Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar Diskusi Intelektual Muslim #1 bertajuk “Benteng Moral Bangsa: Menjaga Integritas Bangsa di Tengah Arus Perubahan Zaman” dengan menghadirkan Anies Baswedan sebagai narasumber utama pada Jumat (20/02), di Masjid Ulil Albab Kampus Terpadu UII. Kegiatan ini menjadi ruang dialog reflektif bagi kalangan akademisi, mahasiswa, dan masyarakat umum untuk membahas tantangan moral serta integritas bangsa di era perubahan sosial, politik, dan teknologi yang berlangsung begitu cepat.

Acara ini diselenggarakan sebagai upaya menghadirkan forum intelektual yang tidak hanya membahas isu-isu keislaman, tetapi juga persoalan kebangsaan yang relevan dengan kondisi kontemporer. Diskusi ini berlangsung dengan antusiasme tinggi dari peserta yang memenuhi area masjid.

Rektor UII, Fathul Wahid, dalam sambutannya menegaskan bahwa forum intelektual seperti ini merupakan momentum penting untuk memperkuat arah nilai kebangsaan di tengah perubahan zaman. Ia menyampaikan bahwa sivitas akademika memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga nilai-nilai integritas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Ini adalah kesempatan mengasah kompas moral menjadi lebih positif,” ujarnya menekankan pentingnya peran kampus sebagai pusat pengembangan karakter dan etika publik.

Dalam pemaparannya, Anies Baswedan menekankan bahwa integritas bukan sekadar persoalan kejujuran, melainkan kesatuan utuh antara pikiran, perbuatan, dan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya. Ia menjelaskan bahwa seseorang baru dapat disebut berintegritas ketika apa yang dipikirkan, diucapkan, dan dilakukan berjalan selaras. Menurutnya, integritas menjadi pondasi utama dalam membangun kepercayaan publik sekaligus menjaga arah moral bangsa di tengah derasnya arus perubahan zaman. “Jujur saja tidak cukup tanpa integritas,” tegasnya di hadapan peserta diskusi.

Diskusi berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab yang mengangkat berbagai isu aktual, mulai dari tantangan etika di ruang digital, krisis keteladanan publik, hingga pentingnya kepemimpinan berintegritas dalam menjaga kepercayaan masyarakat. Para peserta juga diajak merefleksikan kontribusi individu dalam membangun budaya integritas, baik di lingkungan akademik, profesional, maupun kehidupan bermasyarakat.

Melalui penyelenggaraan Diskusi Intelektual Muslim #1 ini, harapannya nilai-nilai moral dan integritas dapat terus diperkuat sebagai benteng bangsa dalam menghadapi perubahan zaman. Forum ini diharapkan menjadi ruang berkelanjutan yang mendorong lahirnya generasi intelektual Muslim yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kokoh dalam integritas. (ELKN/AHR/RS)

Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Islam Swasta se-Indonesia (BKSPTIS) menyelenggarakan Lokakarya Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Perguruan Tinggi di Universitas Islam Al-Azhar (Unizar), Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Senin (16/2). Kegiatan ini menjadi ruang berbagi praktik baik dan penguatan kapasitas pengelola perguruan tinggi Islam swasta (PTIS), terutama pada isu internasionalisasi dan penjaminan mutu.

Lokakarya ini diikuti puluhan peserta dari berbagai PTIS di NTB, termasuk di antaranya Universitas Hamzanwadi, Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat, Universitas Cordova, Universitas Nahdlatul Wathan Mataram, serta sejumlah sekolah tinggi dan institut seperti STIT Ispini, STIT Darussalimin NW Praya, STIS Haji Abdul Rasyid Lombok Tengah, dan STEI Hamzar Lombok Timur. Kehadiran lintas kampus ini mempertegas semangat kolaborasi untuk meningkatkan mutu tata kelola perguruan tinggi Islam di daerah.

Rektor Unizar Dr. Ir. Muh. Ansyar, M.P. dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kepercayaan BKSPTIS yang menjadikan Unizar sebagai tuan rumah. Ansyar menekankan pentingnya forum lintas kampus untuk memperkuat tata kelola kelembagaan, memperluas jejaring kolaborasi, serta mendorong peningkatan mutu yang lebih terarah dan berkelanjutan di lingkungan PTIS, khususnya di NTB.

