Program Studi Kimia UII akreditasi Unggul

Dosen Program Studi Kimia Universitas Islam Indonesia (UII), Prof. Dr. Is Fatimah, S.Si., M.Si. dinobatkan sebagai salah satu 500 peneliti terbaik Indonesia versi SINTA (Science and Technology Index) oleh Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro. Prof. Is Fatimah yang saat ini juga sebagai Ketua Jurusan Kimia UII berada di peringkat 180 peneliti terbaik. Raihan ini juga menunjukkan komitmen UII dalam upaya pengembangan riset di Indonesia.

SINTA merupakan satu inovasi sistem informasi ilmu dan teknologi yang dikembangkan untuk mengukur kinerja individu, institusi, dan networking dari peneliti atau dosen yang melakukan studi. “Faktor yang dinilai antara lain jumlah paper yang diterbitkan, jumlah paper yang disitasi, h-index. Pemeringkatan SINTA dilakukan setiap tahun. Meliputi perangkingan overall (sepanjang tahun) dan perangkingan per tiga tahun. Kebetulan menurut kedua kategori tersebut masuk ke dalam 200 besar,” terang Prof. Is Fatimah melalui pesan tertulis yang diterima Bidang Humas UII, pada Sabtu (13/6).

Prof. Is Fatimah mengaku mendapatkan prestasi ini karena menyukai penelitian dan menulis karya ilmiah. Selain itu, para mahasiswanya yang juga membuatnya terus bersemangat. “Sebenarnya saya tidak punya trik tertentu. Tidak melakukan upaya tertentu untuk mendapatkan rangking dan sebagainya. Menyukai penelitian dan menulis karya ilmiah adalah hobi saya sejak ketika masuk UII. Di samping itu, laboratorium dan grup riset kami didukung para mahasiswa yang bersemangat dalam penelitian,” jelasnya.

Untuk mencapai prestasi ini memang tidak mudah, begitupun dengan mempertahankannya. Karenanya Prof. Is Fatimah belum merasa puas dan berharap bisa terus memperbaiki kualitas dan manfaat penelitiannya untuk masyarakat luas.

“Saya merasa masih perlu memperbaiki kualitas penelitian dan menulis. Saat ini harapan saya, saya bisa menulis paper dengan kualitas baik, yang ditunjukkan dengan kualitas jurnal yang baik. Tidak hanya mengejar kuantitas, namun kualitas dan kebermanfaatannya jauh lebih penting. Saya ingin suatu saat dapat membiayai sebuah laboratorium grup riset sendiri sehingga dapat mensupport lebih banyak mahasiswa S1, S2 atau bahkan S3 nantinya, dan dapat berkontribusi nyata untuk UII,” terangnya.

Prof. Is Fatimah berharap dan mengajak para akademisi di UII dapat lebih berkontribusi lagi dalam penelitian. “Saya berharap agar setiap dosen memahami perannya sebagai cendekiawan yang berkewajiban menyebarkan manfaat, berilmu amaliah dan beramal ilmiah. Melalukan penelitian, menulis adalah aktivitas yang sudah semestinya dilakukan dengan maksud tersebut,” tandasnya. (MH/RS)