• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Pojok Rektor2 / Mitigasi Perguruan Tinggi Kala Pandemi
Pojok Rektor

Mitigasi Perguruan Tinggi Kala Pandemi

Sudah hampir delapan bulan, dampak pandemi Covid-19 terasa di kalangan perguruan tinggi (PT). Sejak pertengahan Maret 2020, beragam respons sudah dijalankan, mulai dari pembelajaran daring (dalam jaringan), kerja dari rumah, sampai dengan pembatalan atau desain ulang aktivitas. Dampak pandemi ini terasa hampir merata di seluruh pojok dunia, tak terkecuali di PT negara maju.

Di Australia misalnya, pada pertengahan Oktober 2020, sebanyak 11.000 staf akan dirumahkan. Angka ini diperkirakan menjadi 21.000 di akhir 2020 (Derwin, 2020). Penurunan cacah mahasiswa, terutama mahasiswa internasional, yang di beberapa PT merupakan sumber dari 40% total pendapatannya, menjadi salah satu sebab. Selain pemutusan hubungan kerja sekitar 10% staf, beberapa PT juga melakukan reorganisasi, termasuk memangkas cacah fakultas.

Potret di belahan dunia lain seperti Amerika dan Eropa tidak jauh berbeda (Bodin, 2020). Beberapa PT diprediksi di ambang kebangkrutan karena penurunan cacah mahasiswa dan juga tersendatnya pendapatan untuk menjamin keberlangsungan organisasi. Di Inggris misalnya, diperkirakan terdapat penurunan cacah mahasiswa internasional sampai 121.000 (Burke, 2020). Cacah staf yang berisiko dirumahkan mencapai 30.000. Di Amerika, sekitar 337.000 orang diperkirakan kehilangan pekerjaan di PT. Angka ini sekitar 7% dari total staf yang bekerja di PT Amerika (Bauman, 2020).

 

Potret PT Indonesia

Sampai saat ini, tidak ada data lengkap yang dapat diakses. Namun, catatan anekdotal yang tersebar secara umum mengindikasikan potret buram. Survei yang dilaksanakan oleh Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Wilayah V Daerah Istimewa Yogyakarta pada awal Juli 2020, menunjukkan bahwa hanya 19,16% dari 51 PT swasta yang tidak mempunyai masalah finansial. Sisanya melakukan mitigasi dengan beragam cara, termasuk pemutusan hubungan kerja.

Selain itu, beberapa PT sudah memotong gaji/tunjangan (23,7%) dan menunda pembayaran gaji/tunjangan (5,88%). Solusi lain yang diambil adalah penggunaan saldo/tabungan (35,29%), meminta bantuan ke badan penyelenggara/yayasan (27,45%), meminjam uang ke pihak ketiga seperti bank (5,88%), serta menjual aset (3,9%). Angka-angka ini, paling tidak menunjukkan bahwa PT di kala pandemi tidak sedang baik-baik saja.

Memang, di sisi lain, potret PT besar dengan mahasiswa dari kalangan menengah ke atas nampaknya masih cerah, karena kapasitas finansial yang masih memadai. Tetapi tidak demikian halnya untuk PT yang selama ini menyasar mahasiswa dari kalangan menengah ke bawah. Dampaknya sudah sangat terasa, mulai dari penurusan cacah mahasiswa baru pada 2020 ini secara drastis.

Meski demikian, PT besar yang tidak terdampak secara signifikan, juga tetap harus berhati-hati. Jika pandemi berkepanjangan, dampaknya mungkin akan terasa dalam waktu 2-3 tahun mendatang jika kapasitas finansial kelas menengah ke atas juga mulai goyang, ketika pendapatan menurun dan tabungan semakin tergerus. Karenanya, tidak ada pilihan lain untuk semua PT untuk mendesain rencana matang untuk memitigasi pandemi yang tak seorang pun tahu kapan akan berakhir.

 

Mitigasi kala pandemi

Dalam keadaan normal sebelum pandemi menyerang, fokus PT dapat disederhanakan ke dalam dua aspek: kualitas akademik dan keberlangsungan organisasi. Ketika pandemi menyerang, dua fokus baru menggeser kedua aspek tersebut: keselamatan jiwa dan keberlangsungan akademik.

Beragam inisiatif telah dijalankan oleh PT, dengan secara macam keterbatasan dan ceritanya. Pembelajaran daring dan kerja dari rumah, misalnya, telah berlangsung sejak pertengahan Maret 2020. Beberapa PT, saat ini juga menjalankan pembelajaran campuran, kombinasi antara daring dan luring (luar jaringan), meskipun tidak sulit untuk bersepakat bahwa porsi daringnya masih sangat dominan. Banyak aktivitas akademik lain dan pendukungnya pun didesain ulang dengan memanfaatkan kanal daring berbantuan teknologi informasi (TI).

