• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Berita Kegiatan2 / Membendung Radikalisme di Kalangan Milenial
Berita Kegiatan

Membendung Radikalisme di Kalangan Milenial

Usia muda merupakan salah satu kelompok yang rentan terpapar paham radikalisme. Menurut survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) di tahun 2011, 48,9% pelajar di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi bersedia untuk melakukan tindak kekerasan atas nama agama. Pada tahun 2017, survei Alvara Research Center menunjukkan 52,3% siswa sepakat dengan tindakan kekerasan atas nama agama dengan 14,2% di antaranya mendukung tindakan pengeboman. Seperti disampaikan Alif Satria, Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia dalam Pacific Forum Session 6 of The Virtual Forum Series dengan tema “Youth Resilience to Violence Extremism” pada Selasa (3/8).

Satria menambahkan bahwa menurut penelitian yang dilaksanakan oleh CSIS dan Wahid Foundation, radikalisme timbul karena hadirnya titik jenuh di tengah pelajar Indonesia. Penyebaran paham radikalisme terjadi melalui kelompok sosial, agama, dan lingkungan sekolah. Doktrin sebagai sebuah kelompok agama yang berjuang atas nama Islam melalui jalur peperangan dan perasaan tidak enak para pelajar untuk meninggalkan kelompok kajian menjadi penyebab utama mereka bertahan pada lingkungan radikal.

Menurut Satria, setidaknya ada 3 kebijakan strategis yang dapat dilaksanakan untuk meminimalisir radikalisme di kalangan pelajar.  Ketiga kebijakan itu yakni penelitian secara massif untuk mengetahui kelompok-kelompok yang berisiko besar terpapar radikalisme di kalangan pelajar, mengembangkan program kontra-radikalisasi di kalangan pelajar, dan memaksimalkan kerjasama dengan institusi pendidikan untuk mengedukasi remaja yang mendukung perilaku radikal.

Remaja dan kaum perempuan juga berperan penting membendung radikalisme. Mereka perlu mendapatkan pendidikan terhadap nilai-nilai perbedaan budaya, cara berpikir kritis dan diperkenalkan kepada kebiasaan yang plural sehingga mampu menghadapi doktrin radikal yang sering kali diberikan oleh orang tua mereka. Hal ini disampaikan oleh Dwi Rubiyanti Khofifah, Direktur Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia. 

Ia menambahkan bahwa poin utama yang harus dilawan perempuan adalah kemunculan stigma untuk tetap di rumah tanpa mengikuti kegiatan di luar. Hal ini menjadi isu penting yang sering kali terjadi kepada istri dan anak-anak para pelaku tindakan ekstremis. Individu dan organisasi non-pemerintahan berperan penting untuk membantu kesulitan yang dihadapi keluarga narapidana dan membantu anak-anak mereka terlepas dari doktrin radikalisme. 

Dwi mengatakan bahwa AMAN Indonesia mencoba melawan stigma ini melalui program gerakan Stepout. Gerakan ini melawan stigma bahwa setiap perempuan harus terus berada di rumah seperti dialami para istri yang suaminya dipenjara lantaran terlibat tindak pidana terorisme. Novi mendampingi para istri napi teroris tersebut melalui gerakan menanam cabai dan sayuran yang kemudian dibagikan untuk menyambung hidup mereka. Gerakan ini mampu membantu para istri tersebut keluar kesulitan ekonomi.

Selain pemberdayaan terhadap para istri pelaku tindak pidana terorisme, AMAN juga menginisiasi program pemberdayaan bagi anak-anak ex pelaku terorisme melalui kegiatan pendidikan. Pada awalnya, fasilitator AMAN dikagetkan ketika mayoritas anak laki-laki menggambar pistol untuk mendeskripsikan aktivitas mereka di masa yang akan datang sebagai penerus sang ayah. 

Sedangkan, para perempuan menggambar hijab untuk mengikuti jejak ibu mereka yang terkekang dengan aktivitas rumahan. Seiring waktu, ruang literasi yang dibangun Novi mampu merubah anak-anak tersebut yang terlihat dari beragamnya aktivitas di ruang literasi seperti menyanyi, menari dan beragam aktivitas di luar ruangan lainnya. (AP/ESP)

5 Agustus 2021
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2021/08/Membendung-Radikalisme-di-Kalangan-Milenial.jpg 450 800 humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png humas2021-08-05 15:45:102021-08-24 15:49:25Membendung Radikalisme di Kalangan Milenial

Berita Terakhir

  • UII Luncurkan Fakultas Teknik Desain Inovasi, Perkuat Kolaborasi untuk Masa Depan Berkelanjutan
  • FIAI UII Gelar Diskusi Kajian Turats Bahas Implementasi Epistemologi Ulil Albab dalam Ilmu Sosial
  • UII Sambut 22 Mahasiswa Internasional dalam Program P2A UIISAGE BRIDGE 2026
  • UII Gelar Studium Generale Ungkap Akar Perilaku Menyimpang dalam Masyarakat
  • Perkuat Kolaborasi Internasional dan Kebudayaan, Program Studi Farmasi UII Gelar Pembukaan G-PICE 2026

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: UII Selenggarakan 52th of Asia-Pacific Advance Network Link to: UII Selenggarakan 52th of Asia-Pacific Advance Network UII Selenggarakan 52th of Asia-Pacific Advance Network Link to: Sandiaga Uno: Hukum Berkeadilan Perlu Untuk Melindungi UMKM Link to: Sandiaga Uno: Hukum Berkeadilan Perlu Untuk Melindungi UMKM Sandiaga Uno: Hukum Berkeadilan Perlu Untuk Melindungi UMKM Scroll to top Scroll to top Scroll to top