Webinar UII - Investasi di Indonesia - Kepedulian UII - muslim rohingya

Pandemi Covid-19 yang belum juga mencapai titik akhir mendasari munculnya kebijakan new normal oleh Pemerintah. Skenario ini, secara bertahap diwacanakan akan mulai membuka kembali akses-akses kehidupan normal seperti sedia kala di kondisi pandemi Covid-19. Mulai dari pembukaan akses transportasi antar wilayah, pembukaan pusat-pusat perbelanjaan, hingga pembukaan sekolah.

Wacana ini menimbulkan pro dan kontra publik, terlebih angka pertumbuhan kasus Covid-19 di Indonesia masih relatif tinggi. Kondisi ini dinilai telah memunculkan kepanikan bagi sebagian orang. Menyikapi respon beragam dari masyarakat terhadap kebijakan new normal, CACJogja menggelar sharing session bersama Iswan Saputro, S.Psi., M.Psi. pada Jumat 19 Juni 2020. Program ini bekerjasama dengan salah satu kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Covid-19 Universitas Islam Indonesia (UII).

Wacana penerapan new normal di tengah pandemi Covid-19 membutuhkan banyak penyesuaian bagi semua orang. Istilah new normal masih sering disalah artikan oleh beberapa orang. Mereka menganggap istilah new normal berarti kembali ke keadaan normal yang sebelumnya. Dalam hal ini mereka melupakan konsep ‘new’ dan hanya memfokuskan pada konsep ‘normal’. Sebenarnya, istilah new normal harus diartikan lebih dari itu, new normal harus diartikan sebagai hidup normal di keadaan pandemi dengan cara-cara yang baru.

Iswan Saputro menjelaskan ada empat hal yang perlu diciptakan dalam menghadapi new normal, yang pertama adalah new mindset, yaitu memperbarui pemikiran kita ditengah pandemi Covid-19. Salah satu pemikiran baru yang perlu ditanamkan adalah kondisi new normal akan berbeda dengan kondisi normal sebelumnya, sehingga kita harus mempersiapkan diri untuk menghadapi konsekuensi-konsekuensi baru yang mungkin terjadi. Yang kedua adalah new behavior, yaitu perilaku atau kebiasaan baru yang harus diterapkan seperti mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun, serta physical distancing. Kebiasaan ini harus terus dilakukan di era new normal sebagai bentuk pencegahan penularan Covid-19.

Berikutnya yang ketiga adalah new items, yaitu beberapa barang-barang yang harus tersedia ketika hendak keluar rumah, seperti masker dan sanitizer. Yang terakhir adalah new circle, yaitu tentang bagaimana kita mengevaluasi lingkungan pertemanan kita. Terlebih di negara Indonesia yang merupakan negara dengan budaya kolektif, sehingga ada banyak hal yang dilakukan secara berkelompok. Di era new normal, kita harus pandai dalam mengevaluasi lingkungan pertemanan kita, dengan melihat apakah lingkungan pertemanan itu membuka resiko penularan Covid-19 atau tidak.

Bagi sebagian orang, new normal dijadikan alasan untuk berkumpul dengan teman-teman, namun perlu diingat bahwa pandemi ini masih berlangsung, sehingga perlu kesadaran untuk memilah kegiatan-kegiatan keluar rumah yang sekiranya dapat diminimalisir. Di usia produktif, Iswan Saputro mengatakan sangat penting untuk memilih lingkungan pertemanan, karena ada banyak hal yang bisa timbul sebagai dampak dari interaksi kita bersama orang-orang di lingkungan pertemanan tersebut.

Selain itu, Iswan Saputro juga memberikan arahan untuk menghindari cemas ketika membaca berita-berita bernilai negatif terkait Covid-19. Menurutnya, cemas ditimbulkan oleh kekhawatiran akan masa depan. Untuk menghindari hal-hal seperti itu, kita harus dapat berpikir dengan menggunakan konsep ‘Here and Now’, konsep ini mengajarkan kita untuk melihat sesuatu yang terjadi saat ini dan tidak perlu melihat kemungkinan-kemungkinan yang belum benar-benar terjadi. Pandemi ini juga bisa menimbulkan kondisi psikosomatis, yaitu kondisi mental yang mempengaruhi fisik seseorang. Oleh karena itu, penting untuk kita menjaga keseimbangan antara kesehatan fisik dengan kesehatan mental sehingga dapat meningkatkan imun.

Terakhir, Iswan Saputro menegaskan bahwa kondisi saat ini memang membuat semua pilihan dalam hidup terasa lebih berat, namun hidup merupakan serangkaian kegiatan untuk memilih dan di setiap pilihan pasti ada konsekuensi. Yang perlu kita lakukan adalah cerdas dalam memilih pilihan yang sekiranya akan melahirkan konsekuensi paling sedikit. (VTR/RS)