Langkah Dalam Publikasi di Jurnal Ilmiah

Di masa pandemi Covid-19, ada banyak cara agar tetap menjadi seseorang yang produktif. Salah satunya dengan menulis karya ilmiah untuk dipublikasikan di dalam jurnal. Tulisan ilmiah memiliki pola penulisan yang standar, sehingga dapat dipelajari dan dilatih terus menerus. Tulisan ilmiah bukanlah tulisan yang mengandung karangan, namun didasari dengan penelitian.

Namun demikian, menulis karya ilmiah yang akan dipublikasikan ke dalam jurnal memakan waktu yang cenderung lama. Dikarenakan tulisan ilmiah bersumber dari penelitian dan tidak bisa dilakukan secara instan. Hal ini mendasari Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan training online penulisan karya ilmiah bagi mahasiswa dengan topik cara mudah publikasi di jurnal ilmiah, pada Sabtu (27/6). Dr. Arifin Maftuhin, M.Ag., M.A.I.S., dosen di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dihadirkan sebagai pembicara.

Arifin Maftuhin membagikan pengalamannya dalam mempublikasikan tulisan ilmiah di dalam jurnal ilmiah. Menurutnya, ada beberapa tahap yang harus dilewati sebelum tulisan kita bisa benar-benar dipublikasikan di jurnal ilmiah. Tahap pertama adalah menemukan jurnal yang cocok untuk kita, perlu menyesuaikan jurnal yang menjadi tujuan kita dengan latar belakang atau tema tulisan ilmiah yang akan kita publikasikan. Jangan sampai kita “salah alamat” dalam mempublikasikan tulisan kita.

Setelah menemukan jurnal yang cocok, tahap selanjutnya adalah menentukan level jurnal yang akan kita pilih. Terdapat beberapa level jurnal ilmiah, seperti level internasional dan level nasional. Hal ini penting untuk diperhatikan, Arifin Maftuhin menyampaikan bahwa 80% tulisan ditolak oleh jurnal karena kesalahan dalam memilih level jurnal. Selanjutnya adalah tahap memilih jurnal. Salah satu website jurnal yang ia rekomendasikan adalah moraref.kemenag.go.id, di sini kita bisa memilih jurnal mana yang ingin kita sasar.

Setelah memilih dan menetapkan jurnal, tahap selanjutnya adalah mengenal jurnal. Tahap ini bertujuan untuk melihat spesifikasi yang diminta oleh jurnal tersebut. “Kita perlu menyesuaikan tulisan kita dengan spesifikasi yang diminta, tahap ini berhubungan dengan tahap selanjutnya yaitu memformat tulisan kita agar sesuai dengan gaya atau template jurnal yang kita tuju. Barulah setelah itu kita bisa mengirimkan tulisan kita ke jurnal ilmiah,” terangnya.

Setelah mengirim jurnal, masih ada beberapa tahap lanjutan agar tulisan benar-benar ada di jurnal ilmiah. Seringkali respon keputusan tulisan baru bisa diterima setelah enam bulan. Setelah direspon, biasanya akan menerima revisi pada tulisan. Saran-saran revisi inilah yang perlu diikuti. “Kita perlu membuka diri untuk menanamkan pikiran bahwa tidak ada tulisan yang sempurna, sehingga menjadi wajar apabila kita menerima revisi dari jurnal yang bersangkutan,” pesannya.

Terakhir, Arifin Maftuhin mengingatkan tentang pentingnya tanggung jawab publikasi. Tanggung jawab ini tidak melulu soal plagiasi, namun juga perlu menunggu respon dari tim jurnal apakah tulisan yang dikirim diterima atau ditolak, sebelum mengirimkan tulisan ke jurnal yang lain. Hal ini sebagai tanggung jawab kita untuk menghindari double submission. (VTR/RS)