Pembelajaran daring sebagai langkah preventif penularan virus COVID-19 telah berlangsung cukup lama di Universitas Islam Indonesia (UII). Guna membagikan berbagai pengalaman mahasiswa dalam menghadapi pembelajaran daring, UII bekerjasama dengan Universitas Telkom mengadakan webinar “International Students’ Talk Series 1: International Students Response on the Covid-19 Pandemic”. Acara daring ini menghadirkan narasumber : dr. Nadhira Nuraini Afifa, MPH, alumni muda Harvard University, MD. Jamaluddin Mahasiswa Ph.D, Bhawya, seorang mahasiswa internasional di Universitas Telkom, dan Tran Thi Yuan Thuong, mahasiswa dari Duy Tan University, Vietnam.

Acara dibuka dengan materi “Learning During Pandemic” oleh dr. Nadhira. Ia menceritakan pengalamannya selama kuliah di Harvard University, termasuk pembelajaran sebelum pandemi dan selama pandemi berlangsung.

Sebelum pandemi melanda, pembelajaran di Harvard University terbagi dua. Di dalam kelas dengan banyak menggunakan active learning yaitu dengan diskusi antar mahasiswa, presentasi, dan banyak proyek grup. Sedangkan pembelajaran di luar kelas dengan banyak acara-acara pertukaran budaya antar mahasiswa.

Namun saat pandemi melanda Amerika Serikat di awal bulan Maret, Harvard University memutuskan untuk memindahkan semua kelas menjadi daring dan merekomendasikan mahasiswa untuk kembali ke negaranya. “Pembelajaran daring memang cukup membuat stress kami, namun kami tahu harus beradaptasi secepat mungkin. Jadi pola pikirnya adalah jadikan pembelajaran daring suatu kesempatan untuk terus mengevaluasi diri juga untuk melatih self control kita.”, katanya.

Hal ini dibuktikan dr. Nadhira dengan dipilih sebagai Student Speaker pada acara wisuda angkatan 2020 pada akhir Mei sehingga banyak diberitakan di tanah air.

“Saya selalu berkata pada diri sendiri, bahwa saya tidak boleh hanya kuliah dan mendapatkan gelar saja di sana. Saya juga harus bisa mendapatkan prestasi yang membawa harum Indonesia”, ungkapnya bangga.

dr. Nadhira memberikan tips selama pembelajaran daring agar tetap semangat dan fokus belajar. Pertama adalah selalu berpakaian rapi dan siap belajar, maksudnya agar tidak mengantuk dan antusias. Kedua adalah membuat to-do list, agar tetap produktif dan mengingatkan tugas apa saja yang harus diselesaikan hari itu. Yang ketiga adalah duduk di tempat yang kondusif seperti di atas meja belajar.

Selain itu, ia juga berpesan tidak kalah penting adalah menerapkan growth mindset. Maksudnya adalah selalu merasa kurang dan mau memperbaiki diri, berlatih, dan belajar terus-menerus. Contoh lain adalah percaya bahwa bakat itu mitos, semua orang dapat menguasai skills tertentu asal mau terus belajar

Menurutnya hal ini menjadi masalah di Indonesia yang masih banyak menggunakan fixed mindset yang merupakan kebalikan growth mindset. Contohnya percaya bahwa orang-orang pintar merupakan bawaan dari lahir sehingga membuat diri menjadi malas untuk belajar. (MH/ESP)