• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Intip Kemeriahan Bastille Day di Prancis
Berita Kegiatan

Intip Kemeriahan Bastille Day di Prancis

Masyarakat Prancis punya momen bersejarah yang diperingati dengan meriah setiap tahunnya. Perayaan yang disebut Bastille day atau La Fete Nationale (Perayaan Nasional) atau Le Quattorze Juillet (Empat Belas Juli)itu jatuh tiap tanggal 14 Juli. Tanggal itu sekaligus menjadi penanda berakhirnya sistem monarki dan lahirnya sistem republik di negara menara Paris tersebut. Malam hari tanggal 13 Juli, masyarakat Prancis mendatangi markas pemadam kebakaran yang merupakan simbol kepahlawanan di masa kini. 

“Pada malam itu mereka biasanya akan menari, makan, minum, menyalakan music dengan keras dan tidak ada batasan antara warga dan juga pemadam kebakaran.” seperti disampaikan Sabrina Shevira yang merupakan Ecole de Commerce ESUP Paris dalam webinar bertajuk Bastille Day: Ngobrol Sejarah dan Budaya Prancis yang diselenggarakan oleh Kafe Prancis Universitas Islam Indonesia.

Pada puncak perayaan, diadakan defile parade militer yang juga dihadiri Presiden dan pengawal pasukan berkuda. Selanjutnya, parade akan dilanjutkan dengan rombongan tentara semua angkatan, polisi dan pemadam kebakaran.

Selain itu, langit-langit kota Paris akan dihiasi dengan atraksi aerobatik pesawat tempur Angkatan Udara Prancis. Parade di pagi hari diakhiri dengan menyanyikan lagu kebangsaan Prancis dan dilanjutkan dengan penyalaan kembang api pada malam harinya.

Bendera nasional Prancis hanya dipasang pada gedung-gedung pemerintahan. Sementara rumah warga sipil tidak selalu memasangnya. Nasionalisme orang-orang Prancis lebih banyak ditunjukkan dengan memegang teguh nilai-nilai liberte, egalite dan fraternite dalam kehidupan sehari-hari mereka.

“Kedutaan Besar Prancis di Indonesia mengundang perwakilan dari kedutaan lain dan beberapa warga Prancis yang tinggal di Jakarta untuk makan, minum wine dan menyanyikan lagu kebangsaan Prancis sebagai bentuk perayaan.” Tambah Sabrina.

Ketika pandemi, perayaan disiarkan melalui platform daring seperti YouTube. Di akhir penyanyian lagu kebangsaan, ucapan terima kasih dan apresiasi disampaikan kepada garda terdepan seperti perawat, dokter hingga peneliti dan profesor di bidang kesehatan.

Sementara itu, Geradi Yudhistira Dosen Program Studi Hubungan Internasional UII mengupas perayaan dari perspektif sejarah. Menurutnya revolusi Prancis terjadi karena adanya ketimpangan pada kondisi sosial, politik, dan ekonomi yang masif.

Kelompok menengah ke bawah dibebankan pajak yang lebih besar dibandingkan menengah ke atas. Sehingga para petani dan buruh tani harus menanggung pajak tinggi. Sedangkan para menteri, petinggi militer dan raja yang hidup dalam kemewahan namun tidak dibebani pajak.

Geradi Yudhistira juga mengatakan bahwa revolusi Prancis sangat identik dengan dua hal. Pertama yakni Déclaration Des Droits De L’Homme. Kedua adalah guillotine atau alat hukuman mati bagi kaum feodal saat itu yang dianggap menjadi musuh rakyat. Raja Louis XVI beserta istrinya turut menjadi korban alat tersebut. 

“Kita harus hati-hati dengan revolusi karena dalam buku Animal Farm yang ditulis George Orwell menceritakan tentang revolusi yang di sebuah peternakan yang dipimpin oleh babi mampu menggusur eksistensi manusia dan cukup berhasil dalam jangka waktu 1 atau 2 tahun. Namun selanjutnya mereka menghadapi kesulitan dan masalah yang lebih besar ketika berhadapan dengan hasil dari revolusi tersebut di tahun-tahun selanjutnya.” Pungkas Geradi. (AP/ESP)

9 Juli 2021
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2021/07/Intip-Kemeriahan-Bastille-Day-di-Prancis.jpg 450 675 humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII.png humas2021-07-09 16:14:512021-08-12 15:31:04Intip Kemeriahan Bastille Day di Prancis

Berita Terakhir

  • UII dan IKPI Perkuat Kolaborasi untuk Siapkan Konsultan Pajak Adaptif di Era AI dan Coretax
  • UII Hadirkan Light Show di Stasiun Tugu Yogyakarta, Perkenalkan Kampus Melalui Pertunjukan Visual
  • DPKA UII Gelar Career Class: Hadirkan Pakar BUMN Bahas Peta Jalan Karier Mahasiswa
  • UII Perkuat Kemitraan dengan Pemkab Temanggung dan IKA UII Jawa Tengah
  • UII Umumkan Pemenang Sayembara Mural Nasional Milad ke-83
© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Industri Fashion Indonesia Optimis Tumbuh di Tengah Pandemi Link to: Industri Fashion Indonesia Optimis Tumbuh di Tengah Pandemi Industri Fashion Indonesia Optimis Tumbuh di Tengah Pandemi Link to: Pelemahan KPK Perburuk Upaya Pemberantasan Korupsi Link to: Pelemahan KPK Perburuk Upaya Pemberantasan Korupsi Pelemahan KPK Perburuk Upaya Pemberantasan Korupsi
Scroll to top Scroll to top Scroll to top