Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam Indonesia (UII) kembali melantik 6 dokter baru dalam acara Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Dokter Periode 71 yang diselenggarakan pada Rabu (21/01) di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir, Kampus Terpadu UII. Hingga periode ini, FK UII telah melantik sebanyak 2.674 dokter yang menegaskan peran UII dalam pengembangan dan peningkatan kualitas bidang kesehatan.
Dalam laporan sumpah dokter yang disampaikan oleh Ketua Program Studi Profesi Dokter UII, dr. Ana Fauziyati, M.Sc., Sp.PD, para dokter baru berasal dari berbagai provinsi di pulau Jawa dari DKI Jakarta hingga Jawa Timur. Tak kalah membanggakan, waktu tempuh pendidikan tercepat diraih dalam waktu 2 tahun 1 bulan 24 hari. Keberhasilan ini juga tidak lepas dari dukungan rumah sakit tempat pendidikan klinik yang tersebar di tiga provinsi yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Rektor UII, Fathul Wahid dalam sambutannya menegaskan pentingnya empati dan sensitivitas dalam prosesi pengambilan sumpah dokter. Ia menyebut sumpah dokter bukan sekadar seremoni, melainkan peristiwa etis yang membawa tanggung jawab besar terhadap kepercayaan pasien dan masyarakat.
Ia menekankan bahwa seorang dokter tidak cukup hanya mengandalkan ilmu medis semata. “Ilmu saja tidak cukup, harus diimbangi dengan kepekaan. Dokter perlu memahami bukan hanya penyakitnya, tetapi juga perasaan, kondisi sosial, dan situasi yang dihadapi pasien,” ujarnya.
Tak lupa, Ia juga mengingatkan bahwa empati harus terus dirawat di tengah tekanan kerja yang tinggi. “Empati bukan sesuatu yang otomatis, tetapi harus terus diasah. Tantangan di lapangan bisa membuat kita kehilangan kepekaan, sehingga penting untuk terus melakukan refleksi diri,” tambahnya.
Di akhir sambutannya, Rektor UII berharap para dokter dapat menjadi tenaga medis yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berempati. Dengan demikian, pelayanan yang diberikan tidak hanya berfokus pada penyembuhan, tetapi juga memuliakan kehidupan pasien.
Senada, Dekan FK UII, Dr. dr. Isnatin Miladiyah, M.Kes menegaskan bahwa prosesi Sumpah Dokter ini bukan sekadar seremoni, melainkan momen reflektif yang menandai awal tanggung jawab besar sebagai tenaga medis. Ia menyampaikan bahwa meski jumlah dokter baru hanya enam orang, suasana yang tercipta justru lebih mendalam dan sarat makna.
Isnatin mengingatkan bahwa profesi dokter tidak hanya bertumpu pada ilmu, tetapi juga kepercayaan dan nilai kemanusiaan. Para dokter, menurutnya, akan dihadapkan pada berbagai situasi yang menuntut keputusan tidak hanya tepat secara medis, tetapi juga bijak secara manusiawi.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga empati di tengah perkembangan teknologi dan kompleksitas sistem kesehatan. “Yang akan membedakan Anda bukanlah siapa yang paling pintar, tetapi siapa yang paling mampu tetap hadir sebagai manusia,” ujarnya.
Selain itu, ia menitipkan tiga pesan utama bagi para dokter baru. “Pertama, jangan pernah kehilangan rasa ingin tahu. Kedua, jaga empati Anda seperti menjaga kompetensi. Dan ketiga, ingatlah bahwa kita bukan penyembuh sejati, melainkan perantara,” tegasnya. Ia berharap para lulusan mampu menjadi dokter yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berempati dan berintegritas. (AHR/RS)
UII Kembali Jadi Tuan Rumah Campus League 2026 Regional Yogyakarta
Universitas Islam Indonesia (UII) kembali dipercaya menjadi tuan rumah dalam ajang Campus League 2026 regional Yogyakarta. Setelah pada tahun 2025 mempertandingkan cabang olahraga futsal, tahun ini kompetisi berfokus pada cabang olahraga bola basket.
Campus League merupakan organisasi independen yang berfokus pada pengembangan potensi mahasiswa melalui kecakapan dan kompetisi olahraga. Ajang ini tidak hanya menjadi ruang bagi mahasiswa untuk berprestasi di bidang olahraga, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter.
Kompetisi ini diselenggarakan di Gedung Olahraga (GOR) Ki Bagoes Hadikoesoemo, Kampus Terpadu UII selama tujuh hari mulai tanggal 30 April hingga 7 Mei. Sebanyak 12 kontingen dari perguruan tinggi di wilayah Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Jawa Timur turut ambil bagian dalam ajang ini.