Pada sesi awal juga dilakukan penandatanganan Implementation Agreement antara Universitas Islam Indonesia (UII) dan Unizar di bidang penjaminan mutu sebagai langkah konkret kerja sama antarperguruan tinggi.

Dalam sesi bertajuk peta jalan penguatan tata kelola perguruan tinggi Islam, Fathul Wahid menegaskan pentingnya merumuskan arah pengembangan institusi berdasarkan realitas nasional, bukan sekadar menyalin praktik luar negeri.

“Peta jalan perguruan tinggi perlu didasarkan pada kondisi faktual di Indonesia, dan tidak ‘mengekor’ praktik di negara/konteks lain,” ujar Fathul yang juga merupakan Rektor UII tersebut.

Fathul menekankan bahwa tata kelola perguruan tinggi harus dipahami sebagai sistem menyeluruh, bukan hanya urusan administratif, yang memastikan pengambilan keputusan kampus berjalan efektif, terbuka, partisipatif, dan dapat dipertanggungjawabkan, serta tetap berorientasi pada tujuan pendidikan secara utuh.

Fathul juga mengingatkan kampus agar tidak terjebak pada capaian yang tampak “internasional” tetapi tidak substantif, seraya menekankan keseimbangan antara idealisme dan penerimaan publik. 

Lokakarya dilanjutkan dengan sesi pendalaman internasionalisasi dan penguatan penjaminan mutu bersama Dr. Dian Sari Utami dan Dr. Rina Mulyati. Forum diharapkan dapat menghasilkan langkah tindak lanjut yang realistis dan dapat diterapkan di masing-masing PTIS. Dari Mataram, BKSPTIS menegaskan komitmen untuk memperluas jejaring dan menguatkan budaya mutu melalui kolaborasi yang berkelanjutan. (HF/AHR/RS)

Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat (UNU NTB) dan Universitas Islam Indonesia (UII) pada Senin (16/02) menandatangani Nota Kesepahaman tentang pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi di Kampus UNU NTB, Mataram.

Penandatanganan dilakukan oleh Rektor UNU NTB, Dr. Baiq Mulianah, M.Pd.I, dan Rektor UII, Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D, sebagai bagian dari komitmen bersama untuk memperkuat kolaborasi antar Perguruan Tinggi Islam Swasta (PTIS) dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang lebih solid, adaptif, dan berdaya saing.

Nota Kesepahaman ini akan memperluas kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta berbagai inisiatif strategis lain yang disepakati bersama. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat kapasitas institusi, mendorong pertukaran praktik baik, serta memperluas kontribusi pendidikan tinggi Islam dalam pembangunan daerah dan nasional.

Di tengah dinamika dan tantangan pendidikan tinggi yang semakin kompleks, sinergi antar-PTIS menjadi faktor kunci untuk memastikan keberlanjutan dan relevansi institusi. Kemitraan ini mencerminkan pendekatan kolaboratif yang menempatkan kemajuan bersama sebagai prioritas.

Nota Kesepahaman berlaku selama lima tahun dan akan ditindaklanjuti melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS) pada tingkat fakultas, lembaga, dan unit kerja terkait di kedua universitas.

“Penandatanganan Nota Kesepahaman ini merupakan langkah strategis bagi UNU NTB dalam memperluas jejaring akademik dan memperkuat kapasitas kelembagaan.” ungkap Dr. Baiq Mualianah.

Rektor UNU NTB meyakini bahwa kolaborasi dengan Universitas Islam Indonesia akan mendorong peningkatan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, khususnya dalam penguatan peran perguruan tinggi di kawasan timur Indonesia

“Kemitraan ini adalah komitmen nyata untuk menghadirkan sinergi yang berkelanjutan demi kemaslahatan umat dan bangsa.” tegasnya.

Senada, Rektor UII, Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D menyatakan kerja sama ini merupakan wujud nyata kolaborasi antar Perguruan Tinggi Islam Swasta untuk saling menguatkan dan bertumbuh bersama.

“Dalam lanskap pendidikan tinggi yang semakin kompetitif, PTIS tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Sinergi menjadi fondasi bagi daya saing kolektif dan keberlanjutan institusi.” jelas Prof. Fathul Wahid.

Melalui kolaborasi yang setara dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dapat memperkuat kontribusi pendidikan tinggi Islam bagi pembangunan bangsa. (HF/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) bersama Dewan Perwakilan Wilayah Ikatan Alumni (DPW IKA) UII Nusa Tenggara Barat (NTB) menyelenggarakan kegiatan “UII Menyapa Lombok” di Holiday Resort Lombok, Ahad (15/02). Kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus forum dialog untuk memperkuat jejaring alumni, membangun sinergi, serta membuka peluang kolaborasi antara UII, alumni, dan para pemangku kepentingan di NTB, dengan kehadiran puluhan alumni dari berbagai program studi.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor Bidang Pengembangan Akademik dan Riset UII, Prof. Dr. Jaka Nugraha, S.Si., M.Si., menyampaikan perkembangan terkini dan capaian kemajuan UII dalam beberapa waktu terakhir, baik dari sisi penguatan akademik, riset, maupun reputasi institusi. Prof. Jaka menegaskan bahwa capaian tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan turut ditopang oleh kontribusi alumni yang menjaga nama baik UII dan mengambil peran strategis di berbagai sektor. 

“Berbagai kemajuan yang dicapai UII hari ini tidak lepas dari kontribusi para alumni. Alumni adalah bagian penting dari ekosistem kemajuan UII,” ujar Prof. Jaka.

Prof. Jaka juga menyampaikan apresiasi atas kehadiran para alumni dan mendorong agar partisipasi alumni tidak berhenti pada masa kelulusan, melainkan berlanjut melalui kerja sama yang lebih luas, mulai dari jejaring profesional, penguatan komunitas alumni di daerah, hingga kolaborasi konkret yang mendukung langkah maju UII. 

“Kami berharap keterlibatan alumni tidak berhenti saat wisuda. Justru setelah lulus, ruang kolaborasi itu semakin luas, dan UII ingin terus terhubung melalui komunitas alumni di daerah,” tambahnya.

Selanjutnya, Ketua DPW IKA UII NTB, H. Muhammad Ramadhani, ST., M.Si., menekankan pentingnya forum silaturahmi sebagai pengikat jejaring alumni sekaligus penguat kontribusi nyata alumni di NTB. Ia menyambut baik inisiatif UII untuk hadir lebih dekat dengan alumni di daerah. 

“Kegiatan ini adalah momentum untuk menguatkan jejaring, membangun komunikasi, dan menghadirkan kontribusi alumni yang lebih nyata bagi daerah,” kata Muhammad Ramadhani yang juga merupakan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Mataram.

Agenda dilanjutkan dengan paparan Direktur Pemasaran UII, Nadia Wasta Utami, S.I.Kom., M.A., yang menekankan informasi praktis terkait jalur-jalur admisi UII. “UII menyediakan beberapa jalur admisi yang bisa dipilih sesuai kebutuhan dan kesiapan calon mahasiswa,” ungkap Nadia.

Sebagai puncak kegiatan, sesi sarasehan berlangsung dinamis dan interaktif. Para alumni menyampaikan pertanyaan, masukan, dan aspirasi, mulai dari peluang kolaborasi, penguatan peran alumni UII di NTB, hingga isu-isu pengembangan institusi. (HF/AHR/RS)

Grand Opening SAFIR 1447 H dengan tema Menyalakan Lentera Iman, Menyambut Cahaya Ramadan diselenggarakan oleh SAFIR Universitas Islam Indonesia (UII) pada Jumat, (14/02)  bertempat di Masjid Ulil Albab, Kampus Terpadu UII. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Dr. Drs.Rohidin, S.H., M.Ag selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Keagamaan, dan Alumni, serta menghadirkan Ustadz Salim A. Fillah sebagai pembicara utama. Acara ini bertujuan mempersiapkan sivitas akademika UII dalam menyambut bulan suci Ramadan secara spiritual, reflektif, dan berkesadaran.

Rangkaian acara berlangsung khidmat dengan simbolisasi “lentera iman” sebagai metafora kekuatan spiritual individu. Lentera dimaknai sebagai iman yang harus dipersiapkan dan dijaga agar mampu menyambut cahaya Ramadan yakni keberkahan dan nilai-nilai ketakwaan tanpa redup di tengah perjalanan ibadah. Narasi ini menjadi benang merah kegiatan, mulai dari pembukaan hingga sesi tausiyah.

Dalam sambutannya, Rohidin menekankan bahwa Ramadan seharusnya dipahami sebagai proses transformasi diri yang berkelanjutan. Ia menegaskan pentingnya kesiapan mental-spiritual agar ibadah tidak berhenti pada rutinitas, melainkan menghasilkan perubahan sikap dan perilaku yang nyata di lingkungan kampus dan masyarakat.

“Ramadan bukan sekadar momentum tahunan, tetapi proses pendidikan ruhani. Kita perlu memastikan bahwa setiap Ramadan benar-benar mengantarkan kita menjadi pribadi yang lebih baik lebih berintegritas, lebih peduli, dan lebih bertanggung jawab,” ujar Rohidin.

Memasuki sesi utama, Ustadz Salim A. Fillah mengajak peserta melakukan inspeksi diri menjelang bulan mulia. Ia mengemukakan pertanyaan reflektif tentang sejauh mana Ramadan-Ramadan sebelumnya telah membentuk kualitas kepribadian dan ketakwaan seseorang. Refleksi ini, menurutnya, penting agar Ramadan tidak berlalu tanpa makna transformasional.

Ustadz Salim kemudian memaparkan tiga langkah utama dalam memasuki Ramadan, yakni Terpanggil, Bahagia, dan Yakin. Terpanggil dimaknai sebagai kesadaran batin bahwa Ramadan adalah undangan ilahi yang perlu disambut dengan kesiapan. Bahagia menunjukkan sikap positif dan kerinduan spiritual terhadap ibadah. Adapun Yakin adalah keyakinan penuh bahwa setiap amal di Ramadan membawa dampak nyata bagi pembentukan diri.

“Kita perlu bertanya dengan jujur: setelah sekian banyak Ramadan berlalu, apakah kita benar-benar menjadi manusia yang lebih baik? Ramadan seharusnya menghantar, bukan sekadar melintas,” tutur Ustadz Salim.

Lebih lanjut, ia menautkan konsep input–proses–output dalam ibadah Ramadan. Input berupa niat dan kesiapan iman, proses berupa konsistensi amal dan muhasabah, serta output berupa perubahan akhlak dan komitmen sosial. Ketiganya, menurut Ustadz Salim, harus berjalan utuh agar “lentera iman” tetap menyala hingga pasca-Ramadan.

Dengan integrasi gagasan dari pimpinan universitas dan refleksi spiritual pembicara utama, Grand Opening SAFIR 1447 H menegaskan posisi Ramadan sebagai sarana pembentukan karakter. Lentera iman yang dinyalakan sejak awal diharapkan mampu menuntun sivitas akademika UII menjalani Ramadan secara sadar, konsisten, dan berdampak nyata. (IMK/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan Wisuda Doktor, Magister, Sarjana, dan Diploma Periode III Tahun Akademik 2025/2026 pada Sabtu (14/2) di Yogyakarta di Auditorium Prof.K.H. Abdul Kahar Mudzakkir, Kampus Terpadu UII. Pada periode ini, sebanyak 416 lulusan resmi dikukuhkan, terdiri dari 2 ahli madya, 7 sarjana terapan, 327 sarjana, 72 magister, dan 8 doktor. Sehingga, sampai saat ini tercatat lebih dari 132.206 alumni yang berkiprah dalam berbagai peran baik dalam negeri maupun mancanegara.

Rektor UII, Fathul Wahid, dalam sambutannya mengingatkan para wisudawan bahwa wisuda bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal pengabdian yang lebih luas bagi masyarakat.

“Izinkan saya menitipkan satu pesan utama hari ini: asahlah empati, jagalah kepekaan sosial,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa ilmu dan keterampilan profesional saja tidak cukup tanpa empati. Menurutnya, setiap keputusan yang kelak diambil para lulusan akan berdampak pada kehidupan banyak orang.

“Ilmu yang Saudara peroleh di kampus ini sangat penting. Tetapi tanpa empati, semua itu bisa kehilangan arah. Tanpa kepekaan sosial, kecerdasan bisa menjadi dingin,” ujarnya.

