Salah satu ritual baik UII di akhir tahun adalah menyambut secara resmi doktor baru yang lulus dalam satu tahun. Pada 2019 ini, UII mendapatkan berkah atas kelulusan 19 doktor baru. Saat, ini masih 111 dosen UII yang sedang menempuh program doktor, baik di dalam maupun di luar negeri.

Proses menjadi doktor tidaklah ringan. Ada investasi ihktiar yang luar biasa. Dibutuhkan konsistensi dan ketahanan tinggi. Tingkat kegagalan menjadi doktor pun sangat tinggi.

Doktor adalah warga negara elit di Indonesia. Statistik pada 2017 menunjukkan bahwa cacah doktor, sebagai pemegang pendidikan formal tertinggi, di Indonesia masih sedikit. Dari setiap satu juga penduduk, hanya ada 143 doktor di Indonesia. Bandingkan, misalnya, dengan Malaysia yang mempunyai 509 doktor per satu juta penduduk. Sebagai penyemangat, India mempunyai 1.410,  Jepang 6.438, dan Amerika 9.850. Intinya, menjadi doktor merupakan sebuah kemewahan, dan di saat yang sama, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan oleh Indonesia.

Saya berharap para doktor baru, juga doktor kawakan, menjadi pecinta ilmu. Mengapa ini menjadi penting? Kecenderungan mutakhir tidak begitu menggembirakan, ketika para doktor (atau secara umum, dosen) berganti halauan, atau paling tidak haluan utamanya teracuni.

Secara umum, terdapat tiga macam dosen ketika melakukan aktivitas akademik, terutama penelitian. Kelompok pertama adalah mereka melakukan penelitian dan publikasi atau sejenisnya karena iming-iming hadiah finansial. Mereka adalah dosen pemburu uang perangsang, incentive-minded. Kelompok kedua adalah para pengejar karier, baik dalam bentuk akademik maupun struktural. Meneliti dan melakukan publikasi semata sebagai pelengkap syarat mendaki anak tangga karier yang lebih tinggi. Mereka masuk kelompok career-minded, para pengejar karier.

Tidak ada yang haram dari kedua kelompok ini. Tetapi, kalau kita mengharap ada pergerakan peradaban, ini ibarat menggantang asap. Lalu, kepada siapa harapan perubahan peradaban digantungkan? Kelompok ketiga insyaallah bisa membantu. Mereka adalah para pengembang ilmu, peran tulen dari dosen, dan utamanya para penggenggam gelar doktor.

Kisah Nabi Sulaiman dapat menjadi cermin atas pilihan ini. Nabi Sulaiman adalah pembangun peradaban. Ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa pemerintahannya. Anak termuda dari Nabi Dawud ini jatuh hati kepada ilmu, ketika diminta oleh Allah memilih antara ilmu, harta, dan karier. Tetapi karena pilihannya tersebut, Nabi Sulaiman mendapat kedua yang lain: menjadi kaya raya dan raja.

Rasululllah saw. pernah bersabda, “Nabi Sulaiman disuruh memilih antara harta benda, kerajaan,dan ilmu; maka beliau memilih ilmu. Maka diberikanlah kepada beliau kerajaan dan harta benda karena beliau memilih ilmu”. Kerajaan adalah metafora karier dan harta adalah insentif finansial.

Inilah tangga Sulaiman. Pilihan anak tangga pertama akan mempengaruhi hasil di ujung perjalanan.

Ikhtisar dari sambutan rektor pada penyambutan doktor baru pada 30 Desember 2019.