Hari ini Saudara berdiri di sebuah persimpangan penting kehidupan. Wisuda sering dianggap sebagai garis akhir dari perjalanan panjang pendidikan. Namun sesungguhnya, wisuda lebih tepat disebut sebagai titik awal. Hari ini bukan tentang apa yang sudah Saudara selesaikan, tetapi tentang apa yang akan Saudara mulai.

Karena dunia setelah kampus adalah ruang ujian yang berbeda. Di kampus, Saudara diuji dengan soal. Di kehidupan nyata, Saudara diuji dengan tanggung jawab. Di kampus, Saudara dinilai dengan angka. Di kehidupan nyata, Saudara akan dinilai dengan kepercayaan.

Dalam jangka panjang, kepercayaan selalu lebih mahal daripada kepintaran.

 

Organisasi yang sehat

Saudara akan segera menyadari bahwa kehidupan profesional bukan hanya tentang kemampuan memimpin, tetapi juga tentang kesiapan untuk dipimpin. Tidak semua orang langsung menjadi pemimpin. Bahkan sebagian besar perjalanan karier justru dimulai dari menjadi pengikut. Di sinilah karakter sering kali dibentuk tanpa disadari.

Organisasi yang sehat bukan hanya membutuhkan pemimpin yang baik. Ia juga membutuhkan pengikut yang baik. Karena kepemimpinan (leadershio) yang kuat tanpa kepengikutan (followership) yang matang tidak akan menghasilkan organisasi yang kokoh.

Izinkan saya menggunakan satu metafora sederhana. Kehidupan profesional itu seperti sebuah pendakian gunung. Dalam satu tim pendakian, memang ada pemimpin ekspedisi. Tetapi keberhasilan mencapai puncak tidak pernah ditentukan oleh satu orang. Ia ditentukan oleh kualitas seluruh tim. Ada yang memimpin arah. Ada yang menjaga ritme. Ada yang memastikan logistik. Ada yang membantu ketika ada yang kelelahan.

Dalam banyak situasi, justru mereka yang berjalan di belakanglah yang memastikan tidak ada yang tertinggal. Begitulah organisasi yang sehat bekerja.

Ketika Saudara dipercaya menjadi pemimpin, jadilah pemimpin yang mengayomi. Pemimpin yang kehadirannya membuat orang merasa lebih kuat, bukan lebih kecil. Pemimpin yang terlihat, bukan hanya terdengar. Pemimpin yang memberi contoh, bukan hanya memberi perintah.

Karena sesungguhnya, kepemimpinan yang paling efektif adalah kepemimpinan melalui keteladanan. Orang mungkin mendengar instruksi, tetapi mereka mempercayai contoh.

Pemimpin yang baik juga tidak membangun kewibawaan melalui jarak, tetapi melalui integritas. Ia tidak mengelabui bawahan dengan agenda tersembunyi. Ia tidak mengatakan satu hal dan melakukan hal lain. Ia memahami bahwa transparansi bukan kelemahan, tetapi fondasi kepercayaan.

Seorang pemimpin mungkin bisa memerintah dengan jabatan. Tetapi ia hanya bisa memimpin dengan kepercayaan.

 

Kepengikutan dan pola pikir bertumbuh

Izinkan saya mengatakan sesuatu yang mungkin jarang disampaikan dalam forum wisuda: menjadi pengikut yang baik sering kali lebih sulit daripada menjadi pemimpin.

Karena menjadi pengikut yang baik membutuhkan kedewasaan karakter. Ia menuntut profesionalitas tanpa harus selalu terlihat. Ia menuntut kontribusi tanpa selalu mendapat pengakuan. Ia menuntut integritas bahkan ketika tidak ada yang melihat.

Pengikut yang baik bukan mereka yang selalu setuju. Pengikut yang baik adalah mereka yang tetap berpikir. Mereka yang tetap menjaga akal sehatnya. Mereka yang berani mengingatkan pemimpinnya jika arah mulai keliru. Loyalitas sejati bukan kepada kenyamanan, tetapi kepada kebenaran.

Organisasi yang kuat bukan yang semua orangnya diam. Organisasi yang kuat adalah yang orang-orangnya berani berbicara dengan cara yang benar.

Di sinilah pentingnya growth mindset, pola pikir bertumbuh. Dunia yang Saudara masuki akan terus berubah. Apa yang Saudara pelajari hari ini mungkin perlu diperbarui beberapa tahun lagi. Jabatan yang Saudara impikan mungkin membutuhkan kemampuan yang hari ini belum Saudara miliki.

Maka keunggulan terbesar Saudara bukan pada apa yang Saudara kuasai hari ini, tetapi pada seberapa cepat Saudara mau belajar besok.

Orang yang berhenti belajar perlahan akan tertinggal. Bukan karena ia tidak pintar, tetapi karena ia merasa sudah cukup pintar. Karena masa depan bukan milik mereka yang paling tahu. Masa depan milik mereka yang paling mau bertumbuh.

 

Karakter dalam memimpin

Jika suatu saat Saudara memimpin, ingatlah: jabatan memberi Saudara kekuasaan, tetapi karakterlah yang membuat orang mengikuti Saudara.

