Siapa yang paling berbahagia ketika tanaman anggrek yang setiap hari kita layani dengan nutrisi cukup, berbunga? Tentu kita. Orang Arab mengatakan, kita menjadi abdi atas apa yang kita cintai. Man ahabba syaian fahuwa abduh. Tugas abdi adalah melayani.

Begitulah juga pemimpin. Kebahagian terbesar justru ketika yang kita layani bertumbuh dan berkembang. Pesan ini dilantangkan lagi oleh kolega saya dalam sebuah perbincangan santai tapi serius. Pemantiknya adalah fakta di lapangan ketika seorang pemimpin justru sibuk mengurus dirinya sendiri dan tidak memberi perhatian cukup untuk memberi ruang dan fasilitasi supaya kolega juniornya atau yang dipimpinnya bertumbuh dan berkembang.

Prinsip ini, jika disepakati, mempunyai banyak implikasi dalam menjalankan peran sebagai pemimpin. Berikut adalah tiga di antaranya.

Pertama, kepentingan yang dipimpin atau yang dalam bahasa Arab disebut ra’iyah (yang diindonesiakan menjadi rakyat) harus mendapatkan prioritas lebih tinggi. Tentu sesuai koridor norma dan sampai pada batas kemampuan.

Ini sesuai dengan kaidah inferensi hukum Islam. Tasharrufu al-imam ‘ala al-ra’iyah manuthun bi al-mashlahah. Kebijakan para pemimpin bergantung kepada maslahat yang dipimpinnya: rakyat atau anggota organisasi.

Karenanya, menjadi penting bagi pemimpin untuk selalu pasang mata dan telinga, menangkap sinyal dari yang dipimpin. Memang tidak semua bisa diakomodasi karena beragam alasan, tetapi pesan tulus sudah seharusnya juga direspons dengan serius, termasuk dengan mengatakan, misalnya: kita akan akomodasi ide tersebut pada saatnya.

Yang terpenting, konsiderans setiap kebijakan atau keputusan, diungkap secara terbuka, dan tidak ada “udang dibalik bakwan” 😉 Di era seperti ini, ketika lalu lintas  informasi tidak dapat dibendung, setiap “udang” akan muncul ke permukaan. Ini hanya soal waktu.

Kedua, pemimpin akan mengerem kebutuhan personal atau kelompoknya, meski legal dan boleh, yang punya implikasi kepada yang dipimpinnya.

Mengganti mobil dinas yang masih layak, misalnya, tentu akan berpengaruh kepada pos anggaran lain, yang bisa jadi berprioritas lebih tinggi. Atau, bisa jadi, keinginan untuk lebih produktif dalam publikasi atau mengikuti konferensi yang menyita waktu untuk melayani, akan menjadi uturan ke sekian. Tentu, daftar contoh dapat diperpanjang dan membuka diskusi lanjutan.

Pada level kesalehannya yang lebih tinggi, apa yang sah dilakukan oleh rakyat, bisa jadi menjadi “haram” atau paling tidak, bermasalah secara etis jika dilakukan oleh pemimpin.

Ketiga, pemimpin seharusnya lebih bahagia jika yang dipimpinnya dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik. Level tertingginya altruisme.

Altruisme, oleh A Rafiq, didefinisikan dengan sangat baik secara metaforis dalam sebuah syair lagu dangdutnya: “Seolah aku lilin yang menerangi. Tapi tubuh terbakar dimakan api.” Demikian potongan syair lagu Si Miskin Bercinta :-).

Tentu, tidak harus seekstrem itu. Setiap pemimpin dapat menentukan kadar sesuai dengan kemampuannya, karena, ada kehidupan lain yang harus dijalani selain menjadi pemimpin di organisasi atau kantor, seperti keluarga yang memerlukan perhatian.

Konsep pemimpin level 5 yang digagas oleh Collins (2001) dalam bukunya Good to Great, nampaknya relevan dengan diskusi ini. Pemimpin level ini rendah hati, tidak suka mengklaim keberhasilan orang lain, tetapi siap mengambil tanggung jawab. Dia sudah melewati tahapan menjadi pribadi yang kapabel, anggota tim yang kontributif, manajer yang kompeter, dan pemimpin yang efektif. Dia lebih senang bekerja dalam senyap dan tidak suka publisitas. Pemimpin seperti ini sudah selesai dengan masalah pribadinya.

Ketika yang dipimpin bertumbuh dan berkembang atau berprestasi, selalu ingat, itu laksana anggrek yang sedang berbunga indah. Anggrek yang bermekaran adalah balasan indah atas setiap tetes peluh yang keluar.

Jangan lupa bahagia, terutama karena dan untuk yang kita pimpin, mereka yang kita layani. Bahagia yang seperti ini bukan lagi pilihan, tapi keharusan.

Refleksi ringan, 15 Oktober 2020