Rektor UII, Fathul Wahid dalam sambutannya menekankan pentingnya sportivitas, keseimbangan akademik, serta empati dalam kegiatan olahraga yang melibatkan mahasiswa. Menurutnya, olahraga tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana membangun karakter dan nilai kemanusiaan.
Ia menyampaikan bahwa olahraga memiliki peran penting dalam membentuk sikap saling menghargai dan menjaga etika. “Di dalam olahraga ada nilai sportivitas, saling menghargai, dan kemampuan menerima hasil. Ketika nilai itu hilang, yang muncul justru sikap saling menjatuhkan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas akademik dan non-akademik. Selain itu, empati dan sensitivitas dinilai menjadi hal yang tidak kalah penting dalam membentuk pribadi yang utuh. “Sensitivitas adalah kemampuan untuk melihat yang tidak terlihat dan memahami situasi orang lain, dan ini perlu terus diasah,” tambahnya.
Dengan adanya Campus League 2026 ini, diharapkan tercipta semangat baru bagi mahasiswa untuk terus berkembang, tidak hanya dalam bidang akademik tetapi juga dalam sportivitas dan kepemimpinan. Ajang ini menjadi bukti nyata kolaborasi antarperguruan tinggi dalam mencetak generasi muda yang unggul, berdaya saing, dan berkarakter.
Sebagai tuan rumah, UII berkomitmen untuk terus mendukung berbagai kegiatan positif yang dapat memperkuat ekosistem pembinaan mahasiswa, baik dalam bidang olahraga maupun pengembangan diri secara menyeluruh. (AHR/RS)
UII Lantik 6 Dokter Baru, Dorong Empati dan Nilai Kemanusiaan
Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam Indonesia (UII) kembali melantik 6 dokter baru dalam acara Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Dokter Periode 71 yang diselenggarakan pada Rabu (21/01) di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir, Kampus Terpadu UII. Hingga periode ini, FK UII telah melantik sebanyak 2.674 dokter yang menegaskan peran UII dalam pengembangan dan peningkatan kualitas bidang kesehatan.
Dalam laporan sumpah dokter yang disampaikan oleh Ketua Program Studi Profesi Dokter UII, dr. Ana Fauziyati, M.Sc., Sp.PD, para dokter baru berasal dari berbagai provinsi di pulau Jawa dari DKI Jakarta hingga Jawa Timur. Tak kalah membanggakan, waktu tempuh pendidikan tercepat diraih dalam waktu 2 tahun 1 bulan 24 hari. Keberhasilan ini juga tidak lepas dari dukungan rumah sakit tempat pendidikan klinik yang tersebar di tiga provinsi yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Rektor UII, Fathul Wahid dalam sambutannya menegaskan pentingnya empati dan sensitivitas dalam prosesi pengambilan sumpah dokter. Ia menyebut sumpah dokter bukan sekadar seremoni, melainkan peristiwa etis yang membawa tanggung jawab besar terhadap kepercayaan pasien dan masyarakat.
Ia menekankan bahwa seorang dokter tidak cukup hanya mengandalkan ilmu medis semata. “Ilmu saja tidak cukup, harus diimbangi dengan kepekaan. Dokter perlu memahami bukan hanya penyakitnya, tetapi juga perasaan, kondisi sosial, dan situasi yang dihadapi pasien,” ujarnya.
Tak lupa, Ia juga mengingatkan bahwa empati harus terus dirawat di tengah tekanan kerja yang tinggi. “Empati bukan sesuatu yang otomatis, tetapi harus terus diasah. Tantangan di lapangan bisa membuat kita kehilangan kepekaan, sehingga penting untuk terus melakukan refleksi diri,” tambahnya.
Di akhir sambutannya, Rektor UII berharap para dokter dapat menjadi tenaga medis yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berempati. Dengan demikian, pelayanan yang diberikan tidak hanya berfokus pada penyembuhan, tetapi juga memuliakan kehidupan pasien.
Senada, Dekan FK UII, Dr. dr. Isnatin Miladiyah, M.Kes menegaskan bahwa prosesi Sumpah Dokter ini bukan sekadar seremoni, melainkan momen reflektif yang menandai awal tanggung jawab besar sebagai tenaga medis. Ia menyampaikan bahwa meski jumlah dokter baru hanya enam orang, suasana yang tercipta justru lebih mendalam dan sarat makna.
Isnatin mengingatkan bahwa profesi dokter tidak hanya bertumpu pada ilmu, tetapi juga kepercayaan dan nilai kemanusiaan. Para dokter, menurutnya, akan dihadapkan pada berbagai situasi yang menuntut keputusan tidak hanya tepat secara medis, tetapi juga bijak secara manusiawi.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga empati di tengah perkembangan teknologi dan kompleksitas sistem kesehatan. “Yang akan membedakan Anda bukanlah siapa yang paling pintar, tetapi siapa yang paling mampu tetap hadir sebagai manusia,” ujarnya.
