Ketika menyiapkan sambutan ini, saya berpikir cukup keras. Saya teringat sebuah lembaga di Jakarta yang meminta izin untuk memasukkan salah satu tulisan ringan saya sebagai pembuka buku yang akan diterbitkan. Utusan lembaga ini pernah menemui saya dan memberi hadiah beberapa buku setelah menyimak sambutan wisuda saya secara daring. Pada saat itu, saya membahas tentang topik menjadi minat mereka.
Terkait dengan sambutan kali ini, saya akhirnya mengetikkan sebuah kata kunci dalam bahasa Inggris, di layanan portal buku langganan saya (Perlego.com). Pencarian dengan kata kunci tersebut menemukan 1.356 judul buku, sebagian dalam bahasa Inggris. Ah, ternyata selama ini saya menganggap remeh topik ini. Sehingga tidak mengherankan jika sebuah lembaga unik di Jakarta mempunyai koleksi ribuan buku tentang humor.
Penasaran dengan kata kuncinya? Kata kuncinya adalah “humor” (dan “humour” untuk ejaan Inggris Amerika). Apa itu humor? Kamus Merriam-Webster mendefinisikannya sebagai kemampuan mental untuk menemukan, mengungkapkan, atau menghargai hal-hal yang menggelikan atau tidak masuk akal.
Humor serius
Di Stanford Graduate School of Business, humor menjadi salah satu mata kuliah resmi, dengan nama “Humor: Seriuos Business”. Pengajarnya tiga orang: dua perempuan dan satu laki-laki. Kedua dosen perempuan tersebut menulis juga sebuah buku yang berjudul Humor, Seriously, yang isi bukunya menjadi bagian silabus mata kuliah yang mereka ajar. Kedua perempuan tersebut adalah Profesor Jennifer Aaker dan Dr. Naomi Bagdonas.
Mata kuliah ini menghadirkan banyak pemimpin perusahaan maju, penulis, dan bahkan laksamana angkatan laut, sebagai pembicara tamu. Mereka berbicara banyak hal, termasuk bagaimana memimpin dengan humor.
Hasil pencarian saya untuk menjawab rasa ingin tahu menemukan banyak kejutan. Apa yang akan saya sampaikan ini merupakan sebagian hasil pencarian personal saya.
Beragam riset ilmiah telah dikembangkan memberikan perhatian kepada topik humor. Pencarian di Google Scholar dengan kata kunci humor (dan humour) menemukan lebih dari 3,9 juta artikel ilmiah atau buku.
Bahkan saya temukan sebuah jurnal ilmiah berjudul Humor: International Journal of Humor Research yang diterbitkan oleh lembaga ternama De Gruyter Brill yang sudah menerbitkan riset ilmiah selama lebih dari 300 tahun.
Apa manfaat humor? Banyak sekali[1]. Di dunia kerja, riset menemukan bahwa humor meningkatkan kesejahteraan, kreativitas, kepuasan kerja, dan kinerja. Pada sisi individu, humor dapat melawan emosi negatif dan membantu dalam menoleransi kepedihan, selain juga membantu menangkal stres. Dalam kerja tim, humor akan meningkatkan komunikasi kelompok, efektivitas dan kohesi yang mengurangi konflik.
Peran humor
Secara metaforis, paling tidak terdapat dua peran humor dalam konteks interaksi dengan sesama, termasuk di dunia kerja, yaitu sebagai “tangga” dan “jembatan”.
Humor dapat dianggap sebagai “tangga”, alat bantu meningkatkan “kuasa”. Humor dapat meningkatkan status individu karena dipersepsikan mempunyai kompetensi dan rasa percaya diri (Bitterly et al., 2017). Ketika menghadapi masalah, individu dengan skor humor tinggi cenderung melihatnya sebagai tantangan, sedangkan yang skor humornya rendah, menganggapnya sebagai ancaman (Kuiper et al., 1993).
Ternyata, humor juga meningkatkan memori atau daya ingat (Bains et al., 2014). Temuan riset ini mengingatkan kepada saya, Indonesia pernah mempunyai presiden, seorang demokrat sejati, yang sangat humoris: Gus Dur. Beliau dapat mengingat ribuan nomor telepon. Memori yang sangat luar biasa.
Humor juga dapat memainkan peran sebagai “jembatan” untuk menjalin kedekatan. Humor memudahkan kita membuat koneksi dan meningkatkan hubungan (Bazzini et al., 2007), dan membantu orang asing atau kolega merasa lebih dekat (Fraley & Aron, 2024).
Humor juga ternyata dapat meningkatkan ketahanan terhadap stres baik sebagai individu maupun tim, dan membentengi dari aspek negatifnya (Keltner & Bonanno, 1997). Studi terhadap individu yang kehilangan pasangan dan mengenang cerita lucu merasa membaik secara lebih cepat serta menunjukkan berkurangnya stres, peningkatan kegembiraan tentang hidup, dan hubungan yang lebih baik.
Tentu, masih banyak peran humor dalam kehidupan, termasuk di tempat kerja, aktivitas sosial, di ruang kelas, maupun dalam kehidupan bernegara. Tentu di sana ada kepatutan (permissibility) yang harus diperhatikan. Kepatutan humor tergantung pada empat hal: muatannya, pelakunya, audiensnya, dan juga konteksnya (Wilk & Gimbel, 2024).
Ada banyak isu dan strategi lain dalam mengembangkan humor yang tampaknya waktu yang ada tidak cukup untuk menyampaikannya. Humor dalam bentuk komedi dapat menjadi koreksi sosial, karena ia menyingkap kebodohan dan kejahatan menjadi bahan tertawaan dan ejekan (Larkin-Galiñanes, 2017).
Terkait dengan ini, kita masih ingat, pada Juni 2024, Paus Fransiskus mengundang 100 komika dari 15 negara ke Vatikan. Bagi Paus, komedi dapat membantu menciptakan dunia yang lebih berempati dan saling mendukung. Selain itu, Paus mengakui bahwa komika sering menggunakan lawakan mereka untuk mengkritik kebijakan publik dan isu-isu sosial.
