Webinar UII - Investasi di Indonesia - Kepedulian UII - muslim rohingya

Apakah bisa startup menyelesaikan suatu permasalahan aktual di masyarakat? Pertanyaan ini mengemuka pada CLI Online Talks perdana yang diadakan oleh Central Language Improvement Universitas Islam Indonesia (CLI UII), Sabtu (13/6), secara daring.

The Role of Tech Startup in Solving Actual Social Problem menjadi judul topik yang dibahas dalam diskusi. Bincang-bincang yang disiarkan langsung melalui akun Instagram CLI UII ini, menghadirkan Wildan Maulana, alumni UII yang saat ini menjadi CEO dari bisnis startup Delokal.

CLI Online Talks diawali dengan pertanyaan tentang tech startup oleh host dari CLI UII, Ulil Albab. Wildan Maulana menjelaskan arti startup menurut definisinya.

“Startup itu banyak sekali definisinya. Kalau kita merujuk kepada Wikipedia, Startup itu identik dengan bisnis teknologi yang baru dirintis. Cuman, kalo menurut saya sendiri, startup itu suatu model bisnis atau teknologi baru yang dapat memecahkan masalah yang ada. Dan itu dikemas dengan konsep bisnis yang baru,” jelasnya.

Wildan Maulana mencontohkan salah satu aplikasi pemesanan tiket yang mempermudah orang dalam bermobilisasi. Aplikasi tersebut, sebagai startup, menerapkan teknologi baru dengan menyediakan platform pemesanan tiket (aplikasi) serta model bisnis yang baru juga.

“Mereka mengubah skema pemesanan tiket yang sebelumnya hanya dapat dibeli secara langsung menjadi di genggaman tangan. Dengan kebaharuan teknologi dan model bisnis, startup menjadi sangat menguntungkan dibanding bisnis yang dijalankan secara konvensional,” ungkapnya.

“Startup itu identik dengan rapid growth, perkembangan yang sangat cepat. Tapi kita tahu, startup itu ngga jelas. Ngga jelas gimana? Sekarang kita tahu banyak orang investasi ke startup, dan nilai investasinya luar biasa,” terangnya.

Wildan Maulana menjadikan perusahaan digital Google sebagai contoh. Meskipun baru berdiri di tahun 1995, tetapi valuasinya diyakini telah mengalahkan seluruh perusahaan konvensional yang ada. Tentu sudah dapat ditebak alasan investor berani jor-joran menyokong startup.

“Sekalinya sudah dapat pasar yang benar-benar mereka membutuhkan, bisa ku bilang startup akan jauh lebih pesat perkembangannya. Kita lihat sendiri betapa gilanya Gojek dan Grab membakar uang. Startup selalu identik juga dengan ketidakpastian sebenarnya. Ketidakpastian mereka mendapatkan untung dari mana, mengukur valuasinya, selalu ada ketidakpastian,” sebutnya.

“Mengapa para investor pada tertarik investasi di startup? Karena startup sekalinya untung, kita akan jadi orang kaya, benar-benar banyak uang. Kalau bukan startup rapid growth nya susah, susah banget,” sambungnya.

Namun ia mengingatkan agar orang tidak terburu-buru mau membangun startup. Wildan Maulana memberi saran untuk menjajal bisnis konvensional terlebih dahulu sembari menimba ilmu dan pengalaman, mengingat ketidakpastian yang ada pada startup sangatlah penuh resiko.

“Aku sendiri mengakui ya, 90 persen startup itu bakal gagal. Tapi, sekalinya berhasil gila-gilaan itu. Nah makanya saranku buat temen-temen nih, jangan mikir buat startup dulu. Berfikirlah bagaimana bisa membuat bisnis konvensional,” pesannya.

Disinggung peran startup menjadi penyelesai masalah, Wildan Maulana mengaku startup pendahulu Delokal yang dibuat olehnya dan rekan tidak berangkat dari masalah di masyarakat. Sehingga, ia menekankan pentingnya analisis mendalam serta berkelanjutan dalam membangun startup serta tetap berkaca kepada kompetitor.

“Karena aku suka jalan-jalan, dan berasumsi masalah traveler tuh ini, makanya aku buat, tanpa melihat permasalahan yang sebenarnya. Kemudian ikut lomba, juara satu. Tapi lomba pun kadang-kadang hanya melihat idenya,” tuturnya.

Bincang-bincang berlanjut tentang tren pengembangan startup ke depan. Terdapat beberapa kata kunci yang menjadi sedikit gambaran startup nantinya, meskipun pembahasan ini tidak menemui jawaban yang pasti.

“Jujur, aku juga belum tau. Karena aku sendiri tanya pertanyan ini (perkembangan startup ke depan) ke orang-orang yang sudah ahli, mereka ngga ada yang jawab. Ngga tau mereka pelit, ngga mau kasih jawaban, atau emang ngga ada jawabannya,” ucapnya. (HR/RS)