Program Studi Ilmu Agama Islam Program Magister (PSIAIPM) Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan Student Symposium on Islamic Education dengan mengangkat tema “Transformasi Pendidikan Islam di Era Digital: Membangun Karakter, Spiritualitas, dan Keberlanjutan Global” pada Sabtu (29/11) di Auditorium Gedung K.H.A Wahid Hasyim Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI), Kampus Terpadu UII. Dihadiri oleh ratusan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, kegiatan ini menghadirkan Dhomas Hatta Fudholi, S.T., M.Eng., Ph.D selaku Dosen Jurusan Informatika UII dan Gus Romzi Ahmad selaku CEO Pesantren Development sebagai narasumber.

Wakil Rektor Bidang Pengembangan Akademik dan Riset UII, Prof. Dr. Jaka Nugraha, S.Si., M.Si, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas antusiasme tinggi peserta yang mencapai lebih dari 180 pemakalah. Ia menegaskan pentingnya kegiatan ilmiah seperti ini untuk memperkuat budaya akademik di kampus. “Kegiatan seperti ini merupakan bagian dari upaya menumbuhkan ekosistem akademik yang sehat, sekaligus mendukung percepatan kelulusan mahasiswa magister melalui kewajiban publikasi,” ujarnya.

Prof. Jaka juga menekankan urgensi transformasi pendidikan Islam di era digital. Ia mengingatkan bahwa perjalanan peradaban manusia adalah proses panjang yang ditopang oleh kemampuan melestarikan pengetahuan dan terus berinovasi. Dalam konteks perkembangan teknologi, ia menegaskan pentingnya pemanfaatan artificial intelligence (AI) secara bijak. “AI itu ibarat alat—jika digunakan oleh orang yang amanah, ia akan membawa kebermanfaatan. Karena itu di UII kami menetapkan etika pemanfaatan AI agar kemajuan teknologi menjadi keberkahan, bukan sebaliknya,” jelasnya. Ia berharap simposium ini membawa inspirasi dan mendorong lahirnya kontribusi ilmiah yang bermanfaat bagi pengembangan pendidikan Islam.

Kurikulum DAAI (Digital, Akhlak, dan Artificial Intelligence)
Memasuki sesi pemaparan materi, Dhomas menjelaskan perbedaan antara discriminative model dan generative model dalam penggunaan alat kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, discriminative model bertujuan untuk mengklasifikan sesuatu sedangkan generative model digunakan untuk mengenali pola dan menghasilkan data baru berdasarkan pola tersebut.

Dhomas juga menyampaikan tiga hal yang membawa AI mampu mengubah proses belajar manusia. Pertama, increasing reach through AI yaitu kemampuan AI membuat materi yang sulit  menjadi lebih mudah dipahami sehingga  memperluas jangkauan pemahaman.

“Kedua, powering personal and interactive learning, cara belajar orang berbeda-beda. Dengan AI, akselerasi pembelajaran dapat dilakukan dengan menyesuaikan materi sesuai kebutuhan masing-masing. Ketiga, extending educators and assistance to everyone, ketika ada materi yang kurang jelas kita bisa meminta AI menjelaskan ulang. Belajar sekarang tidak lagi terbatas oleh tempat, waktu, atau bahasa, karena semuanya dimudahkan oleh berbagai macam media,” jelasnya.

Selanjutnya, Dhomas menunjukkan bagaimana AI dapat diterapkan dalam pendidikan Agama Islam. Ia menampilkan contoh platform AI yang memungkinkan pengguna memberikan prompt terkait tata cara berwudhu, kemudian AI tersebut menjelaskan langkah-langkahnya secara rinci sehingga memudahkan pengguna memahami praktik ibadah tersebut. Tak lupa, ia juga memaparkan pedoman etika pemanfaatan GenAI, termasuk penggunaan yang diperbolehkan seperti “membantu pemahaman materi, perbaikan bahasa, serta visualisasi ilmiah,” serta larangan seperti “copy-paste mentah” tanpa proses verifikasi. Dhomas menegaskan bahwa penggunaan AI harus dilakukan secara bertanggung jawab agar tidak menghilangkan proses berpikir kritis dalam pembelajaran.

Meninjau Ulang Pendidikan Agama Islam
Jika Dhomas Hatta membahas pemanfaatan AI dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan Agama Islam, maka pada sesi kedua Gus Romzi melengkapinya dengan menyoroti kembali fondasi utama pendidikan Islam. Ia menegaskan bahwa otoritas keagamaan bertumpu pada sejumlah unsur penting, seperti teks suci, tradisi keagamaan, aturan moral, dan peran ulama. Pemahaman terhadap komponen-komponen ini, menurutnya, menjadi landasan untuk melihat bagaimana pendidikan Islam berkembang dari masa ke masa.

Gus Romzi juga menguraikan keragaman model pendidikan Islam yang kini berjalan berdampingan—mulai dari madrasah, pesantren, hingga sekolah umum dan sekolah berkurikulum internasional. Menurutnya, perkembangan ini menunjukkan perlunya desain pendidikan yang lebih adaptif. Mengutip Ibn Khaldun, Ia mengatakan bahwa pengetahuan harus releban dengan kebutuhan sosial dan perkembangan ilmu merupakan fenomena sosial. Gus Romzi menekankan bahwa pendidikan Islam harus mampu menjaga keseimbangan antara warisan tradisi dan kebutuhan inovasi.