Kita simpan diskusi lanjutannya untuk kesempatan lain.
Referensi
Bains, G. S., Berk, L. S., Daher, N., Lohman, E., Schwab, E., Petrofsky, J., & Deshpande, P. (2014). The effect of humor on short-term memory in older adults: A new component for whole-person wellness. Advances in Mind-Body Medicine, 28(2), 16-24.
Bazzini, D. G., Stack, E. R., Martincin, P. D., & Davis, C. P. (2007). The effect of reminiscing about laughter on relationship satisfaction. Motivation and Emotion, 31(1), 25-34.
Bitterly, T. B., Brooks, A. W., & Schweitzer, M. E. (2017). Risky business: When humor increases and decreases status. Journal of Personality and Social Psychology, 112(3), 431-455.
Fraley, B., & Aron, A. (2004). The effect of a shared humorous experience on closeness in initial encounters. Personal Relationships, 11(1), 61-78.
Keltner, D., & Bonanno, G. A. (1997). A study of laughter and dissociation: distinct correlates of laughter and smiling during bereavement. Journal of Personality and Social Psychology, 73(4), 687-702.
Kuiper, N. A., Martin, R. A., & Olinger, L. J. (1993). Coping humour, stress, and cognitive appraisals. Canadian Journal of Behavioural Science, 25(1), 81-96.
Larkin-Galiñanes, C. (2017). An overview of humor theory. Dalam S. Attardo (ed.). The Routledge Handbook of Language and Humor (4-16).
Rosling, H., Rosling, O., & Rönnlund, A. R. (2018). Factfulness: Ten Reasons we’re Wrong about the World–and Why Things are Better than You Think. Flatiron books.
Wilk, T., & Gimbel, S. (2024). In on the Joke: the Ethics of Humor and Comedy. De Gruyter.
Sambuan pada acara wisuda Universitas Islam Indonesia pada 26 April 2025
Fathul Wahid
Rektor Universitas Islam Indonesia 2022-2026
[1] Hasil beragam riset dirangkum di https://web.stanford.edu/dept/gsb-ds/Inkling/Leading_with_Humor/index.html. Beberapa bagian lain sambutan ini didasarkan pada informasi di laman ini.
Sisi Serius Humor
Ketika menyiapkan sambutan ini, saya berpikir cukup keras. Saya teringat sebuah lembaga di Jakarta yang meminta izin untuk memasukkan salah satu tulisan ringan saya sebagai pembuka buku yang akan diterbitkan. Utusan lembaga ini pernah menemui saya dan memberi hadiah beberapa buku setelah menyimak sambutan wisuda saya secara daring. Pada saat itu, saya membahas tentang topik menjadi minat mereka.
Terkait dengan sambutan kali ini, saya akhirnya mengetikkan sebuah kata kunci dalam bahasa Inggris, di layanan portal buku langganan saya (Perlego.com). Pencarian dengan kata kunci tersebut menemukan 1.356 judul buku, sebagian dalam bahasa Inggris. Ah, ternyata selama ini saya menganggap remeh topik ini. Sehingga tidak mengherankan jika sebuah lembaga unik di Jakarta mempunyai koleksi ribuan buku tentang humor.
Penasaran dengan kata kuncinya? Kata kuncinya adalah “humor” (dan “humour” untuk ejaan Inggris Amerika). Apa itu humor? Kamus Merriam-Webster mendefinisikannya sebagai kemampuan mental untuk menemukan, mengungkapkan, atau menghargai hal-hal yang menggelikan atau tidak masuk akal.
Humor serius
Di Stanford Graduate School of Business, humor menjadi salah satu mata kuliah resmi, dengan nama “Humor: Seriuos Business”. Pengajarnya tiga orang: dua perempuan dan satu laki-laki. Kedua dosen perempuan tersebut menulis juga sebuah buku yang berjudul Humor, Seriously, yang isi bukunya menjadi bagian silabus mata kuliah yang mereka ajar. Kedua perempuan tersebut adalah Profesor Jennifer Aaker dan Dr. Naomi Bagdonas.
Mata kuliah ini menghadirkan banyak pemimpin perusahaan maju, penulis, dan bahkan laksamana angkatan laut, sebagai pembicara tamu. Mereka berbicara banyak hal, termasuk bagaimana memimpin dengan humor.
Hasil pencarian saya untuk menjawab rasa ingin tahu menemukan banyak kejutan. Apa yang akan saya sampaikan ini merupakan sebagian hasil pencarian personal saya.
Beragam riset ilmiah telah dikembangkan memberikan perhatian kepada topik humor. Pencarian di Google Scholar dengan kata kunci humor (dan humour) menemukan lebih dari 3,9 juta artikel ilmiah atau buku.
Bahkan saya temukan sebuah jurnal ilmiah berjudul Humor: International Journal of Humor Research yang diterbitkan oleh lembaga ternama De Gruyter Brill yang sudah menerbitkan riset ilmiah selama lebih dari 300 tahun.
Apa manfaat humor? Banyak sekali[1]. Di dunia kerja, riset menemukan bahwa humor meningkatkan kesejahteraan, kreativitas, kepuasan kerja, dan kinerja. Pada sisi individu, humor dapat melawan emosi negatif dan membantu dalam menoleransi kepedihan, selain juga membantu menangkal stres. Dalam kerja tim, humor akan meningkatkan komunikasi kelompok, efektivitas dan kohesi yang mengurangi konflik.
Peran humor
Secara metaforis, paling tidak terdapat dua peran humor dalam konteks interaksi dengan sesama, termasuk di dunia kerja, yaitu sebagai “tangga” dan “jembatan”.
Humor dapat dianggap sebagai “tangga”, alat bantu meningkatkan “kuasa”. Humor dapat meningkatkan status individu karena dipersepsikan mempunyai kompetensi dan rasa percaya diri (Bitterly et al., 2017). Ketika menghadapi masalah, individu dengan skor humor tinggi cenderung melihatnya sebagai tantangan, sedangkan yang skor humornya rendah, menganggapnya sebagai ancaman (Kuiper et al., 1993).
Ternyata, humor juga meningkatkan memori atau daya ingat (Bains et al., 2014). Temuan riset ini mengingatkan kepada saya, Indonesia pernah mempunyai presiden, seorang demokrat sejati, yang sangat humoris: Gus Dur. Beliau dapat mengingat ribuan nomor telepon. Memori yang sangat luar biasa.
Humor juga dapat memainkan peran sebagai “jembatan” untuk menjalin kedekatan. Humor memudahkan kita membuat koneksi dan meningkatkan hubungan (Bazzini et al., 2007), dan membantu orang asing atau kolega merasa lebih dekat (Fraley & Aron, 2024).
Humor juga ternyata dapat meningkatkan ketahanan terhadap stres baik sebagai individu maupun tim, dan membentengi dari aspek negatifnya (Keltner & Bonanno, 1997). Studi terhadap individu yang kehilangan pasangan dan mengenang cerita lucu merasa membaik secara lebih cepat serta menunjukkan berkurangnya stres, peningkatan kegembiraan tentang hidup, dan hubungan yang lebih baik.
Tentu, masih banyak peran humor dalam kehidupan, termasuk di tempat kerja, aktivitas sosial, di ruang kelas, maupun dalam kehidupan bernegara. Tentu di sana ada kepatutan (permissibility) yang harus diperhatikan. Kepatutan humor tergantung pada empat hal: muatannya, pelakunya, audiensnya, dan juga konteksnya (Wilk & Gimbel, 2024).
Ada banyak isu dan strategi lain dalam mengembangkan humor yang tampaknya waktu yang ada tidak cukup untuk menyampaikannya. Humor dalam bentuk komedi dapat menjadi koreksi sosial, karena ia menyingkap kebodohan dan kejahatan menjadi bahan tertawaan dan ejekan (Larkin-Galiñanes, 2017).
Terkait dengan ini, kita masih ingat, pada Juni 2024, Paus Fransiskus mengundang 100 komika dari 15 negara ke Vatikan. Bagi Paus, komedi dapat membantu menciptakan dunia yang lebih berempati dan saling mendukung. Selain itu, Paus mengakui bahwa komika sering menggunakan lawakan mereka untuk mengkritik kebijakan publik dan isu-isu sosial.
Kita simpan diskusi lanjutannya untuk kesempatan lain.
Referensi
Bains, G. S., Berk, L. S., Daher, N., Lohman, E., Schwab, E., Petrofsky, J., & Deshpande, P. (2014). The effect of humor on short-term memory in older adults: A new component for whole-person wellness. Advances in Mind-Body Medicine, 28(2), 16-24.
Bazzini, D. G., Stack, E. R., Martincin, P. D., & Davis, C. P. (2007). The effect of reminiscing about laughter on relationship satisfaction. Motivation and Emotion, 31(1), 25-34.
Bitterly, T. B., Brooks, A. W., & Schweitzer, M. E. (2017). Risky business: When humor increases and decreases status. Journal of Personality and Social Psychology, 112(3), 431-455.
Fraley, B., & Aron, A. (2004). The effect of a shared humorous experience on closeness in initial encounters. Personal Relationships, 11(1), 61-78.
Keltner, D., & Bonanno, G. A. (1997). A study of laughter and dissociation: distinct correlates of laughter and smiling during bereavement. Journal of Personality and Social Psychology, 73(4), 687-702.
Kuiper, N. A., Martin, R. A., & Olinger, L. J. (1993). Coping humour, stress, and cognitive appraisals. Canadian Journal of Behavioural Science, 25(1), 81-96.
Larkin-Galiñanes, C. (2017). An overview of humor theory. Dalam S. Attardo (ed.). The Routledge Handbook of Language and Humor (4-16).
Rosling, H., Rosling, O., & Rönnlund, A. R. (2018). Factfulness: Ten Reasons we’re Wrong about the World–and Why Things are Better than You Think. Flatiron books.
Wilk, T., & Gimbel, S. (2024). In on the Joke: the Ethics of Humor and Comedy. De Gruyter.
Sambuan pada acara wisuda Universitas Islam Indonesia pada 26 April 2025
Fathul Wahid
Rektor Universitas Islam Indonesia 2022-2026
[1] Hasil beragam riset dirangkum di https://web.stanford.edu/dept/gsb-ds/Inkling/Leading_with_Humor/index.html. Beberapa bagian lain sambutan ini didasarkan pada informasi di laman ini.
Manfaatkan Kecerdasan Buatan, Teknik Industri UII Gelar Webinar Pengelolaan Suku Cadang Berbasis Machine Learning
Program Studi Magister Teknik Industri Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan webinar bertajuk Informed Decision Making on Prediction of Spare Parts Requirements Based-on Machine Learning Approach pada Jumat (25/4). Acara ini digelar secara daring melalui Zoom Meeting dan menghadirkan Ketua Prodi Magister Teknik Industri, Ir. Winda Nur Cahyo, S.T., M.T., Ph.D., IPM sebagai pembicara utama.
Webinar ini merupakan agenda rutin bulanan yang bertujuan memperluas wawasan mahasiswa dan praktisi industri mengenai penerapan teknologi mutakhir dalam pengelolaan industri. Kali ini, fokus pembahasan diarahkan pada pengambilan keputusan yang tepat dalam merencanakan kebutuhan suku cadang menggunakan pendekatan machine learning.
Dalam pemaparannya, Ir. Winda menjelaskan bahwa pengelolaan aset di era industri modern tidak hanya sekadar menjaga kondisi fisik mesin atau alat, melainkan melibatkan proses strategis yang mempertimbangkan keseimbangan antara biaya, risiko, peluang, dan performa. Ia mengacu pada standar internasional ISO 55000 dan menegaskan bahwa manajemen aset melibatkan penyeimbangan antara biaya, peluang, dan risiko terhadap performa yang diharapkan dari suatu aset, demi mencapai tujuan organisasi.
