Bisnis mahasiswa - UII - pebisnis

Tidak dapat dipungkiri, kesehatan menjadi kebutuhan mendasar dan sangat dibutuhkan setiap orang, terlebih di kala pandemi seperti saat ini. Namun, terbatasnya fasilitas kesehatan, khususnya di daerah pelosok, menjadi kendala besar yang dihadapi. Di samping itu, belum terpenuhinya alat-alat kesehatan oleh pasar dalam negeri memaksa impor secara besar dilakukan.

Seiring persoalan tersebut, banyak bermunculan startup yang bergerak di bidang teknologi kesehatan atau health tech. Kali ini, dua sosok di balik startup health tech dihadirkan dalam acara bertajuk Kopi Chat x Ngobras pada Kamis (2/7). Mengangkat tema Creating Innovation in HealthTech Product, kedua sosok tersebut yakni Hasyim Abdulloh, CFO PT. Putra Medikaltek dengan produknya ALGIST, dan Abraham Auzan, Co-Founder Sehati TeleCTG.

Kopi Chat x Ngobras ini merupakan kolaborasi antara Ngobrol Bareng Startup (Ngobras) dari Inkubasi Bisnis dan Inovasi Bersama Universitas Islam Indonesia (IBISMA UII) dengan Kopi Chat milik Block71 Yogyakarta, sebuah konektor global dan ekosistem yang mewadahi startup dan diprakarsai oleh Divisi Kewirausahaan National University of Singapore (NUS).

Serba impornya alat kesehatan serta angka kematian ibu dan anak dan stunting yang tinggi menjadi alasan utama keduanya terjun membangun startup di bidang teknologi kesehatan. “Angka kematian ibu dan anak, juga stunting yang bukan hanya masalah kerdil. Tapi sebenarnya ini adalah loss generation. Dengan angka kematian ibu dan anak yang tinggi, kemudian stunting yang tinggi, berarti di tahun 2030 sampai 2045 dimana kita mendapatkan limpahan umur produktif itu (bonus demografi), tapi 30 persennya tidak bisa berkompetisi di dalam dunia kerja karena masalah ini,” jelas Abraham.

Terciptanya ALGIST, nama singkat dari Alarm Gas Medis Digital, oleh Hasyim dan rekannya berawal dari kebutuhan rumah sakit akan alarm gas medis yang saat itu hanya mengandalkan produk impor. Hal ini menjadikan lulusan Teknik Elektro UII itu mencoba membuat sendiri alat tersebut bersama tim. Hampir serupa, Sehati TeleCTG juga dibangun berdasarkan permintaan langsung oleh pasar. Abraham mewujudkan produknya bersama dua orang dokter spesialis kandungan yang paham betul permasalahannya, karena sering bertugas di lapangan.

Sehati TeleCTG merupakan CTG (Cardiotography) dalam versi portable. CTG sendiri berfungsi untuk mengetahui detak jantung janin dalam kandungan, dan umumnya tidak digunakan pada kondisi kehamilan karena beresiko. Alat ini menjadi jawaban atas sulitnya layanan kesehatan di pelosok serta terbatasnya jumlah dokter kandungan yang kebanyakan hanya berada di kota besar. Dokter yang memeriksakan kandungan pun tak perlu datang langsung, karena pemeriksaan dilakukan jarak jauh.

Bincang-bincang yang berlangsung hampir satu jam ini berjalan mengalir dan interaktif. Tidak sedikit dari peserta yang mengajukan pertanyaan sepanjang acara. Di akhir perbincangan, apresiasi terlontar atas upaya pemerintah yang telah dilakukan selama ini. Namun demikian, kedua bintang tamu mengaku startup di bidang teknologi kesehatan masih perlu dukungan lebih.

“Masyarakat dan pemerintah itu butuh banyak solusi dan alternatif di dunia kesehatan. Masalah impor ini sebenarnya jadi peluang bagi kita yang memiliki semangat nasionalis, kenapa teknologi itu tidak bisa datang dari karya anak bangsa sendiri,” sebut Abraham.

“Di satu sisi, menurut saya pemerintah perlu menyiapkan infrastruktur yang lebih mendukung bagi para pembuat (alat kesehatan) ataupun startup dari dalam negeri untuk dapat diberikan platform, memudahkan untuk kita bisa mengembangkan dari sisi perizinan, juga dari sisi rantai pasokan. Terus terang, contohnya saya dan Mas Hasyim, itu sebagian besar komponen masih tetep ambil dari luar, nggak mungkin ada di Indonesia,” ungkap Abraham.

Hasyim menambahkan, dirinya berharap produk lokal bisa menjadi pilihan prioritas. “Kalau misalkan ada produk serupa, itu produk lokal dan impor, pilihlah yang produk lokal. Biar kita dukung produk lokal dan sama-sama maju berkembang,” ucapnya. (HR/RS)