Jika suatu saat Saudara dipimpin, ingatlah: profesionalitas membuat Saudara dihargai, tetapi integritaslah yang membuat Saudara dipercaya.

Di posisi apa pun Saudara berada, ingatlah satu hal: reputasi dibangun dari apa yang Saudara lakukan ketika tidak ada yang mengawasi.

Organisasi yang besar tidak dibangun oleh satu pemimpin hebat. Organisasi yang besar dibangun oleh banyak orang baik yang menjalankan perannya dengan benar.

Saudara dapat mengingat ringkasan ini. Pemimpin sejati adalah mereka yang membuat orang lain bertumbuh. Pengikut sejati adalah mereka yang tetap bertumbuh meski tidak terlihat. Manusia yang berhasil adalah mereka yang tetap bertumbuh dalam posisi apa pun.

Semoga Saudara tidak hanya dikenal karena kecerdasan, tetapi karena karakter. Tidak hanya sukses sendiri, tetapi juga memberi makna bagi sekitar. Dan jika suatu saat Saudara berada di puncak, jangan lupa membuka tangga bagi yang lain untuk naik. Bukan dengan menarik orang karena kedekatan, bukan karena transaksi kepentingan, tetapi karena kualitas, keadilan, dan integritas.

Selamat menempuh perjalanan baru.

 

Sambutan upacara wisuda pada 24-25 April 2026.

Fathul Wahid

Rektor Universitas Islam Indonesia 2022-2026

Universitas Islam Indonesia (UII) terus berkomitmen dalam menguatkan jejaring kemitraan dengan berbagai perguruan tinggi baik nasional ataupun internasional. Pada kesempatan kali ini, UII menerima kunjungan kerja sama dari Australian Catholic University (ACU) pada Rabu (22/04) di Gedung Kuliah Umum (GKU) Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII.

Lawatan ini menjadi bagian dari upaya kedua universitas dalam mengoptimalkan pengelolaan perguruan tinggi yang mencakup bidang penelitian, pengajaran, dan pengabdian masyarakat.

Rektor UII menyambut hangat kunjungan delegasi ACU dan menyatakan bahwa kerja sama ini mencerminkan hubungan yang telah terjalin erat antara kedua institusi. Ia berharap penandatanganan nota kesepahaman dapat menjadi pijakan untuk mendorong kolaborasi yang lebih luas dan produktif di masa mendatang.

Fathul Wahid menyoroti kesamaan visi antara UII dan ACU, khususnya dalam konsep human flourishing atau kehidupan yang bermakna, yang mencakup kesejahteraan, kedamaian, dan kebahagiaan.

“Kami memiliki pemahaman yang sama tentang pentingnya kesejahteraan, kedamaian, dan kebahagiaan,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa kesamaan nilai tersebut menjadi fondasi kuat untuk membangun kerja sama yang berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bagi kedua institusi.

Senada, Vice Chancellor dan CEO dari ACU, Prof. Zlatko Skrbis menyampaikan apresiasi atas kesempatan menjalin kemitraan dengan UII. Ia menekankan bahwa kerja sama ini merupakan langkah awal yang penting untuk mempererat hubungan dan mengembangkan kolaborasi di berbagai bidang ke depan.

Menurutnya, meskipun kedua institusi berasal dari tradisi yang berbeda, terdapat kesamaan nilai yang kuat, khususnya dalam memandang pentingnya kesejahteraan, kebahagiaan, dan kehidupan yang bermakna.

“Meskipun berasal dari tradisi yang berbeda, kita memiliki tujuan yang sama tentang kesejahteraan dan kehidupan yang baik,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pendidikan berbasis nilai serta keterlibatan mahasiswa dalam masyarakat menjadi kekuatan utama yang dapat dikembangkan bersama melalui kemitraan ini.

Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kerja sama antara kedua universitas yang membahas peluang kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.. Lawatan ini diharapkan menjadi langkah strategis bagi UII dan ACU untuk terus memperkuat kolaborasi dan meningkatkan semangat kerja sama akademik. (AHR/RS)

Sebagai rangkaian kegiatan dalam memperingati Milad ke-83 dan Hari Bumi Sedunia, Universitas Islam Indonesia (UII) mengadakan kegiatan Aksi Tanam Pohon pada Selasa (21/04) di Embung Pelang Sisi Barat UII. Kegiatan ini ditandai dengan penanaman pohon akasia yang diwakili oleh Ketua Pengembangan Sistem Informasi dan Aset YBW UII, Rektor UII, dan Dekan Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) UII, serta jajaran dekan di lingkungan UII sebagai bentuk kesadaran kolektif sivitas akademika UII dalam membangun kesadaran kolektif untuk merawat dan melestarikan bumi.

Mengusung semangat “Harmoni untuk Jejak Lestari”, pohon akasia dipilih sebagai simbol utama. Pemilihan ini merepresentasikan perpaduan antara ketangguhan dan manfaat berkelanjutan, sebuah cerminan dari perjalanan panjang UII sebagai institusi pendidikan tertua di Indonesia.

Dekan FIAI UII menyatakan bahwa bahwa penanaman pohon akasia ini bukan sekadar aksi penghijauan seremonial, melainkan sebuah manifestasi dari nilai-nilai spiritual dan historis Islam yang melekat pada pohon ini sebagai material pembangun peradaban, mulai dari mimbar hingga arsitektur masjid klasik.

“Pemilihan akasia adalah simbol bahwa di usia ke-83, UII harus terus tumbuh menjadi institusi yang tangguh, kuat, dan mampu menaungi sesama dalam harmoni,” ungkapnya.

Senada, Rektor UII, Fathul Wahid mengatakan dalam sambutannya bahwa penanaman pohon memiliki landasan yang kuat, baik dari sisi teologis maupun institusional. Dalam ajaran Islam, menanam pohon merupakan bentuk amal jariyah yang manfaatnya terus mengalir bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.

“Menanam pohon bukan hanya kegiatan ekologis, tetapi juga memiliki nilai ibadah karena manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan,” ungkapnya.

Selain itu, Ia menambahkan bahwa keberadaan ruang hijau juga memberikan dampak positif bagi kualitas lingkungan dan kesehatan mental. Interaksi dengan alam, menurut berbagai penelitian, dapat meningkatkan kenyamanan, kejernihan berpikir, serta produktivitas.

Sementara itu, Ketua Pengembangan Sistem Informasi dan Aset YBW UII, Dr. Raden Bagus Fajriya Hakim, S.Si., M.Si. menekankan bahwa ia menekankan bahwa kegiatan menanam pohon bukan sekadar simbolis, melainkan komitmen jangka panjang yang membutuhkan perawatan dan konsistensi bersama.

“Menanam itu mudah, tetapi merawatnya membutuhkan komitmen bersama agar manfaatnya benar-benar dapat dirasakan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa aset yang dimiliki, termasuk lingkungan hijau, harus dikelola dengan baik agar tidak menjadi beban di kemudian hari. Oleh karena itu, seluruh pihak diharapkan dapat bersama-sama menjaga dan merawat tanaman yang telah ditanam.

Kegiatan ini diharapkan menjadi pengingat bahwa menjaga bumi bukan hanya tugas satu hari, melainkan komitmen berkelanjutan dari seluruh elemen masyarakat. Dengan aksi nyata seperti menanam pohon akasia, UII terus menanam harapan dan memperkuat akar kebaikan untuk masa depan bumi yang lebih lestari melalui Harmoni untuk Jejak Lestari. (MM/AHR/RS)

Jurusan Arsitektur Universitas Islam Indonesia (UII) selenggarakan Architect Universe Talk Series #1 pada Sabtu (18/4) di Auditorium Lantai 3 Gedung Mohammad Natsir Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) UII. Bertajuk “Diskusi Pendidikan Arsitektur, Profesi, dan Sertifikasi”, acara ini menjadi momen krusial yang mempertemukan para pemangku kebijakan tertinggi di dunia arsitektur nasional.

Diskusi ini menghadirkan Ketua Asosiasi Pendidikan Tinggi Arsitektur Indonesia (APTARI) Dr. Ar. Yulianto P. Prihatmaji, S.T., M.T., IPM, IAI., Koordinator Region 2 Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ar. Sugiarto, IAI., Ketua Dewan Arsitek Indonesia (DAI) Ar. Ahmad Saladin, IAI. serta Direktur Utama LSP Sertifikasi Arsitek Indonesia (SARSI) Ar. Pierre Albyn Pongai, S.T., M.T., IAI. dengan dipandu oleh moderator Dr. Ar. Ahmad Saifudin Mutaqi, Ir., MT., IAI., AA, GP.

Di tengah dinamisnya regulasi pendidikan profesi, masa depan karier seorang lulusan arsitektur seringkali dilingkupi kegamangan. Topik diskusi kali ini membedah integrasi antara dunia kampus dengan tuntutan industri, urgensi kepemilikan lisensi, hingga tantangan etika dalam praktik profesional. Forum ini sekaligus menjadi saksi sejarah berkumpulnya empat organisasi besar penentu nasib arsitek Indonesia untuk menyelaraskan langkah dari hulu hingga ke hilir.

Kegiatan dibuka dengan sambutan Prof. Ar. Noor Cholis Idham, S.T., M.Arch., Ph.D., IAI yang merupakan Ketua Jurusan Arsitektur UII. Dalam penyampaiannya, ia menekankan bahwa pertemuan ini bertujuan untuk memastikan kesejahteraan dan kekuatan profesi arsitek di masa depan. “Ini nampaknya menjadi sejarah pertama para penentu nasib arsitek Indonesia duduk bersama di tempat kita. Harapannya, arsitek Indonesia tidak lagi merana dan profesi kita semakin kuat karena sudah ada undang-undang serta institusi yang mengelolanya secara solid,” pungkasnya. Ia juga berharap diskusi ini mampu menjawab kegelisahan mahasiswa mengenai kelayakan menempuh jalur pendidikan panjang menuju gelar arsitek profesional.

