FK UII Lantik 130 Dokter Baru

Program Studi Profesi Dokter, Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam Indonesia (UII)  kembali melantik 130 dokter baru dalam acara Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Dokter periode 70 yang diselenggarakan pada Rabu (21/01) di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir, Kampus Terpadu UII. Hingga periode ini, FK UII telah melantik sebanyak 2.668 dokter, menegaskan peran UII dalam pengembangan dan peningkatan kualitas bidang kesehatan.

Dalam laporan sumpah dokter yang disampaikan oleh Ketua Program Studi Profesi Dokter UII, dr. Ana Fauziyati, M.Sc., Sp.PD, para dokter baru berasal dari berbagai provinsi di Indonesia mulai dari Sumatera Barat hingga Papua Selatan. Tak kalah membanggakan, waktu tempuh pendidikan tercepat diraih dalam waktu 2 tahun 1 bulan 24 hari. Keberhasilan ini juga tidak lepas dari dukungan rumah sakit tempat pendidikan klinik yang tersebar di tiga provinsi yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Rektor UII, Fathul Wahid dalam sambutannya menegaskan bawah sumpah dokter bukan sekadar kata, tetapi menjadi janji moral, profesional, dan kemanusiaan yang harus selalu dipegang teguh oleh setiap dokter. “Hari ini Saudara (dokter baru -red) memasuki jalan hidup yang mulia namun kemuliaan profesi dokter tidak hadir hanya karena gelar—ia lahir karena Saudara menjalankan amanah dengan ilmu, integritas, dan kasih sayang,” ungkap Rektor.

Tak lupa, Rektor juga menekankan pentingnya praktik kedokteran berbasis bukti (evidence-based medicine) di tengah pesatnya perkembangan informasi kesehatan di ruang publik. Diharapkan, dokter tidak hanya terampil dalam praktik klinik tetapi juga mampu mendokumentasikan pengalaman, melakukan penelitian, serta berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

“Menjadi dokter tidak hanya tentang menyembuhkan pasien hari ini, tetapi juga meninggalkan jejak pengetahuan yang dapat menyelamatkan pasien di masa depan,” tambahnya.

Senada, Dekan FK UII, Dr.dr. Isnatin Miladiyah, M.Kes, mengingatkan para dokter baru bahwa kelulusan ini menjadi awal dari tanggung jawab profesional yang lebih besar. Pentingnya pemahaman dan penerapan kode etik kedokteran harus selalu menjadi landasan utama dalam menjalankan praktik media, khususnya pada era perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI).

“Teknologi dan kecerdasan buatan dapat membantu proses diagnosis, namun empati, nilai kemanusiaan, dan tanggung jawab moral seorang dokter tidak dapat digantikan,” tegas Isnatin.

Lebih lanjut, Isnatin menekankan bahwa dokter harus mampu beradaptasi dengan dinamika sistem kesehatan serta tantangan akses layanan, tanpa mengabaikan sumpah profesi yang telah diikrarkan. “Kelulusan hari ini adalah awal pengabdian profesional. Sumpah dokter harus menjadi pengingat dalam setiap keputusan medis yang diambil,” pungkasnya.

Acara Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Dokter bukan merupakan akhir perjalanan karier sebagai dokter, melainkan menjadi langkah awal dalam mengemban tanggung jawab profesional untuk menjaga kesehatan masyarakat serta berkontribusi dalam  pengembangan layanan kesehatan yang berkualitas dan berkelanjutan di Indonesia. (AHR/RS)