,

ICEP Paparkan Potensi Ekonomi Kreatif di Indonesia

Melalui Podcast, Aufanida Ingin Mensyiarkan Ramadan

Ekonomi Kreatif memegang peran penting sektor ekonomi di Indonesia. Sejak tahun 2010, Industri kreatif di Indonesia menunjukkan perkembangan positif yang berdampak pada Gross Domestic Product (GDP). Pertumbuhan industri kreatif ini sebanding dengan pertumbuhan industri perdagangan elektronik (e-commerce), yang mana di Indonesia meningkat hingga 60% pada satu tahun terakhir. Hal ini disampaikan Dekan Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia (FBE UII), Prof. Dr. Jaka Sriyana, S.E., M.Si. dalam opening ceremony Indonesian Creative Economy Potentials (ICEP), pada Senin (3/8).

ICEP merupakan hasil kolaborasi antara Universitas Nanjing Xiaozhuang (NXU) China dan Universitas Islam Indonesia (UII). Program ini bertujuan untuk memperkenalkan Potensi Ekonomi Kreatif Indonesia melalui beberapa pertemuan kuliah tentang topik utama, bahasa dan kelas budaya, kunjungan perusahaan virtual, dan wisata kota virtual. Program ini akan mendorong siswa untuk terlibat aktif dalam diskusi tentang hubungan ekonomi kreatif antara China dan Indonesia. Menyikapi pandemi yang belum berakhir, maka seluruh kegiatan dari program ini akan dilakukan secara online. ICEP sendiri akan dilaksanakan pada 3-21 Agustus 2020.

Penyelenggaraan ICEP secara resmi dibuka oleh Direktur Kemitraan/Kantor Urusan Internasional UII, Dr.rer.nat. Dian Sari Utami, S.Psi., M.A. Ia menuturkan, pihaknya mendukung penuh program ini dan berharap melalui ICEP UII dapat terus menjalin hubungan kolaborasi yang berkelanjutan dengan NXU, bahkan setelah pandemi ini berakhir. Menurutnya, kerjasama ini bisa mempererat hubungan baik antara China dengan Indonesia yang sudah terjalin sejak 70 tahun silam.

ICEP bukanlah program pertama yang menjadi kolaborasi antara UII dengan NXU. Disampaikan Prof. Zhao Tong selaku Dean, School of Business, NXU, UII dan kampusnya pernah menjalin kerjasama dalam program 2+2 di tahun 2014, dan program ini masih berlanjut di tahun ini dengan menghadirkan 3 mahasiswa UII ke NXU. Selain itu pada 2019, NXU juga pernah mengirimkan 19 mahasiswanya ke UII.

“Dengan adanya ICEP, kami berharap para mahasiswa kami dapat belajar tentang ekonomi di negara lain khususnya Indonesia, serta belajar bagaimana kerjasama yang terjalin di antara dua negara,” ungkap Prof. Zhao Tong.

Pada hari pertama ICEP, para peserta yang meliputi 34 mahasiswa NXU diberikan pengenalan terkait keberagaman budaya yang ada di Indonesia. Seperti yang diketahui bahwa Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk yang lebih dari 273 juta, menempatkan Indonesia pada negara dengan tingkat populasi terbesar keempat di dunia. Jumlah ini menciptakan keberagaman di dalamnya. Mulai dari keberagaman bahasa yang berjumlah lebih dari 700, hingga keberagaman agama atau kepercayaan. Selain itu, Indonesia juga memiliki keanekaragaman tempat wisata yang berbudaya.

Dalam kegiatan ICEP, para peserta diwajibkan untuk menulis jurnal mingguan yang terdiri dari satu hingga tiga paragraf singkat. Jurnal ini akan berisi tentang rangkuman kegiatan yang dilakukan para mahasiswa selama mengikuti ICEP, kesan, ataupun topik yang ingin didiskusikan. Untuk meningkatkan kreatifitas mahasiswa, ICEP menyarankan untuk menulisnya di dalam sebuah slide yang dapat di design. Terakhir, para peserta dibekali dengan peraturan ICEP serta tabel rencana kegiatan ICEP yang akan berlangsung selama beberapa hari kedepan. (VTR/RS)