Sesi diskusi berlangsung hangat dengan menyoroti berbagai isu, mulai dari sistem magang yang dinilai memakan waktu lama hingga fenomena pinjam-meminjam sertifikat untuk kebutuhan tender. Narasumber pertama, Dr. Ar. Yulianto P. Prihatmaji, menjelaskan bahwa integrasi pendidikan kini semakin matang, di mana lulusan Pendidikan Profesi Arsitek (PPAR) dibekali dengan berbagai dokumen regulasi yang lengkap. “Selain menamatkan pendidikan lima tahun, mahasiswa juga dibekali SKK Jenjang 7 sebagai asisten arsitek. Ini adalah ‘persenjataan’ yang harus diketahui calon arsitek agar siap terjun ke ekosistem profesi,” ujarnya.

Selanjutnya, Ar. Sugiarto menanggapi skeptisisme mahasiswa mengenai masa magang dua tahun yang sering dianggap menunda hak untuk berkarya mandiri. Menurutnya, magang adalah proses transfer etika yang tidak bisa digantikan hanya dengan teori di kelas. “Masa magang itu bukan masa untuk menunggu, melainkan batu uji untuk memastikan seorang arsitek benar-benar kompeten. Sebetulnya sarjana bisa langsung kerja, namun untuk disebut sebagai arsitek berlisensi, ada tanggung jawab publik yang harus dipenuhi melalui proses tersebut,” tegasnya. Ia juga memperingatkan bahwa praktik pinjam sertifikat adalah pelanggaran serius yang dapat merusak martabat profesi.

Sementara itu, Ar. Pierre Albyn Pongai dari LSP SARSI memaparkan bahwa skema sertifikasi saat ini telah dirancang untuk mengakomodasi berbagai kualifikasi kompetensi kerja secara transparan. Diskusi ini memberikan penegasan bahwa Surat Tanda Registrasi Arsitek (STRA) bukan sekadar urusan administratif, melainkan instrumen perlindungan bagi arsitek maupun masyarakat pengguna jasa. Sebagai penutup, diskusi ini menekankan bahwa perjalanan panjang menjadi arsitek berlisensi adalah bentuk kurasi kualitas demi menjaga standar kerja nasional yang bermartabat. Architect Universe Talk Series #1 ini merupakan awal dari rangkaian seri diskusi yang akan berlanjut di Jakarta, Makassar, hingga Labuan Bajo. (NKA/AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menerima mahasiswa inbound dalam program SEA-Teacher Program Batch 11 Gelombang Kedua, bekerja sama dengan Panpacific University di Gedung Kuliah Umum (GKU) Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII pada Jumat (17/04). Program ini diselenggarakan secara kolaboratif oleh Direktorat Kemitraan/Kantor Urusan Internasional (DK/KUI) dan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UII.

Sebanyak tiga mahasiswa dari Panpacific University, yaitu Dana Vinuya Caronongan, Janelle Magpali Fabros, dan Ashley Nicole Cabornay, akan mengikuti program praktik mengajar di Afkaaruna Islamic School selama kurang lebih satu bulan.

Kegiatan penyambutan (welcoming program) dilaksanakan pada hari ini dengan dihadiri oleh Direktur DK/KUI, Dian Sari Utami, Kepala Divisi Mobilitas Internasional, Nihlah Ilhami, beserta tim. Dari Prodi PBI UII turut hadir Ketua Prodi, Puji Rahayu, serta dosen pembimbing yang akan mendampingi mahasiswa selama program berlangsung yaitu Ista Maharsi dan Adam Anshori.

Rangkaian kegiatan penyambutan meliputi sesi pengenalan lingkungan UII dan kehidupan di Yogyakarta, komunikasi lintas budaya dan konteks budaya Jawa, pembelajaran dasar Bahasa Indonesia untuk kebutuhan sehari-hari dan pengajaran, sesi informasi settlement, serta tur kampus.

Melalui program ini, mahasiswa diharapkan dapat mengembangkan kompetensi pedagogik, memperkuat kemampuan komunikasi lintas budaya, serta memperoleh pengalaman internasional dalam dunia pendidikan. Bagi UII, program ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam memperkuat jejaring global dan mendukung internasionalisasi pendidikan tinggi. (NI/DS/AHR/RS)

Kita sering membayangkan arsitek sebagai sosok kreatif yang bebas. Imajinatif. Visioner. Bebas mengekspresikan gagasan. Dan memang, dunia arsitektur membutuhkan kebebasan. Tanpa kebebasan, tidak akan lahir bangunan yang melampaui zamannya. Tidak akan hadir ruang yang menginspirasi kehidupan.

 

Kebebasan tidak pernah sendirian

Tetapi, dalam praktiknya, kebebasan arsitek tidak pernah hidup sendirian.

Arsitek selalu hadir di tengah ekosistem yang ramai. Ada insinyur sipil yang memikirkan kekuatan struktur. Ada insinyur kelistrikan yang memastikan energi mengalir aman. Ada ahli proteksi kebakaran yang memikirkan keselamatan ketika bencana datang. Ada kontraktor yang harus menerjemahkan gambar menjadi kenyataan di lapangan. Ada pekerja konstruksi yang berdiri di bawah panas matahari untuk merealisasikan gagasan yang lahir di meja desain.

Karena itu, kebebasan dalam arsitektur sesungguhnya bukan monolog. Ia adalah dialog dan bahkan polilog, karena melibatkan banyak pihak. Di titik itulah empati menjadi sangat penting.

Empati dalam arsitektur sering dipahami hanya sebagai kemampuan memahami pengguna akhir: penghuni rumah, pengguna gedung, atau masyarakat kota. Padahal empati jauh lebih luas dari itu. Empati juga berarti memahami aktor lain dalam rantai panjang proses konstruksi. Memahami kesulitan kontraktor ketika detail terlalu rumit dibangun. Memahami risiko keselamatan ketika keputusan desain mengabaikan realitas lapangan. Memahami beban biaya, waktu, energi, dan bahkan tekanan psikologis yang mungkin muncul akibat keputusan yang dibuat dari balik meja komputer yang nyaman.

Empati mengubah desain dari sekadar ekspresi menjadi tanggung jawab.

 

BIM dan infrastruktur empati

Saudara mungkin menyadari, dalam beberapa dekade terakhir, dunia arsitektur juga berubah karena teknologi. Salah satu yang paling penting adalah Building Information Modeling atau BIM. Banyak orang melihat BIM hanya sebagai perangkat lunak atau model tiga dimensi yang lebih canggih. Tetapi sesungguhnya BIM membawa perubahan budaya kerja yang jauh lebih mendalam.

BIM membuat gagasan menjadi transparan. Semua disiplin dapat melihat implikasi keputusan desain sejak awal. Ketika satu elemen diubah, dampaknya terhadap struktur, biaya, energi, keselamatan, dan jadwal dapat langsung terlihat. Deteksi tumbukan (clash detection) dan simulasi kinerja, misalnya, bukan sekadar fitur teknis. Ia adalah mekanisme untuk memaksa kita lebih sadar bahwa keputusan kita memengaruhi orang lain.

Dalam bahasa yang lebih sederhana: BIM sedang mengajarkan empati secara operasional.

BIM mengurangi jarak antara desain dan konstruksi. Mengurangi kejutan di lapangan. Mengurangi konflik yang sebenarnya lahir bukan karena niat buruk, tetapi karena masing-masing disiplin bekerja dalam dunianya sendiri-sendiri.

Karena itu, saya melihat BIM bukan hanya infrastruktur digital, tetapi juga infrastruktur empati.

BIM membantu kolaborasi terjadi, tetapi tidak kehilangan kreativitas. Dalam BIM, kebebasan tidak dihilangkan. Justru diperkaya oleh masukan lintas disiplin. Seorang arsitek tetap bebas bermimpi, tetapi mimpinya diuji oleh realitas bersama. Di sini kedewasaan profesi diuji.

 

Merancang ruang, memuliakan manusia

Sebab kebebasan tanpa empati sering melahirkan karya yang elitis dan rapuh. Indah di gambar, tetapi menyulitkan di lapangan. Sebaliknya, empati tanpa kebebasan bisa membuat profesi kehilangan daya cipta dan keberanian.

Saudara harus menjaga keduanya sekaligus: kebebasan untuk membayangkan masa depan, dan empati untuk memastikan masa depan itu tetap manusiawi.

Di zaman hari ini, tantangan arsitek tidak semakin sederhana. Saudara akan hidup di tengah krisis lingkungan, kepadatan kota, ketimpangan sosial, perubahan iklim, dan percepatan teknologi. Dunia membutuhkan arsitek yang bukan hanya pandai mendesain bangunan, tetapi juga mampu membangun percakapan antardisiplin, menjaga sensitivitas sosial, dan merawat kemanusiaan di tengah dominasi teknologi.

Karena itu, jangan hanya menjadi arsitek yang piawai membuat bentuk. Jadilah arsitek yang juga mampu memahami akibat.

Jangan hanya membangun ruang yang mengagumkan mata. Bangun juga ruang yang memuliakan manusia.

 

Sambutan pada acara Sumpah Arsitek pada 18 April 2026.

Fathul Wahid

Rektor Universitas Islam Indonesia 2022-2026

Program Studi Profesi Arsitek (PPAr) Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menyelenggarakan  Wisuda Pendidikan Profesi Arsitek Angkatan ke-17. Sebanyak 30 arsitek baru berhasil menuntaskan proses pembelajaran selama 1 tahun dengan 21 arsitek berpredikat Cumlaude dan 9 arsitek berpredikat sangat memuaskan secara resmi diambil sumpah pada Sabtu (18/04) di Auditorium Gedung KH. Mohammad Natsir FTSP UII.

Dalam laporan kelulusan, Ketua PPAr UII, Dr. Ar. Yulianto Purwono Prihatmanji, ST., MT., IPM., IAI menyampaikan Wisuda periode ini juga menjadi momen penting karena untuk pertama kalinya para lulusan menggunakan gelar pendidikan profesi baru, yaitu P.Ars (Profesi Arsitektur), sesuai kebijakan nasional. Selain itu,  Mahasiswa PPAr UII belajar dengan beragam disiplin ilmu bersama para tenaga ahli dari bidang perancangan dengan kasus nyata hingga pengabdian masyarakat.