Lebih lanjut, Ir. Winda menjelaskan bahwa Teknik Industri memiliki peran strategis dalam mewujudkan pengelolaan aset yang terintegrasi. Disiplin ini berfokus pada perancangan, perbaikan, dan instalasi sistem yang melibatkan manusia, teknologi, informasi, serta sumber daya lainnya.
Teknik Industri berkaitan dengan perancangan, peningkatan, dan pemasangan sistem terintegrasi yang terdiri dari manusia, material, informasi, peralatan, dan energi untuk merancang, memprediksi, dan mengevaluasi hasil dari sistem tersebut,” ujarnya.
Salah satu implementasi nyata dari pendekatan Teknik Industri dan manajemen aset adalah penerapan sistem rantai pasok (enterprise system). Dalam konteks ini, pengelolaan aliran barang dan informasi dari bahan baku hingga ke konsumen menjadi sangat penting untuk menciptakan efisiensi dan nilai tambah organisasi.
“Sistem enterprise melibatkan integrasi elemen-elemen dalam rantai pasok — dari pemasok bahan baku, manufaktur, distribusi, hingga ke ritel dan konsumen — melalui logistik dan koordinasi permintaan,” ungkapnya.
Dengan pendekatan yang sistematis dan berbasis data, perusahaan dapat memprediksi kebutuhan suku cadang dengan lebih akurat, meminimalkan risiko gangguan operasional, dan meningkatkan efisiensi secara keseluruhan. Teknologi machine learning menjadi kunci penting dalam proses ini.
Antusiasme peserta dari kalangan mahasiswa, dosen, hingga praktisi industri menunjukkan besarnya minat terhadap penerapan teknologi dalam pengambilan keputusan industri. Webinar ini sekaligus menegaskan pentingnya integrasi antara teknologi, manusia, dan sistem dalam menjawab tantangan dunia industri yang semakin dinamis. (IMK/AHR/RS)
FORPIMAWA DIY Laksanakan Syawalan di UII, Dorong Kolaborasi Antar Perguruan Tinggi dalam Masa Efisiensi
Bertepatan dengan silaturahmi bulan Syawal, Forum Pimpinan Perguruan Tinggi Bidang Kemahasiswaan (FORPIMAWA) Daerah Istimewa Yogyakarta menekankan pentingnya kolaborasi antar perguruan tinggi di masa efisiensi pemerintahan Prabowo-Gibran. Kegiatan ini dilaksanakan di Auditorium lantai Fakultas Ilmu Agama Islam, Kampus terpadu UII, pada (24/04) . Turut hadir dalam acara ini puluhan pimpinan bidang kemahasiswaan dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Keagamaan & Alumni UII, Dr. Drs. Rohidin, S.H., M.Ag. dalam sambutannya menuturkan bahwa keadaan politik, ekonomi, kesehatan hingga pendidikan negara pada tahun ini dalam keadaan yang mengecewakan. Di bidang hukum, sebagai akademisi, ia mengaku prihatin terhadap kasus korupsi yang menyeret beberapa hakim di pengadilan negeri Jakarta Pusat. “Padahal uangnya tidak seberapa, ya, kecil dibandingkan dengan kasus-kasus korupsi lainnya, dan taruhannya nama baik,” ungkap Dr. Rohidin.
“Ini merupakan situasi yang sangat sulit bagi kita. Kita mempunyai hutang yang jatuh tempo di tahun ini. Ditambah lagi dengan pajak Amerika dan China,” lanjutnya. Dr. Rohidin menuturkan bahwa geliat ekonomi negara menurun akibat kebijakan efisiensi pemerintah. Pemangkasan ini juga membuat anggaran pokok, seperti kebutuhan penerangan untuk universitas-universitas negeri yang ada di Yogyakarta turun lebih dari 75%.
“Universitas Islam indonesia juga terdampak dengan kondisi seperti ini, karena harusnya sampai bulan-bulan April-Mei itu sudah memenuhi kuota sekitar 50%, hanya 30% saja. Ini sungguh, sangat mengkhawatirkan. Karena perguruan tinggi swasta, basis anggarannya diperoleh dari mahasiswa.” jelasnya.
Dr. Rohidin menilai bahwa ketidak terpenuhan ini merupakan efek domino dari berbagai perusahaan dalam negeri yang mangkrak, meninggalkan banyak sekali karyawan menganggur dan daya beli penduduk menurun. “Oleh sebab itu, bergandengan nampaknya, kolaborasi namanya itu sangat diperlukan dan sebagai sebuah keniscayaan,” ujar Dr. Rohidin.
Dalam sesi sambutan berikutnya, Ketua FORPIMAWA DIY, Dr. Gatot Sugiharto, S.H., M.H., menanggapi hal senada. “Pesan Pak Menteri pada saat audiensi kemaren, bapak dan ibu, kita sekarang harus bisa kreatif dalam suasana seperti ini, kondisi efisiensi ini. Maka diharapkan, kita, masing-masing perguruan tinggi bisa menggandeng sponsor-sponsor yang menjadi mitra. Tapi masalahnya mitra-mitra kita juga sekarang sedang ramai mendengungkan efisiensi.”
“Di masa efisiensi ini nanti akan banyak lomba, yang biasa itu dibawah BELMAWA dan PUSPRESNAS, dengan efisiensi ini dari 18 sampai 23 kompetisi yang diselenggarakan oleh kementrian itu nanti akan ada bahasanya adalah penyesuaian-penyesuaian.” Jelas Dr. Gatot.
Tiga kompetisi yang diluncurkan diantaranya adalah PPK ORMAWA, PKM dan P2MW. Dr. Gatot menyebutkan bahwa kuota penerimaan proposal pada ketiga kegiatan tersebut telah dibatasi dan mahasiswa perlu mencurahkan kreativitas yang lebih ekstra.
