• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Berita Kegiatan2 / Jangan Sepelekan Masalah Kesehatan Seksual dan Reproduksi
Berita Kegiatan

Jangan Sepelekan Masalah Kesehatan Seksual dan Reproduksi

Pentingnya menjaga kesehatan seksual dan reproduksi masih belum banyak disadari masyarakat. Pasalnya membicarakan hal tersebut masih dianggap tabu oleh sebagian orang. Setiap tahun sedikitnya 2 juta remaja di dunia melakukan unsafe abortion. Merespon hal itu, Srikandi UII mengadakan Webinar “Membangun Pemahaman Kesehatan Seksual dan Reproduksi Sedari Dini” dengan pembicara Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., SpOG(K)., Ph.D. (Dekan FK-KMK UGM dan Guru Besar Bidang Pendidikan Kedokteran).

Prof. dr. Ova Emilia mengawali paparannya dengan menyebut remaja adalah aset SDM yang sangat potensial. Menurutnya, usia remaja sangat rentan dengan berbagai problem terkait kesehatan seksual dan reproduksi, seperti risiko kehamilan yang tidak dikehendaki, risiko infeksi menular seksual (IMS) termasuk HIV/AIDS, unsafe abortion, dan kekerasan seksual. 

Ia menambahkan gender berpengaruh terhadap kesehatan reproduksi remaja karena erat dengan peran dan hubungan dalam masyarakat maupun budaya. Gender mempengaruhi jika dikaitkan dengan harapan aktivitas seksual, pandangan tentang tanggung jawab kontrasepsi, konsekuensi sosial kehamilan, tingkat risiko infeksi HIV/AIDS, penerimaan kultur terhadap perilaku dan praktek merugikan serta interaksi klien-petugas terutama yang berbeda gender. 

Ia pun mewanti-wanti bahwa remaja di bawah 18 tahun rentan mengalami kesulitan persalinan karena kondisi tubuh yang belum siap. Kelahiran pertama biasanya akan mengalami perdarahan dan eklampsia sehingga cukup berisiko bagi ibu maupun bayi. 

Sedangkan praktek aborsi tidak aman juga masih tinggi. Kebanyakan disebabkan oleh kurangnya akses akan pelayanan kesehatan, biaya, minimnya tenaga kesehatan yang terampil, atau tertunda mencari pertolongan di 3 bulan awal. 

Perempuan yang melakukan aborsi tidak aman berisiko mengidap infeksi dan perdarahan. Sementara terjadinya IMS/HIV pada remaja dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan, kurang tepat penggunaan kontrasepsi, gagal mencari pengobatan maupun berganti-ganti pasangan. Dalam upaya mencegah kasus kekerasan seksual, remaja sangat memerlukan tameng berupa informasi, keterampilan, dan akses pelayanan yang memadai.

Riset menunjukkan pendidikan seks bermanfaat karena dapat memberi pemahaman tentang potensi apa yang dia miliki, keterampilan pada remaja untuk menunda aktivitas seksual, dan meningkatkan pemakaian KB. Pendidikan seks harus dilakukan sedini mungkin. 

Konselor pendidikan seks bagi remaja harus dengan waktu tunggu, layanan disesuaikan dengan kebutuhan remaja, transportasi tersedia, fasilitas kesehatan, dan menampakkan rasa hormat serta tidak menghakimi. Rahasia pasien juga harus dijunjung tinggi.

Terakhir, remaja memerlukan kecakapan hidup kesehatan reproduksi dengan mengenal dirinya sendiri, merencanakan masa depan, mengambil keputusan terkait seksualitas dan perilaku seksual, melindungi diri dari kekerasan dan pelecehan seksual, berempati terhadap orang lain, berkomunikasi dan bernegosiasi, mengelola stress, serta aktif mencari bantuan. (FHC/ESP)

1 Juni 2021
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2020/06/kesetaraan-gender-uii.jpg 450 675 humas https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/07/Logo-UII-Kuning.png humas2021-06-01 14:35:522021-08-12 15:47:19Jangan Sepelekan Masalah Kesehatan Seksual dan Reproduksi

Berita Terakhir

  • Perkuat Kolaborasi Internasional dan Kebudayaan, Program Studi Farmasi UII Gelar Pembukaan G-PICE 2026
  • Universitas Mohammad Natsir Pelajari Sistem Pendidikan Pondok Pesantren UII melalui Kunjungan Studi Tiru
  • CILACS UII Terima Studi Banding UPT Bahasa Universitas Negeri Padang
  • UII dan Unhan RI Perkuat Sinergi, Bahas Isu Maritim hingga Diplomasi Pertahanan
  • Sumpah Dokter ke-72 FK UII: Cetak 2.688 Alumni, Soroti Tantangan Pasien Berbekal AI hingga Peluang Bisnis Medis

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Lulusan Statistika Punya Peluang Cerah di Dunia Kerja Link to: Lulusan Statistika Punya Peluang Cerah di Dunia Kerja Lulusan Statistika Punya Peluang Cerah di Dunia Kerja Link to: Peluang Dalam Persaingan Ekosistem Digital Indonesia Link to: Peluang Dalam Persaingan Ekosistem Digital Indonesia Peluang Dalam Persaingan Ekosistem Digital Indonesia Scroll to top Scroll to top Scroll to top