Selain itu, ia menitipkan tiga pesan utama bagi para dokter baru. “Pertama, jangan pernah kehilangan rasa ingin tahu. Kedua, jaga empati Anda seperti menjaga kompetensi. Dan ketiga, ingatlah bahwa kita bukan penyembuh sejati, melainkan perantara,” tegasnya. Ia berharap para lulusan mampu menjadi dokter yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berempati dan berintegritas. (AHR/RS)
Perkuat Jejaring Kemitraan, UII dan UHS Resmi Jalin Kerja Sama
Universitas Islam Indonesia (UII) terus berkomitmen dalam menguatkan jejaring kemitraan dengan berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Pada kesempatan kali ini, UII menerima kunuungan kerja sama dari Universitas Halim Sanusi (UHS) pada Selasa (28/04) di Gedung Kuliah Umum (GKU) Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII. Dalam kunjungan ini juga menyepakati kerja sama yang secara resmi ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman oleh Rektor UII, Fathul Wahid dan Rektor UHS, Ir. Setiadi Yazid, M.Sc., Ph.D.
Fathul Wahid menyampaikan dalam sambutannya bahwa kekuatan institusi tidak lepas dari nilai-nilai yang diwariskan para pendiri sejak awal berdiri. Nilai tersebut, menurutnya, menjadi fondasi dalam menjaga arah dan perkembangan kampus. “Nilai-nilai yang diwariskan para pendiri itulah yang terus kami jaga dan rawat, bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk diamalkan,” ujar Rektor UII ini.
Ia menambahkan, dalam beberapa tahun terakhir UII terus mendorong pertumbuhan yang tidak hanya berorientasi pada jumlah, tetapi juga kualitas. Hal ini diwujudkan melalui penguatan SDM serta perluasan peran global, termasuk program pemberdayaan perempuan dari Afghanistan sebagai bagian dari kontribusi internasional.
Sementara itu, Ir. Setiadi Yazid, M.Sc., Ph.D. menyoroti pentingnya ketahanan institusi dalam menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan sumber daya hingga dampak pandemi. Ia menegaskan bahwa keberhasilan bertahan tidak lepas dari semangat bersama dan kerja sama berbagai pihak. “Dengan semangat dan kolaborasi, kita tetap mampu bertahan dan berkembang,” katanya.
Menurutnya, ke depan perguruan tinggi harus semakin adaptif terhadap perubahan. Peningkatan kualitas SDM menjadi kunci agar mampu bersaing dan terus berkembang di tengah dinamika yang cepat.
Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kerja sama antara kedua universitas yang membahas peluang kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan SDM. Keduanya sepakat bahwa masa depan pendidikan tinggi sangat ditentukan oleh kemampuan institusi dalam menjaga nilai, memperluas kolaborasi, dan menyiapkan SDM yang unggul serta berintegritas. (AHR/RS)
UII Gelar Bedah Buku Filsafat Ilmu dan Epistemologi: Studi Islam Integratif-Inklusif
Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar kegiatan Bedah Buku karya dosen Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) UII berjudul Filsafat Ilmu dan Epistemologi: Studi Islam Integratif-Inklusif sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Milad ke-83 UII yang dilaksanakan pada Senin (27/04) di Auditorium Gedung K.H.A Wahid Hasyim, Kampus Terpadu UII.
Kegiatan bedah buku ini menghadirkan narasumber, yaitu Fathul Wahid selaku Rektor UII, Prof. Dr. Amin Abdullah, M.A. selaku Guru Besar Ilmu Filsafat UIN Sunan Kalijaga, dan Prof. Dr. Yusdani, M.Ag selaku Guru Besar Hukum Perdata Islam UII. Kegiatan ini diikuti oleh berbagai sivitas akademika, mulai dari dosen hingga mahasiswa.
Dalam sambutannya, Koordinator Bidang Kajian Ilmiah Akademis Milad ke-83 UII, Allan Fatchan Gani Wardhana, S.H., M.H menyatakan kegiatan ini dilakukan sebagai upaya mengenalkan dan menyebarluarkan karya-karya akademik dosen kepada seluruh sivitas akademika dan masyarakat luas.
“Karya-karya dosen perlu terus disebarluaskan agar gagasan dan kontribusi akademiknya dapat memberi manfaat yang lebih luas,” ujarnya.
Allan berharap kegiatan bedah buku ini dapat berjalan lancar, memberikan ruang diskusi yang produktif, serta menjadi inspirasi bagi lahirnya karya-karya akademik lainnya di lingkungan UII.