Dalam paparannya, Romzi turut menyoroti tantangan besar yang dihadapi pendidikan Islam ketika berhadapan dengan realitas global yang terus berubah. Ia menegaskan bahwa lembaga pendidikan tidak hanya dituntut mempertahankan nilai-nilai spiritual, tetapi juga harus membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir kritis, literasi digital, serta kepekaan sosial. “Pendidikan Islam harus melahirkan generasi yang mampu memberi kontribusi nyata, bukan sekadar mengulang apa yang sudah ada,” ujarnya. Menutup presentasi, Ia mengutip Tariq Ramadan yang menyerukan agar umat Islam berpindah dari sekadar mengonsumsi pengetahuan menuju memproduksi solusi etis dan intelektual.

Dengan terselenggaranya Student Symposium ini, diharapkan para mahasiswa, khususnya yang bergelut di bidang Pendidikan Agama Islam, mampu menyeimbangkan ilmu-ilmu keislaman dengan tren masa kini, terutama dalam era digital dan pemanfaatan AI. Dengan demikian, mereka dapat menjadi insan yang tidak hanya mampu menjaga tradisi keagamaan Islam, tetapi juga terus adaptif dan responsif terhadap perkembangan zaman. (AHR/RS)

Setiap orang berhak tinggal di rumah yang aman, sehat, dan mampu melindungi keluarga dari kondisi lingkungan yang terus berubah. Berangkat dari keyakinan tersebut, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII)  menyelenggarakan Coffee Morning Lecture (CML) ke-9 dengan tema “Kajian Rumah Adaptif Iklim” Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat (28/11) di Selasar Gedung Moh. Natsir FTSP UII menghadirkan para akademisi, praktisi perumahan, pemangku kepentingan sektor konstruksi, mitra pembangunan, serta masyarakat penerima manfaat dari Desa Wunung, Gunungkidul.

Kegiatan ini berkolaborasi dengan Yayasan Habitat Kemanusiaan Indonesia (Habitat for Humanity Indonesia) untuk merancang Rumah Habitat Adaptif Iklim di Desa Wunung, Gunungkidul. Perancangan tersebut mengintegrasikan riset ilmiah, konteks ekologis kawasan karst, serta kebutuhan nyata masyarakat, dengan dukungan PT Prudential Life Assurance Indonesia sebagai mitra strategis.

Kegiatan dibuka dengan sambutan salah satu perwakilan pimpinan PT Prudential Life Assurance Indonesia yang menyatakan komitmennya dalam menjaga ketahanan masyarakat.  “Kami percaya bahwa investasi terbaik adalah memastikan setiap keluarga tinggal di rumah yang mampu melindungi mereka dari risiko iklim. Kolaborasi bersama FTSP UII dan Habitat for Humanity Indonesia adalah bentuk nyata kontribusi Prudential untuk ketahanan keluarga Indonesia,” ujar Pimpinan PT Prudential Life Assurance Indonesia dalam sambutannya.

Lebih dari itu, Senior Manager of Field Operations Habitat for Humanity Indonesia menyatakan Yayasan Habitat berperan penting dalam implementasi di lapangan, mulai dari asesmen kebutuhan hingga konstruksi rumah adaptif. “Rumah bukan hanya bangunan; ia adalah ruang aman bagi keluarga. Di Wunung, kami belajar bahwa solusi teknis harus berjalan bersama budaya lokal dan partisipasi masyarakat. Itulah kekuatan rumah adaptif iklim,” ungkapnya.

Selanjutnya, Prof. Ilya Fadjar Maharika, M.A., IAI dalam sambutannya mengeaskan posisi UII sebagai kampus yang menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat. “Ini bukan sekadar program akademik. Ini adalah wujud keberpihakan UII terhadap ketangguhan masyarakat. Rumah adaptif iklim menunjukkan bahwa ilmu arsitektur, teknik sipil, dan teknik lingkungan dapat menyatu menjadi solusi yang membumi dan visioner,” tutur Prof. Ilya Fadjar Maharika.

Memasuki sesi inti, Karnen Dasen menguraikan perjalanan program tantangan lapangan, dan proses pendampingan penerima manfaat di Desa Wunung. Karnen menyatakan kunci keberhasilan program adalah kepemilikan bersama. Warga tidak hanya menerima rumah tetapi ikut berkontribusi dalam pembangunan dan perawatan rumah.  “Kolaborasi dengan FTSP UII memperkaya desain dan memastikan rumah yang dibangun benar-benar responsif terhadap iklim dan konteks lokal,” ungkapnya.

Sebagai peneliti utama, Prof. Suparwoko memaparkan hasil kajian arsitektur adaptif iklim yang dikembangkan berdasarkan kondisi karst Gunungkidul, pola hidup warga, dan teknologi konstruksi yang terjangkau. “Rumah adaptif iklim bukan sekadar penyesuaian kecil pada desain. Ia merupakan pendekatan holistik yang menimbang orientasi matahari, ventilasi alami, konservasi air, material lokal, hingga kapasitas ekonomi warga,” tegasnya.

Diskusi semakin hidup dengan adanya dua panelis ahli  yang memberikan pandangannya terkait rumah adaptif iklim, seperti Ar. Erlangga Winoto, IAI, AA. selaku Ikatan Arsitek Indonesia DIY yang menyatakan bahwa rumah adatif iklim di Wunung merupakan contoh nyata praktik arsitektur kontekstual yang jarang ditemukan. “Desain adaptif iklim bukan tren sesaat, tetapi kebutuhan masa depan Indonesia,” ungkap Ar. Erlangga.

Lebih lanjut, Direktur Green Building Council Indonesia (GBCI), Ar. Daud Tjondro Rahardja, MBA., IAI., GP. menyoroti pentingnya standar bangunan hijau dalam konteks rumah rakyat. “Rumah adaptif iklim adalah fondasi menuju bangunan hijau yang terjangkau. Kita harus memastikan prinsip keberlanjutan tidak hanya untuk gedung besar, tetapi juga untuk rumah sederhana yang dibutuhkan masyarakat,” tegasnya.

Melalui kegiatan ini, FTSP UII menegaskan peran strategisnya sebagai institusi yang mendorong perubahan nyata. Rumah adaptif iklim dari Wunung membuktikan bahwa rumah yang baik bukan hanya bangunan yang berdiri, tetapi ruang yang menjaga kehidupan di tengah ketidakpastian iklim. (AHR/RS)

SEAMEO QITEP in Language (SEAQIL) bekerja sama dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung peningkatan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Melalui program pelatihan bertajuk “Pelatihan Peningkatan Kemahiran Berbahasa Indonesia untuk Guru Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing”, kegiatan ini resmi diselenggarakan pada Kamis-Minggu  (25—28/11) di Hotel Aston Priority Simatupang Hotel & Conference Center, Jakarta Selatan.

Suprihatin, S.Pd (Kepala Departemen Akademik) selaku perwakilan  dari Center for International Language and Culture (Cilacs)-UII Yogyakarta menuturkan, “Pelatihan ini hadir sebagai upaya strategis dalam memperkuat kemampuan para pengajar dan calon pengajar BIPA terhadap standar kemahiran berbahasa Indonesia yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik dan praktis. Salah satu fokus utama dalam pelatihan ini adalah pemahaman dan penguasaan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI), yang selama ini menjadi instrumen kunci dalam pengukuran kemampuan berbahasa Indonesia secara objektif, terstruktur, dan berstandar nasional,” ungkapnya

Pengintegrasian UKBI dalam pelatihan tidak hanya memberikan gambaran komprehensif mengenai standar kompetensi yang harus dimiliki oleh pengajar BIPA, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam menjamin kualitas pembelajaran yang mereka berikan kepada penutur asing. Dengan penguasaan UKBI, peserta diharapkan mampu menerapkan pendekatan pengajaran yang lebih akurat, terukur, dan sesuai kebutuhan pembelajar di berbagai negara.

Kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan kemahiran berbahasa Indonesia melalui materi dan pendampingan intensif, memperkuat kompetensi profesional sebagai pengajar BIPA, dan memperluas eksposur dan pengakuan internasional terhadap Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang memiliki nilai strategis dalam diplomasi kebahasaan dan budaya.

Selama empat hari pelaksanaan, para peserta mendapatkan kesempatan untuk memperdalam aspek kemahiran berbahasa Indonesia secara intensif, mulai dari keterampilan menyimak, membaca, menulis, berbicara, hingga pemahaman terhadap struktur bahasa yang diukur secara sistematis. Pendekatan pembelajaran yang diterapkan dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang aplikatif, relevan, dan sesuai perkembangan terkini dalam pengajaran BIPA.

Melalui pelatihan ini, SEAQIL dan Badan Bahasa berharap dapat terus berkontribusi dalam mencetak tenaga pengajar BIPA yang kompeten, berdaya saing, dan mampu menjadi duta bahasa Indonesia di berbagai belahan dunia. Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari penguatan posisi Bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional yang semakin diakui dan diminati oleh masyarakat global. (ANK/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menjadi tuan rumah dalam rangkaian NUNI International Seminar Series #10, yang berlangsung pada Selasa-Rabu (25–26/11)  secara daring melalui kanal Zoom Meeting. Seminar ini mengusung tema “Thriving in the Digital Age: Balancing Mental Health, Well-being, and Sustainability in a Hyperconnected World”, sebagai upaya memperkuat literasi digital, ketahanan mental, dan kesadaran keberlanjutan bagi mahasiswa di era transformasi teknologi yang sangat cepat.

Seminar menghadirkan dua narasumber internasional terkemuka, yaitu Dr. Huynh Tan Loi dari Van Lang University, Vietnam, peneliti dan akademisi yang berfokus pada isu perubahan iklim, sanitasi lingkungan, serta implikasinya terhadap kesehatan masyarakat; dan Dr. Pontus Wärnestål dari Halmstad University, Swedia, pakar internasional dalam bidang human-centered design dan artificial intelligence, serta dosen senior di bidang teknologi informasi.

Pada sesi tanggal 25 November, Dr. Huynh Tan Loi menekankan pentingnya keterpaduan antara kesehatan lingkungan dan kesehatan mental sebagai fondasi bagi pembangunan berkelanjutan di tengah tekanan digital dan perubahan sosial urban. Ia juga membagikan pengalaman berbagai inisiatif penelitian dan program keberlanjutan yang dilakukan di Van Lang University.

Sementara pada 26 November, Dr. Pontus Wärnestål menyoroti urgensi pengembangan teknologi kecerdasan buatan yang berorientasi pada manusia, tidak hanya inovatif tetapi juga etis, bertanggung jawab, dan berkelanjutan untuk memastikan kesejahteraan pengguna di era digital.

Sebagai penyelenggara, UII menyambut antusiasme tinggi dari peserta yang berasal dari berbagai perguruan tinggi anggota Nationwide University Network in Indonesia (NUNI). Kegiatan ini berhasil menarik hingga lebih dari 550 peserta, memberikan peluang luas bagi mahasiswa untuk memperoleh wawasan global sekaligus membuka ruang kolaborasi penelitian dan pengembangan akademik lintas institusi.