Rektor juga mengingatkan agar para lulusan tidak terjebak pada capaian personal semata, tetapi mampu memberi dampak kemanusiaan dalam setiap peran yang dijalani. “Semakin tinggi ilmu kita, semakin halus pula rasa kita. Semakin luas wawasan kita, semakin dalam pula kepedulian kita,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Alumni UII yang juga Head of Communications Grab Indonesia, Dimas Novriandi, menyampaikan pesan inspiratif dengan gaya yang ringan dan reflektif. Ia mengajak para wisudawan untuk tidak takut menghadapi fase baru kehidupan.

Mengutip pesan motivasional, ia menyampaikan, “Wisuda itu bukan garis finish, itu tanda kamu sanggup menyelesaikan. Bukan karena kamu tidak pernah capek, tapi karena kamu tetap jalan walau lelah.”

Dimas juga mengingatkan bahwa rasa takut memasuki dunia nyata adalah hal yang wajar. Namun, menurutnya, keberanian lahir dari langkah kecil yang konsisten.

“Takut itu manusiawi. Yang penting, kita tidak berhenti di sana,” katanya.

Dalam pesannya kepada para wisudawan, ia menekankan pentingnya integritas dan keandalan di dunia profesional. “Kamu tidak harus jadi yang paling cepat, tapi jadilah yang paling bisa dipercaya. Karena di dunia setelah kampus, banyak yang pintar. Tapi yang dicari adalah yang bisa diandalkan,” ujarnya.

Baik Rektor maupun wakil alumni sama-sama menegaskan bahwa keberhasilan akademik perlu diiringi karakter yang kuat dan kepedulian sosial. Wisuda kali ini tidak hanya menjadi seremoni akademik, tetapi juga momentum refleksi untuk melahirkan generasi profesional yang cemerlang secara intelektual dan hangat secara kemanusiaan. (AHR/RS)

Isi sambutan ini sama sekali tidak untuk mengurangi rasa bahagia Saudara hari ini. Justru, saya ingin mengajak Saudara berbahagia dengan bermakna karena dipenuhi ungkapan syukur atas banyak karunia yang Allah berikan kepada kita.

Sekitar dua pekan lalu, sebuah kabar mengguncang nurani, saya baca di media. Awal Februari 2026 ini, di Nusa Tenggara Timur, seorang siswa sekolah dasar mengakhiri hidupnya karena orang tuanya belum sanggup membelikannya buku dan pensil. Rasa kemanusiaan kita sebagai bangsa seperti terkoyak.

Kok bisa? Setelah Indonesia merdeka lebih dari delapan puluh tahun, masih ada saudara-saudara kita yang hidup dalam kemiskinan ekstrem. Tentu ini bukan soal budaya, ada andil besar isu struktural di baliknya. Padahal salah satu tujuan negara yang tertulis jelas dalam konstitusi adalah menghadirkan kesejahteraan umum.

Berita seperti ini bukan sekadar angka statistik. Ia adalah cermin. Cermin tentang jarak antara cita-cita dan kenyataan. Cermin tentang pekerjaan rumah besar yang belum selesai. Dan hari ini, di hadapan saya duduk orang-orang terdidik yang kelak akan berada di berbagai posisi penting di kantor pemerintahan, di perusahaan, di kampus, di rumah sakit, di lembaga keuangan, di organisasi masyarakat. Saudara tidak hanya akan bekerja. Saudara akan memengaruhi keputusan. Setiap keputusan selalu punya wajah manusia di baliknya.

Karena itu, izinkan saya menitipkan satu pesan penting: asahlah empati, jagalah kepekaan sosial.

 

Pemimpin yang peduli

Ilmu yang Saudara peroleh di kampus ini sangat penting. Keterampilan profesional Saudara akan menentukan kualitas kerja. Tetapi tanpa empati, semua itu bisa kehilangan arah. Tanpa kepekaan sosial, kecerdasan bisa menjadi dingin. Kebijakan bisa menjadi kaku. Sistem bisa berjalan rapi di atas kertas, tetapi melukai manusia di lapangan.

Empati adalah kemampuan untuk berhenti sejenak, lalu bertanya: Siapa yang paling terdampak oleh keputusan ini? Apakah ada kelompok yang tertinggal? Apakah ada suara yang tidak terdengar?