“Para lulusan tidak hanya menyelesaikan pendidikan secara akademik, tetapi juga telah terlibat dalam proyek riil bersama masyarakat, pemerintah, dan mitra profesional. Dengan bekal tersebut, kami optimis mereka siap berkontribusi sebagai arsitek profesional yang beretika dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat,” ungkap Ketua APTARI periode 2024-2027 ini.

Senada, Ketua UmumIkatan Arsitek Indonesia (IAI) menyampaikan bahwa lulusan Program Profesi Arsitek kini memiliki peluang lebih luas untuk mulai berpraktik melalui Sertifikat Kompetensi Kerja (SKK).

“Dengan adanya SKK  sebagai asisten arsitek, lulusan sudah dapat mulai berprofesi sambil melanjutkan tahapan menuju arsitek penuh,” jelasnya.

Sementara itu, Rektor UII, Fathul Wahid dalam sambutannya menekankan pentingnya peran arsitek dalam merancang tidak hanya bangunan, tetapi pengalaman dan interaksi manusia di dalamnya. Ia mengingatkan setiap desain harus mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk pengguna, lingkungan, serta pihak-pihak lain dalam rantai konstruksi.

“Arsitek memiliki kebebasan dalam merancang, tetapi kebebasan itu harus diimbangi dengan empati terhadap pengguna dan seluruh ekosistem konstruksi,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa desain arsitektur pada dasarnya menghadirkan “kemungkinan tindakan” bagi manusia. Oleh karena itu, lulusan diharapkan tidak hanya mengedepankan kreativitas, tetapi juga mampu menghadirkan solusi yang kontekstual, inklusif, dan berkelanjutan.

Tak kalah penting, Komisi Akreditasi Pengurus Asosiasi Pendidikan Tinggi Arsitektur Indonesia, Dr. Ir. Agus Dwi Hariyanto, S.T., M.Sc menekankan bahwa profesi arsitek tidak hanya menuntut kemampuan teknis dan akademik, tetapi juga integritas serta tanggung jawab sosial yang tinggi.

“Menjadi arsitek bukan hanya soal kemampuan desain, tetapi juga menjaga integritas, tanggung jawab sosial, dan menghadirkan karya yang berkelanjutan,” ungkapnya.

Wisuda profesi pendidikan arsitek ini diharapkan tidak hanya meluluskan arsitek-arsitek yang andal dalam keterampilan desain dan konstruksi. Tetapi mampu berperan aktif dalam mewujudkan pembangunan Indonesia yang humanis dan berkelanjutan. (AHR/RS)

Universitas Islam Indonesia (UII) terus berkomitmen dalam menguatkan jejaring kemitraan dengan berbagai perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Pada kesempatan kali ini, UII menerima kunjungan kerja sama dari Universitas Darunnajah pada Jumat (17/04) di Gedung Kuliah Umum (GKU) Prof. Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII.

Lawatan kerja sama ini menjadi bagian dari upaya kedua universitas dalam mengoptimalkan pengelolaan perguruan tinggi yang mencakup bidang tpenelitian, pengajaran, dan pengabdian masyarakat khususnya dalam penguatan manajemen pondok pesantren.

Rektor UII, Fathul Wahid, dalam sambutannya menyambut baik lawatan kerja sama ini sebagai upaya memperkuat silaturahmi antar lembaga pendidikan Islam.

“Kami meyakini bahwa sinergi antara perguruan tinggi dan pesantren adalah kunci dalam menjawab tantangan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman yang menjadi fondasi utama,” jelas Rektor UII.

Lebih lanjut, Fathul Wahid menegaskan bahwa UII selalu mendorong pendidikan yang tidak hanya berorientasi akademik, tetapi pembentukan karakter dan kepedulian sosial menjadi hal yang sangat penting, terlebih mahasiswa adalah bagian dari masyarakat.

“Mahasiswa tidak cukup hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga harus memiliki kepekaan sosial dan kemampuan berkontribusi di tengah masyarakat,” ujarnya.

Senada, Presiden Universitas Darunnajah, K.H. Hadiyanto Arief, S.H., M.Bs menyatakan bahwa kunjungan ini dilaksanakan dalam rangka mengadopsi praktik baik yang diterapkan oleh UII dalam pengelolaan pendidikan tinggi. Hadiyanto menambahkan bahwa Universitas Darunnajah yang baru berdiri tahun 2022 masih perlu banyak belajar serta menggali pengetahuan dari UII sebagai institusi yang telah lebih dahulu berkembang pesat.

“Kunjungan ini merupakan bagian dari ikhtiar kami untuk mencari pola pendidikan terbaik, khususnya dalam mengintegrasikan sistem pesantren dengan pendidikan tinggi,” kata Hariyanto.

Hadiyanto juga menilai bahwa UII menjadi salah satu contoh penting dalam pengembangan pendidikan Islam yang adaptif.“Tidak banyak institusi yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai pesantren dengan sistem perguruan tinggi secara optimal, dan UII menjadi salah satu rujukan bagi kami,” ungkapnya.

