Hari Raya Idul Adha yang dinantikan sudah di depan mata. Meski di masa pandemi, kaum muslimin diminta untuk peduli, mempertebal rasa kemanusiaan, dan mengajarkan sikap peka dengan saling berbagi hewan qurban. Demi terjaminnya keamanan dan kesehatan saat pandemi, penting memperhatikan prosedur penyembelihan hewan kurban, sehingga pelaksanaannya sesuai protokol kesehatan. Dengan memperhatikan hal ini, penyembelihan qurban tidak hanya sesuai dengan ketentuan syariat islam namun juga meminimalisir penyebaran Covid-19.

Sebagaimana digagas Program Studi Hukum Keluarga (Ahwal Syakhshiyah) Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia (FIAI UII) yang menyelenggarakan webinar “Kontekstualisasi Makna Qurban di Masa pandemi Covid-19” pada Senin (27/7). Webinar ini menghadirkan Ir. Nanung Danar Dono, Ph.D (Auditor LPPOM MUI selaku Direktur Halal Research Centre Fakultas Peternakan UGM) sebagai narasumber.

Dalam sambutannya, Ketua Program Studi Ahwal Syakhshiyyah Prof. Dr. Amir Mu’allim, MIS. menerangkan agama Islam pada dasarnya memberikan keringanan kepada mukallaf pada saat-saat tertentu baik itu berkaitan dengan ibadah maupun muamalah. Semuanya bertujuan agar nilai-nilai esensial qurban tetap diraih meskipun di fase adaptasi kebiasaan baru saat ini.

Selanjutnya, Nanung Danar Dono menyampaikan pentingnya mematuhi protokol kesehatan terutama penggunaan masker dengan benar ketika menyembelih hewan kurban. Proses penyembelihan hewan kurban hanya dilaksanakan di wilayah yang diyakini aman menurut info resmi pemerintah daerah. Jika tidak memungkinkan hewan kurban disembelih di area masjid, penyembelihan sebaiknya dilakukan di Rumah Potong Hewan (RPH) resmi guna mengurangi kerumunan warga.

“Shohibul qurban berhak untuk menyembelih hewan kurbannya. Apabila tidak sanggup dan tidak tega boleh diamanahkan kepada panitia qurban yang terampil, namun sebaiknya tetap menyaksikan. Dalam keadaan pandemi, maka bisa menyaksikan secara online. Banyak masjid yang melakukan persiapan dengan memberikan fasilitas sehingga bisa menggunakan aplikasi virtual maupun streaming,” ucapnya.

Ia juga menjelaskan tentang perlunya mengistirahatkan dan menenangkan hewan kurban sebelum disembelih. Menurutnya, perasaan stress karena kelelahan, gelisah, takut, panik akan mengakibatkan kualitas daging menjadi turun karena adanya timbunan asam laktat. Tandanya rasa daging menjadi masam dan teksturnya sulit untuk dipotong.

“Puasakan hewan qurban 12 jam sebelum disembelih agar ternak tidak beringas (agresif) dan penanganan lebih mudah. Pemuasaan mampu mengurangi isi rumen (perut) serta menyempurnakan proses konversi serabut otot dan pembuluh darah menjadi daging”, imbuhnya.

Nanung Danar juga mengingatkan pasca proses penyembelihan agar menghindari bersin atau batuk langsung ke arah daging. Pasalnya droplet sangat berpotensi menjadi media penularan virus. Ia berpesan agar panitia qurban tidak lagi mencuci jeroan (bagian organ dalam hewan ternak) di sungai. Pada umumnya sungai telah tercemar dengan bahan kimia, limbah, kuman penyakit seperti escherichia coli dan disentri serta limbah peternakan.

Terakhir, distribusi pembagian daging kurban juga harus diiringi oleh penerapan protokol kesehatan agar tidak menimbulkan cluster baru sesuai dengan new normal. Ia menyarankan agar menggunakan masker, tetap menjaga jarak, dan memastikan tangan selalu bersih dengan mencuci tangan memakai sabun. (HA/ESP)