Masa efisiensi menurutnya menjadi tantangan bagi tiap-tiap institusi untuk mencetak alumni yang siap bersaing di dunia kerja. Untuk membahas dan menindaklanjuti permasalahan ini, ia mengajak para pimpinan kemahasiswaan masing-masing perguruan tinggi untuk dapat hadir dalam agenda REMBUGNAS FORPIMAWA pusat di Balikpapan. Kegiatan kemudian dilanjutkan oleh tausiyah oleh Wakil Dekan Bidang Sumber Daya FIAI UII, Dr. Nur Kholis S. Ag., M.Sh.Ec. dan sesi sarasehan bersama ketua FORPIMAWA serta perwakilan LLDIKTI wilayah V. (MNDH/AHR/RS)
Tinjauan Manajemen Sistem Penjaminan Mutu Universitas Islam Indonesia 2025
Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan Rapat Tinjauan Manajemen Sistem Penjaminan Mutu Universitas (RTM SPMU) pada Kamis (24/04) di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Monitoring dan Evaluasi (MONEV) Proses Pembelajaran Semester Genap 2023/2024 dan Semester Ganjil 2024/2025.
Wakil Rektor Bidang Pengembangan Akademik & Riset, Prof. Dr. Jaka Nugraha, S.Si., M.Si.dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran pimpinan universitas, fakultas, program studi, serta tim Badan Penjaminan Mutu (BPM) UII yang telah mempersiapkan proses MONEV sejak Februari. “Beberapa hal yang sifatnya perulangan di tahun-tahun sebelumnya perlu menjadi perhatian bersama. Kita cari solusi bareng, akar masalahnya ada di mana, supaya proses pembelajaran bisa terus diperbaiki,” ujarnya.
Rapat ini membahas sejumlah hal penting, mulai dari evaluasi kinerja unit, capaian sasaran dan standar mutu, tindak lanjut rekomendasi RTM sebelumnya, hingga hasil monitoring implementasi sistem penjaminan mutu di lingkungan UII.
Hasil MONEV disampaikan langsung oleh Rektor UII, Fathul Wahid, menyangkut seluruh jenjang dan program studi di lingkungan universitas. Dalam pemaparannya, Fathul menyoroti empat poin penting yang menjadi perhatian dalam evaluasi. Pertama, terkait persentase jumlah pendaftar, khususnya pada program sarjana yang masih menjadi salah satu indikator utama dalam beberapa akreditasi.
Kedua, tingkat kelulusan mahasiswa tepat waktu sesuai masa tempuh kurikulum yang dalam instrumen penilaian dikenal sebagai persentase mahasiswa angkatan TS-4 yang sudah lulus. Ketiga, ketepatan waktu penyerahan nilai oleh dosen. Meskipun karakteristik masing-masing program studi berbeda, hingga saat ini hanya satu program studi yang berhasil mencapai target penuh. Keempat, tingkat kehadiran dosen yang juga menjadi aspek penting dalam menjaga mutu pembelajaran.
Usai penyampaian hasil MONEV, rapat dilanjutkan dengan sesi diskusi untuk membahas berbagai rekomendasi tindak perbaikan. Dalam sesi ini, peserta rapat menyampaikan keluhan serta saran secara langsung terkait kendala yang dihadapi di masing-masing unit. Hasil diskusi tersebut nantinya akan dirumuskan dalam Surat Keputusan (SK) Rektor yang bersifat mengikat dan menjadi acuan bagi auditor internal untuk ditindaklanjuti pada periode pembelajaran dan tahun ajaran berikutnya.
Salah satu poin yang disorot dalam diskusi disampaikan oleh Ketua Program Studi Manajemen Program Sarjana, Abdur Rafik, S.E., M.Sc yang menyampaikan tantangan teknis terkait realisasi aktivitas pembelajaran. Selama ini, verifikasi realisasi aktivitas dalam Rencana Pembelajaran Semester (RPS) hanya dilakukan oleh kaprodi dan sekprodi, yang dirasa cukup berat mengingat jumlah kelas yang harus diverifikasi mencapai lebih dari 300 kelas per semester. “Artinya, dalam satu minggu, kami harus memverifikasi sekitar 300 kelas yang aktif. Ini kami jalankan terus, namun mungkin perlu ada diskresi atau delegasi wewenang kepada satu orang lagi untuk membantu proses verifikasi ini,” ungkapnya.
Rapat ditutup dengan beberapa hal yang disepakati untuk terus meningkatkan koordinasi dan efektivitas pelaksanaan MONEV di lingkungan UII demi mendukung pencapaian standar mutu universitas. (MANF/AHR/RS)
UII Tingkatkan Kolaborasi Global Lewat Promo Tour ke Pakistan
Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menunjukkan komitmennya dalam penguatan internasionalisasi melalui pelaksanaan kegiatan Promo Tour ke Pakistan pada 13–19 April 2025. Kegiatan ini difokuskan di wilayah Islamabad untuk memperluas jejaring akademik serta menjangkau calon mahasiswa internasional. Read more
Tanam Pohon untuk Bumi Lestari
Sebagai rangkaian kegiatan dalam memperingati Milad ke-82 dan Hari Bumi Sedunia, Universitas Islam Indonesia (UII) mengadakan kegiatan Aksi Hijau : Tanam Pohon untuk Bumi Lestari pada Selasa (22/04) di Taman Sisi Barat Gedung GBPH Prabuningrat Rektorat UII. Kegiatan ini diwujudkan dengan menanam sebanyak tiga pohon kepel setinggi empat meter yang diwakili oleh Sekretaris Yayasan Badan Wakaf (YBW) UII, Rektor UII, dan Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) UII sebagai bentuk kesadaran kolektif sivitas akademika UII dalam membangun kesadaran kolektif untuk merawat dan melestarikan bumi.