Dalam pemaparannya, Prof. Amin Abdullah menekankan bahwa filsafat perlu mendapat ruang lebih besar di dunia akademik Indonesia. Menurutnya, filsafat menjadi instrumen penting untuk membangun kemampuan berpikir kritis dan analitis, sekaligus mencegah kemiskinan gagasan dalam dunia pendidikan tinggi.
“Tidak mengenal filsafat adalah bunuh diri intelektual, karena filsafat melahirkan semangat berpikir kritis dan ide-ide baru yang sangat penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan,” ungkapnya.
Sementara itu, Prof. Yusdani menjelaskan bahwa epistemologi studi Islam integratif-inklusif menekankan keterbukaan terhadap tradisi Islam, modernitas, dan pengetahuan lokal secara bersamaan. Pendekatan ini disebut sebagai epistemologi “Islam Tiga Kaki” yang bertumpu pada turas, modernitas, dan kearifan lokal.
“Kita harus tetap mengakar pada tradisi intelektual Islam, tetapi juga terbuka dan kritis terhadap modernitas serta pengetahuan lokal agar studi Islam tetap relevan dengan tantangan zaman,” jelasnya.
Lebih lanjut, Fathul Wahid menekankan pentingnya untuk terus belajar dari turas atau khazanah keilmuan Islam klasik, sekaligus membuka diri terhadap pendekatan multidisiplin. Menurutnya, pengembangan keilmuan Islam tidak cukup hanya bertumpu pada satu disiplin, tetapi perlu dialog dengan berbagai bidang ilmu agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Ia menilai buku yang dibedah dalam kegiatan ini menjadi salah satu wujud nyata dari semangat tersebut.
“Kita harus tetap belajar dari turas, tetapi juga mampu berdialog dengan berbagai disiplin ilmu agar keilmuan Islam terus berkembang dan relevan dengan tantangan zaman,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, UII berharap lahir ruang dialog akademik yang lebih luas dalam memperkuat tradisi keilmuan Islam yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Bedah buku ini juga menjadi bagian dari upaya kampus dalam membangun budaya intelektual yang kritis, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat. (AHR/RS)
UII Wisuda 766 Lulusan: Tekankan Integritas, Empati, dan Semangat Bertumbuh
Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar wisuda jenjang Doktor, Sarjana, dan Diploma Periode IV Tahun Akademik 2025/2026 pada Sabtu-Minggu (25-26/04) di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Mudzakkir. Pada periode kali ini, UII mewisuda sebanyak 766 lulusan terdiri dari 9 doktor, 116 magister, 632 sarjana, dan 2 ahli madya. Sehingga, sampai saat ini tercatat lebih dari 137.063 alumni yang berkiprah dalam berbagai peran baik dalam negeri maupun mancanegara.
Rektor UII, Fathul Wahid, dalam sambutannya menegaskan bahwa wisuda bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tantangan baru di kehidupan nyata. “Wisuda sering dianggap sebagai garis akhir dari perjalanan panjang pendidikan. Namun sesungguhnya, wisuda lebih tepat disebut sebagai titik awal,” ujarnya.
Fathul Wahid juga menekankan pentingnya kepercayaan dan karakter dalam dunia profesional. Menurutnya, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga integritas dan kemampuan untuk terus belajar. “Dalam jangka panjang, kepercayaan selalu lebih mahal daripada kepintaran,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Alumni UII, Rizky Wijaya, S.H., LL.M turut memberikan pesan kepada para wisudawan agar siap menghadapi dinamika dunia kerja yang terus berubah. Ia menekankan pentingnya sikap adaptif dan menjaga integritas dalam berkarier. “Skill dan kompetensi kalian mungkin membuat kalian diterima kerja, tapi integritaslah yang akan membuat kalian bertahan,” ujar Vice President Corporate Banking PT Bank Mandiri (Persero).
Rizky juga mengingatkan pentingnya membangun jejaring melalui ikatan alumni sebagai bentuk kolaborasi dan saling mendukung antarsesama lulusan. Ia menyebut bahwa silaturahmi menjadi kekuatan penting dalam membuka peluang dan memperluas manfaat.
Sementara itu, Wakil Alumni lainnya, dr. Dita Anggara Kusuma, Sp.OT, Subsp. Onk. Ort. (K) membagikan pengalaman pribadinya sebagai dokter yang menangani pasien kanker. Ia menekankan bahwa dunia kerja menuntut kontribusi nyata, bukan sekadar gelar akademik. “Dunia tidak terlalu peduli dengan gelar kalian. Dunia peduli pada apa yang bisa kalian lakukan,” ungkapnya.
Melalui kisahnya, dr. Dita juga menyoroti pentingnya empati dan makna dalam menjalani profesi. Ia mengajak para lulusan untuk tidak hanya mengejar kesuksesan, tetapi juga memberikan dampak bagi orang lain. “Jangan hanya mengejar sukses—kejarlah makna,” pesannya.
