Kemampuan menulis karya ilmiah yang dimiliki seseorang merupakan salah satu indikator penting dalam meningkatan mutu. Hal ini selaras dengan wujud catur dharma Universitas Islam Indonesia (UII), yakni meningkatkan kualitas serta keterampilan baik mahasiswa maupun dosen dalam kegiatan penelitian, dan memproduksi pengetahuan melalui riset.

Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UII menggelar Kamp Penulisan Daring Publikasi Internasional untuk dosen pada Sabtu (4/7), dengan menghadirkan pembicara  Rektor UII, Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D. dan dosen yang juyga peneliti di Universitas Teknologi Petronas Malaysia, Kiki Adi Kurnia, S.Si., M.Sc., Ph.D. Diselenggarakannya kamp ini sebagai upaya mendorong publikasi karya ilmiah dan meningkatkan kualitas jurnal ilmiah bagi para dosen di lingkungan UII.

Wakil Rektor Bidang Pengembangan Akademik & Riset UII, Dr. Drs. Imam Djati Widodo, M.Eng.Sc. berharap dalam setahun ini, akan ada 100 karya ilmiah (paper) yang bisa dipublikasikan di Jurnal Internasional. Program ini merupakan titik ujung atau bagian akhir bagi para dosen yang sudah melakukan penelitian untuk diarahkan ke tahap berikutnya yaitu pengumpulan, sehingga karya ilmiah atau paper dapat dipublikasikan.

“Tentunya ini adalah sekian dari banyak program yang kita ikuti, untuk mendorong peningkatan publikasi internasional khususnya. Ini adalah bagian ujung, ketika para dosen sudah melakukan penelitian kemuadian melakukan proses submit, pengumpulan atau pengiriman karya ilmiah persiapannya ada di sini,” tuturnya.

Dalam Sambutannya Fathul Wahid mengatakan program ini adalah wujud suatu ikhtiar dalam meningkatkan riset sehingga dapat dirasakan manfaatnya bagi para khalayak ramai. Dan manfaat ini sama halnya dengan kenikmataan, dengan menyebarkannya serupa dengan mensyukuri nikmat.

“Melakukan riset dan menemukan hal yang menarik itu adalah nikmat dan harus dikabarkan, publikasi bisa kita bingkai sebagai mensyukuri nikmat, ” tutur Fathul Wahid.

Ia juga menghimbau para dosen untuk melakukan publikasi, karena hal ini seperti mengabadikan diri di dalam tulisan. Sebagaimana para ilmuwan muslim terdahulu, seperti Ibnu Sina dan Imam Ghazali, karena penemuanya serta tulisannya yang ditumpahkan di dalam kitab klasik hingga saat ini kita masih mengenalnya.

“Jika kita bisa mengikat ilmu dengan tulisan, insyaAllah itu menjadi abadi, kita kenal banyak tokoh-tokoh yang sampai saat ini masih terasa membersamai kita karena tulisannya” Fathul Wahid menambahkan.

Dalam pemaparan materi pertama di bidang sosial, Fathul Wahid menekankan pentingnya kontribusi dari suatu karya ilmiah. Menurutnya perlu adanya kejelasan atas argumen dan kontribusi yang ditawarkan peneliti dalam menulis karya ilmiah. Kejelasan kontribusi inilah merupakan tantangan yang harus dihadapi peniliti sebelum memulai menulis.

“Ini memang tantangan, perlu uji ide, perlu dibenturkan, perlu didiskusikan, kontribusi secara umum itu nanti terkait dengan pelajaran apa yang kita dapatkan? pengetahuan baru apa yang kita dapatkan?” tegasnya.

Kiki Adi Kurnia, dalam pemaparan materi kedua di bidang eksakta mengatakan bahwa penting bagi para peneliti untuk memperhatikan 3 aspek yaitu motivasi, metode, serta hasil dari suatu karya ilmiah. Sehingga karya ilmiah yang dihasilkan dapat memberikan impact bagi perkembangan ilmu.

“Perlu diingat, ketika menulis jurnal fokus pada 3 kriteria ini, motivasi untuk penulisan artikelnya apa? metodenya bagaimana? dan juga hasil atau impactnya terhadap perkembangan sains teknologi di bidang kita itu seperti apa?,” paparnya.

Ia juga berpesan untuk memperhatikan strategi dalam memilih target jurnal. Karena hal ini harus difikirkan terlebih dahulu sebelum peneliti memulai mengerjakan karya ilmiahnya. Karena masing-masing jurnal memiliki gaya tulisan yang berbeda seningga para penulis harus bisa menyesuaikan kemampuan dirinya dengan gaya tulisan jurnal.

“Sebelum kita mulai menulis, lebih baik kalau kita mengetahui kita akan mensubmit kejurnal mana? karena masing masing jurnal mempunyai gaya tulisan yang berbeda. Pentingnya memilih jurnal karena setiap jurnal memiliki scope yang berbeda,” jelasnya. (HA/RS)