• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Pojok Rektor2 / Berani Berpikir Ulang
Pojok Rektor

Berani Berpikir Ulang

Selalu asah dan tambah kecakapan Saudara. Apa yang sudah Saudara kuasai sampai hari ini, insyaallah akan menjadi modal awal untuk berkontribusi dengan beragam peran. Tapi ingat, lingkungan berubah, tuntutan bertambah.

Sangat mungkin, suatu saat di masa depan yang tidak terlalu jauh, kecakapan yang kita punya akan tidak relevan lagi. Meski demikian, jangan sampai Saudara mengganggap masa depan itu mengerikan. Selama kita menjadi pembelajar sejati, kita harus menjemput masa depan dengan suka cita dan penuh keyakinan. Saudara adalah para pemimpin masa depan.

Lepas dari jebakan

Banyak dari kita merasa cukup dengan apa yang sudah diketahui. Karenanya, mereka lupa untuk terus belajar. Saya khawatir ‘mereka’ ini termasuk ‘kita’. Adam Grant (2021) dalam bukunya Think Again memberikan beberapa resep untuk tidak terjerat pada jebakan ini. Berikut beberapa di antaranya.

Pertama, kita harus berani berpikir ulang (rethinking) dan melupakan pelajaran lama (unlearning). Berpikir ulang dapat dilakukan dengan mengubah perspektif kita, mempertimbangkan informasi baru, dan bersedia mengambil kesimpulan, solusi, atau sudut pandang yang berbeda.

Seringkali apa yang sudah kita pelajari di masa lampau juga perlu dilupakan. Perspektif lama sangat mungkin tidak relevan lagi. Kita juga bisa menemukan kelemahan pelajaran yang kita dapatkan karena sumber yang tidak terpercaya, menemukan bukti baru, ada masalah ketika dijalankan, atau karena refleksi mendalam kita sendiri. Ini mirip dengan meninggalkan amalan yang selama ini kita lakukan, karena ternyata berdasar hadis palsu.

Menyiapkan diri menerima hal baru ibarat mengosongkan sebagian isi teh cangkir kita, supaya teh yang lebih hanya bisa dituang ke dalamnya. Selama kita merapa sudah paripurna, maka informasi baru tidak akan pernah dihargai dan mendapatkan tempat.

Kedua, berpikir ulang terus menerus adalah budaya saintis. Kita harus berpikir seperti saintis, bahkan meskipun peran kita ke depan bukanlah seorang saintis. Seorang saintis mempunyai pertanyaan, mempertimbangkan bukti, tidak terjebak pada asumsi, dan mengujinya dengan seksama. Seorang saintis cenderung selalu skeptis, tidak mudah percaya dengan banyak hal yang tanpa didasari argumen dan bukti.

Mengapa hoaks bisa menyebar dengan cepat? Salah satunya adalah karena banyak pengguna media sosial tidak berpikir seperti saintis, bahkan di kalangan saintis. Kesadaran harus dijaga, karena profesor pun kadang lupa kalau dia seorang saintis.

Grant (2021) dalam bukunya memberikan pembeda ekstrim antara sebagai saintis, penceramah, jaksa penuntut, dan politisi. Seorang penceramah selalu mencoba meyakinkan orang lain bahwa mereka benar. Seorang jaksa senantiasa berusaha membuktikan bahwa orang lain salah. Seorang politisi terus berjuang memenangkan hati konstituennya. Seorang saintis mendasarkan keyakinannya pada argumen yang disertai bukti dan selalu terbuka dengan teori baru (McIntyre, 2019). Tentu, kita bisa diskusikan perbedaan ini, karena saat ini, semuanya sangat mungkin saling beririsan.

Keempat, kita dituntut dapat membedakan antara budaya kinerja (culture of performance) dan budaya pembelajaran (culture of learning). Yang pertama mengedepankan hasil, prestasi, atribusi, dan pengakuan. Budaya ini, jika disalahpamahi dapat melemahkan pembelajaran dan perbaikan, menyembunyikan kesalahan, dan menoleranasi praktik tidak etis.

Sebagai ilustrasi, ketika menjadi juara kelas adalah tujuan dan segala-galanya, dan bukan dianggap sebagai dampak karena menyelesaikan pekerjaan rumah dan ujian dengan baik, maka tidak jarang banyak godaan untuk menghalalkan semua cara termasuk berbuat curang dan menghinakan orang lain.

Dalam budaya pembelajaran, kita bisa saling tidak sepakat tanpa rasa khawatir. Kalaupun ada konflik, kita tidak membingkainya sebagai konflik hubungan (relationship conflict), tetapi sebagai konflik tugas (task conflict).

Konflik hubungan melibatkan orang yang terlibat, siapa yang benar, kompeten, bermoral, peduli, dan sebagainya. Konflik ini biasanya menghambat kemajuan. Konflik tugas adalah tentang masalah, tantangan, dan situasi. Konflik ini justru memantik pelajaran dan tilikan baru, mendorong pemecahan masalah, dan menumbuhkan inovasi.

 

Menyukuri ketidaktahuan

Untuk menjamin relevansi keberadaan Saudara dan untuk memastikan kontribusi terbaik, pilihannya tidak banyak. Salah satunya adalah dengan terus belajar. Dari beragam sumber, dengan berbagai cara.

Untuk menjaga adaptabilitas dalam menghadapi masa depan, kita sudah seharusnya bersyukur jika mengetahui apa yang belum kita ketahui dan bukan malah malu. Hanya dengan demikian, kita akan terus berpikir ulang dan belajar. Tidak ada garis finis dalam kamus pembelajar sejati.

 

Referensi

McIntyre, L. (2019). The scientific attitude: Defending science from denial, fraud, and pseudoscience. MIT Press.

Grant, A. (2021). Think again: The power of knowing what you don’t know. Penguin.

Sambutan pada acara wisuda Universitas Islam Indonesia pada 29 Juli 2023

29 Juli 2023
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2023/07/berpikir-ulang.jpg 1333 2000 985230102 https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png 9852301022023-07-29 07:00:012023-07-31 07:03:51Berani Berpikir Ulang

Berita Terakhir

  • UII dan Unhan RI Perkuat Sinergi, Bahas Isu Maritim hingga Diplomasi Pertahanan
  • Sumpah Dokter ke-72 FK UII: Cetak 2.688 Alumni, Soroti Tantangan Pasien Berbekal AI hingga Peluang Bisnis Medis
  • UII dan Pemkot Pekalongan Jalin Kerja Sama Strategis Perkuat Pendidikan dan Pengembangan Daerah
  • UII dan Pemkab Bantul Perkuat Sinergi, Bahas Pengembangan RS UII hingga Peluang Program Beasiswa
  • UII dan Pemkab Ngawi Eksplorasi Kerja Sama Strategis

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Titik Simpul Hukum Keluarga Islam di Era Digital Link to: Titik Simpul Hukum Keluarga Islam di Era Digital Titik Simpul Hukum Keluarga Islam di Era Digital Link to: Berangkatkan 4.033 Mahasiswa KKN, UII Lebih Dekat dengan Masyarakat Link to: Berangkatkan 4.033 Mahasiswa KKN, UII Lebih Dekat dengan Masyarakat Berangkatkan 4.033 Mahasiswa KKN, UII Lebih Dekat dengan Masyarakat Scroll to top Scroll to top Scroll to top