Wisuda ini menjadi momentum bagi para lulusan UII untuk melangkah ke dunia baru dengan bekal ilmu, nilai, dan karakter. Dengan semangat integritas, empati, serta kemauan untuk terus belajar, para lulusan diharapkan mampu menjadi pribadi yang tidak hanya sukses secara individu, tetapi juga memberi manfaat luas bagi masyarakat. (AHR/RS)
Kuliah Umum Visiting Professor MIKOM UII Soroti Media Activism dan Era Citizen Journalist
Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menghadirkan ruang akademik yang dinamis melalui penyelenggaraan kuliah umum Visiting Professor pada Jumat, (17/04). Bertempat di Ruang Meeting Jurusan Ilmu Komunikasi UII, kegiatan ini menghadirkan Prof. Nurhaya Muchtar, seorang profesor dari Department of Communications Media, Indiana University of Pennsylvania, Amerika Serikat.
Kuliah umum yang dimulai pukul 13.00 WIB tersebut dihadiri oleh mahasiswa S2 Ilmu Komunikasi UII. Mengangkat tema besar seputar media activism dan jurnalistik, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang transfer pengetahuan, tetapi juga ruang dialog kritis antara pemateri dan peserta.
Berbeda dengan pola perkuliahan konvensional yang cenderung satu arah, Prof. Nurhaya mengusung pendekatan diskusi interaktif. Ia secara aktif melibatkan mahasiswa dalam proses pembelajaran melalui berbagai topik diskusi yang relevan dengan perkembangan media saat ini. Metode ini membuat suasana kuliah terasa hidup dan partisipatif.
Sejak awal acara, antusiasme peserta terlihat jelas. Mahasiswa tidak hanya mendengarkan, tetapi juga terlibat dalam diskusi kelompok yang kemudian dilanjutkan dengan pemaparan hasil diskusi secara terbuka. Pola ini mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis serta berani menyampaikan pandangan mereka.
Salah satu gagasan penting yang disampaikan Prof. Nurhaya adalah tentang keterkaitan antara perkembangan teknologi dan meningkatnya praktik media activism. Ia menekankan bahwa kemajuan teknologi, khususnya dalam hal akses alat produksi media, telah membuka peluang luas bagi masyarakat untuk terlibat dalam aktivitas jurnalistik.
“Semakin murah alat, semakin jalan activism,” ungkapnya dalam sesi diskusi. Pernyataan tersebut menyoroti bagaimana keterjangkauan teknologi menjadi salah satu faktor kunci dalam mendorong partisipasi publik dalam produksi dan distribusi informasi.
Lebih lanjut, Prof. Nurhaya juga mengangkat topik mengenai pergeseran paradigma dalam dunia jurnalistik, khususnya dari public journalism menuju citizen journalism. Dalam diskusi tersebut, peserta diajak untuk membedah karakteristik dan peran masing-masing konsep dalam ekosistem media modern.
Ia menjelaskan bahwa citizen journalism berkembang pesat karena sifatnya yang lebih inklusif dan ekonomis. “Transition from public media to citizen journalism, because citizen journalism is cheap. Anybody who has 2 million Rupiah can report,” jelasnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa dengan modal yang relatif kecil, siapa pun kini dapat berperan sebagai penyampai informasi.
Kuliah umum ini tidak hanya memberikan wawasan teoretis, tetapi juga relevansi praktis bagi mahasiswa sebagai calon praktisi komunikasi dan jurnalisme. Dengan pendekatan yang dialogis, mahasiswa didorong untuk tidak sekadar memahami konsep, tetapi juga mengkritisi dan mengaplikasikannya dalam konteks nyata.
Kehadiran Prof. Nurhaya Muchtar sebagai visiting professor menjadi nilai tambah tersendiri bagi lingkungan akademik UII. Selain membawa perspektif global, ia juga mampu mengaitkan teori dengan realitas media kontemporer yang terus berkembang.
Melalui kegiatan ini, Prodi Magister Ilmu Komunikasi UII menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran yang adaptif terhadap perubahan zaman. Kuliah umum ini diharapkan dapat memperkaya wawasan mahasiswa serta mendorong mereka untuk lebih aktif dalam memahami dinamika media, khususnya dalam konteks aktivisme dan partisipasi publik.