Ketika pandemi baru menyerang, PT masih punyai dalil kedaruratan untuk membuat ruang toleransi atau kompromi sampai batas yang disepakati. Namun, setelah memasuki semester baru tahun akademik 2020, dalil kedaruratan sudah berkurang validitasnya. Artinya, PT sudah harus harus menaruh fokus lebih besar pada aspek kualitas akademik dan keberlangsungan organisasi, yang sempat terpinggirkan. Apa yang bisa dilakukan PT? Berikut beberapa di antaranya.

Pertama, penguatan ekosistem TI tidak lagi menjadi pilihan, tetapi sudah merupakan keniscayaan. Ekosistem TI di sini harus dibaca dalam definisinya yang luas, termasuk sistem informasi dan personel pendukungnya. Para pemimpin PT sudah seharusnya menaruh perhatian khusus di sisi ini, dengan serangkaian program dan alokasi sumber daya.

Terdapat satu hal penting di sini: pemimpin PT harus mengubah perspektif dalam melihat biaya yang dikeluarkan untuk TI, dari belanja operasional (operational expenditure) menjadi belanja modal alias investasi jangka panjang (capital expenditure). Tanpanya, akan sulit mengembangkan argumen untuk alokasi sumber daya dalam jumlah yang agak besar.

Selain itu, investasi TI tidak hanya untuk keperluan otomasi, tetapi lebih dari itu, untuk mentransformasi organisasi (Hammer, 1990). Karenanya, ekosistem TI di sini tidak hanya dibingkai sebagai pendukung operasional, tetapi sebagai perkakas strategis.

Kedua, masih terkait dengan yang pertama, penguatan ekosistem pembelajaran daring. Pada masa pandemi, meski tidak sempurna dan tanpa masalah, pembelajaran daring adalah pilihan yang paling rasional, karena mobilitas fisik sangat terbatas sebagai ikhtiar menjaga keselamatan jiwa.

Kesiapan setiap PT sangat berbeda antara satu dengan yang lainnya. Karenanya, dalam konteks ini, PT perlu mempercepat penguatan ekosistem pembelajaran daring. Tidak hanya dari aspek TI, tetapi juga dari sisi produksi konten pembelajaran yang berkualitas, peningkatan kapabilitas aktor, desain proses pembelajaran, dan tidak kalah penting adalah penjaminan mutunya.

Pembelajaran daring sangat mungkin menjadi bagian permanen PT ke depan, baik sebagai komplemen, dalam bentuk pendamping pembelajaran tatap muka, maupun suplemen, dalam bentuk pelengkap pembelajaran tatap muka dengan pembukaan program studi pendidikan jarak jauh (e.g. Gallagher & Palmer, 2020). Jika yang terakhir ini dijalankan, maka model bisnis yang tepat juga perlu diformulasikan.

Ketiga, karena menunggu pandemi berakhir laksana mengharap Bang Toyib yang tak seorang pun tahu kapan pulang, inovasi dalam mendesain ulang beragam aktivitas akademik dan pendukungnya harus dilakukan. Inovasi ini untuk menyiasati keterbatasan mobilitas fisik warga PT, termasuk mahasiswa dan dosen. Ini adalah ikhtiar untuk menjaga harapan dan tidak menyerah kepada keadaan. Ini juga bukti bahwa pandemi tidak hanya sebagai musibah yang harus dimitigasi, tetapi juga membawa berkah tersembunyi (a blessing in disguise).

Di masa mendatang, meski pandemi sudah berakhir, model aktivitas daring seperti admisi mahasiswa baru, konferensi maya, dan mobilitas maya dapat menjadi salah satu opsi permanen, ketika dapat dijalankan dengan lebih mudah, murah, dan tetap berkualitas.

Keempat, meski terakhir, ini bukan afkir: mitigasi finansial. Ketika kapasitas finansial orang tua mahasiswa atau mahasiswa terdampak, maka prioritas pengeluaran dapat berubah. Data sampai akhir 2019 menunjukkan bahwa angka partisipasi kasar pendidikan tinggi di Indonesia baru mencapai 35,69%. Angka ini menunjukan persentasi penduduk Indonesia berusia 19-23 tahun yang menikmati bangku kuliah.

Pendidikan tinggi untuk banyak orang masih merupakan barang mewah. Di samping itu, pandemi telah menambah cacah penduduk miskin secara signifikan, tidak hanya di Indonesia (Luxiana, 2020), tetapi di banyak negara lain (The Economist, 2020). Catatan anekdotal dari lapangan menguatkan ini, ketika banyak calon mahasiswa yang mundur dengan alasan ketidakmampuan finansial.

Tentu, kondisi kesehatan finansial setiap PT berbeda-beda. Tetapi, nampaknya semua sepakat, kesehatan finansial merupakan salah satu faktor penting untuk menjamin keberlangsungan organisasi, dan karenanya perlu dimitigasi dengan serius. Faktor kontekstual setiap PT akan menghasilkan beragam strategi. Tidak selalu mudah dan mengenakkan, tetapi pilihan memang tidak banyak.

