Dampak era revolusi industri 4.0 telah membawa perubahan besar bagi kehidupan umat manusia. Salah satunya ditandai munculnya banyak pekerjaan yang menggeser tenaga manusia. Kondisi ini menuntut kreatifitas manusia untuk menciptakan pekerjaan yang belum ada sebelumnya.

Muhammad Ridwan Andi Purnomo, S.T., M.Sc., Ph.D., Dosen Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (UII) mengemukakan revolusi industri 4.0 dapat menimbulkan simptom atau gejala yang membuat manusia hanya merasa kagum dan menjadi pangsa pasar bagi revolusi industri 4.0. “Kalau tidak siap maka lama-lama akan selalu ketinggalan dan tergilas oleh revolusi industri,” ungkapnya dalam webinar yang dihelat Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) UII pada Sabtu (1/8).

Sebelum melanjutkan pembahasan, Muhammad Ridwan membawa pada ‘deep diving’ filosofi revolusi industri 4.0. Revolusi industri 4.0 pertama kali digulirkan oleh orang Jerman yang mana ia merupakan praktisi di bidang teknologi. Inilah yang menjadi latar belakang kemunculan isu teknologi. Menurut Muhammad Ridwan, hal ini disinyalir sebagai propaganda untuk memasarkan produk di tengah masyarakat.

Di balik kemudahan yang diciptakan oleh revolusi industri 4.0 ternyata masih menimbulkan kritik dari beberapa ilmuan, hanya saja tidak ditonjolkan dalam isu industri 4.0. Muhammad Ridwan menjelaskan ada tiga aspek yang masih menjadi kritik dalam revolusi industri 4.0. Aspek pertama ialah profit, bagi sebagian perusahaan penggunaan teknologi tidak menghasilkan profit yang sepadan dengan pembelian teknologi yang menguras dana. Hal ini mungkin disebabkan oleh aspek gagap teknologi.

Aspek selanjutnya adalah planet, aspek ini masih jarang terlintas pada pikiran manusia bahwa teknologi pun memiliki dampak buruk bagi lingkungan. Misalnya teknologi yang menyebabkan kemudahan dalam memproduksi barang secara massal, hal ini akan memiliki benang merah pada semakin tingginya aktivitas pendistribusian yang menggunakan kendaraan baik darat, udara, maupun laut. Sedangkan asap kendaraan sangat berdampak buruk pada lingkungan.

Kemudian aspek terakhir menurut Muhammad Ridwan adalah people. Jika dapat berpikir ulang, seharusnya kemudahan teknologi yang serba otomatis membuat manusia semakin memiliki waktu luang, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk keluarga. Namun pada prakteknya, anak-anak di China justru menjadi salah satu korban revolusi industri 4.0 sebagai generasi ‘left behind’ atau yang tertinggal. Hal ini disebabkan oleh orang tua mereka yang kerap pergi meninggalkan demi bekerja di pabrik berbasis high technology content.

Revolusi industri sebenarnya selalu terjadi dari tahun ke tahun. Dimulai saat manusia masih menggunakan berbagai alat manual untuk memenuhi kebutuhannya. Misalnya tombak sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan berburu. Seiring perkembangan waktu, jumlah manusia semakin bertambah, hal ini akhirnya menjadikan kebutuhan akan tombak pun meningkat. Kemudian manusia berpikir untuk melakukan mekanisasi yang dapat menstandarkan tombak dengan cara membuat suatu alat yang dapat memproduksi tombak dengan standar yang sudah dibuat. Hal ini lah yang menjadi pertanda lahirnya revolusi industri 1.0 di antara tahun 1760-1820.

Karena kebutuhan akan tombak semakin meningkat dan telah ada standar yang ditetapkan, maka manusia akhirnya berpikir untuk membuat alat yang dapat memproduksi tombak secara massal. Yang mana produksinya dapat dilakukan secara berulang. Produksi berulang dilakukan dengan mesin yang menggunakan teknologi otomatisasi. Otomatisasi ini menandakan kemunculan revolusi industri 2.0 pada sekitar tahun 1820-1900.

Kemudian revolusi industri dilanjutkan pada 3.0 di tahun 1900-an dengan ditandai komputerisasi yang melahirkan banyak data. Lalu pada masa ini, manusia mengolah data tersebut untuk menjadi suatu pengetahuan yang dilanjutkan hingga membuat suatu kecerdasan buatan. Inilah yang dinamakan dengan revolusi industri 4.0.

Melalui penjelasan singkat mengenai perjalanan revolusi industri, Muhammad Ridwan menyimpulkan, perkembangan revolusi industri selalu menjadi jawaban dari setiap kebutuhan manusia. Dengan kata lain manusia adalah subjek dari revolusi industri. “Oleh karenanya kita perlu tau apa yang akan dibutuhkan manusia pada masa depan, agar dapat menjadi pemain pada revolusi industri selanjutnya, bukan sekedar korban,” ujarnya.

Lebih lanjut Muhammad Ridwan menjelaskan seseorang harus mampu memiliki kemampuan dari revolusi industri sebelumnya, yaitu bekerja sesuai standar, dapat mengerjakan banyak hal, kemampuan analisis, dan memiliki kecerdasan. Dengan empat kemampuan tersebut, barulah seseorang dapat dikatakan siap pada revolusi industri 4.0. “Ketika sampai di revolusi industri 4.0, jangan malah kita melupakan kemampuan manusia di revolusi industri sebelumnya,” ungkap Muhammad Ridwan.

Revolusi industri 4.0 sebenarnya berusaha menggabungkan produktivitas dan fleksibilitas. Produktivitas dilihat pada konteks produksi barang-barang yang general, misalnya beras. Beras biasanya diproduksi secara massal yang membuat jumlahnya tinggi, tetapi fleksibilitas jenisnya sedikit, ini disebut dengan flow shop. Sedangkan fleksibilitas biasanya ada pada produksi perusahaan yang produksinya berdasarkan permintaan (based on order), sehingga jumlahnya akan relatif sedikit, namun fleksibilitas jenisnya akan beragam, ini disebut dengan job shop.

Revolusi industri 4.0 berfokus pada cara menggabungkan keduanya, dengan memproduksi produk yang beragam jenis dan dengan volume yang tinggi pula, hal ini untuk menekan nilai cost. “Nah, kalau kita sudah tahu apa tujuan dari industri 4.0, kita tidak perlu terpaku pada keharusan memiliki teknologi yang canggih, melainkan berusaha untuk menggabungkan flow shop dengan job shop,” ungkap Muhammad Ridwan. (VTR/RS)