Dengan semangat diskusi yang terbuka dan partisipatif, kegiatan ini menjadi bukti bahwa pembelajaran komunikasi tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui interaksi kritis yang membangun kesadaran akan peran media dalam masyarakat.(MFPS/AHR/RS)
UII Gelar Workshop Etika Publikasi Internasional Bersama Emerald Publishing
Direktorat Perpustakaan Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan Workshop Etika dan Kebijakan Publikasi Internasional sebagai upaya dalam peningkatan pemahaman sivitas akademika khususnya dosen dan mahasiswa pascasarjana terkait etika publikasi ilmiah.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis (23/04) di Gedung Mohammad Hatta Perpustakaan, Kampus Terpadu UII ini menghadirkan narasumber dari Emerald Publishing, William Loh Wui Lun yang membahas tren publikasi, strategi menulis artikel ilmiah, serta proses menuju publikasi di jurnal bereputasi internasional.
Dalam sambutannya, Direktur Perpustakaan UII, Muhammad Jamil, S.IP mengatakan Perpustakaan UII secara konsisten menghadirkan berbagai program untuk mendukung sivitas akademika, mulai dari penyediaan akses sumber daya ilmiah, pendampingan penulisan karya ilmiah, hingga fasilitasi proses publikasi.
Salah satu sumber yang dapat dimanfaatkan adalah Emerald Insight, yang menyediakan ratusan jurnal di bidang bisnis, manajemen, dan ekonomi yang dapat diakses oleh mahasiswa. “Publikasi ilmiah saat ini bukan lagi pilihan, tetapi sudah menjadi kewajiban bagi sivitas akademika,” ujarnya.
Menurutnya, selain kualitas substansi karya ilmiah, pemahaman terhadap etika publikasi juga menjadi hal yang sangat penting, termasuk dalam penggunaan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI). UII sendiri telah memiliki regulasi terkait etika ilmiah sebagai pedoman bagi seluruh sivitas akademika dalam menghasilkan karya yang berkualitas dan berintegritas.
Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh William yang menekankan pentingnya integritas dalam penelitian dan publikasi. Setiap karya ilmiah harus memenuhi prinsip orisinalitas, kejelasan kontribusi, serta tidak sedang diajukan ke penerbit lain. Selain itu, penulis juga diwajibkan mencantumkan sitasi yang tepat dan mengungkapkan potensi konflik kepentingan secara transparan.
“Penelitian harus dilakukan dengan standar integritas yang tinggi, karya yang dihasilkan harus orisinal, tidak sedang diajukan di tempat lain, serta mencantumkan referensi dan sumber secara jelas,” papar WIlliam
William juga menyoroti penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam penulisan ilmiah. Menurutnya, AI tidak dapat diakui sebagai penulis karena tidak memiliki tanggung jawab akademik, namun dapat digunakan secara terbatas untuk penyuntingan bahasa dengan tetap menjunjung prinsip transparansi. Penulis tetap menjadi pihak yang bertanggung jawab penuh atas isi dan keabsahan karya.
Melalui kegiatan ini, UII berharap sivitas akademika semakin memahami etika publikasi ilmiah sekaligus mampu meningkatkan kualitas riset. Dengan demikian, karya yang dihasilkan tidak hanya memenuhi standar akademik, tetapi juga memiliki kredibilitas dan daya saing di tingkat internasional. (AHR/RS)
UII dan ACU Perkuat Kerja Sama Internasional
Universitas Islam Indonesia (UII) terus berkomitmen dalam menguatkan jejaring kemitraan dengan berbagai perguruan tinggi baik nasional ataupun internasional. Pada kesempatan kali ini, UII menerima kunjungan kerja sama dari Australian Catholic University (ACU) pada Rabu (22/04) di Gedung Kuliah Umum (GKU) Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII.
Lawatan ini menjadi bagian dari upaya kedua universitas dalam mengoptimalkan pengelolaan perguruan tinggi yang mencakup bidang penelitian, pengajaran, dan pengabdian masyarakat.
Rektor UII menyambut hangat kunjungan delegasi ACU dan menyatakan bahwa kerja sama ini mencerminkan hubungan yang telah terjalin erat antara kedua institusi. Ia berharap penandatanganan nota kesepahaman dapat menjadi pijakan untuk mendorong kolaborasi yang lebih luas dan produktif di masa mendatang.
Fathul Wahid menyoroti kesamaan visi antara UII dan ACU, khususnya dalam konsep human flourishing atau kehidupan yang bermakna, yang mencakup kesejahteraan, kedamaian, dan kebahagiaan.
“Kami memiliki pemahaman yang sama tentang pentingnya kesejahteraan, kedamaian, dan kebahagiaan,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa kesamaan nilai tersebut menjadi fondasi kuat untuk membangun kerja sama yang berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bagi kedua institusi.
Senada, Vice Chancellor dan CEO dari ACU, Prof. Zlatko Skrbis menyampaikan apresiasi atas kesempatan menjalin kemitraan dengan UII. Ia menekankan bahwa kerja sama ini merupakan langkah awal yang penting untuk mempererat hubungan dan mengembangkan kolaborasi di berbagai bidang ke depan.