Dekan FTSP UII, Prof.Ar.Dr.-Ing.Ir. Ilya Fadjar Maharika, M.A., IAI mengatakan bahwa penanaman pohon kepel bukan hanya simbol kepedulian terhadap lingkungan, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap kekayaan flora lokal Indonesia dan nilai-nilai spiritual yang menyertainya.
“Pemilihan pohon kepel tidak hanya berdasarkan nilai konservasinya, tetapi juga karena makna simbolik yang dikandungnya. Secara etimologis, kata “kepel” berkaitan dengan istilah Arab “kafala” yang bermakna mencukupi, merepresentasikan prinsip tanggung jawab dan keberkahan. Dalam budaya Jawa, kepel dikenal sebagai simbol kesucian, keanggunan, dan harmoni, yang dahulu hanya ditanam di lingkungan keraton dan dikonsumsi oleh putri bangsawan sebagai bagian dari tradisi kecantikan dan spiritualitas,” jelas Prof. Ilya
Dalam perspektif nilai-nilai Islam, pohon kepel mencerminkan pentingnya kesucian lahir batin, kesabaran, kesederhanaan, serta keseimbangan hidup antara manusia dan alam. Buahnya yang harum, pohonnya yang tumbuh perlahan, dan keberadaannya yang tidak mencolok menjadi pengingat tentang pentingnya hidup bersahaja namun bermakna. Selain manfaat ekologisnya seperti menyerap karbon dan meneduhkan lingkungan, kepel juga menjadi simbol rasa syukur atas karunia Allah dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.
Sementara itu, Rektor UII, Fathul Wahid menyatakan beragamnya tanaman yang ada di UII membuat banyak tamu yang berkunjung di UII merasa nyaman karena lingkungan kampus UII yang asri dan indah. Menurutnya, beragamnya keanekaragaman hayati yang ada di UII menggambarkan ekosistem UII yang multikulturalisme.
“Banyak teori serta temuan riset hutan yang monokultur yang pohonnya tunggal biasanya tidak bertahan lama, tidak banyak memberikan dampak yang diberikan oleh hutan yang multikultur. Itu juga yang terjadi di ekosistem UII, tifdak hanya pohonnya tetapi manusianya. Jadi ada keragaman perspektif, variasi pandangan dan semuanya itu mendapatkan tempat dan menurut saya itu menjadi salah satu yang menjadikan kita tumbuh cukup dinamis, karena kita merawat multikulturalisme, tidak hanya keanekaragaman hayati, tapi juga ragam pemikiran yang berkembang di UII,” terang Fathul
Fathul Wahid berharap dengan kegiatan ini, UII dapat terus merawat semangat multikulturalisme yang sudah dibentuk sejak UII berdiri. “Ada tokoh dari beragam latar belakang semuanya dapat menyatukan gagasan, ide, mengesampingkan perbedaan, dan mengedepankan persamaan. Ternyata itu yang menjadikan kita sampai hari ini masih bertahan dan berkembang,” ungkap Fathul (AHR/RS)
Dorong Kompetensi Digital Mahasiswa Melalui Sosialisasi Sertifikasi Internasional ICDL
Program Studi Informatika Universitas Islam Indonesia (UII) bersama Pusat Studi Pelatihan Teknologi Informasi, PT Solusi Edukasi Internasional, dan ICDL (International Certification of Digital Literacy) menggelar Sosialisasi Sertifikasi Internasional ICDL secara hybrid. Kegiatan ini berlangsung di Auditorium Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII pada Selasa (22/04) dengan seluruh peserta dan pemateri pertama hadir secara langsung, sementara pemateri kedua bergabung melalui Zoom.
Sekitar seratus peserta dari berbagai latar belakang, khususnya mahasiswa, mengikuti kegiatan yang bertujuan meningkatkan kesadaran akan pentingnya sertifikasi digital internasional sebagai bekal menghadapi era kerja berbasis teknologi.
Ketua Program Jurusan Informatika, Dr. Raden Teduh Dirgahayu, S.T., M.Sc., membuka acara dengan menyampaikan apresiasinya atas terjalinnya kerja sama antara UII dan ICDL dalam mendukung peningkatan kualitas lulusan.
“Kami berterimakasih dan mengapresiasi ICDL yang telah bekerjasama dengan kami untuk bersama meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam taraf profesional,” tuturnya.
ICDL sendiri merupakan sertifikasi internasional yang mengukur keterampilan digital praktis, seperti pengolahan kata, spreadsheet, coding dan keamanan siber. Sertifikasi ini dirancang untuk menjawab kebutuhan dunia kerja dan pendidikan yang semakin menuntut penguasaan teknologi.
Bayu Setiawan, Business Development PT Solusi Edukasi Internasional, hadir sebagai pemateri pertama. Dalam pemaparannya, Bayu menekankan bahwa kolaborasi ini menjadi peluang strategis bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi mereka melalui sertifikasi yang kredibel.
“Kerjasama antara ICDL dan Pusat Studi Pelatihan Teknologi Informasi, Prodi Informatika UII menjadi gerbang bagi teman-teman untuk meningkatkan kemampuan melalui sertifikasi yang akan dilaksanakan,” ujarnya.
Bayu juga menambahkan bahwa sertifikasi digital seperti ICDL memberikan nilai tambah nyata bagi lulusan, karena menjadi bukti resmi atas keterampilan yang dimiliki.
“ICDL hadir sebagai bentuk peningkatan kualitas sarjana, karena sertifikasi menjadi bentuk resmi yang diakui oleh dunia kerja,” tambahnya.
Melalui sambungan daring, Nigel Ngiam, Market Development Manager ICDL Asia, mengangkat pentingnya digitalisasi sebagai pilar utama dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Nigel menyampaikan bahwa partisipasi generasi muda sangat vital dalam proses tersebut.
