JNE Content Competition 2026: Ajak Mahasiswa UII Ubah Ide Jadi Karya Bercerita

Universitas Islam Indonesia (UII) menjadi tuan rumah dalam roadshow campus bertajuk Creative Workshop Vol. 4 yang diselenggarakan oleh PT. Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE). Mengangkat tema “Dari Ide Jadi Karya Penuh Cerita”, kegiatan ini berlangsung pada Selasa (5/5) bertempat di Gedung Kuliah Umum Dr. Sardjito, Kampus Terpadu UII. Kegiatan ini diikuti oleh kurang lebih 200 peserta yang sebagian besar terdiri dari mahasiswa UII sendiri dan juga siswa SMA sekitar kampus UII.

Workshop ini merupakan bagian dari rangkaian JNE Content Competition 2026, yang memiliki tujuan mendorong mahasiswa dan anak muda agar mampu mengolah ide dan menghasilkan karya kreatif yang memiliki daya saing di era digital. Kegiatan ini menghadirkan para narasumber yang juga merupakan juri dalam JNE Content Competition 2026, yaitu Kang Maman (Penulis dan Pegiat Literasi), Martha Suherman (Photographer Profesional), Amir Mahmud (Juri Writing Competition) dan Raditya Mahendra Yasa (Juri Photo Competition). Kegiatan workshop ini dimoderatori oleh Nadia Wasta Utami, S.I.Kom., M.A. yang juga sekaligus Dosen Ilmu Komunikasi di UII.

Ir. Wiryono Raharjo, M.Arch., Ph.D. sebagai Wakil Rektor Bidang Kemitraan & Kewirausahaan UII memberikan arahan kepada mahasiswa yang hadir untuk bisa menjadi kreatif dan mampu mengerahkan ide-ide unik agar mampu bersaing di era industri kreatif saat ini. Ia mengucapkan terimakasih kepada JNE yang sudah memberikan kepercayaan kepada UII untuk menjadi tuan rumah dalam Workshop Creative ini. “Semoga acara ini dapat menguatkan kerjasama kita kedepan dan mudah-mudahan adek-adek sekalian ikut acara ini, mengirimkan karya, karena itu akan menjadi latihan untuk mengasah kreatif,” ungkapnya.

Menanggapi ungkapan terimakasih Ir. Wiryono, Head Regional DIY, Murah Lestari dalam sambutannya menyelipkan ucapan terimakasih kembali kepada UII yang telah mendukung dan bersedia menjalin kerja sama dalam penyelenggaraan JNE Content Competition 2026. JNE Content Competition 2026 kini mengusung tema “Bergerak Bersama, Beragam Cerita” yang searah dengan tagline JNE yakni “Connecting Happiness”. Telah hadir sejak tahun 2011, JNE Content Competition ini terus bertekad untuk memberikan inspirasi lebih banyak kepada masyarakat luas. “Kompetisi ini mengajak seluruh peserta untuk menghadirkan cerita-cerita nyata tentang perjalanan bersama JNE,” ujar Murah. 

Pengalaman yang Unik Adalah Kekuatan di Tengah Maraknya Penggunaan AI

Kang Maman, seorang Penulis dan Pegiat Literasi yang hadir sebagai pemateri pertama menyoroti pentingnya pengalaman pribadi sebagai kekuatan yang tidak bisa dijiplak maupun diplagiasi oleh Artificial Intelligence (AI) sekalipun. Ia memberikan contoh ide unik yang tidak dapat ditemukan di luar Jogja, seperti Salmon Lodeh dan Tuna Sambal Matah. Menurutnya, keunikan atau uniqueness adalah kata kunci untuk memenangkan hati para juri dalam lomba menulis. Di tengah maraknya penggunaan AI, Kang Maman menekankan bahwa AI memang bisa menulis, namun AI tidak bisa menghadirkan rasa dan pengalaman yang ada dalam ceritanya. “Cerita yang paling bagus bukan yang paling cepat, tapi cerita yang paling bagus adalah yang jujur,” ucapnya lugas. 

Menulis Itu Harus dengan Kegembiraan

Amir Mahmud, Juri Writing Competition 2026, sebagai pembicara kedua memantik sesi diskusi dengan pertanyaan penting, “Mengapa saya mengambil topik tentang kegembiraan menulis? Karena saya melihat disinilah titik awal dari upaya kita untuk membuat menulis bukan sebagai beban tapi justru sebuah kebutuhan,” ujarnya. Ia menggambarkan bahwa baginya, menulis itu adalah sebuah kebutuhan yang tidak dapat ia lewatkan setiap harinya. Ketika menulis, kreativitas untuk melihat berbagai sudut pandang sangat diperlukan untuk bisa menulis cerita yang menarik. 

Momen Sebagai Nyawa dari Fotografi 

Sebagai fotografer profesional, Martha Suherman secara langsung memberikan gambaran beragam foto project dengan berbagai konsep yang telah ia lakukan sebelumnya. Gambaran ini diberikan agar peserta dapat memahami bahwa dalam fotografi setiap detik adalah momentum berharga yang harus diabadikan. “Sebenarnya dalam fotografi, basicnya adalah bercerita,” ujar Martha. Meskipun menurutnya, fotografi tentu harus memiliki kekuatan cahaya yang menonjol selain narasi yang dibangun. Ia juga membagikan tips agar foto dapat bercerita melalui elemen tersirat yang terkandung dalam foto tanpa harus mencantumkan teks sebagai penguat narasinya. 

Fotografi Berawal dari Ide Keseharian

Raditya Mahendra Yasa, dalam sesi materi terakhirnya menyoroti pentingnya mengenali ide keseharian yang menjadi jiwa dalam fotografi. Yaitu sesuatu yang relate dan berhubungan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Berbagai pendekatan dalam fotografi seperti Jurnalisme, Komersial, Konseptual dan Street harus ditentukan sejak awal agar bisa memahami sudut pandang suatu objek ketika memotret. Ia mengungkapkan bahwa JNE Content Competition ini juga membebaskan para pesertanya untuk berkreasi dan mengeksplorasi lebih banyak ide unik dan tidak menuntut para peserta untuk mencantumkan brand JNE yang identik dengan dunia logistik dan perkuriran. Hal ini ditujukan agar peserta mampu menghasilkan karya yang berkualitas dan memiliki nilai lebih di mata para juri. 

Workshop berlangsung interaktif dengan banyaknya peserta yang melontarkan pertanyaan. Selain mendapatkan penjelasan mengenai garis besar JNE Content Competition 2026 ini, peserta juga mendapat e-sertifikat, goodie bag dan juga voucher belanja. Harapannya, kegiatan ini dapat memotivasi peserta untuk berani menuangkan ide unik mereka ke dalam JNE Content Competition 2026. Dengan memadukan teknik yang tepat dan kejujuran dalam bercerita, peserta lomba diharapkan mampu menghasilkan karya kreatif yang inspiratif dan berdaya saing di era digital. (NKA/AHR/RS)