• Admisi
  • UII Gateway
  • Email
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
  • English
Universitas Islam Indonesia
  • PENDIDIKAN
    • Program Pendidikan
    • Penerimaan Mahasiswa Baru
    • Merdeka Belajar Kampus Merdeka
    • Informasi Beasiswa
    • Fasilitas Kampus
    • Jelajahi Yogyakarta
  • PENELITIAN
    • Pusat Studi & Laboratorium
    • Riset & Pengajaran
    • Portal Jurnal
    • Konferensi & Seminar
  • PENGABDIAN
    • Pengabdian & Dakwah
    • Lingkungan & Keberlanjutan
    • Simpul Tumbuh
    • Donasi UIIPeduli
  • INTERNASIONAL
    • International Admission
    • Kantor Urusan Internasional
    • Mobilitas Internasional
    • Program Gelar Ganda
    • Erasmus+ CBHE di UII
  • LAYANAN
    • Mahasiswa
    • Alumni
    • Kemitraan
    • Publik & Rekan Media
    • Paten & Hak Cipta
  • PROFIL
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
You are here: Home1 / Indeks Berita2 / Pojok Rektor3 / Jebakan Meritokrasi
Pojok Rektor

Jebakan Meritokrasi

Sudah jamak diyakini bahwa meritokrasi adalah pendekatan yang paling pas untuk proses seleksi atau pengakuan di banyak konteks. Ini berlaku untuk konteks keluarga, kelas di sekolah sampai dengan negara, dan bahkan global.

 

Meritokrasi dan kesetaraan

Meritokrasi adalah suatu sistem atau filosofi yang didasarkan pada prinsip bahwa keunggulan individu dan prestasi mereka seharusnya menjadi dasar utama untuk pengakuan, promosi, dan penghargaan dalam suatu masyarakat atau organisasi.

Pendekatan ini sering kali dihadapkan dengan pendekatan lain yang didasarkan pada pertimbangan emosi atau preferensi personal. Dalam pendekatan kedua ini terdapat nuansa subjektivitas karena favoritisme, ketidaksukaan, dan sejenisnya.

Sistem seleksi atau pengakuan berbasis meritokrasi diharapkan akan memberikan keadilan untuk semua, karena prinsip kesetaraan. Semua orang mempunyai kesempatan dan akses yang sama.

Namun, perlu dipahami bahwa sistem tersebut valid hanya ketika asumsi awal terpenuhi. Jika tidak, maka ada beberapa konsekuensi yang perlu mendapatkan perhatian mereka penganut meritokrasi ‘buta’ yang tidak melihat konteks.

 

Cacatan meritokrasi

Beragam kritik atau paling tidak catatan diberikan kepada sistem meritokrasi ini (Sandel, 2020).

Berikut adalah beberapa di antaranya:

Pertama terkait dengan ketidaksetaraan awal. Meritokrasi berasumsi bahwa setiap individu memiliki akses yang sama terhadap peluang pendidikan dan pengembangan keterampilan. Namun, di banyak masyarakat, faktor-faktor seperti latar belakang ekonomi, etnis, dan geografi dapat menciptakan ketidaksetaraan awal yang sulit diatasi.

Kedua adalah soal pelanggengan ketidaksetaraan. Sistem meritokrasi dapat menjadikan ketidaksetaraan tetap ada dan bahkan membesar, karena individu yang sudah memiliki keunggulan awal memiliki peluang lebih besar untuk mencapai keberhasilan dan keunggulan berkelanjutan.

Ketiga berhubungan dengan kecenderungan mengabaikan aspek kemanusiaan. Fokus yang terlalu besar pada hasil dan keunggulan dapat mengabaikan aspek kemanusiaan seperti keadilan sosial, perawatan terhadap individu yang kurang beruntung, dan kebutuhan sosial yang lebih luas.

Keempat berkaitan dengan jebakan fokus pada hasil singkat. Sistem meritokrasi sering kali fokus pada hasil akhir, seperti pencapaian kinerja atau penilaian kinerja karyawan. Hal ini dapat mengabaikan proses atau metode yang digunakan untuk mencapai hasil tersebut, yang pada gilirannya dapat mengakibatkan perilaku tidak etis atau penyalahgunaan.

 

Ilustrasi dan pertanyaan

Beberapa ilustrasi bisa diberikan. Misalnya, membandingkan kualitas sekolah di kota besar dengan fasilitas yang lengkap dengan sekolah di pedalaman yang bahkan atap gedungnya bocor, seharusnya menimbulkan pertanyaan.

Ketika seleksi sekolah didasarkan pada prestasi, tidak sulit memprediksi, dengan favoritisme, siswa yang pandai akan cenderung mengumpul di sekolah tertentu. Tentu sebaliknya, sekolah lain akan berisi siswa yang kurang pandai.

Jika kualitas sekolah pun timpang, bisa dibayangkan apa yang terjadi pada tahapan sekolah di tingkat yang lebih tinggi. Kesenjangan sangat mungkin akan semakin melebar, termasuk dalam akses ke dunia kerja, partisipasi ekonomi, dan juga keterlibatan dalam politik.

Pertanyaan besar: Bagaimana prinsip meritokrasi bisa diadopsi dengan mengurangi masalah ikutannya? Salah satunya dengan pendekatan afirmasi.

Afirmasi dalam banyak konteks bisa menjadi mandat moral untuk menjamin adanya keseteraan karena asumsi awal sistem meritokrasi tidak valid. Unjungnya adalah inklusivisme, ketika tidak ada orang yang tertinggal di belakang.

Bagaimana konsep ini relevan dengan disiplin masing-masing. Ini ada pekerjaan rumah setiap doktor baru dalam bentuk refleksi yang agak mendalam.

Elaborasi ringan poin sambutan pada acara penyambutan doktor baru Universitas Islam Indonesia lulusan 2023, 21 Desember 2023.

22 Desember 2023
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2024/01/Jebakan-meritokrasi.jpg 1331 2000 985230102 https://www.uii.ac.id/wp-content/uploads/2021/12/Logo-Web-80-1.png 9852301022023-12-22 08:06:542024-01-25 08:29:35Jebakan Meritokrasi

Berita Terakhir

  • UII Dorong Produktivitas Publikasi Ilmiah Melalui Pelatihan Pemanfaatan Agentic AI
  • Hadirkan Teknologi LC-MS/MS Mutakhir, UII Gelar Workshop dan Resmikan Kolaborasi Industri
  • CILACS UII Jadi Rujukan UM Gresik dalam Pengembangan Tes Kompetensi Bahasa Arab
  • Seameo Biotrop Perkuat Kolaborasi Regional Untuk Mendorong Implementasi Circular Economy Melalui Pendidikan Dan Inovasi
  • UII Lantik Dekan dan Wakil Dekan Periode 2026–2030, Tekankan Penguatan Tata Kelola dan Adaptasi Zaman

Gedung GBPH Prabuningrat (Rektorat)
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: +62 274 898444
Faks: +62 274 898459
Email: info[at]uii.ac.id

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2022.

© Hak Cipta 2025 - Universitas Islam Indonesia - Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Tampilan Lama | Konten terakhir dimutakhirkan 25 Januari 2024
Link to: Peran Doktor Link to: Peran Doktor Peran Doktor Link to: UII Sambut 18 Doktor Baru Link to: UII Sambut 18 Doktor Baru UII Sambut 18 Doktor Baru Scroll to top Scroll to top Scroll to top