Saya memulai tulisan ringkas ini dengan pertanyaan untuk menguji akal sehat kita. Jika ada dua hal yang berbeda, apakah keduanya selalu berseberangan secara diametral? Setelah merenung sejenak, nampaknya tidak sulit untuk bersepakat bahwa hal-hal yang berbeda tidak selalu bertentangan. Bahkan, sebagian dari kita sampai pada kesimpulan tambahan: yang berbeda itu bisa jadi berangkat dari posisi berdiri yang berbeda, dan ujungnya, bisa saling melengkapi.

Pola pikir seperti ini penting untuk menghindarkan diri dari jebakan berpikir sempit dan bersumbu pendek. Tidak sulit mencari contoh, energi umat atau bangsa sudah banyak bocor karena jebakan ini. Akibatnya mengerikan: setiap yang berbeda harus dimatikan dan akhirnya hadir adalah monopoli tafsir kebenaran: yang lain salah dan yang benar hanya dirinya atau kelompoknya.

Dalam konteks perspektif terhadap Islam, misalnya, mari kita lihat beberapa contoh ringan tetapi bisa membawa kita ke dalam diskusi serius yang mendalam. Kata “Islam” tidak jarang diberi predikat yang mencirikan sebuah perspektif yang dianut (sebuah konsep), seperti Islam inklusif (di mesin pencari ditemukan 19.000 entri), Islam pribumi (7.660), Islam puritan (9.400), Islam moderat (204.000), Islam rasional (24.900), Islam rahmatan lil alamin (349.000), Islam syari’at (37.700), Islam transformatif (16.500), Islam liberal (251.000), Islam pluralis (7.110), Islam kebangsaan (42.400), Islam berkemajuan (70.300), dan Islam nusantara (2.030.000). Angka entri di mesin pencari “hanya” untuk memberikan gambaran bahwa konsep tersebut nyata dan dikembangkan.

Konsep tersebut juga terdokumentasi, dilantangkan, atau mewujud dalam bentuk kajian serius, seperti disertasi, jurnal ilmiah, buku, dan bahkan sebuah gerakan kolektif.

Mari jujur akui, seberapa sering kita memikirkan irisan atau persamaam dari beragam “konsep” tersebut? Sebaliknya, apakah energi kita lebih sering kita gunakan untuk mempertentangkannya? Pertentangan tersebut bisa mewujud dalam beragam bentuk, mulai keenggaan berkomunikasi, ketidakmauan bekerjasama, sampai saling menyindir, saling merundung, saling menghinakan, dan bahkan mengkafirkan. Yang terakhir ini sudah melampaui kewenangan manusia, dan menjadi Tuhan, karena sudah mengkapling surga dan neraka untuk manusia.

Jika ini yang terjadi, akan sulit membayangkan berapa banyak energi umat yang terbuang, karena sangat luar biasa. Sebaliknya, jika titik temu (kalimah sawa) dapat diikhtiarkan bersama, saya termasuk yang yakin, umat akan mengumpulkan energi melimpah untuk maju. Di sinilah pentingnya titik temu, melihat irisan terbesar dari setiap perbedaan dan membangun semangat ko-eksistensi, hidup bersama berdampingan dan saling menghargai.

Pesan agama Islam, baik dalam Al-Qur’an maupun Hadis, sangat jelas: kita dilarang mengolok-olok kelompok lain, karena bisa jadi yang diolok-olok itu lebih baik (QS Al-Hujurat 49:11). Pun demikian, sampai hari ini, tidak sulit mencari contoh penganut aliran nyinyirisme, yang menikmati ketika menghujat kelompok lain.

Tema Sekolah Pemikiran Islam (SPI) yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Islam Universitas Islam Indonesia (PSI UII) kali ini, Islam kebangsaan, pun sangat mungkin juga mendapatkan nyinyiran. Alasan bisa dicari dan argumen bisa diproduksi. Tema ini menurut saya penting, tanpa bermaksud memborong habis tafsirnya, karena dalam beberapa tahun terakhir, muncul pemahaman yang ingin mempertentangkan ghirah keislaman dan semangat kebangsaan atau nasionalisme. Dua hal ini seharusnya bisa kita teriakkan dalam satu tarikan nafas: “Merdeka, Allahu akbar!”.

UII sendiri dibangun di atas dua semangat atau nilai ini. UII yang dalam bahasa Arabnya Al-jami’ah Al-islamiyah Al-Indunisiyah, berarti Universitas Islami Indonesiawi. Ghirah keislaman dan semangat kebangsaan, karenanya selalu kita ikhtiarkan untuk dirawat dan dikembangkan.

Tema kali ini juga mengusung konteks temporal: masa pandemi. Saya membacanya ini sebagai semangat untuk menjadikan Islam sebagai solusi sesuai dengan tuntutan zaman. Tentu ajaran Islam normatif dalam teks suci perlu ditadabburi untuk diopersionalkan. Inilah saatnya kita membangun kesadaran bersama untuk menjadi ajaran agama sebagai gas, pendorong perubahan. Sebaliknya, jangan terjebak sikap yang hanya menjadikan agama sebagai rem, untuk menakut-nakuti. Dua aspek ini harus selalu disandingkan, karena rasulullah diutus menjalankan dua misi ini: membawa kabar gembira (mubasysyiran) dan memberi peringatan (nadziran).

Gembira dengan agama kita dan beragama dengan gembira sangatlah penting, terutama untuk generasi milenial yang membutuhkan pendekatan pas untuk dakwah yang menggerakkan, untuk menjadi orang baik dan bermanfaat.

Sambutan pada Pembukaan Sekolah Pemikiran Islam ke-4 yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Islam Universitas Islam Indonesia dengan tema “Islam Kebangsaan dan Peran Pemuda Milenial di Era Pandemi” pada 12 Agustus 2020.