Bumi saat ini memiliki masalah global yang cukup kompleks. Penting bagi perguruan tinggi untuk turut berperan terhadap pembangunan berkelanjutan. Hal ini dikemukakan Researcher, Community and Sustainability Centre, Universiti Malaya, Mohd Fadhli bin Rahmat Fakri pada sesi kedua kegiatan The 2nd National Sustainability University Leaders Meeting 2021 yang digelar secara daring, Rabu (21/7).

Dalam paparannya dengan topik pentingnya kepemimpinan berkelanjutan di universitas, Mohd Fadhli mengemukakan poin yang paling penting adalah dukungan kepada mahasiswa terhadap kebutuhan pengetahuan, keterampilan, serta sikap untuk mengatasi tantangan global, termasuk perubahan iklim, degradasi lingkungan, hilangnya keanekaragaman hayati, kemiskinan, dan ketidaksetaraan.

Mohd Fadhli dalam acara yang dihelat UII ini menjelaskan lima hal yang harus masyarakat ketahui mengenai perubahan iklim di dunia, antara lain adalah pemanasan global. Menurutnya pemanasan global harus dibatasi hingga 1,5°C akan sehingga akan menurunkan emisi karbon bersih global yang disebabkan manusia untuk turun sekitar 45% pada tahun 2030 dari tingkat 2010, mencapai ‘nol bersih’ sekitar tahun 2050.

“Ini akan membutuhkan yang belum pernah terjadi sebelumnya, transisi yang cepat dan berjangkauan luas untuk mengurangi jejak karbon di tingkat global, nasional dan lokal,” jelas Fadhli.

Dampak lain dari pemanasan global yang berlanjut akan berdampak pada naiknya permukaan air laut lebih cepat. Permukaan laut global telah meningkat secara signifikan selama satu abad terakhir. Pada tahun 2014, permukaan laut global adalah 2.6 inci jauh diatas normal.

Mohd Fadhli menerangkan naiknya permukaan laut yang lebih tinggi akan menyebabkan adanya gelombang badai yang akan besar kemungkinan menimbulkan lebih banyak kerusakan, terutama adalah banjir.
Lebih lanjut dalam materinya, Mohd Fadhli menyampaikan adanya peningkatan jumlah kadar karbondioksida (CO2) atmosfer yang menyentuh pada angka 409.8 ppm pada tahun 2019, merupakan kadar CO2 tertinggi selama 800.000 tahun terakhir.

“Konsentrasi CO2 meningkat sebagian besar karena bahan bakar fosil yang dibakar manusia untuk energi, contohnya seperti batu bara dan minyak,” jelasnya.

Menurut Fadhli peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer merupakan sumber dari masalah ketidakseimbangan energi yang menyebabkan suhu bumi meningkat.

Sementara Prof. Dr. Ambariyanto, M.Sc., Koordinator UI GreenMetric untuk Indonesia menyampaikan materi mengenai “Pengembangan Sustainability Leader”.

Menurut Thomashow (2009), kampus berkelanjutan adalah kampus yang menerapkan visi kawasan ekologis dengan teknologi, karakter, komunitas, program, yang menciptakan dan membentuk gaya hidup ramah lingkungan pada orang-orang yang menjadi bagian dari kampus tersebut.

Prof. Ambariyanto menekankan jika perguruan tinggi yang berkelanjutan tidak hanya mengembangkan universitasnya namun juga mampu berperan di regio regional, nasional, bahkan internasional. Untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan Sustainability Leader.

“Sustainability Leader tidak hanya think tapi juga acting. Karena sebagai pemimpin, ia merupakan center of organization,” jelas Prof. Ambariyanto.

IaLebih lanjut Prof. Ambariyanto menjelaskan mengenai kompleksitas perguruan tinggi yang terdiri dari infrastruktur, proses belajar mengajar, dan sumber daya manusianya.

Menurutnya aspek infrastruktur adalah bagaimana kampus menyiapkan fasilitas kepada mahasiswa untuk mendukung proses belajarnya sekaligus keramahan fasilitas tersebut terhadap lingkungan. Melihat dari segi berkelanjutan bagaimana fasilitas tersebut dapat beradaptasi di banyak kondisi, contohnya adalah saat pandemi Covid-19.

Wakil Rektor Universitas Diponegoro ini juga menyampaikan mengenai respon perguruan tinggi terhadap pandemi Covid-19 terhadap aspek proses belajar mengajar dan sumber daya manusia. Bagaimana perguruan tinggi mengembangkan pengajaran online dan penanganan terhadap pengajar atau mahasiswa yang terdampak, salah satunya dengan menyiapkan shelter.

Menjadi perguruan tinggi berkelanjutan, para pemimpinnya harus memperhatikan banyak hal. Prof. Ambariyanto menjelaskan jika faktor yang membuat calon mahasiswa mendaftar di suatu kampus tidak hanya karena rangking kampus dan sejarah kesuksesan alumni. Namun, menurutnya ada faktor yang lain seperti kebersihan, kenyamanan, kesehatan, keamanan, serta fasilitas yang tersedia. (UAH/RS)