Selain itu, aspek pengelolaan pendidikan dan pengembangan berbasis nilai keislaman serta wakaf menjadi perhatian khusus dalam kunjungan ini. “Kami berharap silaturahmi ini dapat berlanjut menjadi kerja sama konkret yang memberikan manfaat bagi kedua institusi,” harapnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi kerja sama antara kedua universitas yang membahas peluang kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.. Lawatan ini diharapkan menjadi langkah strategis bagi UII dan Universitas Darunnajah untuk terus memperkuat kolaborasi dan meningkatkan semangat kerja sama akademik. (AHR/RS)

Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar seminar publik bertajuk “Media dan Polarisasi: Dinamika Informasi di Amerika Serikat” pada Rabu (15/4) di Auditorium Dr. Soekiman Wirjosandjojo, Gedung Fakultas Psikologi dan Fakultas Ilmu Sosial Budaya UII. Seminar ini menghadirkan Prof. Nurhaya Muchtar, profesor dari Department of Communications Media Indiana University of Pennsylvania, Amerika Serikat, sebagai pembicara utama.

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 09.30 WIB ini diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan rangkaian sambutan. Kepala Jurusan Ilmu Komunikasi UII, Iwan Awaluddin Yusuf, S.IP., Ph.D., dalam sambutannya menyoroti kompleksitas ekosistem informasi di era digital saat ini. Ia menegaskan bahwa perkembangan teknologi telah membawa tantangan baru dalam memverifikasi kebenaran informasi.

“Di era sekarang, di tengah kita membicarakan informasi, itu akan sangat rentan dengan berbagai macam penyimpangan, sekarang melihat informasi perang saja harus mempertanyakan ini AI atau bukan,” ujarnya.

Iwan juga memperkenalkan Program Studi Magister Ilmu Komunikasi UII sebagai ruang akademik yang berupaya merespons dinamika komunikasi kontemporer, termasuk fenomena disinformasi dan polarisasi media.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Sumber Daya Fakultas Ilmu Sosial Budaya UII, Irawan Jati, S.IP., M.Hum., M.SS., Ph.D. Ia menyoroti bagaimana media di Amerika Serikat tidak dapat dilepaskan dari kepentingan ideologis dan politik. Menurutnya, kondisi tersebut turut memperparah polarisasi di masyarakat.

“Kalau saya lihat secara sepintas misalnya, di Amerika itu kan media juga sangat partisan, bahkan sangat dipengaruhi oleh ideologi politik. Jadi ada media yang mainstream-nya itu ke demokrat, ada yang ke republik,” jelasnya.

Memasuki sesi utama, Prof. Nurhaya Muchtar memaparkan secara komprehensif sejarah dan perkembangan media di Amerika Serikat, serta kaitannya dengan fenomena polarisasi politik yang semakin tajam. Ia menjelaskan bahwa sejak awal, sistem media di Amerika didominasi oleh sektor swasta, berbeda dengan Indonesia yang memiliki media publik sebagai pelopor.

“Sejarah media Amerika itu identik dengan swasta, bukan negeri, jadi kalau misal kita ngomong ada TVRI dulu baru ada RCTI, kalau di Amerika enggak,” paparnya.

Lebih lanjut, Prof. Nurhaya menekankan bahwa perubahan lanskap media digital telah menggeser cara masyarakat mengonsumsi informasi. Jika sebelumnya media memiliki tanggung jawab untuk menyajikan dua sisi secara berimbang (cover both sides), kini beban tersebut berpindah ke audiens.

“Kalau dulu media yang memberikan cover both-side, sekarang kita yang harus nyari, masa sih begini, dicari, karena masalah echo chamber dan algoritma,” ungkapnya.

Fenomena echo chamber dan algoritma media sosial dinilai menjadi salah satu faktor utama yang memperkuat polarisasi. Pengguna cenderung hanya terpapar pada informasi yang sejalan dengan pandangan mereka, sehingga mempersempit ruang dialog dan memperkuat bias.

Dalam paparannya, Prof. Nurhaya juga membandingkan kondisi media pada masa pemilihan presiden Donald Trump, khususnya antara periode pertama dan kedua pencalonannya. Ia menilai terjadi pergeseran signifikan dalam pola konsumsi informasi, terutama di kalangan generasi muda.

“Saya melihat, terutama Gen Z di Amerika banyak yang nggak tahu yang mana benar yang mana enggak,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menggambarkan kekhawatiran akan rendahnya literasi media di tengah arus informasi yang semakin masif dan kompleks. Generasi muda, yang seharusnya menjadi agen perubahan, justru menghadapi tantangan besar dalam memilah informasi yang kredibel.

Seminar ini diakhiri dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Para peserta, yang terdiri dari mahasiswa dan akademisi, antusias mengajukan berbagai pertanyaan terkait polarisasi media, peran algoritma, hingga relevansi fenomena tersebut dengan konteks Indonesia.