Menurutnya, meskipun kedua institusi berasal dari tradisi yang berbeda, terdapat kesamaan nilai yang kuat, khususnya dalam memandang pentingnya kesejahteraan, kebahagiaan, dan kehidupan yang bermakna.
“Meskipun berasal dari tradisi yang berbeda, kita memiliki tujuan yang sama tentang kesejahteraan dan kehidupan yang baik,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pendidikan berbasis nilai serta keterlibatan mahasiswa dalam masyarakat menjadi kekuatan utama yang dapat dikembangkan bersama melalui kemitraan ini.
Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kerja sama antara kedua universitas yang membahas peluang kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.. Lawatan ini diharapkan menjadi langkah strategis bagi UII dan ACU untuk terus memperkuat kolaborasi dan meningkatkan semangat kerja sama akademik. (AHR/RS)
Jejak Lestari 83 Tahun UII dalam Harmoni Akasia
Sebagai rangkaian kegiatan dalam memperingati Milad ke-83 dan Hari Bumi Sedunia, Universitas Islam Indonesia (UII) mengadakan kegiatan Aksi Tanam Pohon pada Selasa (21/04) di Embung Pelang Sisi Barat UII. Kegiatan ini ditandai dengan penanaman pohon akasia yang diwakili oleh Ketua Pengembangan Sistem Informasi dan Aset YBW UII, Rektor UII, dan Dekan Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) UII, serta jajaran dekan di lingkungan UII sebagai bentuk kesadaran kolektif sivitas akademika UII dalam membangun kesadaran kolektif untuk merawat dan melestarikan bumi.
Mengusung semangat “Harmoni untuk Jejak Lestari”, pohon akasia dipilih sebagai simbol utama. Pemilihan ini merepresentasikan perpaduan antara ketangguhan dan manfaat berkelanjutan, sebuah cerminan dari perjalanan panjang UII sebagai institusi pendidikan tertua di Indonesia.
Dekan FIAI UII menyatakan bahwa bahwa penanaman pohon akasia ini bukan sekadar aksi penghijauan seremonial, melainkan sebuah manifestasi dari nilai-nilai spiritual dan historis Islam yang melekat pada pohon ini sebagai material pembangun peradaban, mulai dari mimbar hingga arsitektur masjid klasik.
“Pemilihan akasia adalah simbol bahwa di usia ke-83, UII harus terus tumbuh menjadi institusi yang tangguh, kuat, dan mampu menaungi sesama dalam harmoni,” ungkapnya.
Senada, Rektor UII, Fathul Wahid mengatakan dalam sambutannya bahwa penanaman pohon memiliki landasan yang kuat, baik dari sisi teologis maupun institusional. Dalam ajaran Islam, menanam pohon merupakan bentuk amal jariyah yang manfaatnya terus mengalir bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.
“Menanam pohon bukan hanya kegiatan ekologis, tetapi juga memiliki nilai ibadah karena manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Selain itu, Ia menambahkan bahwa keberadaan ruang hijau juga memberikan dampak positif bagi kualitas lingkungan dan kesehatan mental. Interaksi dengan alam, menurut berbagai penelitian, dapat meningkatkan kenyamanan, kejernihan berpikir, serta produktivitas.
Sementara itu, Ketua Pengembangan Sistem Informasi dan Aset YBW UII, Dr. Raden Bagus Fajriya Hakim, S.Si., M.Si. menekankan bahwa ia menekankan bahwa kegiatan menanam pohon bukan sekadar simbolis, melainkan komitmen jangka panjang yang membutuhkan perawatan dan konsistensi bersama.
“Menanam itu mudah, tetapi merawatnya membutuhkan komitmen bersama agar manfaatnya benar-benar dapat dirasakan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa aset yang dimiliki, termasuk lingkungan hijau, harus dikelola dengan baik agar tidak menjadi beban di kemudian hari. Oleh karena itu, seluruh pihak diharapkan dapat bersama-sama menjaga dan merawat tanaman yang telah ditanam.
Kegiatan ini diharapkan menjadi pengingat bahwa menjaga bumi bukan hanya tugas satu hari, melainkan komitmen berkelanjutan dari seluruh elemen masyarakat. Dengan aksi nyata seperti menanam pohon akasia, UII terus menanam harapan dan memperkuat akar kebaikan untuk masa depan bumi yang lebih lestari melalui Harmoni untuk Jejak Lestari. (MM/AHR/RS)
Architectuniverse Talk Series #1 Bahas Ekosistem Pendidikan dan Lisensi Arsitek Indonesia
Jurusan Arsitektur Universitas Islam Indonesia (UII) selenggarakan Architect Universe Talk Series #1 pada Sabtu (18/4) di Auditorium Lantai 3 Gedung Mohammad Natsir Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) UII. Bertajuk “Diskusi Pendidikan Arsitektur, Profesi, dan Sertifikasi”, acara ini menjadi momen krusial yang mempertemukan para pemangku kebijakan tertinggi di dunia arsitektur nasional.
