Tujuan ultima dari puasa Ramadan adalah membimbing kita kepada ketakwaan. Ketakwaan yang berbuah amal salih akan menghadirkan tiga macam perolehan: kesejahteraan (lahum ajruhum inda rabbihim), kedamaian (bebas dari ketakutan) (la khaufun alaihim), dan kebahagiaan (la hum yakhzanun).

 

Fitrah sebagai karakteristik asal

Ketika merayakan Idulfitri, kita diharapkan menjadi manusia baru yang semakin sadar dengan tujuan asal penciptaan kita. Semangat kembali ke fitrah merupakan ikhtiar untuk membandingkan kondisi saat ini dengan karakteristik manusia yang seharusnya (asal).

Karakteristik asal ini dapat dirumuskan dengan melihat bagaimana Allah meminta manusia dalam bersikap. Banyak ayat Al-Qur’an yang mengindikasikan ini. Sebagian merujuk kepada fitrah personal, sebagian lain ke fitrah kolektif.

Meskipun demikian, fitrah personal dan kolektif tidak selalu mudah dipisahkan, karena tidak jarang, yang pertama juga membutuhkan objek manusia lain. Keduanya memang jangan dilihat secara terpisah, tetapi saling melengkapi.  Sebagai contoh, menjaga kejujuran adalah fitrah personal, tetapi kemudian orang mungkin akan bertanya, jujur kepada siapa? Demikian juga dengan menahan amarah, berderma, dan yang lain.

Selain fitrah personal perlu terus diikhtiarkan untuk terus dijaga, tulisan ringkas ini mengajak pembaca untuk juga menaruh perhatian kepada fitrah kolektif yang mengandaikan ada hubungan resiprokal antaraktornya.

 

Fitrah kolektif

Fitrah kolektif ini bisa kita jalankan secara bersama-sama sebagai sebuah ke sebagai keluarga, organisasi, jam’iyyah, persyarikatan, masyarakat, bangsa, dan bahkan umat manusia. Berikut adalah beberapa perintah Allah yang tersebar di beragam ayat yang mengindikasikan fitrah kolektif kita.

  1. Saling mengenal secara baik, lita’arafu (QS Hujurat 49:13).
  2. Saling menasihati untuk berpegang teguh kepada kebenaran, tawashau bi al-haq (QS Al-Ashr 103:3).
  3. Saling menasihati untuk bersabar, tawashau bi al-shabr (QS Al-Ashr 103:3; Al-Balad 90:17).
  4. Saling menasihati untuk berkasih sayang, tawashau bi almarhamah (QS Al-Balad 90:17).
  5. Saling tolong menolong dalam kebaikan dan dalam melaksanakan takwa, ta’awanu ala al-birri wa al-taqwa (QS Al-Maidah 5:2).

Selain itu, kita juga dapat mendaftar larangan Allah yang akan menjauhkan kita dari fitrah kolektif. Kita, beberapa pesan berikut bisa menjadi pegangan kita menjaganya.

  1. Tidak saling mengolok-olok (la yaskhar qaumun min qaumin … wa la nisaun min nisain ((QS Hujurat 49:11).
  2. Tidak saling mencaci, la talmizu anfusakum (QS Hujurat 49:13).
  3. Tidak saling memberi nama ejekan, la tanabazu bi al-alqab (QS Hujurat 49:11).
  4. Tidak saling memata-matai keburukan orang, la tajassasu (QS Hujurat 49:12).
  5. Tidak saling mengumpat, la yaghtab ba’dlukum ba’dla (QS Hujurat 49:12).
  6. Tidak saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan, la ta’awanu ala alismi wa aludwan (QS Al-Maidah 5:2).

Tentu, daftar di atas dapat diperpanjang. Pesan-pesan Al-Qur’an di atas sebening kristal dan tak memerlukan kernyitan dahi untuk memahaminya. Hanya saja, kita sering kali terlalu sombong dan menolak pesan tersebut dengan beragam alasan, termasuk berkomentar: “tapi kan …”.

 Ikhtisar khutbah Jumat di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada, 18 Juni 2021.