NUNI International Seminar Series #10 merupakan bagian dari inisiatif internasionalisasi pendidikan tinggi Indonesia yang secara konsisten memperkuat reputasi akademik nasional di tingkat global. Melalui rangkaian seminar sebelumnya, program ini telah menjangkau lebih dari 3.000 peserta dari 40 institusi di dalam dan luar negeri.

Dengan terselenggaranya seminar ini, UII menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pengembangan kapasitas mahasiswa dalam menghadapi tantangan era digital, sekaligus mendorong kesejahteraan mental, kesehatan lingkungan, dan keberlanjutan global melalui kolaborasi akademik yang inklusif. (NI/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) melalui Bidang Hubungan Masyarakat (Humas) menyelenggarakan Pelatihan Manajemen Acara bertema “Mengelola Acara secara Profesional, Elegan, dan Berkesan” pada Rabu (26/11) di Ruang Audiovisual Fakultas Hukum (FH) UII. Kegiatan ini menghadirkan Emil Faizza, S.Pd., M.Med.Kom., CIT, seorang praktisi komunikasi dan public speaking, sebagai narasumber, serta diikuti oleh berbagai tenaga kependidikan dari tingkat universitas, fakultas, hingga program studi.

Kegiatan dibuka oleh Sekretaris Eksekutif UII, Hangga Fathana, S.IP., B.Int.St., M.A., yang menekankan pentingnya kesan dalam penyelenggaraan acara. “Dalam satu momentum acara, manusia itu ternyata tidak mengingat detik per detiknya. Yang diingat hanya dua: puncak emosi dan bagaimana acara itu diakhiri,” ujarnya, sembari mengajak peserta untuk memahami bahwa keberhasilan sebuah event terletak pada pengalaman yang ditinggalkan kepada audiens.

Selain itu, Hangga Fathana juga menyoroti dinamika yang sering terjadi dalam penyelenggaraan acara, seperti perubahan mendadak pada rundown atau kondisi lapangan. “Perubahan pada saat acara itu butuh keterampilan khusus untuk menghadapinya,” jelasnya. Ia berharap peningkatan kapasitas dalam pengelolaan acara dapat memperkuat profesionalitas dan kualitas pelaksanaan kegiatan di lingkungan UII, sehingga setiap agenda universitas tersaji secara lebih matang, elegan, dan berkesan bagi seluruh peserta.

Memasuki sesi inti, Emil Faizza menjelaskan bahwa kunci keberhasilan sebuah acara terletak pada ketepatan persiapan. Ia menampilkan prinsip yang menjadi pegangan para pembawa acara profesional, yakni “Naik dengan persiapan, turun dengan kehormatan.” Emil juga memaparkan daftar aspek yang wajib diperhatikan pada tahap pra-acara, mulai dari riset dan pemahaman acuan acara, press release, tamu undangan, hingga pengecekan perlengkapan teknis seperti audio dan visual. Seluruh komponen tersebut, menurutnya, menjadi fondasi agar acara berjalan tertib dan minim kesalahan.

Emil menambahkan bahwa tugas pembawa acara tidak hanya menyampaikan rangkaian kegiatan, tetapi juga menjaga alur, memastikan pemangku kepentingan memperoleh penghormatan sesuai protokol, serta memberi instruksi penting kepada hadirin. Ia mencontohkan beberapa arahan yang perlu disampaikan MC, seperti meminta hadirin mengaktifkan telepon seluler dalam mode senyap, menginformasikan kehadiran tamu VIP, mengisi kursi bagian depan, hingga mengarahkan media untuk mengambil gambar dari titik yang telah ditentukan.

Selain teknik pembawaan acara, peserta juga memperoleh pemahaman mengenai prinsip keprotokolan yang mencakup “tata tempat, tata upacara, dan tata penghormatan” sebagai unsur utama dalam acara resmi. Emil menegaskan bahwa penempatan VIP tidak boleh dilakukan sembarangan, dan menutup pemaparannya dengan menekankan pentingnya kerja sama tim (team work) sebagai kunci kelancaran acara.

Dengan terselenggaranya pelatihan ini, diharapkan para peserta dapat mengelola acara di unit masing-masing dengan lebih baik, mulai dari tahap persiapan hingga pelaksanaan. Peningkatan kemampuan ini diharapkan membantu menghadirkan kegiatan yang berjalan lebih tertib dan terarah, sehingga setiap acara dapat tampil profesional, elegan, dan meninggalkan kesan positif bagi para hadirin. (AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) menerima kunjungan dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah XVI Gorontalo, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tengah bersama 25 perguruan tinggi swasta (PTS) di bawah naungan lembaga tersebut dalam acara Patok Banding 2025. Lawatan kerjasama ini diterima langsung oleh Rektor UII, Fathul Wahid dan Ketua LLDikti Wilayah V Daerah Istimewa Yogyakarta Prof. Setyabudi Indartono pada Rabu (26/11) di Gedung Kuliah Umum Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII.

Kegiatan Patok Banding ini tidak hanya bertujuan untuk belajar praktik baik apa yang sudah dilakukan UII dalam meningkatkan kualitas tri dharma perguruan tinggi, penjaminan mutu, dan pengelolaan promosi. Lebih dari itu, kegiatan ini juga ditindaklanjuti dengan penandatanganan nota kesepahaman antara 20 PTS dibawah LLDikti Wilayah XVI dan UII.