 

Epilog

Pandemi Covid-19 yang menyerang tiba-tiba menjadikan waktu tidak di pihak PT. Keputusan harus diambil secara cepat dengan informasi terbatas karena ketidakpastian sangat tinggi. Yang jelas, kondisi saat ini sangat berbeda dari masa sebelum pandemi. Prediksi pun tidak mudah dilakukan, apalagi ditambah dengan kecepatan perubahan yang bisa sangat cepat dan mendadak. Karenanya, efektivitas dari sebuah keputusan lebih penting dibandingkan kesempurnaan.

Pandemi memang belum jelas kapan berakhir, tetapi optimisme terukur harus terus  dijaga. Sangat disayangkan, jika pandemi yang telah memaksa PT mengorbankan banyak hal ini berlalu begitu saja, tanpa banyak perubahan berarti untuk lentingan lebih baik ke masa depan.

 

Referensi

Bauman, D. (2020). The pandemic has pushed hundreds of thousands of workers out of higher education. The Chronicle of Higher Education, 6 Oktober. Tersedia daring: https://www.chronicle.com/article/how-the-pandemic-has-shrunk-higher-educations-work-force

Bodin, M. (2020). University redundancies, furloughs and pay cuts might loom amid the pandemic, survey finds. Nature, 30 Juli. Tersedia daring: https://www.nature.com/articles/d41586-020-02265-w

Burke, M. (2020). Pandemic is a looming disaster for UK universities with 30,000 jobs threatened. Chemistry World, 30 April. Tersedia daring: https://www.chemistryworld.com/news/pandemic-is-a-looming-disaster-for-uk-universities-with-30000-jobs-threatened/4011632.article

Derwin, J. (2020). This is how many jobs each Australian university has cut – or plans to – in 2020. Business Insider, 18 September. Tersedia daring: https://www.businessinsider.com.au/australian-university-job-cuts-losses-tally-2020-9

Gallagher, S., & Palmer, J. (2020). The pandemic pushed universities online. The change was long overdue. Harvard Business Review, 29 September. Tersedia daring: https://hbr.org/2020/09/the-pandemic-pushed-universities-online-the-change-was-long-overdue

Hammer, M. (1990). Reengineering work: don’t automate, obliterate. Harvard Business Review, 68(4), 104-112. Tersedia daring: https://hbr.org/1990/07/reengineering-work-dont-automate-obliterate

Luxiana, K. M. (2020). Mahfud MD: Angka kemiskinan naik jadi 9,7% karena pandemi Covid. detikNews, 24 Oktober. Tersedia daring: https://news.detik.com/berita/d-5227270/mahfud-md-angka-kemiskinan-naik-jadi-97-karena-pandemi-covid

McKie, A. (2020). UK universities ‘face £2.6bn coronavirus hit with 30K jobs at risk’. Times Higher Education, 23 April. Tersedia daring: https://www.timeshighereducation.com/news/uk-universities-face-ps26bn-coronavirus-hit-30k-jobs-risk

The Economist (2020). From plague to penury: The pandemic is plunging millions back into extreme poverty. The Economist, 26 September. Tersedia daring: https://www.economist.com/international/2020/09/26/ the-pandemic-is-plunging-millions-back-into-extreme-poverty

Tulisan ini sudah dimuat dalam Majalah UII Business and Economic Insights, edisi November-Desember 2020.

31 Desember 2020
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2020/12/MItigasi-PT-pandemi.jpg 1291 2000 985230102 https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png 9852301022020-12-31 07:51:562020-12-31 09:36:55Mitigasi Perguruan Tinggi Kala Pandemi

Berita Terakhir

  • Tingkatkan Kualitas Riset, UII Gelar Workshop Penguatan Tata Kelola Jurnal Ilmiah
  • UII Inisiasi CDC Islamic Universities National Gathering, Bahas Masa Depan Karier Generasi Z
  • UII Dukung Penanganan Kenakalan Remaja di DIY
  • BP Inauguration 2026: Momen Selebrasi dan Transformasi Mahasiswa Bridging Program UII
  • Jawab Kebutuhan Pasien Internasional, CILACS UII dan RS Panti Nugroho Teken MoU Interpreter Bahasa Arab 

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Doktor Baru Mengemban Amanah Keilmuan dan Sosial Link to: Doktor Baru Mengemban Amanah Keilmuan dan Sosial Doktor Baru Mengemban Amanah Keilmuan dan Sosial Link to: Insan Ulil Albab Belajar Dari Kesalahan di Masa Lalu Link to: Insan Ulil Albab Belajar Dari Kesalahan di Masa Lalu Insan Ulil Albab Belajar Dari Kesalahan di Masa Lalu Scroll to top Scroll to top Scroll to top