Kepekaan sosial membuat kita tidak cepat puas dengan angka pertumbuhan, jika masih ada anak yang putus sekolah. Tidak cepat bangga dengan gedung-gedung tinggi, jika masih ada keluarga yang tidak mampu membeli alat tulis. Tidak mudah berkata “itu bukan urusan saya”, ketika ketidakadilan terjadi di depan mata.

Beberapa tahun ke depan, mungkin Saudara akan duduk di ruang rapat ber-AC, membahas anggaran, strategi, atau target kinerja. Di saat seperti itu, ingatlah wajah-wajah yang jarang hadir di ruangan tersebut: petani kecil, buruh harian, anak-anak di pelosok, keluarga yang hidup pas-pasan. Keputusan yang Saudara tanda tangani bisa menentukan apakah mereka semakin terbantu, atau justru semakin terpinggirkan.

Menjaga empati bukan berarti menjadi lemah. Justru sebaliknya. Empati membuat keputusan kita lebih kuat secara moral. Lebih kokoh secara kemanusiaan. Lebih berkelanjutan dampaknya. Profesional yang unggul bukan hanya yang mumpuni, tetapi yang peduli.

Pemimpin yang hebat bukan hanya yang cerdas, tetapi juga yang hatinya tetap lembut. Karena itu, seorang pemimpin perlu terus melatih diri untuk membuka telinga dan melapangkan dada. Ia bersedia mendengar kritik tanpa tergesa melihat para pengkritiknya sebagai lawan. Sebab pemimpin bukan malaikat yang kebal dari kesalahan, melainkan manusia yang justru tumbuh melalui kesediaan untuk belajar dan memperbaiki diri.

 

Empati sebagai jalan hidup

Empati juga serupa. Ia juga perlu dilatih. Ia tidak tumbuh otomatis bersama gelar akademik. Ia tumbuh ketika Saudara mau mendengar cerita orang lain tanpa menghakimi. Ketika Saudara mau turun melihat kenyataan, bukan hanya membaca laporan. Ketika Saudara berani bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan, sekecil apa pun, agar keadaan sedikit lebih baik?”

Gelar yang Saudara dapatkan adalah tanda bahwa Saudara telah menempuh proses akademik. Namun masyarakat berharap lebih dari itu. Masyarakat berharap Saudara menjadi pribadi yang peka. Yang tidak menutup mata terhadap penderitaan. Yang tidak menormalkan ketimpangan. Yang tidak kehilangan rasa ketika melihat ketidakadilan. Yang tidak menyepelekan penderitaan liyan.

Bayangkan, bertahun-tahun dari sekarang, ketika Saudara menoleh ke belakang. Bukan hanya karier yang ingin Saudara banggakan, tetapi juga dampak kemanusiaan dari pilihan-pilihan hidup Saudara. Berapa banyak orang yang terbantu? Berapa banyak kebijakan yang lebih adil karena Saudara terlibat? Berapa banyak keputusan yang lebih bijak karena Saudara memilih mendengarkan suara yang lemah?

Mari kita jaga agar pendidikan tidak menjauhkan kita dari realitas sosial, tetapi justru mendekatkan. Mari kita pastikan bahwa semakin tinggi ilmu kita, semakin halus pula rasa kita. Semakin luas wawasan kita, semakin dalam pula kepedulian kita.

Semoga Saudara semua menjadi generasi profesional yang tidak hanya cemerlang pikirannya, tetapi juga hangat hatinya. Yang tidak hanya sukses secara pribadi, tetapi juga bermakna bagi sesama. Teruslah melangkah, dengan ilmu di kepala dan empati di dada.

Sambutan pada acara Wisuda Universitas Islam Indonesia pada 14 Februari 2026.

Fathul Wahid

Rektor Universitas Islam Indonesia 2022-2026

Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas jejaring internasional dengan berpartisipasi dalam World Education Expo 2026 yang diselenggarakan di Cebu, Filipina pada Kamis (05/02).  Kegiatan ini menjadi ajang strategis untuk memperkenalkan UII kepada calon mahasiswa internasional serta mitra pendidikan global.