Rektor UII, Fathul Wahid dalam sambutannya menyambut baik kegiatan ini sebagai ajang saling mengenal yang mampu memunculkan beragam potensi untuk kerja sama lanjutan.

“PTS sedang mengalami tantangan yang sangat luar biasa beberapa tahun terakhir. Beberapa penyebabnya di luar kendali kita, tapi ada yang bisa kita kendalikan yaitu apa yang akan kita lakukan. Kenapa itu menjadi penting? ketika kita terlalu banyak mengeluh, maka energi kita akan habis ke sana dan kita lupa untuk mendesain masa depan kita sendiri. Sehingga dengan memfokuskan untuk apa yang mungkin kita lakukan, maka insyaallah energi kita yang positif itu akan terkenalkan ke sana,” ungkap Fathul Wahid.

Senada, Kepala LLDikti Wilayah XVI, Munawir Sadzali Razak, dalam sambutannya menyampaikan bahwa untuk mewujudkan perguruan tinggi yang berkualitas terdapat banyak cara yang dapat ditempuh, salah satunya dengan belajar langsung dari pihak yang berpengalaman. Hal ini menjadi penting mengingat 84 PTS di LLDikti Wilayah XVI saat ini belum memiliki akreditasi unggul. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya mengimplementasikan hasil dari kegiatan ini setelah kembali ke masing-masing institusi.

“Jadi memang kita mesti banyak belajar, selain meningkatkan kualitas kita di internal, kita juga mesti melihat capaian-capaian yang sudah di tempat lain, melalui kegiatan patok banding seperti ini, khususnya dengan UII” ungkapnya.

Munawir berharap UII dapat berbagi tips dan trik dalam membangun budaya mutu, inovasi, tri dharma perguruan tinggi, hingga pengelolaan unit bisnis.  “Hal ini agar kami (PTS LLDikti Wilayah XVI -red) bisa mendapatkan inspirasi, dan kemudian inspirasi tersebut kami bawa pulang ke kampus kami, dan kemudian kami terapkan dan hasilnya mudah-mudahan kami harapkan bisa menjadi perguruan tinggi yang unggul seperti UII. Kami juga berharap kegiatan ini dapat membuka ruang kolaborasi  yang akan datang,” harap Munawir.

Kegiatan dilanjutkan dengan paparan praktik baik yang langsung disampaikan oleh Rektor UII, Fathul Wahid mengenai penjaminan mutu hingga pengelolaan promosi. Paparan materi yang disampaikan tidak hanya informatif, tetapi juga mampu membangkitkan antusiasme para peserta yang hadir. Setelah sesi tersebut, acara dilanjutkan dengan penandatanganan nota kesepahaman antara 20 PTS di bawah LLDikti Wilayah XVI dan UII sebagai langkah awal membangun ruang kolaborasi dan peningkatan kualitas pengelolaan PTS.

Diharapkan dengan kegiatan Patok Banding ini, UII dan PTS di bawah LLDikti Wilayah XVI dapat terus meningkatkan kualitas dan membuka ruang kolaborasi. Sehingga ke depan, kerja sama yang terjalin tidak hanya berhenti pada berbagi praktik baik, tetapi juga berkembang menjadi program-program konkret yang mampu mendorong peningkatan mutu pendidikan tinggi, penguatan tata kelola, serta inovasi yang berkelanjutan di masing-masing perguruan tinggi. (AHR/RS)

Ilustrasi pembuka

Bayangkan dua gambar: seorang siswa kelas dua SD yang memegang kalkulator, dan seorang pedagang pasar tradisional yang juga memegang kalkulator. Alatnya sama, tetapi maknanya sangat berbeda.

Bagi siswa sekolah dasar, kalkulator yang digunakan terlalu dini justru dapat merusak proses belajar. Pada tahap itu, anak harus berlatih membangun pemahaman angka, menalar, dan mencari tahu bagaimana jawaban terbentuk. Jika kalkulator masuk terlalu cepat, ia menjadi jalan pintas yang membajak proses belajar.

Namun bagi pedagang pasar, kalkulator justru menjadi penyelamat. Ia mempercepat pelayanan, mengurangi kesalahan hitung, dan membantunya menjalankan usaha dengan lebih efisien. Di sini, kalkulator berperan sebagai alat pemberdayaan. Perbandingan ini menunjukkan satu pelajaran penting: teknologi tidak baik atau buruk dengan sendirinya — nilainya ditentukan oleh tujuan, waktu, dan kesiapan penggunanya.

Sekarang, mari kita mengganti kalkulator itu dengan akal imitasi atau artificial intelligence (AI). Pertanyaannya kemudian: apa makna kehadiran AI bagi dunia pendidikan tinggi? Selama ini kita terbiasa dengan mantra “semakin cerdas, semakin baik”. Namun para pakar seperti Stuart Russell (2020) mengingatkan, kecerdasan tanpa tujuan yang tepat dapat menjadi bumerang. Mesin dianggap cerdas apabila tindakannya membawa mesin itu pada tujuannya sendiri.

