• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Berita Kegiatan2 / Meneropong Munculnya Politik Identitas pada Pemilu 2024
Berita Kegiatan, Pilihan

Meneropong Munculnya Politik Identitas pada Pemilu 2024

Universitas Islam Indonesia (UII) dan The Conversation Indonesia (TCID) menggelar diskusi publik bertajuk “Apakah Politik Identitas Masih Relevan dalam Kampanye Pemilu 2024 di Media Sosial?”. Acara yang diadakan di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito UII pada Kamis (11/5) tersebut mengundang empat narasumber. Mereka adalah Ismail Fahmi, Ph.D selau Dosen Informatika UII, Founder Drone Emprit, Rizki Dian Nursita, M.H.I. selaku Dosen HI UII, Wawan Mas’udi, SIP., MPA., Ph.D., selaku Dekan Fisipol UGM, dan Shafiq Pontoh, pegiat media sosial.

Ika Krismantari yang didapuk sebagai moderator pada diskusi tersebut mengatakan bahwa menurut riset yang ia lakukan, terdapat dua kubu menjelang pemilu 2024. Kubu pertama mengatakan bahwa akan terjadi tsunami politik identitas, kubu kedua mengatakan politik identitas sudah tidak berlaku.

Wawan Mas’udi menanggapinya dengan menyebut penggunaan politik identitas di masa sekarang nuansanya sudah berbeda. “Kalau dulu dipakai sebagai alat perjuangan, kalau sekarang menjadi alat untuk merebut dan mencari kekuasaan, bahayanya di sini,” ungkapnya.

Lebih lanjut, konteks politik elektoral ini menggunakan pola single majority, artinya siapapun yang menenangkan 50%  plus 1 akan memiliki legitimasi menjadi pemimpin politik.

Wawan menilai bahwa politik identitas nampaknya akan masih digunakan sebagai sebuah skenario atau strategi. Hanya saja diaktifkan atau tidak, ini tergantung dengan perkembangan zaman. “Saya yakin semua calon, semua politisi di Indonesia menyiapkan semua strategi setan dan strategi malaikat,” tegasnya.

Strategi programatik disiapkan dengan baik, nantinya tinggal melihat apakah dalam perkembangannya cukup memberikan keyakinan politik atau tidak. “Jika tidak, maka akan menyasar ke politik identitas,” pungkasnya.

Di sisi lain, regulasi yang mengatur politik identitas dalam kampanye juga belum terpayungi dengan baik. Menurutnya, sudah seharusnya aturan untuk memaksa para timses, kandidat, politik partai untuk bisa membawa kontestasi politik menyebarkan politik berbasis program.

“Fungsi lembaga pemilu itu penting, perdebatan publik bisa dibawa ke situ, mengangkat isu-isu  programatik lebih banyak, maka akan membagun 1 iklim politik yang lebih sehat dan jauh lebih substantif,” tuturnya.

Apakah pola strategi kampanye dan politik identitas di media sosial sudah terlihat?

Sementara itu menurut Shafiq Pontoh, orang di zaman sekarang sudah berbeda, ini terjadi karena adanya perubahan perilaku pengkonsumsian informasi pre and post-Covid. Sejak post-Covid, orang-orang jadi melek digital.

“Kalau yang saya amati, konten di media sosial yang digemari sekarang adalah konten-konten inspirasional. Misalnya saja salah satu pejabat publik yang menggunakan channel YouTube  untuk membuat konten dan dianggap politisi paling berhasil,” ungkapnya.

Menurutnya, secara global politik identitas sudah tidak berlaku, bisa dilihat dari konten yang paling besar dikonsumsi global yaitu dunia hiburan, semua jenis ras, agama ada. “Kita sekarang di dunia yang beranjak ke arah hidup bersama di satu bumi “global citizen” ya kali main politik identitas,” pungkasnya.

Sedangkan Ismail Fahmi turut memberikan tanggapan. Menurutnya politik identitas masih banyak digunakan dalam konteks negatif untuk menyerang lawan. Tetapi, misalnya untuk mempromosikan calonnya sendiri menggunakan politik identitas ini semakin tidak laku, karena hal demikian malah mempersempit.