Pada kesempatan tersebut, UII diwakili oleh Nihlah Ilhami selaku Kepala Divisi Mobilitas Internasional dan Tria Rejeki Sholikhah selaku Koordinator Akomodasi dan Asuransi dari Direktorat Kemitraan/Kantor Urusan Internasional (DK/KUI) UII. Kehadiran delegasi UII menegaskan peran aktif universitas dalam mendukung internasionalisasi pendidikan tinggi Indonesia.

World Education Expo 2026 Cebu diikuti oleh berbagai institusi pendidikan dari sejumlah negara, antara lain Malaysia, Rusia, Prancis, dan Australia. Masing-masing institusi mempresentasikan profil, program akademik, serta peluang kolaborasi internasional kepada pengunjung expo.

Dalam sesi presentasi, UII memperkenalkan profil universitas, program akademik unggulan, serta peluang studi bagi mahasiswa internasional. Selain itu, UII juga memaparkan dua skema beasiswa yang sedang dibuka, yaitu Future Global Leaders Scholarship (FGLS) dan Kemitraan Negara Berkembang (KNB). Informasi ini disampaikan kepada para hadirin pameran yang terdiri atas staf pengajar dan siswa di wilayah Cebu, dengan jumlah total pengunjung lebih dari 200 peserta.

Partisipasi UII semakin diperkuat dengan kunjungan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Manila, Prof. Nina Yulianti, Ph.D., ke booth UII. Selain itu, perwakilan dari Commission on Higher Education (CHED) Regional Office VII Cebu, Filipina, juga turut hadir dan berdiskusi mengenai peluang kerja sama pendidikan tinggi antara Indonesia dan Filipina.

Keikutsertaan UII dalam World Education Expo 2026 ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan visibilitas global universitas, menarik minat mahasiswa internasional, serta membuka peluang kolaborasi akademik lintas negara. Melalui kegiatan ini, UII terus memperkuat posisinya sebagai universitas yang berorientasi global dan berdaya saing internasional. (NI/DS/AHR/RS)

Program Profesi Arsitek (PPAr) Universitas Islam Indonesia (UII) sebagai mitra Pemerintah Kota Yogyakarta dalam pembangunan kawasan layak huni di Kota Yogyakarta menghadiri peresmian Pembangunan Baru Rumah Terdampak Penataan Konsolidasi Lahan Pemukiman pada Senin (09/02) di Kampung Lampion RT. 18 RW 04, Terban, Kota Yogyakarta.

Kawasan RT 18 RW 04 Kampung Lampion di Kelurahan Kotabaru merupakan salah satu wilayah strategis yang terletak di pusat Kota Yogyakarta yang berada dibantaran Sungai Code. Lokasi ini menjadi fokus perhatian karena menghadapi sejumlah permasalahan yang berkaitan dengan kondisi permukiman, potensi bencana, serta tantangan dalam penyediaan infrastruktur dasar.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Kotabaru, Drs. Soegiarto melaporkan bahwa pembangunan kawasan bantaran sungai Code ini dilakukan dengan skema swakelola yang mengedepankan transparansi dan pengawasan.

“Dalam penataan kawasan bantaran sungai tahap pertama tahun 2025 terbangun 10 rumah yaitu enam rumah melalui mekanisme APBD dan 4 rumah lagi melalui mekanisme CSR SPARC-SPEAK yang difasilitasi jejaring UII,” jelas Soegiarto.

Skema swakelola dipilih agar proses perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan dapat berjalan maksimal sekaligus mendorong partisipasi aktif masyarakat. Program ini disambut positif oleh masyarakat karena pemangku kepentingan dinilai mampu mewujudkan hunian yang sehat dan aman.

Lebih lanjut, Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) UII, Prof. Prof. Dr.-Ing. Ir. Ilya Fadjar Maharika, MA., IAI.dalam sambutannya menegaskan keterlibatan perguruan perguruan tinggi dalam program ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat sekaligus pembelajaran langsung bagi mahasiswa.