Melalui kegiatan ini, Prodi Magister Ilmu Komunikasi UII berharap dapat membuka ruang diskusi kritis sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya literasi media di era digital. Polarisasi informasi, sebagaimana yang terjadi di Amerika Serikat, menjadi refleksi penting bagi masyarakat global, termasuk Indonesia, untuk lebih bijak dalam mengonsumsi dan memproduksi informasi.

Seminar ini tidak hanya menjadi ajang transfer pengetahuan, tetapi juga momentum refleksi bagi peserta untuk memahami bahwa di tengah derasnya arus informasi, kemampuan berpikir kritis menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas demokrasi. (MFPS/AHR/RS)

 

Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menunjukkan kiprahnya di kancah nasional dengan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Qatar Debate Indonesian Chapter 2026. Kegiatan ini berlangsung selama empat hari, mulai Jumat (10/4) hingga Senin (13/4), bertempat di Auditorium Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI), Kampus Terpadu UII, Jalan Kaliurang Km 14,5.

Acara ini diselenggarakan oleh El-Markazi, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) UII yang berfokus pada pengembangan minat dan bakat mahasiswa dalam bidang keislaman serta bahasa Arab. Penyelenggaraan ini sekaligus menjadi bentuk kepercayaan dari Qatar Debate kepada UII untuk menjadi tuan rumah seleksi delegasi Indonesia yang akan berlaga di ajang debat internasional di Qatar.

Ketua pelaksana kegiatan, Asiyah Azzahra, menjelaskan bahwa kompetisi ini bukan sekadar ajang lomba debat biasa, melainkan bagian dari proses seleksi nasional yang prestisius. “Lomba ini diselenggarakan di bawah naungan El-Markazi atas nama Qatar Debate Indonesia Chapter, yang mana ini adalah sebuah acara yang nantinya akan mendelegasikan Indonesia di Qatar Debate di tahun ini,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan bahwa antusiasme peserta cukup tinggi. Tercatat sekitar 50 peserta dari 15 universitas di seluruh Indonesia turut ambil bagian dalam kompetisi ini. “Sekitar ada 50 peserta dari 15 universitas yang ada di seluruh Indonesia,” tambahnya.

Rangkaian kegiatan dimulai pada Jumat malam dengan workshop debat yang bertujuan membekali peserta dengan pemahaman dan strategi dalam berargumentasi secara kritis dan sistematis. Kegiatan ini menjadi fondasi penting sebelum memasuki kompetisi utama.

Memasuki hari kedua, acara dilanjutkan dengan opening ceremony yang berlangsung khidmat sekaligus meriah. Setelah itu, kompetisi resmi dimulai dengan babak penyisihan yang dilaksanakan selama dua hari, yakni Sabtu dan Minggu. Para peserta saling beradu argumen dalam bahasa Arab dengan berbagai mosi yang menuntut ketajaman berpikir, kemampuan analisis, serta keterampilan komunikasi yang baik.

Puncak acara berlangsung pada hari Senin dengan digelarnya babak semifinal dan final. Pada babak semifinal, Universitas Islam Indonesia harus berhadapan dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sementara Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor bertemu dengan Universitas Trunojoyo Madura. Kedua pertandingan berlangsung sengit dengan masing-masing tim menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Hasilnya, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UNIDA Gontor berhasil melaju ke babak final setelah mengalahkan lawan-lawannya di semifinal. Sementara itu, Universitas Trunojoyo Madura dan Universitas Islam Indonesia harus puas bertanding untuk memperebutkan posisi ketiga dan keempat.

Pada babak final, persaingan antara UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UNIDA Gontor berlangsung ketat. Kedua tim menampilkan performa yang solid dengan argumentasi yang kuat serta penguasaan bahasa Arab yang mumpuni. Namun, pada akhirnya UNIDA Gontor berhasil keluar sebagai juara pertama setelah unggul dalam penyampaian argumen dan strategi debat.

Dengan hasil tersebut, UNIDA Gontor menempati posisi juara pertama, disusul oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai juara kedua. Posisi ketiga diraih oleh Universitas Trunojoyo Madura, sementara tuan rumah Universitas Islam Indonesia menempati posisi keempat.

Asiyah juga menegaskan bahwa kepercayaan yang diberikan kepada UII menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus tanggung jawab besar. “Jadi, UII diberikan amanah dari Qatar Debate di Qatar untuk menjadi tuan rumah untuk penyelenggaraan Qatar Debate delegasi Indonesia untuk Qatar Debate,” jelasnya.

Lebih dari sekadar kompetisi, kegiatan ini menjadi wadah pengembangan kemampuan intelektual dan komunikasi mahasiswa, khususnya dalam bidang debat berbahasa Arab. Selain itu, ajang ini juga memperkuat jaringan antar mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia serta membuka peluang untuk tampil di tingkat internasional.

Dengan terselenggaranya Qatar Debate Indonesian Chapter 2026, diharapkan lahir delegasi-delegasi terbaik yang mampu membawa nama Indonesia di kancah global. UII melalui El-Markazi pun berhasil membuktikan kapasitasnya sebagai tuan rumah yang mampu menyelenggarakan ajang nasional dengan standar internasional. (MFPS/AHR/RS)