Belajar dari Intelektual Publik

Selamat atas jabatan guru besar untuk Prof. Sri Wartini. Beliau adalah profesor ke-31 yang lahir dari rahim Universitas Islam Indonesia (UII).

Saat ini, UII masih mempunyai 253 dosen berpendidikan doktor, dan 67 di antaranya sudah menduduki jabatan akademik lektor kepala. Mereka adalah para calon profesor.

Beberapa usulan profesor dari UII saat ini masih dalam proses, termasuk yang sudah melalui beberapa tahapan di Jakarta. Semoga dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, surat keputusan profesor lain akan diterima oleh UII.

 

Melawan anti-intelektualisme

Di kesempatan yang baik ini, izinkan saya mengajak, terutama para dosen, dan lebih khusus lagi, para profesor untuk bersama-sama berusaha menyampaikan pesan-pesan saintifik kepada khalayak yang lebih luas. Tentu, dengan tanpa meninggalkan peran lain dalam komunitas akademik, seperti riset dan publikasi.

Pesan ini perlu kembali dilantangkan, karena semakin sedikit profesor yang memilih jalur ini, menjadi intelektual publik. Publik perlu diedukasi. Publik perlu dicerahkan dengan gagasan-gagasan bernas yang mempengaruhi perspektif dan akhirnya menjadi basis pengambilan keputusan dan tindakan kolektif.

Kegalauan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di banyak negara, termasuk Amerika Serikat (Kristof, 2014). Suara akademisi di ranah publik yang terbatas atau bahkan terasa tak terdengar gaungnya karena rendahnya relevansi gagasan dengan kebutuhan publik, dapat menjadi akar gerakan anti-intelektualisme.

Tentu, jika hal ini terjadi akan sangat mengkhawatirkan, karena kepercayaan publik terhadap sains dan saintis berkurang. Sains tidak dianggap sebagai komponen penting dalam pemecahan masalah manusia dan kemanusiaan.

Saat ini, misalnya, menjadi semakin sulit menemukan pemikiran para profesor yang bisa diakses oleh publik luas, termasuk akademisi di luar disiplinnya.

 

Belajar dari pendahulu

Untuk memberikan ilustrasi, kita bisa menyebut Kuntowijoyo, Mubyarto, Umar Kayam, Dawam Raharjo, Nurcholis Madjid, Azyumardi Azra, Deliar Noer, Artidjo Alkostar, dan Ahmad Syafi’i Ma’arif. Daftar ini tentu bisa dibuat lebih panjang. Saat ini, sangat sulit mencari pengganti mereka.

Apa yang bisa kita pelajari dari mereka, selain mereka produktif dalam berkarya? Hasil refleksi sederhana saya, menemukan paling tidak empat pelajaran yang bisa kita ambil dari mereka.

Pertama, mengasah sensitivitas. Mereka sensitif dengan masalah bangsa. Perspektif yang diangkat dalam ceramah dan tulisannya sangat aktual dan memotret kondisi mutakhir bangsa saat itu.

Sebagai contoh, kolom Umar Kayam yang terbit rutin di Harian Kedaulatan Rakyat, selalu mengangkat isu-isu keseharian publik. Dengan kemasan cerita yang menarik, kolom ini termasuk yang dibaca paling awal ketika harian tersebut di tangan.

Konsep Ekonomi Pancasila yang dicetuskan oleh Pak Mubyarto adalah contoh lain sensitivitas intelektual, setelah sistem ekonomi pasar yang menyebabkan ketimpangan. Negara diharapkan terlibat untuk menjamin keadilan sosial.

Kedua, melewati pagar pembatas disiplin. Mereka mempunyai basis disiplin masing-masing, tapi mendekatkan kajiannya melewati batas-batas ranah disiplin. Ini yang menjadikan gagasan yang diperkenalkannya melalui beragam media menjadi terasa semakin relevan.

Banyak contoh yang bisa diberikan di sini. Pak Kuntowijoyo, misalnya, adalah sejarawan, tetapi tulisannya menjangkau perspektif yang lebih luas, termasuk pergerakan Islam, epistemologi ilmu, dan bahkan menulis novel dan kumpulan cerita pendek, yang sarat dengan pesan.

Ketiga, menyederhanakan bahasa. Mereka, selain cakap menulis untuk komunitas akademik, juga lihai dalam mengomunikasikan gagasan untuk khalayak. Bahasa yang digunakannya pun mudah dipahami oleh publik.

Ini bukan perkara mudah, tetapi bisa dilatih. Seperti anjuran teori komunikasi profetik: kita diminta berbicara dengan bahasa yang dapat diterima oleh audiens.

Selain itu, saat ini, semakin banyak kanal yang dapat digunakan oleh para profesor untuk menjangkau khalayak luas selain media massa, termasuk penggunaan media sosial dan ruang perjumpaan gagasan yang semakin banyak digelar, baik daring maupun luring.

Keempat, menjaga konsistensi. Mereka mempunyai dedikasi yang tinggi menjadi intelektual publik, bahkan sampai ajal menjemput. Nama-nama yang tersebut di atas sudah membuktikan diri istikamah di jalur lengang ini. Tentu saja, pilihan ini bukan tanpa risiko.

Misalnya, dalam komunikasi melalui kanal WhatsApp dengan Pak Azra beberapa pekan sebelum Beliau meninggal, kami mendiskusikan risiko yang mungkin dihadapi ketika menyampaikan kritik di ruang publik. Beliau pun sadar risiko ini. Beliau membalas pesan saya:

“Saya juga kadang-kadang khawatir karena sering mengkritik secara terbuka di media elektronik dan media cetak. Saya tawakkaltu (alallah) sajalah. … Bahkan yang terhitung kawan kita dalam barisan kepemimpinan nasional ikut-ikutan menyalahkan mereka yang kritis.”

Tentu konseptualisasi sederhana yang menghasilkan empat pelajaran di atas dapat dilengkap dan dipercanggih dengan ilustrasi yang lebih kaya. Sila!

Referensi

Kristof, N. (2014). Professors, we need you! The New York Times. Tersedia daring: https://www.nytimes.com/2014/02/16/opinion/sunday/kristof-professors-we-need-you.html

Sambutan pada acara serah terima surat keputusan profesor atas nama Dra. Sri Wartini, S.H., M.H., Ph.D. pada 23 Mei 2023