 

Tujuan manusia

Masalahnya, bagaimana jika tujuan mesin tidak sejalan dengan tujuan manusia? Jika itu terjadi, AI berpotensi merusak kemanusiaan alih-alih memajukannya. Karena itu, tugas kita bukan hanya menciptakan mesin yang cerdas, tetapi memastikan mesin itu bermanfaat bagi manusia. AI hanya layak dipakai sejauh ia membantu manusia mencapai tujuan-tujuannya — bukan menggantikannya, apalagi menggeser nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam konteks perguruan tinggi, tujuan itu mencakup tiga ranah utama. Pertama, di ranah pembelajaran: AI seharusnya membantu mahasiswa berpikir kritis dan kreatif, bukan sekadar menyalin jawaban tanpa memahami prosesnya. Kedua, di ranah pengajaran: AI dapat memperkaya desain pembelajaran, tetapi tidak boleh menghilangkan wawasan dan sentuhan personal seorang dosen. Ketiga, di ranah administrasi: AI dapat mempercepat dan memperkuat pengambilan keputusan, tetapi tidak boleh mengabaikan keadilan, konteks, dan empati.

Selama AI membantu kita semakin dekat pada nilai-nilai yang ingin kita perjuangkan sebagai manusia, ia layak dipakai. Sebaliknya, ketika AI menjauhkan kita dari tujuan yang paling autentik — seperti integritas, pemikiran mendalam, dan hubungan manusia — maka penggunaan itu perlu dikritisi.

Kita juga perlu mengakui kenyataan: AI bukan fenomena yang “akan datang suatu hari nanti”. AI sudah hadir dalam kegiatan kita sehari-hari. Mahasiswa menggunakannya untuk belajar, dosen untuk menyiapkan materi, peneliti untuk menganalisis data, dan universitas untuk mengelola layanan. Menolak AI sama saja dengan mengabaikan realitas. Namun menerima AI begitu saja juga bukan pilihan bijak. Tantangan kita bukan memilih “menggunakan atau tidak menggunakan AI”, melainkan “menggunakan AI secara bertanggung jawab”.

 

Peran universitas

Pada titik ini, kita sampai pada pertanyaan penting: apa sebenarnya peran universitas di era AI? Selama puluhan tahun, universitas dibangun atas misi menyampaikan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai. Kini, ilmu tersedia di mana saja dan kapan saja. Dengan bantuan AI, mahasiswa dapat memperoleh informasi dalam hitungan detik. Jika pembelajaran hanya tentang menghafal, merangkum, dan mengulang, AI bisa melakukannya lebih baik. Tetapi AI tidak bisa menanamkan empati, karakter, kepemimpinan, makna, atau nurani. Di sinilah peran universitas menjadi tak tergantikan. Perguruan tinggi bukan lagi sekadar ruang penyampaian informasi, melainkan ekosistem pembentukan manusia.

Karena itu, dosen di era AI bukan hanya penyampai materi di depan kelas. Mereka adalah pelatih berpikir kritis, mentor karakter dan profesionalisme, pemandu cara belajar, dan penerjemah informasi menjadi wawasan. AI mampu menjelaskan rumus, tetapi AI tidak mampu membuat mahasiswa percaya pada dirinya sendiri, atau mengambil keputusan etis dalam dilema kehidupan. Yang bisa melakukan itu adalah manusia.

Masa depan terbaik bukan “AI melawan manusia”, tetapi “AI bersama manusia”. Ketika mahasiswa belajar menggunakan AI dengan bimbingan dosen yang memahami kekuatan dan keterbatasannya, banyak hal besar dapat terjadi: pembelajaran menjadi lebih cepat, personal, dan kreatif. Yang lebih penting — mahasiswa belajar menggunakan teknologi dengan bertanggung jawab: untuk memecahkan masalah, bukan untuk menyontek.

Namun perubahan ini tidak akan terwujud jika hanya mengandalkan inisiatif individu. Institusi pendidikan tinggi perlu menyediakan kebijakan yang jelas, pelatihan bagi dosen, kolaborasi lintas disiplin, dan budaya yang mendukung eksperimen. Perguruan tinggi yang berhasil nanti bukan yang memiliki anggaran terbesar, melainkan yang memiliki kemauan beradaptasi terbesar.

Dalam percakapan tentang AI, kita memang mudah terbawa sikap ekstrem — terlalu optimis atau terlalu khawatir. Padahal jawaban terbaik ada di tengah: menggunakan AI secara bijaksana dan berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan. AI dapat membantu kita bergerak maju, selama kita tidak membiarkan AI mengambil alih hal yang paling manusiawi dalam pendidikan: integritas, kebijaksanaan, hubungan tulus, dan pertumbuhan pribadi mahasiswa. Jika kita mampu menjaga keseimbangan itu, masa depan pendidikan tinggi tidak hanya akan menjadi lebih cerdas — tetapi juga lebih bermakna.

Terjemahan dan elaborasi ringan dari pidato kunci bertajuk Transformasi Perguruan Tinggi di Era Kecerdasan Buatan dalam P2A Annual General Meeting di Universitas Islam Indonesia pada 21 November 2025.

 

Fathul Wahid

Rektor Universitas Islam Indonesia 2022-2026

 

Universitas Islam Indonesia (UII) menyambut kedatangan delegasi dari Universiti Malaya (UM), Malaysia, dalam rangka pelaksanaan Entrepreneurship & Cultural Program (ECUP) 2025. Program yang diikuti oleh 20 mahasiswa dan 2 dosen pendamping ini dikoordinatori oleh Program Studi Manajemen, Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) UII bekerja sama dengan Direktorat Kemitraan/Kantor Urusan Internasional (DK/KUI) UII sebagai bentuk sinergi dalam memperkuat inisiatif internasionalisasi kampus pada Senin (24/11) di Gedung Kuliah Umum Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII.