Diskusi ini menghadirkan Ketua Asosiasi Pendidikan Tinggi Arsitektur Indonesia (APTARI) Dr. Ar. Yulianto P. Prihatmaji, S.T., M.T., IPM, IAI., Koordinator Region 2 Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ar. Sugiarto, IAI., Ketua Dewan Arsitek Indonesia (DAI) Ar. Ahmad Saladin, IAI. serta Direktur Utama LSP Sertifikasi Arsitek Indonesia (SARSI) Ar. Pierre Albyn Pongai, S.T., M.T., IAI. dengan dipandu oleh moderator Dr. Ar. Ahmad Saifudin Mutaqi, Ir., MT., IAI., AA, GP.
Di tengah dinamisnya regulasi pendidikan profesi, masa depan karier seorang lulusan arsitektur seringkali dilingkupi kegamangan. Topik diskusi kali ini membedah integrasi antara dunia kampus dengan tuntutan industri, urgensi kepemilikan lisensi, hingga tantangan etika dalam praktik profesional. Forum ini sekaligus menjadi saksi sejarah berkumpulnya empat organisasi besar penentu nasib arsitek Indonesia untuk menyelaraskan langkah dari hulu hingga ke hilir.
Kegiatan dibuka dengan sambutan Prof. Ar. Noor Cholis Idham, S.T., M.Arch., Ph.D., IAI yang merupakan Ketua Jurusan Arsitektur UII. Dalam penyampaiannya, ia menekankan bahwa pertemuan ini bertujuan untuk memastikan kesejahteraan dan kekuatan profesi arsitek di masa depan. “Ini nampaknya menjadi sejarah pertama para penentu nasib arsitek Indonesia duduk bersama di tempat kita. Harapannya, arsitek Indonesia tidak lagi merana dan profesi kita semakin kuat karena sudah ada undang-undang serta institusi yang mengelolanya secara solid,” pungkasnya. Ia juga berharap diskusi ini mampu menjawab kegelisahan mahasiswa mengenai kelayakan menempuh jalur pendidikan panjang menuju gelar arsitek profesional.
Sesi diskusi berlangsung hangat dengan menyoroti berbagai isu, mulai dari sistem magang yang dinilai memakan waktu lama hingga fenomena pinjam-meminjam sertifikat untuk kebutuhan tender. Narasumber pertama, Dr. Ar. Yulianto P. Prihatmaji, menjelaskan bahwa integrasi pendidikan kini semakin matang, di mana lulusan Pendidikan Profesi Arsitek (PPAR) dibekali dengan berbagai dokumen regulasi yang lengkap. “Selain menamatkan pendidikan lima tahun, mahasiswa juga dibekali SKK Jenjang 7 sebagai asisten arsitek. Ini adalah ‘persenjataan’ yang harus diketahui calon arsitek agar siap terjun ke ekosistem profesi,” ujarnya.
Selanjutnya, Ar. Sugiarto menanggapi skeptisisme mahasiswa mengenai masa magang dua tahun yang sering dianggap menunda hak untuk berkarya mandiri. Menurutnya, magang adalah proses transfer etika yang tidak bisa digantikan hanya dengan teori di kelas. “Masa magang itu bukan masa untuk menunggu, melainkan batu uji untuk memastikan seorang arsitek benar-benar kompeten. Sebetulnya sarjana bisa langsung kerja, namun untuk disebut sebagai arsitek berlisensi, ada tanggung jawab publik yang harus dipenuhi melalui proses tersebut,” tegasnya. Ia juga memperingatkan bahwa praktik pinjam sertifikat adalah pelanggaran serius yang dapat merusak martabat profesi.
Sementara itu, Ar. Pierre Albyn Pongai dari LSP SARSI memaparkan bahwa skema sertifikasi saat ini telah dirancang untuk mengakomodasi berbagai kualifikasi kompetensi kerja secara transparan. Diskusi ini memberikan penegasan bahwa Surat Tanda Registrasi Arsitek (STRA) bukan sekadar urusan administratif, melainkan instrumen perlindungan bagi arsitek maupun masyarakat pengguna jasa. Sebagai penutup, diskusi ini menekankan bahwa perjalanan panjang menjadi arsitek berlisensi adalah bentuk kurasi kualitas demi menjaga standar kerja nasional yang bermartabat. Architect Universe Talk Series #1 ini merupakan awal dari rangkaian seri diskusi yang akan berlanjut di Jakarta, Makassar, hingga Labuan Bajo. (NKA/AHR/RS)