Prof. Ilya menjelaskan bahwa dukungan yang hadir bukan sekadar tanggung jawab sosial kampus, melainkan hibah dari jejaring filantropi internasional SPARC SPEAK. “UII dengan jejaring yang dimiliki mendapatkan hibah dari yayasan internasional yang fokus pada peningkatan kualitas rumah dan permukiman,” jelasnya

Menurutnya, kawasan tersebut menjadi living laboratory bagi mahasiswa lintas disiplin. “Lokasi seperti kampung ini menjadi laboratorium hidup bagi mahasiswa untuk bekerja langsung bersama masyarakat,” katanya

Ia menambahkan, hibah yang diberikan berfungsi sebagai katalis agar muncul inisiatif lokal serta kolaborasi berkelanjutan antara warga, pemerintah, dan perguruan tinggi.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta menilai program penataan permukiman di bantaran sungai tidak hanya berdampak pada kualitas hunian, tetapi juga berpotensi memperkuat daya tarik kawasan berbasis kearifan lokal.

Ia menyampaikan bahwa pembangunan rumah layak merupakan bagian dari upaya meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui kolaborasi lintas sektor. “Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup warga,” ujarnya

Ia juga melihat kawasan bantaran yang telah ditata berpotensi dikembangkan sebagai kampung wisata. “Dengan penataan dan keterlibatan warga, kawasan bantaran sungai bisa menjadi destinasi yang menonjolkan kearifan lokal,” tambahnya

Penataan kawasan RT 18 RW 04 Kampung Lampion Kelurahan Kotabaru merupakan wujud nyata dari komitmen Pemerintah Kota Yogyakarta dalam mengurangi kawasan kumuh sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Melalui pendekatan yang menyeluruh dan kolaboratif, kegiatan ini tidak hanya menjawab kebutuhan lokal, tetapi juga merefleksikan semangat global untuk mewujudkan hunian yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.

Dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, seperti Universitas Islam Indonesia dan SPARC India, memperkuat pelaksanaan kegiatan melalui sinergi yang saling melengkapi. Kolaborasi ini diharapkan mampu menghadirkan sebuah model penanganan permukiman kumuh yang terintegrasi dengan pengembangan kawasan kota serta pelestarian lingkungan, khususnya di bantaran sungai. (AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas jejaring internasional dengan berpartisipasi dalam World Education Expo 2026 yang diselenggarakan di Cebu, Filipina pada Kamis (05/02). Kegiatan ini menjadi ajang strategis untuk memperkenalkan UII kepada calon mahasiswa internasional serta mitra pendidikan global.

Pada kesempatan tersebut, UII diwakili oleh Nihlah Ilhami selaku Kepala Divisi Mobilitas Internasional dan Tria Rejeki Sholikhah selaku Koordinator Akomodasi dan Asuransi dari Direktorat Kemitraan/Kantor Urusan Internasional (DK/KUI) UII. Kehadiran delegasi UII menegaskan peran aktif universitas dalam mendukung internasionalisasi pendidikan tinggi Indonesia.

World Education Expo 2026 Cebu diikuti oleh berbagai institusi pendidikan dari sejumlah negara, antara lain Malaysia, Rusia, Prancis, dan Australia. Masing-masing institusi mempresentasikan profil, program akademik, serta peluang kolaborasi internasional kepada pengunjung expo.

Dalam sesi presentasi, UII memperkenalkan profil universitas, program akademik unggulan, serta peluang studi bagi mahasiswa internasional. Selain itu, UII juga memaparkan dua skema beasiswa yang sedang dibuka, yaitu Future Global Leaders Scholarship (FGLS) dan Kemitraan Negara Berkembang (KNB). Informasi ini disampaikan kepada para hadirin pameran yang terdiri atas staf pengajar dan siswa di wilayah Cebu, dengan jumlah total pengunjung lebih dari 200 peserta.

Partisipasi UII semakin diperkuat dengan kunjungan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Manila, Prof. Nina Yulianti, Ph.D., ke booth UII. Selain itu, perwakilan dari Commission on Higher Education (CHED) Regional Office VII Cebu, Filipina, juga turut hadir dan berdiskusi mengenai peluang kerja sama pendidikan tinggi antara Indonesia dan Filipina.

Keikutsertaan UII dalam World Education Expo 2026 ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan visibilitas global universitas, menarik minat mahasiswa internasional, serta membuka peluang kolaborasi akademik lintas negara. Melalui kegiatan ini, UII terus memperkuat posisinya sebagai universitas yang berorientasi global dan berdaya saing internasional. (NI/DS/AHR/RS)