Penemuan teknologi blockchain dianggap dapat semakin meningkatkan keamanan data. Blockchain atau yang lebih dikenal dengan sebutan Distributed Ledger Technology, memungkinkan kita memindahkan data secara peer to peer. Caranya dengan mendistribusikan database ke beberapa titik sehingga tidak perlu bergantung pada satu buah server. Demikian seperti disampaikan Muhammad Devito Dunggio, Chairman of Asosiasi Blockchain Indonesia  dalam webinar Talks in Deventer yang belum lama ini diselenggarakan UII.

“Blockchain masih tergolong baru, sehingga masih sangat perlu banyak perbaikan dalam sistemnya. Namun, teknologi blockchain ini bertumbuh dengan sangat pesat terutama dalam bidang finance”, ujarnya. 

Penerapan sharing security dalam menjaga keamanan data membuat blockchain menjadi salah satu teknologi yang tingkat keamanannya cukup baik. Dengan sistem ini kemungkinan data untuk diretas semakin berkurang. Hal ini dikarenakan para hacker (pencuri data) harus menembus beberapa sistem keamanan yang berlapis terdahulu. 

Berbeda dengan sistem keamanan yang hanya terpusat pada satu server (central database). Kerawanan akan keamanan data semakin disorot manakala banyak kejadian yang mengakibatkan data para konsumen yang seharusnya dijaga oleh sebuah lembaga atau organisasi  justru dapat dengan mudah tersebar karena diretas. 

Blockchain juga bersifat transparan sehingga dapat dilacak dan diakses oleh siapapun via internet. Ia menilai teknologi ini memiliki potensi yang sangat besar, termasuk pula di Indonesia. 

Namun, keamanan data yang ditawarkan oleh blockchain ini menjadikan itu sebagai kekurangannya. Pasalnya, teknologi ini kemudian harus dibayar dengan harga yang cukup mahal untuk bisa dinikmati, khususnya bagi pengusaha UMKM. 

Sayangnya, potensi memperluas teknologi blockchain juga memiliki hambatan. Banyak rintangan yang dihadapi, seperti penolakan oleh dunia perbankan pada awal munculnya blockchain ini. 

“Blockchain awalnya ditolak oleh dunia perbankan. Namun, saat ini dunia perbankan justru menjadi salah satu pihak yang sangat mendukungnya. Hal ini karena mereka melihat potensi besar dari blockchain yang lebih memberikan rasa aman terhadap konsumennya”, lanjut Devito. 

Terbatasnya developer yang mampu menguasai blockchain juga menjadi hambatan berkembangnya teknologi ini di Indonesia. Tentunya sebaik apapun sebuah teknologi jika tidak didukung dengan sumber daya manusia yang baik maka teknologi itu tidak akan memiliki dampak yang besar untuk perubahan. 

Blockchain sendiri dianggap sebagai salah satu penemuan terbesar setelah internet 35 tahun yang lalu. Ia diciptakan untuk pertama kali pada tahun 2009 bersamaan dengan bitcoin. Pengguna blockchain sudah mencapai jutaan orang di dunia hanya dalam kurun waktu lima tahun, termasuk perusahaan-perusahaan raksasa di negara-negara maju. (HIM/ESP)