Hadirnya era industri 4.0 telah menyajikan perubahan dan tantangan di segala lini. Pemenuhan kebutuhan yang serba cepat serta perubahan yang adaptif terhadap era baru ini menjadi tantangan bagi beragam sektor industri. Tak terkecuali dalam upaya pengembangan industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT).

Menjawab tantangan itu, Universitas Islam Indonesia (UII) bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian RI dan Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia (IKATSI) menyelenggarakan konggres IKATSI yang ke-4 pada Jumat (8/3) di Grand Quality Hotel. Salah satu agenda dalam konggres adalah dialog “Peran Ahli Tekstil Dalam Era Industri 4.0”. Hadir pada dialog ini Benny Sutrisno selaku staff khusus Kementerian Perindustrian, Iwan Setiawan Lukminto, M.B.A., selaku Presiden Direktur PT. Sritex Group, Dr. Drs. Imam Djati Widodo, M.Eng., SC., selaku Wakil Rektor Bidang Pengembangan Akademik dan Riset UII., dan beberapa tamu undangan dari pemda DIY.

Dalam sambutannya Benny Sutrisno mengatakan tantangan di era industri 4.0 ini berbeda jauh dengan industri di jamannya. Perkembangan teknologi yang cukup masif menuntut produsen-produsen di industri tekstil harus bisa memenuhi kebutuhan pasar yang tinggi dan cepat.

Maka dari itu perkembangan teknologi ini perlu dilihat dari berbagai sudut pandang yang berbeda. “Saya harap kepada teman-teman ahli tekstil agar mampu menciptakan ide-ide terbaik menghadapi era industri 4.0 serta mampu mempersiapkan sumber daya manusia yang terampil,” ujarnya.

Sementara itu, Iwan Setiawan Lukminto mengatakan Industri Tekstil dan Produk Tekstil Nasional (ITPT) diprediksi kembali menggeliat. Mengingat pertumbuhan penduduk dunia yang terus meningkat, angka kebutuhan tekstil nasional mengalami peningkatan. Terlebih Indonesia diprediksi pada tahun 2030 akan memasuki masa bonus demografi.

“Tahun 2019, usia produktif Indonesia mencapai 67% dari total penduduk Indonesia. Maka kita perlu mempersiapkan SDM yang kita miliki saat ini dalam menghadapi perkembangan industri yang semakin cepat,” ujarnya.

Senada, Imam Djati mengatakan dalam mencermati peta jalan Making Indonesia 4.0, Indonesia ditargetkan akan masuk dalam jajaran lima besar produsen TPT di dunia pada tahun 2030. Sehingga perlunya mempersiapkan SDM yang memiliki ketrampilan baik agar bersaing dengan SDM dari negara lain.

“SDM Indonesia mempunyai jumah yang cukup melimpah. Maka kita perlu kelola agar mempunyai keterampilan yang sangat bagus, termasuk dalam hal pemanfaatan teknologi baru yang terus berkembang,” ungkapnya.

Sebagai wujud respon UII akan kebutuhan SDM terampil pada industri tekstil, UII akan membuka Program Studi S1 Rekayasa Tekstil. Hingga saat ini UII telah mendapatkan nomenklatur Program Studi S1 Rekayasa Tekstil dari Kemenristekdikti. Dan akan menjadi perguruan tinggi pertama yang membuka Program Studi Rekayasa Tekstil. (ENI/ESP)