• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Berita Kegiatan2 / UII Tonggak Hadirnya Modernitas dalam Islam
Berita Kegiatan, Pilihan

UII Tonggak Hadirnya Modernitas dalam Islam

Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia (FPSB UII) menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Inteligensia Muslim dan Kebangsaan” dalam rangka memperingati miladnya yang ke-24 tahun. Bertempat di Gedung Moh. Hatta, Kampus UII Terpadu, Senin (15/4), kuliah umum menhadirkan narasumber Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI),Yudi Latif, M.A., Ph.D.

Jalannya kuliah umum dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Pengembangan Akademik & Riset UII, Dr. Drs. Imam Djati Widodo, M.Eng.Sc. Dalam sesi pembukaan ini, Dekan FPSB UII, Dr. Fuad Nashori, S.Psi., M.Si., Psikolog. menyampaikan laporan perkembangan fakultas. Mulai dari program yang telah di jalankan, kinerja, penelitian serta prestasi, baik dari mahasiswa maupun para dosen.

Dalam kesempatannya Yudi Latif memberikan materi dengan tema “Kebangkitan Nasional Menuju jalan Keagamaan”. Mengawali materinya, Ia merasa bangga bisa berbicara di UII, dimana hal ini menurutnya sudah ditunggu-tunggu, UII telah memberikan inspirasi.

Yudi Latif memaparkan sejarah kolonial yang membuat tipu daya bangsa, bahwa kita hanya bisa menjadi seorang nasionalis atau seorang muslim, tanpa bisa menjadi kedua-duanya. Padahal kita semua adalah muslim dan kita semua adalah nasionalis. “Di Eropa penyatuan antar agama dan politik memiliki tirani kemanusian yang luar biasa. Sedangkan di Indonesia tidak punya pengalaman, dimana agama menjadi alat kekuasaan untuk menindas,” ujarnya.

Ia menegaskan, bahkan dalam sejarahnya ketika nasionalisme bangkit di Indonesia, mesin-mesin yang menggerkannya adalah agama. Karena sejarah nasionalisme bangsa ini adalah semangat anti penjajahan. Jadi modernitas, sekularisme yang datang dari dunia lain, sedang agama harus merespon hal itu. Perang-perang abab ke tujuh belas yang mulai meluas dan melawan kolonilisem dimulai dari kebangkitan agama, dari pemuka agama, pondok-pondok pesantren. “Ini merupakan nasionalisme yang digerakan oleh para ulama-ulama,” tandasnya.

Masuknya nilai modernisasi dahulu ditolak oleh ulama-ulama. Disampaikan Yudi Latif, disebut “resistensi” untuk melakukan pertahanan terhadap nilai-nilai yang dianggap otentik oleh ulama-ulama. Untuk tidak mau mengadopsi pengaruh-pengaruh barat. “Bahkan muncul sebuah anggapan, bahwa barang siapa yang menulis dengan huruf latin, akan didapati di akhirat tanggannya terpotong, bahkan penolakan terhadap kursi dan alat-alat pendidikan lainnya,” paparnya.

Lebih lanjut disampaikan Yudi Latif, tetapi pelan-pelan pengaruh barat itu mulai masuk, terutaam sejak adanya revolusi demokrasi di Eropa. Sehingga di Belanda sendiri monarki absolut jatuh dan digantikan dnegan monarki konstitusional. Ketika rezim yang berganti memaksa Belanda membuka modal dan investasi swasta yang besar di hindia Belanda. Hingga pengelolaan perkebunan di Indonesia bisa lebih maksimal, sehingga dibutuhkanlah guru.

“Namun mendatangkan guru di Eropa bayarannya mahal. Maka mulailah dibuat sekolah-sekolah modern, dimana sekolah pertama yang didirikan oleh kolonial adalah sekolah guru. Lalu muncullah sekolah-sekolah modern lainnya yang dibangun kolonial bagi kalangan elit,” terangnya.

Diungkapkan Yudi Latif, modernitas yang timbul semakin berkembang di Indonesia, hingga datangnya Belanda. Respon pertama adalah untuk modernitas Islam, dan hadirlah UII yang dirasa sebagi tonggak terpenting dari hadirnya modernitas dalam Islam. Hadirnya UII melahirkan dua inteligensia yang penting bagi pembentukan inteligensia berikutnya.

“Yakni dengan hadirnya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Pelajar Islam Indonesia (PII) yang kedua-duanya berasal dari mahasiswa UII. Sehingga kedua organisasi ini menjadi organ inteligensia pertama muslim di Indonesia pasca kemerdekaan. Dan apapun wanjah intelingensia muslim hari ini saya kira tanggaung jawabnya tidak bisa dilepaskan dari UII ,“ tutur Yudi Latif.

Yudi Latif melanjutkan, dalam perkembangan berikutnya menjelang tahun 90’an kemerdekaan akses terhadap pendidikan modern terbuka. Gelombang-gelombang aktivis mulai muncul dari HMI dan aktivis muslim lainnya. Serta keterbukaan ruang publik, pengaruh-pengaruh akan peristiwa-peristiwa dari luar negeri masuk ke Indonesia dalam bentuk buku-buku.

“Tahun Sembilan puluhan awal pandangan masyarakat mulai berubah, dan jangan pernah memandang sebelah mata jaringan agama, karena di jaringan agamalah yang membawa pesan hingga ke pelosok Indonesia,” ujar Yudi Latif.

Munculnya era modern yang memperlihatkan tren muslim yang menjadi versi lebih menarik dan di senangi oleh masyarakat. Sehingga bukan lagi menjadi modernisasi Islam tapi islamisasi modernitas. Dan inilah yang menjadi agenda berbeda bahwa Islam berkembang pada modernitas.

“Jadi kira-kira itulah jalan panjang Islam merespon tatanan kebangsaan, tetapi bagaimanapun yang ditekankan adalah kita tidak bisa melepaskan antara keislaman dan kebangsaan. Karena kebangsaan kita ini sangat dipengaruhi oleh elemen-elemen Islam,“ pungkas Yudi Latif. (GT/RS)

16 April 2019
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2019/04/UII-Tonggak-Hadirnya-Modernitas-dalam-Islam.jpg 325 487 humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png humas2019-04-16 12:37:082019-04-16 12:39:46UII Tonggak Hadirnya Modernitas dalam Islam

Berita Terakhir

  • UII dan Pemkab Bantul Perkuat Sinergi, Bahas Pengembangan RS UII hingga Peluang Program Beasiswa
  • UII dan Pemkab Ngawi Eksplorasi Kerja Sama Strategis
  • Tingkatkan Kualitas Riset, UII Gelar Workshop Penguatan Tata Kelola Jurnal Ilmiah
  • UII Inisiasi CDC Islamic Universities National Gathering, Bahas Masa Depan Karier Generasi Z
  • UII Dukung Penanganan Kenakalan Remaja di DIY

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: BSI Academy Selenggarakan Workshop Cloud Study Jams Link to: BSI Academy Selenggarakan Workshop Cloud Study Jams BSI Academy Selenggarakan Workshop Cloud Study Jams Link to: Memahami Pentingnya Mitigasi Bencana Gunung Merapi Link to: Memahami Pentingnya Mitigasi Bencana Gunung Merapi Memahami Pentingnya Mitigasi Bencana Gunung Merapi Scroll to top Scroll to top Scroll to top