“Menurut data yang saya peroleh, sebutan ‘cebong’, ‘kadrun’, ini kan identitas, hal ini paling gampang dikelompokkan, nggak perlu meyakinkan orang per orang. Trend penggunaan kata seperti ini masih tinggi,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa beberapa politisi sudah sangat cerdas, masuk ke dalam ceruk-ceruk tertentu yang tidak membicarakan di dunia politik. “Ini merupakan salah satu trik, masuk lewat gagasan, program, memberikan manfaat besar dan mensupport kelompok-kelompok  niche ini,” imbuhnya.

Jika dikaitkan dengan adanya kemungkinan misinformasi dan penyalahgunaan kecerdasan buatan, menurut Fahmi masih mudah dideteksi.

“Cuma yang terkait dengan bagaimana menanggapi politik identitas, menariknya adalah akademisi sekarang sangat sedikit yang berani bersuara, bersuara di media sosial yang lawannya buzzer,” ungkapnya.

Buzzer akan mempengaruhi opini publik dengan kebohongan-kebohongan, hajar-hajaran yang sifatnya negatif. Maka menurutnya, TCID adalah solusinya.

Solusi yang dimaksud adalah bagaimana akademisi memberikan pencerahan ke publik dengan keilmuan, tujuannya mengedukasi publik dengan data. “Akademisi harapannya bisa menulis, The Conversation Indonesia (TCID) jadi solusi, saya berharap bisa menjadi kontribusi yang besar,” pungkasnya.

Dosen HI UII, Rizki Dian Nursita sepakat bahwa politik identitas akan tetap ada, karena bagaimanapun identitas merupakan satu hal yang sangat penting dan tidak bisa dipisahkan.

“Secara global, perlu dilihat terlebih dahulu, bagaimana politik identitas dipakai, tidak hanya di Indonesia saja namun juga di negara sebelah,” ungkap Dian.

Misalnya saja di Amerika Serikat, politik identitas berhasil, buktinya Donald Trump terpilih. Berdasarkan riset dari American National Election Studies tahun 2019 ke belakang, sekitar satu dekade, isu kulit putih sebagai penentu kecenderungan pemilih masih sangat kuat.

“Hasil survei juga demikian, sebanyak 30-40% warga kulit putih itu penting, walau demikian menuai banyak kontra dari masyarakat serta banyak penolakan dari dalam atau luar negeri,” pungkasnya. (LMF/ESP)

12 Mei 2023
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2023/05/tcid-uii.jpg 450 675 Humas UII https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png Humas UII2023-05-12 14:08:432023-06-22 14:13:09Meneropong Munculnya Politik Identitas pada Pemilu 2024

Berita Terakhir

  • Perkuat Kolaborasi Internasional dan Kebudayaan, Program Studi Farmasi UII Gelar Pembukaan G-PICE 2026
  • Universitas Mohammad Natsir Pelajari Sistem Pendidikan Pondok Pesantren UII melalui Kunjungan Studi Tiru
  • CILACS UII Terima Studi Banding UPT Bahasa Universitas Negeri Padang
  • UII dan Unhan RI Perkuat Sinergi, Bahas Isu Maritim hingga Diplomasi Pertahanan
  • Sumpah Dokter ke-72 FK UII: Cetak 2.688 Alumni, Soroti Tantangan Pasien Berbekal AI hingga Peluang Bisnis Medis

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Tingkatkan Peran Pemuda dalam SDGs, UII Gelar NUNI International Seminar Series Link to: Tingkatkan Peran Pemuda dalam SDGs, UII Gelar NUNI International Seminar Series Tingkatkan Peran Pemuda dalam SDGs, UII Gelar NUNI International Seminar Se... Link to: Politik Identitas dan Media Sosial Link to: Politik Identitas dan Media Sosial Politik Identitas dan Media Sosial Scroll to top Scroll to top Scroll to top