• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Berita Kegiatan2 / Menghindari Toxic Productivity
Berita Kegiatan

Menghindari Toxic Productivity

Sukses Berkarir Sesuai Syariat Islam

Lembaga Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (LEM UII) menyelenggarakan webinar bertemakan “Toxic Productivity” dengan menghadirkan alumni UII, Ahmad Zain Fahmi, S.Psi. yang kini menjadi Mental Health Promotor, Project Officer @sadardiri.id, dan Project Officer of Optima Psikologi & HRD.

Toxic Productivity adalah sebuah obsesi untuk mengembangkan diri dan selalu merasa bersalah jika tidak bisa melakukan banyak hal. “Toxic Productivity biasanya kita kenal dengan sebutan hustle culture atau workaholic,” ucap Ahmad Jum’at (15/10).

Toxic Productivity terbagi dalam dua kategori. Pertama, ketika seseorang sibuk dan mengeluhkan pekerjaannya. Kedua, ketika seseorang terlalu terobsesi dengan pekerjaannya dan mengharuskan pekerjaan itu selesai dalam keadaan apapun. Menurutnya, Toxic Productivity dapat ditandai ketika seseorang sudah jarang sekali melakukan hal-hal yang dia sukai, atau ketika seseorang sudah jarang berinteraksi atau sekedar menghabiskan waktu luang dengan orang-orang terdekatnya.

“Ketika semua itu terjadi, sempatkan waktu untuk beristirahat. Istirahat bukan berarti kita lemah, tapi kita harus bisa menyeimbangkan kapan kita harus fokus kerja dan kapan kita butuh istirahat. Kuncinya, jangan pura-pura lupa sama alarm,” ujarnya.

Toxic Productivity selain tidak baik untuk kesehatan mental seseorang, pada kenyataannya juga berdampak tidak baik pada performa orang yang melakukan. Kerap kali, orang yang mengalami Toxic Productivity telah merasa mengeluarkan segenap tenaganya, bahkan tak jarang mereka merasa sangat kelelahan. Namun, hasil yang ditimbulkan sama saja, dan cenderung tidak ada peningkatan.

Untuk mengatasi persoalan terkait Toxic Productivity, Ahmad membagikan beberapa tips. Pertama Aware terhadap diri sendiri dan melakukan self-evaluation. Evaluasi diri ini dapat diukur dengan beberapa indikator, seperti family and friends, health, finance, business and carieer, physical environment, personal growth, dan romance.

Kedua, menentukan tujuan besar dan belajar memilah-milih. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan hal-hal yang dikuasai dan berkaitan dengan tujuan yang dimiliki. Ketiga belajar memenejemen waktu. Ini dapat dilakukan dengan menentukan skala prioritas tugas yang harus dikerjakan, dengan parameter penting mendesak, penting tidak mendesak, mendesak tidak penting, dan tidak mendesak tidak penting.

Berikutnya yang keempat, peduli terhadap diri sendiri, dapat dilakukan dengan beristirahat, melakukan hal-hal yang disukai, dll. Kelima, mengatakan kalimat afirmasi positif pada diri sendiri, seperti mengatkan sayang, maaf, terimakasih, dan semangat kepada diri sendiri.

Terakhir Ahmad mengatakan, Toxic Productivity dapat diatasi dengan Rule of 8, yaitu membagi waktu 24 jam kita menjadi 3 hal. “8 jam untuk bekerja, 8 jam untuk leasure act, mengisi waktu luang, beristirahat, dll. Dan 8 jam untuk personal growth.” (EDN/RS)

15 Oktober 2021
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2020/03/Perpustakaan-UII.jpg 450 675 humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png humas2021-10-15 15:21:512024-07-22 11:13:06Menghindari Toxic Productivity

Berita Terakhir

  • Tingkatkan Kualitas Riset, UII Gelar Workshop Penguatan Tata Kelola Jurnal Ilmiah
  • UII Inisiasi CDC Islamic Universities National Gathering, Bahas Masa Depan Karier Generasi Z
  • UII Dukung Penanganan Kenakalan Remaja di DIY
  • BP Inauguration 2026: Momen Selebrasi dan Transformasi Mahasiswa Bridging Program UII
  • Jawab Kebutuhan Pasien Internasional, CILACS UII dan RS Panti Nugroho Teken MoU Interpreter Bahasa Arab 

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Taliban Berbeda Ideologi dengan ISIS dan Al-Qa’idah Link to: Taliban Berbeda Ideologi dengan ISIS dan Al-Qa’idah Taliban Berbeda Ideologi dengan ISIS dan Al-Qa’idah Link to: Menciptakan Perspektif Baru Tentang Pendidikan Link to: Menciptakan Perspektif Baru Tentang Pendidikan Pernyataan Sikap UIIMenciptakan Perspektif Baru Tentang Pendidikan Scroll to top Scroll to top Scroll to top