Dalam kontestasi politik, sah saja mendukung salah satu calon. Dengan maksud memenangkan calonnya, wajar saja seorang pendukung melakukan beragam ikhtiar. Tapi, apakah sah jika dukungan tersebut tanpa argumen yang memadai? Apakah wajar jika ikhtiar tersebut menggadaikan kewarasan?

Miris rasanya melihat beragam informasi bohong (hoaks) hasil pabrikan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Argumen diabaikan dan segala cara dianggap wajar. Informasi bohong ini setali tiga uang dengan ujaran kebencian. Kadang dikemas secara vulgar, tidak jarang dibungkus dengan manis.

Ketika suhu politik memanas, produksi hoaks dengan muatan kepentingan tertentu ini nampaknya semakin liar. Isinya pun semakin brutal. Sang produsen nampaknya tidak menyadari dampak dahsyat dari informasi bohong yang telah mengangkangi akal sehat ini. Atau saya yang naif, sang produsen justru paham betul jurus mengecoh kewarasan publik. Namun, tingkat kemirisan saya tidak seberapa untuk kasus ini.

Kemirisan Akut

Ada yang membuat kemirisan semakin akut: ketika kaum cerdik pandai sudah terhanyut dalam praktik ini. Kecenderungan mereka ke calon pilihannya, telah melupakannya dari akal sehat. Kewarasannya tergadai, karena ‘cinta buta’. Argumen bisa diproduksi, sebagaimana informasi bohong. Itulah hebatnya otak manusia: dapat melihat fakta dari beragam perspektif dan sekaligus mencari argumen untuk setiap pilihan.

Ah, bisa jadi saya yang terbawa perasaan atau baper, meminjam istilah generasi milineal. Berikut merupakan ilustrasinya. Kebetulan saya tergabung beberapa grup di aplikasi pesan instan WhatsApp. Saya diundang untuk bergabung ke sebuah grup dan saya telisik anggotanya adalah kaum cerdik pandai. Sebetulnya agak skeptis ketika bergabung, karena belajar dari pengalaman sebelumnya. Namun, tidak ada salahnya mencoba dan berharap mendapatkan pencerahan.

Nampaknya saya bertepuk sebelah tangan. Praktik yang saya temui dalam grup ini, tidak berbeda dengan grup yang lain. Praktik salin-tempel informasi marak.  Informasi yang dikirimkan pun tanpa verifikasi. Bahkan saya menduga penerus pesan pun belum membaca pesan yang diteruskan, ketika beberapa pesan dikirim pada waktu yang hampir bersamaan.

Pesan suci untuk melakukan tabayyun diabaikan. Ketika informasi tersebut ternyata terbukti tidak benar, dengan ringan dijawab dengan pesan: maaf. Hanya itu. Tanpa ada perasaan khawatir dengan dampak negatif penyebaran informasi tidak valid tersebut. “Ah, tidak berdampak kepada saya” atau “Biarkan saja, itu menguntungkan”, mungkin begitu gumam sang penyebar.

Benteng Nurani Bobol

Saya termasuk yang sangat berbahagia, ketika Muhammadiyah, misalnya, membahas etika dalam menggunakan media sosial dengan serius. Kecenderungan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa publik, tak terkecuali sebagian kaum cerdik pandai, seakan sudah kehilangan nurani ketika bermedia sosial. Tidak berbeda jauh dengan anak muda yang masih belum matang secara intelektual dan emosional. Anak muda pun bisa jadi marah ketika dibandingkan dengan kaum cerdik pandai yang kehilangan kewarasan ini.

Terngiang di kepala, pesan Surat Almaidah ayat 8: “Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa.” Pesan ini sebening kristal. Tidak perlu mengernyitkan dahi untuk menangkap maknanya.

Bisa jadi sebagian kaum cerdik pandai Muslim melupakan pesan ini atau bahkan yang lebih menakutkan saya: menolak pesan ini. Kepentingan telah menutupi nurani dalam berikhtiar menggapai keadilan. Nurani sebagai benteng terakhir pembeda yang benar dan salah, telah bobol.

Jika ini yang terjadi, siapa yang bisa diharapkan mencari lentera penunjuk jalan kewasaran publik? Banyak. Di luar sana, masih banyak kaum cerdik pandai yang waras. Yang perlu dilakukan adalah melantangkan pesan secara berjemaah kepada publik untuk selalu menjaga kewarasan dan merawat nurani. Publik perlu diedukasi dengan istikamah. Tulisan ini pun bagian kecil dari ikhtiar ini.

Pemikir Mandiri

Para pegiat media sosial perlu diedukasi arti penting menjadi pemikir mandiri dan tidak mudah terseret dengan narasi publik. Hanya dengan ini saringan personal bisa dibangun. Tentu ikhtiar ini menantang, tetapi tidak mustahil dilakukan. Jika masih sulit, gunakan antena nurani. Nurani akan mengirim pesan peringatan dini. Rasulullah sudah memberikan rumus: “Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu. Kebenaran membawa ketentraman dan kebohongan menghadirkan keraguan”.

Dari lubuk hati terdalam, saya yakin, semuanya mengharapkan kontestasi politik  di Indonesia yang sedang berjalan terasa menggembirakan. Jika ini yang terjadi, pemenangnya adalah rakyat Indonesia. Menang dan kalah merupakan hal wajar dalam setiap kontestasi. Kalau menang harus mengedepankan solidaritas, dan jika kalah tetap menghargai sportivitas. Begitu pesan lagu Meraih Bintang yang dibawakan oleh Via Vallen ketika Pembukaan Asian Games 2018. Kita nampaknya sering mengajarkan ini kepada anak-anak kita. Namun, bisa jadi kita sendiri, termasuk sebagian kaum cerdik pandai, bahkan melupakan ajaran luhur ini.

Seorang kawan imajiner mencolek lamunan saya, sambil berkata, “Jangan baperan“. Ah, bisa jadi tanpa saya sadar telah termasuk sebagian kaum cerdik pandai yang menggadaikan kewarasan itu. Semoga tidak!

—–
Tulisan ini telah dimuat di Republika, 4 Januari 2019, dan tersedia daring di: https://republika.co.id/berita/kolom/wacana/19/01/04/pksaz3440-kewarasan-yang-tergadai

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *