fathul Wahid menyampaikan rasa syukur atas keluarnya izin operasional melalui SK Mendikbud tersebut. Menurutnya hal ini merupakan penantian panjang yang sejak lama telah diharapkan UII. 

“Mudah-mudahan ini menjadi bagian dari ikhtiar mewujudkan visi UII sebagai rahmat bagi semesta alam dan memberi manfaat lebih bagi bangsa”, ucapnya. Ia juga menyebut bahwa penggunaan maha data akan menjadi ciri khas dari Prodi Magister Farmasi. Hal ini seiring dengan urgensi memaksimalkan pemanfaatan sumber daya alam di Indonesia untuk kemandirian industri farmasi nasional. Dalam upaya tersebut dibutuhkan SDM bidang farmasi yang ahli dan kompeten.

Sementara itu, Prof. Didi Achjari berharap momen ini dapat semakin memperkuat kualitas pendidikan tinggi di wilayah DIY, khususnya UII. “Kepercayaan yang diberikan untuk membuka prodi baru tentunya bukan cek kosong. Setiap pihak perlu bekerja keras dan berlari kencang”, tandasnya.

Ia juga mengapresiasi upaya UII yang terus membangun kualitas akademik dan institusi. Beberapa kali pihaknya diundang untuk menyerahkan SK Pengangkatan Guru Besar di UII. “Ini bukan sesuatu yang tiba-tiba, munculnya Magister Farmasi UII. Ini merupakan sebuah akumulasi dari upaya-upaya. Peningkatan SDM, sarana prasarana, dan kurikulum. Tanpa itu, akan mengecewakan mahasiswa dan orang tuanya”, pesannya.

Prof. Didi Achjari berpendapat kemandirian industri farmasi nasional perlu dibangun mengingat masih tingginya ketergantungan terhadap obat impor. Hadirnya Magister Farmasi UII di LL DIKTI Wilayah V diharapkan memberikan kontribusi bagi upaya mewujudkan kemandirian itu.