Acara pembukaan yang berlangsung di Gedung Kuliah Umum (GKU) UII diawali dengan sambutan dari Wakil Rektor Bidang Kemitraan dan Kewirausahaan UII, Dr. Wiryono Raharjo. Dalam pidatonya, Dr. Wiryono menyampaikan antusiasme UII dalam menyambut delegasi Universiti Malaya, serta menekankan pentingnya kolaborasi internasional untuk memperluas wawasan mahasiswa. Ia menambahkan bahwa ECUP merupakan ruang strategis untuk memperkenalkan mahasiswa pada semangat kewirausahaan sekaligus memperkaya pengalaman lintas budaya yang sangat relevan di era global.

Sambutan kedua disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Keagamaan, Kemahasiswaan, dan Alumni, FBE UII, Dr. Ahmad Tohirin, yang menegaskan komitmen FBE untuk terus mengembangkan kegiatan internasional yang memberikan dampak nyata bagi mahasiswa. Ia menyampaikan bahwa kehadiran mahasiswa dan dosen pendamping dari Universiti Malaya membuka kesempatan bagi kedua institusi untuk saling bertukar gagasan, belajar bersama, serta memperkuat jejaring akademik dalam suasana kolaboratif yang positif.

Selama pelaksanaan program, peserta ECUP akan mengikuti berbagai kegiatan yang dirancang untuk memberikan pengalaman komprehensif tentang kewirausahaan dan budaya lokal Yogyakarta. Rangkaian kegiatan tersebut meliputi kunjungan budaya ke Kraton Yogyakarta untuk memahami sejarah dan tradisi Kesultanan Yogyakarta, serta perjalanan ke Candi Borobudur untuk mengeksplorasi salah satu monumen warisan dunia UNESCO yang sarat nilai sejarah dan filosofis. Selain itu, peserta juga mengunjungi Project Bahasa Indonesia, sebuah inisiatif kewirausahaan sosial yang mengolah minyak jelantah menjadi lilin dan produk kreatif lainnya.

Program ECUP turut dilengkapi dengan tur kampus UII, kegiatan komunikasi lintas budaya, serta berbagai sesi akademik yang memungkinkan mahasiswa Universiti Malaya dan UII berinteraksi dalam suasana edukatif dan inspiratif. Melalui pengalaman kolaboratif ini, UII berharap program ECUP dapat memperkuat hubungan institusional dengan Universiti Malaya serta membuka peluang kerja sama yang lebih luas dalam bidang pendidikan, riset, dan pengembangan mahasiswa di masa mendatang. (NI/AHR/RS)

Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Islam Indonesia (UII) berkolaborasi dengan IFG (Indonesian Financial Group) dalam program Campus Visit IFG Progress yang berlangsung pada Jum’at (21/11) kemarin. Kegiatan yang diselenggarakan di Gedung Aula Utara FBE UII ini mempunyai tujuan mendorong peningkatan literasi keuangan di kalangan mahasiswa. Dikemas secara interaktif, IFG Goes to Campus mengangkat tajuk Literasi Dasar dan Pengenalan Industri Asuransi dan Dana Pensiun. Kegiatan talkshow ini mengundang Erin Glory Pavayosa dan Afif Narawangsa yang sama-sama merupakan Research Assosiate IFG Progress. IFG Goes to Campus terbuka untuk mahasiswa D4, S1, S2, S3, Dosen dan Tendik FBE UII.

Prof. Johan Arifin, S.E., M.Si., Ph.D., CFrA, CertIPSAS, selaku Dekan FBE dalam sambutannya menyampaikan keprihatinan tentang banyaknya masyarakat yang belum memahami tentang pentingnya literasi asuransi dan dana pensiun. “Sayangnya masyarakat Indonesia itu belum maksimal dalam memahami relasi tentang terkait dengan kedua sektor ini, yaitu asuransi dan dana pensiun. Nah, tentu menjadi tantangan dan peluang bagi kami selaku institusi pendidikan maupun bagi teman-teman dari FG selaku praktisi pada industri tersebut untuk memberikan pengetahuan yang tepat dan komprehensif pada masyarakat,” ujar Prof. Johan.

Nada Serpina, Research Associate di IFG Progress menambahkan bahwa pemahaman tentang asuransi dan dana pensiun ini sebagai bekal bagi mahasiswa untuk menyiapkan dirinya ketika nanti sudah lulus dan memasuki dunia pekerjaan. “Jadi, nanti kemudian ketika teman-teman sudah mempunyai kemampuan finansial untuk menggunakan produk asuransi dan untuk menabung dana pensiun itu sudah punya basic pengetahuannya. Jadi memang kalau dipikir-pikir kenapa harus belajar sekarang? Justru itu, belajarnya harus se-dini mungkin sebelum nanti teman-teman masuk ke dunia pekerjaan gitu,” ucap Nada.

Acara inti talkshow dimoderatori oleh Listya Endang Artiani, SE., M.Si. yang merupakan dosen di FBE UII. Materi pertama disampaikan Erin yang menjelaskan tentang literasi dasar dan pengenalan tentang industri asuransi. Industri asuransi merupakan bagian dari industri keuangan non-bank. Tujuannya adalah untuk mengenal asuransi sebagai proteksi finansial, memahami produk-produknya, dan peranannya dalam perencanaan keuangan.

Dalam penyampaiannya, Erin mengenalkan kepada peserta tentang sebuah risiko yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Seperti sakit, kecelakaan, bangkrut, keluarga meninggal. Ia menjelaskan tentang tingkatan frekuensi resiko yang dapat difasilitasi oleh asuransi, dan resiko yang tidak dapat difasilitasi.

