Jumlah Doktor Universitas Islam Indonesia (UII) kembali bertambah. Menjelang pergantian tahun 2019 ini, sebanyak 19 doktor baru, satu di antaranya Pustakawan, telah menyelesaikan studi dari berbagai kampus ternama. Dari jumlah tersebut, enam di antaranya merupakan lulusan dari kampus di Eropa, Amerika, dan Asia.

Penyambutan doktor baru UII periode 2019 digelar di Gedung Kuliah Umum, Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII, pada Senin Siang (30/12). Sebanyak delapan doktor baru berasal dari rumpun ilmu sosial dan 11 lainnya berlatar belakang ilmu eksakta.

Rektor UII Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D. mengungkapkan rasa syukur jumlah doktor di UII terus bertambah. Disampaikan dari 795 jumlah dosen di UII, terdapat 198 yang telah bergelar doktor atau sekitar 25,88 persen dari total jumlah dosen. Angka ini menurutnya jauh lebih baik dari pada jumlah rata-rata doktor di Indonesia secara umum.

“Meskipun jumlah doktor kita masih 25 persen, akan tetapi itu telah jauh melampaui rata-rata nasional. Belum lagi sebanyak 111 kawan-kawan kita (dosen UII) juga telah menempuh program doktor. Jadi jika semua selesai dengan waktu yang tepat 3 sampai 4 tahun, jumlah doktor ada 309 atau 40 persen,” jelasnya.

Ucapan selamat juga disampaikan Fathul Wahid kepada salah satu doktor baru yang merupakan pustakawan UII. “Bapak/ Ibu sekalian yang juga cukup membanggakan, ada satu pustakawan kita yang juga turut menjadi doktor, yakni Dr. Sungadi., S.Sos., MIP. Semoga ini menjadi motivsi bagi yang lain,” lanjutnya.

Menurut Fathul Wahid Doktor adalah sekelompok kawanan elit bangsa Indonesia. Hal ini karena jumlah doktor di Indonesia masih kurang dari 50 ribu. Atau dengan kata lain, dari setiap satu juta penduduk di Indonesia, terdapat 143 doktor.

“Jumlah ini tentu masih sangat jauh dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Sebut saja Malaysia dengan jumlah 509 per satu juta penduduk, India dengan 3.420, Jerman dengan 3.990, Jepang dengan 6.438, atau Amerika dengan 9.850 doktor per satu juta penduduknya,” jelasnya.

Lebih lanjut dikemukakan Fathul Wahid terdapat tiga tipe dosen. Tipe pertama yaitu career minded yaitu dosen yang berorientasi mengejar karir, kedua insentif minded yaitu dosen yang hanya mengharapkan dana insentif.

“Saya berharap bapak ibu jadi yang ketiga yaitu science minded. Dosen yang selalu ingin mengembangkan ilmu pengetahuan. Betul bahwa menjadi doktor adalah capaian tertinggi dalam jenjang pendidikan, tapi bukan berarti berhenti belajar. Saya ingin semua doktor di UII menjadi pecinta ilmu, pecinta majelis ilmu karena dosen adalah pengembangan ilmu, dan doktor harus ada di garda terdepan,” pesannya.

Fathul Wahid mengutip salah satu hadits yang menyatakan bahwa Nabi Sulaiman pernah ditawari tiga hal. Yakni harta, jabatan, dan ilmu. Dengan tegas Nabi Sulaiman memilih ilmu. Karena pilihannya itu, harta dan jabatan juga diberikan kepadanya. Fathul Wahid juga mencontohkan Ibnu Sina yang wafat di usia 57 tahun dengan karya sebanyak 450 buku di berbagai bidang. “Saya juga ingin para doktor menulis, karena menulis itu membuat kita abadi. Ikatlah ilmu dengan menuliskannya,” ungkapnya.

Ketua Bidang Pengembangan Pendidikan, Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII, Dr. Siti Anisah, S.H., M.H. berharap jumlah doktor UII bisa terus bertambah demi eksistensi perguruan tinggi. Ia berpesan agar para doktor menjadi ilmuan yang baik serta tidak melupakan mahasiswa.

“Harapan saya kepada bapak ibu sekalian semoga bisa jadi guru yang baik atau doktor yang baik, bisa menjadi ilmuan. Selain itu jadilah doktor yang tidak melupakan mahasiswa, karena banyak doktor sibuk dengan penelitian dan lupa dengan mahasiswanya,” jelas Siti Anisah.

Mewakili doktor baru UII, Ahmad Munasir Raf’ie Pratama, S.T., M.I.T., Ph.D. mengemukakan perjalanannya hingga menyandang gelar doktor. Ia mengaku, mungkin tidak akan menyandang gelar doktor kalau saja waktu itu tidak ada tangan-tangan yang membantunya.

“Waktu itu baru satu tahun saya bergabung di UII dengan gelar S1 sebagai dosen kontrak. Dan apabila saya tidak mendaftar S2 saya akan dikeluarkan. Akhirnya saya mendapat beasiswa di Australia,” ungkapnya.

“Hari terakhir pendaftaran beasiswa, saya menemui dekan Fakultas Teknologi Industri UII, saat itu Pak Fathul Wahid (sekarang Rektor). Beliau meminta saya untuk segera berangkat dan meminta stafnya menyiapkan segala kebutuhan saya. saat itu sampai saya diantar dengan mobil fakultas ke bandara. Karena hal itulah, saya bisa bertahan hingga saat ini,” ujarnya.
Sementara Direktur Sumber Daya Manusia UII, Ike Agustina, S.Psi., M.Psi. mengemukakan bahwa sumber pendanaan untuk pendidikan bagi para doktor baru ini hampir keseluruhan merupakan beasiswa dari lembaga luar UII.

Disampaikan Ike Agustina pada penyambutan doktor UII tahun ini, lulusan tercepat luar negeri berhasil diraih Dr. Asih Triastuti, S.F. M.Pharm., Apt. dengan masa studi 3 tahun 5 bulan. Ia menempuh studi di Universite Paul Sabatier-Toulouse III, Prancis di bidang ilmu Pharmacy. Sementara lulusan tercepat dalam negeri, diraih Dr. Anisah Budiwati, S.H.I., M.S.I., dengan mengambil studi Ilmu Falak di Universitas Islam Negeri Walisongo selama 2 tahun 10 bulan.

Lebih lanjut diungkapkan Ike Agustina, seiring dengan bertambahnya dosen berpendidikan S3, diharapkan kualitas pendidikan dan pengajaran di UII juga semakin meningkat. Selain itu, jejaring untuk kolaborasi riset dengan berbagai perguruan tinggi terkemuka di dalam negeri dan luar negeri juga diharapkan dapat semakin kuat.

“Dengan bekal ilmu yang didapat selama S3, semoga para doktor baru ini makin dapat berkiprah di masyarakat dengan turut berkontribusi bagi penyelesaian-penyelesaian permasalahan di masyarakat,” tandas Ike Agustina. (D/RS)