• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Pojok Rektor2 / Lima Pelajaran dari Ibnu Sina
Pojok Rektor

Lima Pelajaran dari Ibnu Sina

Sumpah ini bukan hanya kata-kata. Ia adalah janji moral, janji profesional, dan janji kemanusiaan, yang insyallah menjadi kompas hidup Saudara dalam menjalani profesi.

Hari ini Saudara memasuki jalan hidup yang mulia. Namun, kemuliaan profesi dokter tidak otomatis hadir hanya karena gelar. Ia lahir dari cara Saudara menjalankan amanah: dengan ilmu, integritas, dan kasih sayang.

Pada kesempatan ini, izinkan saya menyampaikan pesan melalui seorang tokoh besar dalam sejarah kedokteran: Ibnu Sina atau Avicenna. Bukan untuk romantisme sejarah, tetapi untuk mengambil pelajaran, karena di antara tugas besar dokter adalah merawat kehidupan sekaligus merawat peradaban.

Saya rangkum menjadi lima pelajaran. Pelajaran ini saya refleksikan dari dua buku tentang Ibnu Sina, karya Dimitri Gutas (2014) berjudul Avicenna and the Aristotelian Tradition dan Soheil M. Afnan (1958) berjudul Avicenna: His Life and Works.

 

Berbasis bukti

Pertama, pengalaman klinis harus menjadi ilmu tertulis yang diwariskan lintas zaman. Karya Ibnu Sina memuat pengetahuan kedokteran klasik dan juga pengalaman praktiknya sendiri. Artinya, Ibnu Sina tidak berhenti menjadi dokter praktik, tetapi mengubah pengalaman klinis menjadi pengetahuan yang dapat diwariskan.

Warisan itu ternyata melampaui zaman. Ketika diterjemahkan, The Canon of Medicine menjadi rujukan yang sangat berpengaruh dan dicetak berkali-kali.

Para dokter baru, pelajarannya jelas: jadilah dokter yang tidak hanya menyembuhkan pasien hari ini, tetapi juga meninggalkan jejak pengetahuan untuk menyelamatkan pasien-pasien di masa depan. Hal ini dapat dilakukan melalui dokumentasi yang baik, laporan kasus, riset, inovasi layanan, dan kontribusi ilmiah.

Kedua, kemajuan kedokteran menuntut keberanian berbasis bukti. Kedokteran bukan sekadar tradisi, bukan sekadar kebiasaan, bukan sekadar “katanya”. Kedokteran adalah ilmu yang berpijak pada bukti. Ibnu Sina menganjurkan eksperimen:

Spirit ini hari ini kita kenal sebagai pengobatan berbasis bukti (evidence-based medicine). Di tengah derasnya informasi kesehatan di ruang publik, dokter harus menjadi penjaga nalar. Tegas pada bukti, lembut pada manusia.

 

Keselamatan pasien

Ketiga, keselamatan pasien sering ditentukan oleh kepedulian pada hal kecil. Kadang kita berpikir kemajuan kedokteran lahir dari teknologi besar. Padahal sering kali ia lahir dari perhatian pada detail kecil yang menyelamatkan. Misalnya, Ibnu Sina memahami efek antiseptik alkohol dan menyarankan luka dicuci.

Ini adalah pesan tentang keselamatan pasien, ketelitian, kehati-hatian. Ibnu Sina menganjurkan untuk tidak meremehkan hal-hal yang tampak sederhana, karena nyawa pasien ditopang oleh keseriusan terhadap detail.

Keempat, ilmu harus disusun rapi dan mudah dipakai praktisi. Ibnu Sina mengajarkan bukan hanya menghasilkan ilmu, tetapi mengelola ilmu. Hal ini ditujukan agar ilmu mudah dirujuk praktisi:

Pelajarannya adalah bahwa di era layanan kesehatan modern, dokter harus mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi protokol, alur layanan, serta komunikasi klinis yang jelas, agar keputusan medis konsisten dan aman.

Kelima, dokter ideal adalah pembelajar lintas-disiplin. Ibnu Sina mengajarkan keluasan wawasan. Ia tidak memandang kedokteran sebagai ruang yang sempit. Kedokteran selalu terkait dengan ilmu-ilmu lain: biologi, kimia, fisika, data, teknologi, bahkan filsafat dan etika.

Pelajaran yang kita dapat: jadilah dokter yang tidak berhenti belajar. Di masa depan, tantangan kesehatan bukan hanya penyakit, tetapi juga sistem: ketimpangan akses, disinformasi, perubahan iklim, pandemi, dan percepatan teknologi medis.

Dokter yang akan bertahan adalah dokter yang berpikir luas, dan sekaligus tetap berpijak kuat pada nilai.Lima pelajaran itu dapat saya simpulkan menjadi satu harapan: jadilah dokter yang mendokumentasikan pengalaman menjadi ilmu, teguh pada bukti, teliti menjaga keselamatan pasien, rapi dalam mengelola pengetahuan, dan luas dalam cara berpikir lintas disiplin.

Semoga sumpah ini menjaga Saudara dalam keputusan klinis, dalam kelelahan jaga, dalam dilema etik, dan dalam seluruh perjalanan profesi. Semoga Allah Swt. membimbing langkah Saudara, dan menjadikan profesi ini jalan ibadah, jalan keberkahan, serta jalan kemuliaan untuk memuliakan manusia.

 

Referensi

Afnan, S. M. (1958). Avicenna: his life and works. George Allen & Unwin.

Gutas, D. (2014). Avicenna and the Aristotelian tradition. Brill.

 

Sambutan acara pengucapan Sumpah Dokter Universitas Islam Indonesia pada 21 Januari 2026.

 

Fathul Wahid

Rektor Universitas Islam Indonesia 2022-2026

21 Januari 2026
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/01/Ibnu-Sina.jpeg 868 1545 985230102 https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png 9852301022026-01-21 15:04:362026-01-29 15:07:02Lima Pelajaran dari Ibnu Sina

Berita Terakhir

  • UII Sambut 22 Mahasiswa Internasional dalam Program P2A UIISAGE BRIDGE 2026
  • UII Gelar Studium Generale Ungkap Akar Perilaku Menyimpang dalam Masyarakat
  • Perkuat Kolaborasi Internasional dan Kebudayaan, Program Studi Farmasi UII Gelar Pembukaan G-PICE 2026
  • Universitas Mohammad Natsir Pelajari Sistem Pendidikan Pondok Pesantren UII melalui Kunjungan Studi Tiru
  • CILACS UII Terima Studi Banding UPT Bahasa Universitas Negeri Padang

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Surveillance Laboratorium Pengujian & Kalibrasi: Menegaskan Mutu dan Kompetensi Layanan Link to: Surveillance Laboratorium Pengujian & Kalibrasi: Menegaskan Mutu dan Kompetensi Layanan Surveillance Laboratorium Pengujian & Kalibrasi: Menegaskan Mutu dan Kompetensi... Link to: FK UII Lantik 130 Dokter Baru Link to: FK UII Lantik 130 Dokter Baru FK UII Lantik 130 Dokter Baru Scroll to top Scroll to top Scroll to top