Pada materi yang disampaikan oleh Afif berfokus pada dana pensiun dan strategi mengelola dana tersebut, bukan hanya berinvestasi di dalamnya. Diskusi berawal pada saat Afif bertanya kepada peserta tentang tabungan dan investasi mereka seperti saham, deposito, obligasi, dan kripto. Ia mencatat bahwa banyak orang baru mulai memikirkan pensiun di usia sekitar 44 tahun, yang seringkali ketika keamanan finansial menjadi perhatian.

Ia menekankan pentingnya memiliki pendapatan positif dan mengelola pengeluaran, memastikan pendapatan melebihi pengeluaran. Ia juga menyinggung konsep ‘dana darurat’ atau ‘jalan darurat’.

Acara berjalan dengan interaktif dan peserta juga antusias melontarkan pertanyaan kepada para pemateri yang hadir. Harapannya, kegiatan ini bisa menjadi jalan bagi mahasiswa untuk lebih dekat dan juga lebih tertarik untuk berkontribusi di industri asuransi dan dana pensiun. Semoga kolaborasi antara FBE UII dan IFG dapat terus berlanjut untuk menciptakan generasi muda yang lebih siap menghadapi tantangan resiko di masa yang akan datang. (NKA/AHR/RS)

Program Studi Hubungan Internasional (Prodi HI) Universitas Islam Indonesia (UII) bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) menyelenggarakan Kuliah Umum bertajuk “Menuju Integrasi Indonesia ke Dunia Islam: Kepentingan Nasional dan Realitas Geopolitik” pada Jumat (21/11) dengan menghadirkan narasumber Wakil Menteri Luar Negeri, Muhammad Anis Matta. Acara ini menjadi bagian dari rangkaian kerja sama penelitian antara Prodi HI UII dan Kemlu RI dalam penyusunan Policy Output Mengintegrasikan Indonesia dan Dunia Islam: Arah, Kerangka, dan Peta Jalan.

Dalam sambutannya, Rektor UII Fathul Wahid menegaskan bahwa kerja sama UII dan Kemlu RI telah berjalan intensif. Ia menambahkan bahwa UII juga aktif membuka ruang dialog global, salah satunya melalui keterlibatan dalam R20 Interfaith Dialogue sebagai bagian dari forum G20 di Bali tahun 2022. Fathul menekankan bahwa agama memiliki peran penting dalam merespons tantangan dunia, mulai dari krisis energi hingga konflik berkepanjangan. “Kami percaya Indonesia memiliki posisi strategis, dan Islam dipercaya sebagai soft power untuk menyelesaikan masalah global serta menjadi sumber inspirasi,” ujarnya.

Dalam sesi Kuliah Umum, Wakil Menteri Luar Negeri RI, Muhammad Anis Matta, menekankan bahwa Indonesia memiliki peluang besar dalam berperan secara strategis di dunia Islam. “Indonesia memiliki tiga elemen utama yang dapat menjadi landasan perencanaan dan penguatan posisinya di kancah global, yaitu agama, demokrasi, dan kemakmuran. Kombinasi tiga elemen ini merupakan keunggulan strategis yang tidak selalu dimiliki oleh negara-negara lain,” jelasnya. Anis Matta juga menyoroti bahwa perjuangan Dunia Islam yang menempatkan nilai persatuan dan kemanusiaan sebagai landasan bersama dapat menjadi game changer dalam mencari solusi atas krisis kemanusiaan di Palestina.

Ketua tim peneliti Policy Output sekaligus Wakil Dekan Sumber Daya Fakultas Ilmu Sosial Budaya UII, Irawan Jati, menegaskan pentingnya langkah bertahap untuk mencapai integrasi Indonesia dengan Dunia Islam. “Peta jalan ini mengajukan beberapa capaian kunci atau key milestones yang didasarkan pada identifikasi SOAR (Strength, Opportunities, Aspirations, Results) dan kapabilitas, serta disesuaikan dengan periode RPJMN dan sasaran utama visi RPJPN 2045”. Ia menjelaskan bahwa tahapan tersebut menjadi panduan praktis bagi pemerintah untuk mengukur kemajuan dan memastikan bahwa integrasi Indonesia dengan Dunia Islam berjalan terarah serta memberi manfaat jangka panjang bagi kepentingan nasional.

Menutup sesi Kuliah Umum, moderator Rizki Dian Nursita, menyimpulkan bahwa posisi Indonesia di Dunia Islam semakin penting baik secara geopolitik maupun ekonomi. “Indonesia merupakan salah satu pusat dari ekonomi halal global, dengan nilai pasar halal mencapai sekitar USD 279 miliar pada 2023 dan diproyeksikan meningkat menjadi USD 807 miliar pada 2030”. Ia juga mencatat bahwa dinamika ekonomi Dunia Islam kini dipimpin oleh aktor utama seperti Malaysia, Arab Saudi, Indonesia, dan Uni Emirat Arab, yang membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat pengaruh geopolitik melalui kerja sama ekonomi, industri halal, dan diplomasi kawasan.

Rangkaian kerja sama penelitian dan penyelenggaraan Kuliah Umum ini menegaskan komitmen UII dalam mendukung diplomasi Indonesia di Dunia Islam, baik melalui penguatan riset maupun ruang dialog strategis. Melalui kolaborasi berkelanjutan dengan Kemlu RI, UII berupaya memperluas kontribusinya dalam membangun pemahaman kawasan, memperkuat jejaring akademik, dan menghadirkan gagasan yang relevan bagi kepentingan nasional Indonesia di tengah dinamika global. (KU/AHR/RS)