Jumlah Doktor di lingkungan Universitas Islam Indonesia (UII) kini bertambah 14 orang. Bertambahnya jumlah doktor ini tergambar dalam acara Penyambutan Doktor Baru yang diselenggarakan pada Kamis (13/12), di Ruang Sidang Gedung Kuliah Umum Dr. Sardjito lantai dua. Dengan bertambahnya dosen yang mendapatkan gelar Doktor di tahun 2018, maka total Doktor yang ada berjumlah 181 orang, atau sekitar 25% dari total dosen di UII.

Turut hadir dalam acara tersebut Ketua Pembina Yayasan Badan Wakaf UII, Dr. Ir. Luthfi Hasan, MS., Ketua Umum Yayasan Badan Wakaf UII, Drs. Swarsono, M.A., Rektor UII, Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D., serta para wakil rektor, dekan, ketua jurusan, dan beberapa pejabat di lingkungan UII lainnya.

Dalam kesempatan tersebut, Fathul Wahid menyampaikan bahwa bertambahnya jumlah Doktor ini merupakan suatu hal yang patut disyukuri. Karena berdasarkan statistik, sepertiga mahasiswa pada program Doktor mengalami kegagalan. Selanjutnya, dengan meraih gelar Doktor bukanlah akhir, namun awal dari perjalanan yang baru.

“UII mengharapkan kiprah yang lebih besar dari para dosen yang sudah menyandang gelar Doktor sebagai gelar pendidikan tertinggi di bidang akademik”, ujar Rektor UII tersebut.

Fathul Wahid juga menambahkan, bahwa dalam dunia akademisi saat ini, ada kecenderungan dua madzhab, yaitu Carreer Minded Scholars dan Science Minded Scholars. Penganut madzhab yang pertama adalah orang yang lebih mengedepankan kariernya. Dalam melakukan penelitian, publikasi, membimbing mahasiswa, semuanya hanya untuk mengejar karier. Adapun madzhab yang kedua, Science Minded Scholars adalah orang-orang yang mengedepankan pengembangan ilmu pengetahuan.

“Banyak para akademisi kampus tercerabut dari konteksnya, tidak peduli dengan sekelilingnya. Penelitian tetap dilakukan, publikasinya banyak, tapi tidak punya indikasi di lapangan, sehingga dampak yang dirasakan minim”, pungkas Fathul Wahid.
Selain itu, Drs. Suwarsono, M.A. selaku Ketua Umum Yayasan Badan Wakaf UII juga menyampaikan para Doktor baru diharapkan dapat berfikir yang luar biasa, dan juga bisa bertindak dengan cara-cara yang terhormat.

“Belum ditermukan definisi dari terhormat atau tidak terhormat, tapi kita bisa merasakan, mana cara-cara terhormat, dan mana saja cara-cara yang tidak terhormat. Seharusnya kita mengetahui cara mana yang akan kita pilih”, ujar Suwarsono.

Tidak lupa Dr. dr. Betty Ekawati Suryaningsih, Sp.KK., mewakili para Doktor baru lainnya menyampaikan ungkapan rasa bahagianya. Ia bahagia karena dapat menjadi bagian pendidik UII yang selalu istiqomah dalam melakukan pengembangan ilmu dan selalu mengajak orang lain untuk bersama-sama meningkatkan kualitas ibadah. (LAR)