Gelombang digitalisasi yang semakin masif menuntut universitas untuk selalu berbenah. Digitalisasi yang dibarengi disrupsi dinilai akan mengubah drastis lanskap aktifitas akademik dan peta proses bisnis universitas. Untuk tetap eksis dan bertahan di tengah era ini, diperlukan arah kepimimpinan universitas yang senantiasa adaptif dan responsif. Hal inilah yang kemudian mendorong Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar Rapat Koordinasi Kerja (Rakorja) Tahun 2019.

Rakorja yang mengusung tema “Kolegial, Digital, dan Mondial” itu berlangsung di Hotel Eastparc, 21-22 September 2019. Para pesertanya merupakan pimpinan UII di tingkat universitas, fakultas, hingga program studi.

Rektor UII, Fathul Wahid, M.Sc., Ph.D dalam sambutannya mengajak para peserta rakorja untuk melihat kegiatan ini bukan sebagai rutinitas, namun sebagai langkah strategis menentukan langkah-langkah pengembangan UII ke depan.

“Kolegial bermaksud agar inisiatif serta inovasi tumbuh tidak hanya dari ranah pimpinan, namun juga dari tataran yang sejajar dan level di bawahnya. Sedangkan mondial adalah UII yang mengglobal, kehadiran dan eksistensinya dapat dirasakan oleh lainnya”, jelas Rektor sedikit menyinggung tema rakorja.

Ia pun tidak menutup mata akan besarnya tantangan yang harus dipecahkan UII. Tidak hanya saling berhadapan dengan universitas swasta yang terus bertumbuh, UII juga perlu merespon tren digitalisasi universitas dan disrupsi inovasi dengan langkah yang tepat.

Salah satu bentuk perubahan yang niscaya muncul adalah sebagian aktifitas akademik yang kian beralih ke ruang virtual. Tantangan lainnya meliputi sumber daya manusia yang harus kompetitif dengan kecerdasan buatan maupun mahadata.

Fathul juga menjabarkan berbagai langkah selama setahun kepemimpinan guna merespon berbagai tantangan dan perubahan itu. Seperti di antaranya menyiapkan infrastruktur informasi teknologi berkelas, menginisiasi bertambahnya mahasiswa asing lewat beasiswa Future Global Leaders Scholarships.

“Banyak mahasiswa asing yang merespon untuk masuk UII, tidak hanya lewat jalur beasiswa namun secara mandiri. Mereka datang dari berbagai negara muslim dan berkembang, seperti Palestina, negara kawasan Asia dan Afrika”, imbuhnya.

Empat Hal untuk Menguasai Dunia

Senada dengan hal itu, Ketua Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII, Drs. Suwarsono Muhammad, MA menyebut manajemen universitas perlu menciptakan keberlangsungan akan keunggulan-keunggulan yang selama ini dicapai. Ia mencontohkan keunggulan keilmuan sivitas akademika UII yang ada di berbagai fakultas maupun program studi berpotensi dapat hilang atau ditiru kompetitor apabila tidak dirawat dengan baik.

Ia juga mengutip salah satu pemikiran ahli geopolitik yang menyebut empat hal penting untuk menguasai dunia. Empat hal itu yakni kekuatan militer, kekuatan ekonomi, kekuatan ideologi, dan kekuatan sistem politik. Apabila ditarik dalam konteks pengembangan universitas, empat hal ini pun masih relevan diterapkan, tentunya dengn beberapa penyesuaian.