Tetap Islami di Masa Pandemi, menjadi tajuk yang diangkat Program Studi Teknik Elektro Universitas Islam Indonesia (UII) dalam bincang-bincang seputar keislaman pada Kamis petang (2/7). Dikemas secara santai, acara dibersamai oleh Asep Setiawan, S.Th.I., M.Ud., dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang juga kerap menjadi dosen tamu di UII. Acara yang berlangsung hampir satu jam ini disiarkan secara langsung di akun Instagram Teknik Elektro UII.

Sesuai dengan judul, berbagai masalah terkait kehidupan seorang muslim selama pandemi diperbincangkan pada kesempatan. Sebelum berbagai pertanyaan dilontarkan, Asep Setiawan terlebih dahulu memaparkann prolog.

Sebagai muslimin dan muslimat, dalam kondisi apapun harus selalu menjaga istiqomah kita dalam akidah dan ibadah.  Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 102. Yā ayyuhallażīna āmanu wahai orang-orang yang beriman, ittaqullāha bertakwalah kita sekalian, umat Islam kepada Allah, ḥaqqa tuqātihī dengan sebenar-benarnya takwa.

“Ini para ulama, mba Atika (host) dan pemirsa sekalian, menerangkan yang dimaksud dengan ‘takwa yang sebenar-benarnya takwa’ itu adalah takwa yang tidak dibatasi pada waktu, tempat, ataupun kondisi tertentu. wa lā tamụtunna illā wa antum muslimụn. Kita harus bisa menjaga ibadah kita, keislaman kita, hingga akhir hayat,” ucap Asep Setiawan.

Beragam permasalahan, baik masalah ibadah maupun hati, menjadi hal yang ditanyakan Atika, yang merupakan mahasiswi Teknik Elektro angkatan 2019. Mulai dari hukum salat berjamaah khususnya salat Jumat bagi laki-laki di masjid, mengadakan kegiatan yang menimbulkan keramaian, menjaga semangat ibadah meski di rumah, amalan atau doa khusus, hingga tetap tenang dan meraih hikmah di kala pandemi tak luput dari daftar pertanyaan.

Menjawab pertanyaan cara menjaga semangat ibadah, dirinya menyinggung realita ketika Bulan Ramadan. Ia menyebut, di kala Ramadan banyak orang yang semangat ibadahnya begitu menggeliat dan terjaga karena pengaruh lingkungan.

“Dalam kondisi seperti ini, bagaimana cara kita untuk senantiasa menjaga semangat dalam beribadah? Kita beribadah bukan karena manusia. Saya ulangi, kita beribadah bukan karena manusia, tapi benar-benar yang kita cari adalah ridho dan pahala,” tegasnya.

“Kita beribadah bukan untuk makhluk, tetapi lillahi ta’ala. Jika kita InsyaAllah termasuk pribadi muslim yang mukhlis, yang ikhlas lillahi ta’ala, tentu dalam kondisi apapun, lagi-lagi, kita tetap bersemangat taat kepada Allah. Bahkan, mohon maaf, di kesendirian itulah jati diri kita akan muncul. Hakikat kita itu siapa baru nampak ketika kita sendirian,” sambungnya menjelaskan.

Mengenai ketenangan hati dan hikmah, Asep Setiawan menyitir sebuah hadits, yang atinya “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Dari hadits itu, Asep Setiawan menekankan kembali bahwa muslim yang sejati tidak akan berubah kebaikannnya di segala kondisi. Seperti halnya ‘takwa yang sebenar-benarnya takwa’ pada surat Ali Imran.

“Kata Rasulullah, seluruh urusan, seluruh keadaan yang dialami oleh orang Islam, orang yang beriman itu, semuanya menjadi baik. Tidak ada sesuatu yang membuat orang mukmin itu susah, dalam kondisi apapun kata Rasulullah,” terangnya. (HR/RS)