“Salah satu tujuan utama pemerintah Indonesia saat ini adalah Indonesia Emas 2045. Transformasi digital merupakan salah satu jalur kunci untuk mencapainya. Ini adalah peluang emas bagi kita. Dengan semakin meluasnya digitalisasi, ICDL hadir untuk menyediakan jalur bagi generasi muda Indonesia agar dapat berperan dalam mewujudkan visi tersebut,,” jelasnya.
Nigel juga menyoroti reputasi global ICDL yang telah teruji, dengan jutaan orang dari ratusan negara merasakan manfaat sertifikasi ini.
“Selama lebih dari 20 tahun, ICDL telah membuktikan kualitas dan reputasinya, dengan 17 juta orang dari 100 negara yang telah memperoleh sertifikasi ini. Keberhasilan ini dibangun di atas inovasi yang berkelanjutan dan standar sertifikasi yang konsisten.” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, UII menegaskan komitmennya untuk melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap bersaing secara global dengan keterampilan digital yang terstandar internasional. (IMK/AHR/RS)
Tips Menjadi Sehat Pasca Ramadhan
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) telah selesai selenggarakan Webinar Nasional dengan tajuk “Tetap Sehat Pasca Ramadhan : Tips Kesehatan Menjaga Pola Makan dan Kebugaran Fisik Setelah Berpuasa” pada Sabtu (19/4). Acara tersebut disiarkan melalui aplikasi Zoom dan diikuti oleh sekitar 250 peserta yang hadir dan mengikuti rangkain webinar dari awal hingga akhir.
Webinar kesehatan ini mengundang dua dosen di FK UII sebagai pemateri yaitu dr. Muhammad Syukron Fauzi, M.Biomed., AIFO.K, dr. Nur Aini Djunet, M.Gizi, FINEM dan dr. Andra Gita Arumsari sebagai moderator.
“Kebugaran itu ditunjang oleh aktifitas fisik kita. Gampangnya kalo kita aktifitas fisiknya baik, kebugaran kita akan terjaga,” ucap dr. Fauzi yang membawa materi tentang kebugaran fisik pasca ramadhan. Ia memaparkan bahwa orang yang kebugaran tubuhnya baik maka akan semakin terhindar dari penyakit metabolik seperti darah tinggi, diabetes, kolesterol dll. Pada saat berpuasa, tubuh kita akan mengalami perubahan metabolik secara signifikan. Tubuh menjadi lebih hemat energi.
Dalam sesi materinya, ia memberi beberapa rekomendasi aktifitas fisik yang dibagi menurut usia. Kanak-kanak, remaja, dewasa dan orang tua. Metode olahraga FITT yang paling ia rekomendasikan dalam mengembalikan kebugaran pasca ramadhan. FITT berarti Frequency (seberapa sering), Intensity (seberapa berat), Time (berapa lama durasinya), dan Type (Apa jenisnya).
Di akhir, ia menyimpulkan bahwa kunci dari kebugaran yaitu konsisten, latihan terukur dan pemulihan yang cukup.
Pemateri kedua, dr. Aini membawa materi pada bagian menjaga pola makan setelah berpuasa. Ia menjelaskan bahwa setelah tubuh berpuasa selama sebulan, tubuh perlu beradaptasi dengan pola makan yang baru.
“Biasanya kalau sahur, itu kan kita ga bisa makan banyak-banyak. Jadi lambung itu ukurannya menyesuaikan,” ujarnya pada salah satu materi yang menyinggung tentang dampak puasa pada sistem pencernaan. Adaptasi awal pada saat idul fitri, perut banyak menerima makanan yang mempunyai kadar gula tinggi sehingga terjadilah lonjakan insulin.
Ia menekankan bagaimana pentingnya transisi pola makan dari kebiasaan kita di bulan ramadhan. Tips mengontrol porsi makan juga ia anggap penting, berhenti makan sebelum kenyang dan pahami sinyal tubuh (NKA/AHR/RS)
Arsitek Baru UII Angkatan Ke-15 Diambil Sumpah
Program Studi Profesi Arsitek (PPAr) Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menyelenggarakan Sumpah Keprofesian Arsitek (SKA) Angkatan ke-15. Sebanyak 30 arsitek baru berhasil menuntaskan proses pembelajaran selama 1 tahun dengan 27 arsitek berpredikat Cumlaude, 2 arsitek berpredikat sangat memuaskan, dan 1 arsitek berpredikat memuaskan secara resmi diambil sumpah pada Sabtu (19/04) di Auditorium Gedung KH. Mohammad Natsir FTSP UII.
Dalam laporannya, Ketua PPAr UII, Dr. Ar. Yulianto Purwono Prihatmanji, ST., MT., IPM., IAI menyampaikan mahasiswa PPAr UII belajar dengan beragam disiplin ilmu bersama para tenaga ahli multidisiplin dari bidang perancangan dengan kasus nyata hingga pengabdian masyarakat.
“Secara keseluruhan, dalam kurun masa pembelajaran, mahasiswa telah terlibat dengan beragam kegiatan pembelajaran, pengabdian masyarakat dan penguatan karakter keprofesian, sehingga manakala mereka telah lulus mampu menerapkan Kode Etik Profesi dan Kaidah Tata Laku Arsitek yang telah mereka dapatkan bersama IAI (Ikatan Arsitek Indonesia -red). Lulusan telah siap bekerja bersama para Arsitek Mentor di biro-biro arsitek yang terkoordinasi oleh IAI di provinsi-provinsi seluruh Indonesia,” ungkap Ketua APTARI periode 2024-2027 ini.
Wakil Rektor Bidang Pengembangan Akademik dan Riset, Prof. Dr. Jaka Nugraha, S.Si., M.Si dalam sambutannya berpesan kepada arsitek baru UII untuk selalu mengasah literasi teknologi dan budaya agar sebagai seorang arsitek tidak ketinggalan perkembangan. Selain itu, arsitek perlu untuk terus menumbuhkan karakter positif saat nantinya mengadikan diri dengan bekerja keras, dapat diandalkan, menghargai perbedaan, dan mampu melayani dengan profesional.
