UII Ramadan Fair 2026 Dorong Generasi Muda Berpikir Kritis dan Tebar Kebaikan Lewat Karya
Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menyelenggarakan UII Ramadan Fair 2026 sebagai ruang ekspresi bagi generasi muda melalui lomba fotografi dan penulisan opini. Kegiatan yang mengusung tema “Merajut Harmoni, Menebar Kebaikan” ini menjadi bagian dari upaya UII memaknai Ramadan tidak hanya sebagai momentum spiritual, tetapi juga sebagai ajang memperkuat kepedulian sosial melalui karya dan gagasan. Program ini terbuka bagi pelajar hingga mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.
Ketua Panitia UII Ramadan Fair 2026, Rifqi Sasmita Hadi, S.E., M.M., menjelaskan bahwa pemilihan fotografi dan penulisan opini didasarkan pada kedekatannya dengan generasi muda dalam menyampaikan gagasan. “Melalui fotografi, peserta diajak menangkap berbagai potret kehidupan masyarakat selama Ramadan—mulai dari kebersamaan, ibadah, hingga praktik kepedulian sosial. Sementara melalui penulisan opini, peserta didorong menyampaikan gagasan reflektif mengenai peran generasi muda dalam menghadirkan kebaikan dan kontribusi sosial yang berkelanjutan,” ujarnya .
Antusiasme peserta pada tahun ini tercatat cukup tinggi, dengan total 1.096 peserta dari berbagai provinsi di Indonesia. Jumlah tersebut terdiri dari 721 peserta lomba menulis opini dan 375 peserta lomba fotografi, dengan latar belakang 778 mahasiswa serta 318 pelajar SMA/sederajat. Partisipasi ini menunjukkan bahwa ruang berekspresi melalui karya visual dan tulisan masih sangat diminati oleh generasi muda.
Dalam sambutannya saat penutupan, Sekretaris Eksekutif UII, Hangga Fathana, S.IP., B.Int.St., M.A. menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis melalui karya. Ia mengutip pemikiran George Orwell untuk menegaskan keterkaitan antara menulis dan berpikir. “Jika seseorang tidak mampu menulis dengan baik, maka ia tidak akan mampu berpikir dengan baik. Dan jika seseorang tidak mampu berpikir dengan baik, maka orang lainlah yang akan membentuk cara berpikirnya,” ungkapnya .
Hangga juga menegaskan bahwa lomba dalam Ramadan Fair bukan sekadar menghasilkan karya, tetapi menjadi sarana pembentukan cara pandang generasi muda. “Melalui lomba menulis opini maupun fotografi, kita tidak hanya mengejar luaran berupa karya, tetapi juga mengajak generasi muda untuk belajar berpikir kritis dan kreatif, sehingga mereka mampu membangun cara pandangnya sendiri,” jelasnya .
Ke depan, UII berharap Ramadan Fair dapat terus menjadi tradisi yang berkontribusi bagi masyarakat luas. Karya-karya yang dihasilkan diharapkan tidak hanya bernilai estetis, tetapi juga membawa pesan sosial tentang harmoni, kebersamaan, dan kepedulian. “Kegiatan ini merupakan ikhtiar sederhana untuk terus menumbuhkan literasi, kreativitas, dan semangat kebaikan,” tutup Hangga. (AHR/RS)




