Pembelajaran daring | kajian UII

Kurva Covid-19 di Indonesia belum menunjukan penurunan yang signifikan. Alat Pelindung Diri (APD) yang berkualitas mutlak diperlukan keberadaannya untuk menekan penyebaran Covid-19 yang semakin masif. Hal ini menjadi bahasan pada diskusi yang digelar oleh Program Studi Rekayasa Tekstil Universitas Islam Indonesia (UII), Selasa (19/5), dalam webinar dengan tema Desain APD Covid-19 yang berkualitas, nyaman, dan murah.

Dosen Program Studi Rekayasa Tekstil UII, Ir. Bachrun Sutrisno, M.Sc, menjelaskan APD atau alat pelindung diri adalah seperangkat perlengkapan yang bertujuan untuk melindungi diri dari bahaya atau gangguan kesehatan tertentu, misalnya infeksi virus atau bakteri. Bila digunakan dengan benar. APD mampu menghalangi masuknya virus atau bakteri ke dalam tubuh melalui mulut, hidung, mata, atau kulit.

Konsep dari APD adalah mengubah kain dengan cara tertentu agar pori-pori kain atau bahan APD tidak bisa dilalui virus yang berukuran 120 mm. Jenisnya juga berbeda beda mulai dari yang sangat sederhana seperti masker yang biasa dipakai bagi masyarakat umum. Sedangkan dokter, perawat, supir ambulan, dan sebagainya menggunakan APD yang lebih lengkap.

Ketua Jurusan /Program Studi Teknik Kimia Program Sarjana, Dr. Suharno Rusdi menyebutkan hasil penelitiannya terkait penggunaan APD Covid-19 yang efektif. Survei penggunaan APD ini hasilnya dibagi menjadi dua yakni APD ringan dan APD medis. Dari 1.274 respondend, yang menggunakan APD berupa masker 8 % menganku nyaman menggunakannya, 35 % biasa menggunakan masker dan 62 % mengaku tidak nyaman menggunakannya dengan alasan susah bernafas, susah berbicara, dan sebagainya.

Penelitian di New York Amerika Serikat menyatakan adanya korelasi pengguna masker dengan angka kematian. Menurut Suharno Rusdi semakin bagus atau berkualitasnya suatu masker akan mempengaruhi tigkat penyebaran virus Covid-19. Hal ini menunjukan betapa pentingnya APD termasuk masker, dimana virus masuk ke tubuh tubuh 75 % melalui hidung, 15 % mulut sehingga masker mempunyai peran penting sebagai perlindungan diri dari virus yang akan masuk ke tubuh.

Dijelaskan Suharno Rusdi proses dan teknologi pembuatan APD dapat berupa chemical treatment seperti silicon spary, polivinyl chloride, rubber, silicon elastomer, dan lain sebagainya. Materialnya juga bergagam seperti poleyster, polypropylene, viscose rayon, dan cotton. Untuk membuat APD yang kuat bisa memilih bahan poleyter sedangkan untuk APD yang tidak panas memilih bahan katun dan viscose rayon.

“Bagi perusahaan atau mitra pembuat alat pelindung diri bisa bergabung dan mengujikan bahan-bahannya di laboratorium yang tersedia di Program Studi Rekayasa Tekstil UII, atau dapat menghubungi tekstil.uii.ac id utuk info lebih lanjut,” pungkasnya (HN/RS)