• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Berita Kegiatan2 / Memahami Al Quran dalam Konteks Asbabun Nuzul
Berita Kegiatan, Pilihan

Memahami Al Quran dalam Konteks Asbabun Nuzul

Memahami Al Quran tidak sebatas pada terjemahannya, akan tetapi membutuhkan pemahaman asbabun nuzul dari setiap ayat-ayat yang diturunkan. Topik ini mengemuka dalam kajian yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan dan Pembinaan Agama Islam (DPPAI), pada Senin (28/10) di Masjid Ulil Albab Kampus Terpadu UII. Pada kajian kali ini, DPPAI UII menghadirkan K.H. Baha’uddin Nursalim.

Mengawali kajian, Gus Baha menjelaskan tentang riwayat dari kiblat. Kiblat shalat pada kala itu yang awalnya menghadap baitul maqdis kemudian berpindah ke arah ka’bah setelah adanya perintah dari Allah. Hikmah dari menjadikan baitul maqdis sebagai kiblat untuk mengingatkan bahwa tempat tersebut pernah menjadi poros agama sebelumnya yaitu Yahudi.

Disampaikan Gus Baha, Nabi Muhammad SAW mendapatkan protes dari kaum Yahudi karena perpindahan kiblat. Kemudian Nabi menjawab bahwa ka’bah lebih tua dari pada baitul maqdis.

Gus Baha melanjutkan, kaum Yahudi pada saat itu meminta bukti kepada Nabi Muhammad SAW. Ia menjelaskan bahwa bukti ka’bah merupakan bangunan yang lebih tua karena terdapat jejak Nabi Ibrahim AS. Dimana Nabi Ibrahim merupakan bapak dari para Nabi.

Penjelasan Gus Baha dalam kajian ini tidak hanya sampai pada riwayat tentang kiblat umat Islam, ia juga menceritakan tentang asbabun nuzul yang berkaitan dengan wanita-wanita yang haram untuk dinikahi. Terdapat empat wanita yang haram dinikahi yaitu haram karena nasab, sesama persusuan, karena mushaharah dan karena istri orang lain.

Menurut Gus Baha memaknai Al Quran tanpa asbabun nuzulnya itu tidak bisa. “Beragama itu harus sehat, sebab agama mengikuti bil lisani,” tegasnya.

Permasalahan yang tengah dihadapi yakni kurangnya kajian mengenai Al Quran sehingga banyak istilah-istilah yang terdengar asing. Dihadapan jamaah Gus Baha juga menjelaskan logika berfikir. Nabi Muhammad SAW menggunakan logika berfikir nubuwwah. Logika berfikir nubuwwah ini ia sampaikan melalui kisah Nabi Muhammad SAW.

Zaman Nabi Muhammad SAW selalu memberikan pelayanan pada umat yang baru memeluk agama Islam. Hal ini sempat menimbulkan pertanyaan dikalangan kaum Anshor kala itu. Akan tetapi melalui logika berfikir nubuwwah, kaum Anshor menerima alasan Nabi Muhammad SAW yang tidak ingin menurunkan derajat kaum Anshor. Sebab kaum Anshor sejak awal selalu memberi, maka dengan demikian kaum Anshor akan tetap menjadi pemberi dan derajatnya tetap di atas.

Kisah yang lain, Gus Baha memaparkan sistem kepegawaian pada masa kepemimpinan Abu Bakar as-Sidiq, memberikan gaji dengan sama rata antara pemeluk Islam lama dan baru yang kala itu sempat menimbulkan protes. Kemudian dijawab oleh Abu Bakar, bahwa balasan bagi sahabat yang telah berislam lama didapatkan di surga, sedangkan di dunia hanya mendapat balasan sesuai profesinya.

Berbeda ketika kepemimpinan dipegang oleh Umar bin Kattab. Sistem pemberian gaji pada masa itu didasarkan pada lamanya beriman. Melalui kisah-kisah tersebut, Gus Baha ingin mencontohkan bahwa orang-orang terdahulu pada masa Nabi Muhammad SAW memiliki kecerdasan berfikir nubuwwah.

Sebaliknya dengan kondisi yang dihadapai pada masa kini, kebanyakan memiliki kecerdasan tamak. Gus Baha menyampaikan vonis terhadap orang kikir dikarenakan adanya harapan pemberian dari orang lain. Gus Baha mencontohkan jika orang yang tidak saling mengenal maka orang tersebut tidak akan memvonis orang lain kikir karena tidak ada rasa tamak.

Menurut Gus Baha perbedaan yang mencolok pada masa Nabi Muhammad SAW dengan masa kini yang tidak memahami kecerdasan nubuwwah, yakni apa yang dikerjakan harus mendapat balasan yang setimpal. (NR/RS)

29 Oktober 2019
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2019/10/Memahami-Al-Quran-dalam-Konteks-Asbabun-Nuzul-1.jpg 446 699 humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png humas2019-10-29 13:38:362019-10-29 13:40:31Memahami Al Quran dalam Konteks Asbabun Nuzul

Berita Terakhir

  • Perkuat Kolaborasi Internasional dan Kebudayaan, Program Studi Farmasi UII Gelar Pembukaan G-PICE 2026
  • Universitas Mohammad Natsir Pelajari Sistem Pendidikan Pondok Pesantren UII melalui Kunjungan Studi Tiru
  • CILACS UII Terima Studi Banding UPT Bahasa Universitas Negeri Padang
  • UII dan Unhan RI Perkuat Sinergi, Bahas Isu Maritim hingga Diplomasi Pertahanan
  • Sumpah Dokter ke-72 FK UII: Cetak 2.688 Alumni, Soroti Tantangan Pasien Berbekal AI hingga Peluang Bisnis Medis

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Rektor UII: Transformasi Digital Topang Mutu Perguruan Tinggi Link to: Rektor UII: Transformasi Digital Topang Mutu Perguruan Tinggi Rektor UII: Transformasi Digital Topang Mutu Perguruan Tinggi Link to: HAWASI Kembali Adakan Sertifikasi Penghafal Al Quran Link to: HAWASI Kembali Adakan Sertifikasi Penghafal Al Quran HAWASI Kembali Adakan Sertifikasi Penghafal Al Quran Scroll to top Scroll to top Scroll to top