Empati, Kesadaran Kemanusiaan
Isi sambutan ini sama sekali tidak untuk mengurangi rasa bahagia Saudara hari ini. Justru, saya ingin mengajak Saudara berbahagia dengan bermakna karena dipenuhi ungkapan syukur atas banyak karunia yang Allah berikan kepada kita.
Sekitar dua pekan lalu, sebuah kabar mengguncang nurani, saya baca di media. Awal Februari 2026 ini, di Nusa Tenggara Timur, seorang siswa sekolah dasar mengakhiri hidupnya karena orang tuanya belum sanggup membelikannya buku dan pensil. Rasa kemanusiaan kita sebagai bangsa seperti terkoyak.
Kok bisa? Setelah Indonesia merdeka lebih dari delapan puluh tahun, masih ada saudara-saudara kita yang hidup dalam kemiskinan ekstrem. Tentu ini bukan soal budaya, ada andil besar isu struktural di baliknya. Padahal salah satu tujuan negara yang tertulis jelas dalam konstitusi adalah menghadirkan kesejahteraan umum.
Berita seperti ini bukan sekadar angka statistik. Ia adalah cermin. Cermin tentang jarak antara cita-cita dan kenyataan. Cermin tentang pekerjaan rumah besar yang belum selesai. Dan hari ini, di hadapan saya duduk orang-orang terdidik yang kelak akan berada di berbagai posisi penting di kantor pemerintahan, di perusahaan, di kampus, di rumah sakit, di lembaga keuangan, di organisasi masyarakat. Saudara tidak hanya akan bekerja. Saudara akan memengaruhi keputusan. Setiap keputusan selalu punya wajah manusia di baliknya.
Karena itu, izinkan saya menitipkan satu pesan penting: asahlah empati, jagalah kepekaan sosial.
Pemimpin yang peduli
Ilmu yang Saudara peroleh di kampus ini sangat penting. Keterampilan profesional Saudara akan menentukan kualitas kerja. Tetapi tanpa empati, semua itu bisa kehilangan arah. Tanpa kepekaan sosial, kecerdasan bisa menjadi dingin. Kebijakan bisa menjadi kaku. Sistem bisa berjalan rapi di atas kertas, tetapi melukai manusia di lapangan.
Empati adalah kemampuan untuk berhenti sejenak, lalu bertanya: Siapa yang paling terdampak oleh keputusan ini? Apakah ada kelompok yang tertinggal? Apakah ada suara yang tidak terdengar?
Kepekaan sosial membuat kita tidak cepat puas dengan angka pertumbuhan, jika masih ada anak yang putus sekolah. Tidak cepat bangga dengan gedung-gedung tinggi, jika masih ada keluarga yang tidak mampu membeli alat tulis. Tidak mudah berkata “itu bukan urusan saya”, ketika ketidakadilan terjadi di depan mata.
Beberapa tahun ke depan, mungkin Saudara akan duduk di ruang rapat ber-AC, membahas anggaran, strategi, atau target kinerja. Di saat seperti itu, ingatlah wajah-wajah yang jarang hadir di ruangan tersebut: petani kecil, buruh harian, anak-anak di pelosok, keluarga yang hidup pas-pasan. Keputusan yang Saudara tanda tangani bisa menentukan apakah mereka semakin terbantu, atau justru semakin terpinggirkan.
Menjaga empati bukan berarti menjadi lemah. Justru sebaliknya. Empati membuat keputusan kita lebih kuat secara moral. Lebih kokoh secara kemanusiaan. Lebih berkelanjutan dampaknya. Profesional yang unggul bukan hanya yang mumpuni, tetapi yang peduli.
Pemimpin yang hebat bukan hanya yang cerdas, tetapi juga yang hatinya tetap lembut. Karena itu, seorang pemimpin perlu terus melatih diri untuk membuka telinga dan melapangkan dada. Ia bersedia mendengar kritik tanpa tergesa melihat para pengkritiknya sebagai lawan. Sebab pemimpin bukan malaikat yang kebal dari kesalahan, melainkan manusia yang justru tumbuh melalui kesediaan untuk belajar dan memperbaiki diri.
Empati sebagai jalan hidup
Empati juga serupa. Ia juga perlu dilatih. Ia tidak tumbuh otomatis bersama gelar akademik. Ia tumbuh ketika Saudara mau mendengar cerita orang lain tanpa menghakimi. Ketika Saudara mau turun melihat kenyataan, bukan hanya membaca laporan. Ketika Saudara berani bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan, sekecil apa pun, agar keadaan sedikit lebih baik?”
Gelar yang Saudara dapatkan adalah tanda bahwa Saudara telah menempuh proses akademik. Namun masyarakat berharap lebih dari itu. Masyarakat berharap Saudara menjadi pribadi yang peka. Yang tidak menutup mata terhadap penderitaan. Yang tidak menormalkan ketimpangan. Yang tidak kehilangan rasa ketika melihat ketidakadilan. Yang tidak menyepelekan penderitaan liyan.
Bayangkan, bertahun-tahun dari sekarang, ketika Saudara menoleh ke belakang. Bukan hanya karier yang ingin Saudara banggakan, tetapi juga dampak kemanusiaan dari pilihan-pilihan hidup Saudara. Berapa banyak orang yang terbantu? Berapa banyak kebijakan yang lebih adil karena Saudara terlibat? Berapa banyak keputusan yang lebih bijak karena Saudara memilih mendengarkan suara yang lemah?
Mari kita jaga agar pendidikan tidak menjauhkan kita dari realitas sosial, tetapi justru mendekatkan. Mari kita pastikan bahwa semakin tinggi ilmu kita, semakin halus pula rasa kita. Semakin luas wawasan kita, semakin dalam pula kepedulian kita.
Semoga Saudara semua menjadi generasi profesional yang tidak hanya cemerlang pikirannya, tetapi juga hangat hatinya. Yang tidak hanya sukses secara pribadi, tetapi juga bermakna bagi sesama. Teruslah melangkah, dengan ilmu di kepala dan empati di dada.
Sambutan pada acara Wisuda Universitas Islam Indonesia pada 14 Februari 2026.
Fathul Wahid
Rektor Universitas Islam Indonesia 2022-2026