“Kunci kesuksesan itu adalah adaptasi dan inovasi yang bertahan adalah yang mampu beradaptasi dengan perubahan karena perubahan adalah suatu kepastian, baik itu perubahan teknologi maupun lingkungan. Yang mampu memimpin adalah yang senantiasa melakukan inovasi. Jadilah arsitek yang selalu melakukan inovasi. mampu berkontribusi bagi masyarakat, menjaga kelestarian lingkungan, keseimbangan ekosistem, dan membangun perkembangan dengan keselarasan lingkungan,” pesan Prof. Jaka.
Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Ar. Georgius Budi Yulianto, IAI., AA berpesan juga dalam sambutannya bahwa era disrupsi dan digitalisasi khususnya kecerdasan buatan (AI) saat ini tidak terelakkan untuk semua profesi termasuk arsitek. Menurutnya, arsitek harus mengikutsertakan kecerdasan buatan dalam praktik kearsitekan tanpa melanggar etika.
“Pertama, jangan berhenti untuk memahami etika karena dengan etika yang baik akan bisa memanfaatkan AI untuk tujuan yang baik bukan untuk mengelabuhi. Kedua, harus terus melakukan literasi teknologi karena teknologi juga setiap tahun pasti ada yang baru. Ketiga adalah literasi budaya, kita tidak boleh lupa asal kita dan itu menjadi jati diri kita,” ungkap Ketua Umum IAI ini.
Sementara itu, Dewi Larasati, S.T., M.T., Ph.D selaku Sekretaris Jenderal Asosiasi Perguruan Arsitektur Indonesia (APTARI) berpesan menjadi arsitek profesional saat ini bukan hanya keterampilan menggambar atau kemampuan teknis kontruksi. Arsitek dituntut menjadi agen perubahan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat, merespons konteks lokal, dan tetap berpijak pada etika profesi ditengah tantangan krisis iklim global, ketimpangan sosial, dan tantangan urbanisme yang kompleks.
“Menjadi arsitek bukan hanya sebagai karier, melainkan amanah peradaban. Arsitek tidak hanya merancang bangunan tetapi juga mewujudkan nilai menghadirkan ruang hidup yang adil, dan merawat bumi sebagai rumah bersama. Lulusan profesi arsitektur tidak cukup dibekali dengan keterampilan individual, tetapi juga tumbuh dalam ekosistem pembelajaran lintas disiplin, berpijak pada kolaborasi, dan peka terhadap dinamika sosial budaya,” ungkapnya (MNDH/AHR/RS)
Syawalan 1446 Hijriah IKI UII Berlangsung Meriah
Ikatan Keluarga Ibu-Ibu (IKI) Universitas Islam Indonesia (UII) melaksanakan kegiatan syawalan pada Kamis (17/04) di Auditorium Prof. Abdul Kahar Muzakir, Kampus Terpadu UII. Kegiatan Syawalan 1446 H ini dihadiri oleh 450 anggota IKI yang terdiri dari pengurus struktural IKI UII, istri dosen, karyawan dan purnatugas UII. Acara juga diramaikan oleh bazar makanan & baju, pemeriksaan kesehatan, tausiyah, serta pelepasan beberapa ibu-ibu yang akan melaksanakan ibadah haji.
Dr. Siti Anisah S. H., M. Hum., salah satu ibu-ibu yang tergabung dalam IKI sebagai pengurus Yayasan Badan Wakaf menyambut hangat acara syawalan ini. “Saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Pengurus Yayasan Badan Wakaf, Keluarga Besar UII, seluruh ibu-ibu dan panitia, semoga silaturahmi ini berjalan dengan baik dan akan terus berjalan dengan baik,” ujarnya
Selain Dr. Siti, Ketua Ikatan Keluarga Ibu-ibu UII, Prof. Nurul Indarti, Sivilikonom., cand. Merc., Ph. D., juga menyambut meriah acara silaturrahmi perdana setelah lebaran ini. Ia menyebutkan bahwa acara syawalan ini tergabung dalam rangkaian kegiatan rutin silaturrahim keluarga IKI 2 bulan sekali. “ini merupakan wadah berbagi ilmu, inspirasi, menjaga silaturahmi sekaligus menjaga Kesehatan Bersama,” tegasnya.
Prof. Nurul menyampaikan partisipasi aktif IKI UII dalam rangkaian semarak milad universitas, melalui kegiatan bakti sosial, kajian bersama istri-istri pimpinan UII, dan kesenian hadroh.
“Program IKI UII lainnya adalah program tali asih Ramadhan, program ini telah berjalan untuk keempat kalinya. Sasaran penerima berbeda-beda setiap tahun, seperti pensiunan pegawai, satpam, cleaning service, dan tahun ini IKI UII menjangkau sekitar 80 pensiunan pegawai,” jelas Prof. Nurul.
Dalam berbagai kesempatan, IKI aktif mengumpulkan dana dan memberikan bantuan sosial kepada pihak-pihak yang dirasa membutuhkan, diantaranya penyintas gempa di Palu, penyintas banjir di Ciamis, dan warga Palestina.
“Perlu ibu-ibu ketahui, acara syawalan biasanya tidak disertai bazar, karena biar fokus. Tapi karena antusiasme dari anggota dan dukungan dari tuan rumah Yayasan Badan Wakaf, maka hari ini kita dapat menikmati bersama,” ucapnya.
“Kami ingin mengucapkan selamat jalan untuk para ibu-ibu yang akan melaksanakan ibadah haji tahun ini. Mari kita doakan semoga Allah memberikan kesehatan, kekuatan dan kelancaran dalam rangkaian ibadahnya.” Ujar prof. Nurul diakhir sesi sambutan sebelum ditutup dengan sesi Tausiyah serta doa bersama oleh Dr. dr. Zaenal Muttaqien Sofro, Circ&Med, AIFM. (MNDH/AHR/RS)